Malang, MMI – Indonesia sering kali disebut sebagai laboratorium kemajemukan terbesar di dunia.
Ratusan suku, bahasa, dan keyakinan hidup berdampingan dari Sabang sampai Merauke.
Namun, di era keterbukaan informasi digital saat ini, sebuah pertanyaan besar muncul ke permukaan:
Apakah perbedaan ini benar-benar menjadi berkah yang mempersatukan, atau justru menjadi bom waktu yang memicu gesekan sosial?
Mencoba menjawab keresahan tersebut, sekelompok mahasiswa dari Program Studi Matematika Universitas Brawijaya (UB), Niko Genta Syaputra, Urwah Abdurrahman M, Danella Leksandria Naylaputri, dan Amanda Tasha Raihana memilih untuk terjun langsung ke lapangan.
Mereka menggali pandangan generasi muda dengan menyasar sesama mahasiswa di lingkungan FMIPA UB guna melihat bagaimana kemajemukan mendikte kehidupan mereka sehari-hari.
Suara dari Lapangan: Tiga Mahasiswa, Tiga Sudut Pandang Berbeda
Dalam aksi turun lapangan ini, tim riset mewawancarai tiga mahasiswa sebagai responden utama.
Menariknya, ketiga mahasiswa tersebut memberikan jawaban yang berbeda-beda, yang mencerminkan betapa kayanya perspektif generasi muda dalam melihat keberagaman.
Meski memiliki sudut pandang dan fokus jawaban yang bervariasi, terdapat satu kesamaan yang menyejukkan: setiap mahasiswa yang diwawancarai menunjukkan tanggapan yang sangat positif.
Mereka memiliki kesadaran yang tinggi (awareness) atas kondisi sosial serta tantangan kemajemukan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.
Bagi mereka, berinteraksi dengan teman kuliah yang berbeda suku dan agama bukan lagi sebuah kecanggungan, melainkan ruang belajar yang seru.
“Kemajemukan ini justru memberi kesempatan bagi kita untuk mengenal sudut pandang baru dan membentuk pola pikir yang lebih terbuka,” tulis tim peneliti dalam laporan mereka.
Menariknya lagi, perbedaan latar belakang terbukti ampuh memancing lahirnya ide-ide kreatif, terutama saat mereka harus bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok.
Keharmonisan ini juga tercermin jelas dari hal-hal sederhana di sekitar kampus, seperti tradisi saling mengunjungi dan memberikan ucapan hangat saat perayaan Idul Fitri, Natal, Nyepi, hingga Waisak.
Hantu Masa Lalu dan Tantangan Nyata
Meski menawarkan banyak dampak positif, riset lapangan ini tidak menutup mata terhadap potensi konflik.
Kesadaran mahasiswa yang diwawancarai juga mencakup pemahaman mereka terhadap sejarah kelam Indonesia.
Konflik seperti di Sampit, Poso, hingga Ambon menjadi bukti nyata bahwa keberagaman bisa menjadi sangat sensitif jika digoreng demi kepentingan kekuasaan atau dipicu oleh ketimpangan ekonomi.
Menurut Furnivall, seorang sosiolog yang dikutip dalam penelitian tersebut, masyarakat majemuk sering kali berdampingan secara fisik, tetapi sebenarnya terpisahkan oleh identitas sosial masing-masing.
Jika komunikasi tersumbat dan prasangka negatif dibiarkan tumbuh, kesalahpahaman kecil bisa dengan mudah tersulut menjadi konflik besar.
Fakta inilah yang disadari betul oleh para mahasiswa di lapangan, sehingga mereka merasa penting untuk terus bersikap mawas diri.
Resep Merawat Persatuan ala Gen-Z
Lantas, bagaimana cara menjaga agar “pelangi” keberagaman Indonesia tidak pudar?
Berdasarkan hasil diskusi dan wawancara dengan mahasiswa yang kritis tersebut, tim UB merumuskan beberapa solusi konkret:
- Jaga Jempol dan Kendalikan Diri: Di era digital, jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah. Selalu saring informasi sebelum sharing, jalin komunikasi yang baik, dan hindari prasangka buruk.
- Pendidikan Inklusif sejak Dini: Sekolah dan kampus harus menjadi tempat yang ramah bagi perbedaan guna mencetak generasi yang toleran dan peka sosial.
- Pancasila Bukan Sekadar Hafalan: Menjadikan nilai-nilai Pancasila, terutama Sila ke-3 “Persatuan Indonesia”, sebagai pedoman nyata dalam tindakan sehari-hari, bukan sekadar teori di atas kertas.
Pada akhirnya, kemajemukan Indonesia bukanlah sebuah beban sosial, melainkan modal berharga dan kekuatan terbesar bangsa.
Kuncinya ada di tangan kita sendiri.
Apakah kita mau membuka hati untuk saling memahami seperti yang disadari oleh para mahasiswa FMIPA UB ini, atau membiarkan ego perbedaan mencerai-berai kita?
Penulis:
1. Niko Genta Syaputra
2. Urwah Andurrahman M
3. Danella Leksandria Naylaputri
4. Amanda Tasha Raihana
5. Angelita Yessi Manna Sinaga
Mahasiswa Universitas Brawijaya
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















