Pentingnya Adaptasi bagi Mahasiswa Rantau

Ilustrasi dari Pexels.

Setelah masa SMA selesai, siswa yang dinyatakan lulus dari pendidikan SMA akan melanjutkan cita-cita mereka masing-masing. Di antara mereka ada yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, ada pula yang melanjutkan dengan bekerja sesuai cita-cita mereka.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang melanjutkan pendidikan dengan berkuliah dan pergi merantau meninggalkan kampung halamannya? Kata rantau sering kali identik dengan kehidupan mahasiswa. Banyak mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi yang berasal dari luar kota, luar pulau, bahkan ada yang berasal dari luar negara.

Mereka merantau demi mencari ilmu untuk kesuksesan impiannya di masa depan. Namun, bagaimana dengan mahasiswa yang tidak terbiasa dengan kehidupan di perantauan? Keputusan untuk berkuliah di luar kota atau luar pulau yang jauh dari orang tua bukanlah keputusan yang mudah.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Mempererat Persaudaraan di Tanah Rantau

Ada banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan saat mereka merantau jauh dari tempat tinggal mereka. Tak banyak dari mereka yang mengeluh saat merantau. Seperti sulitnya beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan, sulitnya mengatur keuangan dan kebutuhan saat di perantauan, bahkan saat mereka dilanda culture shock.

Pengetian adaptasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, dan pelajaran. Seperti halnya mahasiswa rantau yang memerlukan adaptasi untuk bisa berbaur dengan lingkungannya.

Agar dalam diri mahasiswa tidak timbul dampak negatif dikarenakan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mahasiswa yang merantau memiliki tuntutan supaya bisa beradaptasi dengan kebudayaan yang baru ditemuinya.

Terlebih saat merantau untuk berkuliah itu artinya mahasiswa pasti menjalani proses pendidikan dan menemui lingkungan sosial baru. Yang dapat menimbulkan suatu hal berupa tuntutan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Akan ada banyak hal baru yang ditemui mahasiswa saat menjadi mahasiswa baru yang merantau. Di mana kehidupan perkuliahan yang sebenarnya itu tidak sama seperti yang ada dalam sinetron di televisi. Di dunia perkuliahan yang sesungguhnya, mahasiswa dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan yang tidak sama dengan lingkungan SMA.

Baca Juga: Dilema Mahasiswa: Ngekos atau Ngontrak?

Baik adaptasi dari segi lingkungan sosial yang multikultural, maupun lingkungan akademik yang tidak sama dengan saat menjadi siswa di SMA. Menjadi mahasiswa itu tidak sama seperti saat menjadi siswa di sekolah, terutama bagi mahasiswa rantau.

Mereka dituntut untuk bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan mereka juga dituntut untuk bisa mandiri. Hal itu tentu tidak mudah dilakukan bagi mahasiswa rantau, banyak suka duka yang mereka rasakan saat mereka hidup di perantauan. Terutama dalam hal mengatur kebutuhan dan keuangan.

Mereka harus pandai mengatur keuangan dan bisa menyesuaikan dengan kebutuhannya. Karena meskipun memiliki banyak uang pun, mahasiswa yang baik akan mengetahui apa yang menjadi prioritas kebutuhan mereka dan tidak menerapkan perilaku boros dalam hidupnya.

Mahasiswa rantau dituntut untuk bisa bertanggung jawab atas keuangannya, karena mengatur keuangan bagi mahasiswa rantau itu tidak mudah. Oleh karena itu, dengan menjadi mahasiswa rantau mereka akan mendapat pelajaran mengenai bagaimana sulitnya mengatur keuangan.

Bagi mahasiswa yang tahu arti merantau, kuliah itu bukan tentang kebebasan dari pengawasan orang tua saja. Namun, dengan merantau justru mahasiswa akan mendapat banyak pelajaran berharga yang dapat dijadikan pengalaman di hidupnya.

Misalnya, seperti mahasiswa baru yang berasal dari luar Jawa menempuh pendidikan kuliah di Jawa. Kebanyakan dari mereka akan mengalami culture shock saat mereka merantau untuk berkuliah di Jawa. Seperti yang kita ketahui, culture shock merupakan suatu keadaan di mana seseorang belum siap menerima keadaan dengan budaya yang baru.

Baca Juga: Manajemen Waktu Ala Mahasiswa Kreatif

Sehingga menyebabkan seseorang tersebut mengalami perasaan yang asing dalam hidupnya. Kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan bahasa daerah ataupun makanan daerahnya, yang menjadikan mereka sulit beradaptasi dan memerlukan banyak waktu untuk bisa menyesuaikannya.

Selain beberapa hal di atas, keadaan lain yang dirasakan mahasiswa saat merantau adalah mereka mengalami homesick. Di awal-awal perantauan sering terjadi mahasiswa yang mengalami homesick atau perasaan kangen orang tua dan kangen suasana rumah.

Dengan kata lain, homesick adalah perasaan yang muncul karena mereka kehilangan hal-hal yang familiar dalam kehidupan mereka. Hal itu biasa ditemui di kalangan mahasiswa rantau, apalagi saat mereka berada di kos dan jauh dari orang-orang terdekat, tentunya akan sangat terasa sekali rasa rindu dengan suasana rumah dan seisinya.

Oleh karena itu, adaptasi sangatlah penting, terutama bagi mahasiswa rantau. Agar mahasiswa yang baru merantau tersebut dapat menyesuaikan diri dengan menerima perbedaan di lingkungan barunya. Meskipun memerlukan waktu yang tidak singkat dan akan ada banyak konsekuensi di sana.

Karena tidak semua orang bisa dengan mudah menerima sesuatu yang baru dalam hidupnya. Masing-masing memiliki waktunya tersendiri untuk bisa beradaptasi. Fase adaptasi akan terjadi saat mahasiswa rantau masuk ke dalam lingkungan baru.

Baca Juga: Keluhan Mahasiswa untuk Bapak Ibu Dosen di Seluruh Indonesia

Dalam fase adaptasi tersebut akan tercipta akulturasi yang menjadi proses penerimaan dan penyesuaian terhadap perbedaan. Akulturasi akan dialami oleh mahasiswa yang merantau saat sudah beradaptasi dengan hal baru tersebut.

Karena apabila mereka telah melewati masa adaptasi, maka lama-kelamaan mereka akan terbiasa dan mulai nyaman dengan lingkungan barunya.

Penulis: Evi Ani Qotunnafiah
Jurusan Manajemen Administrasi Univesitas Sebelas Maret

Editor: Ika Ayuni Lestari

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI