BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama yang hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakat. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati, menghargai, dan hidup rukun antarumat beragama. Namun, di era modern saat ini masih ditemukan berbagai bentuk intoleransi, seperti sikap saling mengejek perbedaan keyakinan, kurangnya pemahaman tentang pentingnya menghargai keberagaman, hingga munculnya konflik akibat perbedaan pandangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya penanaman nilai moderasi beragama sejak usia dini agar generasi muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang toleran, damai, dan menghargai perbedaan.
Sekolah dasar menjadi lingkungan yang sangat penting dalam membentuk karakter anak, karena pada usia tersebut siswa mulai belajar berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang berbeda. Penanaman moderasi beragama perlu dilakukan sejak dini guna memaksimalkan pengembangan sikap toleransi, di mana pendidikan sekolah memegang peranan penting dalam memberikan inisiatif untuk mengembangkan dan menanamkan sikap toleransi terhadap keragaman suku, budaya, dan agama di Indonesia. Diawali dari pendidikan sekolah dasar, anak mulai belajar tentang keragaman budaya di sekitarnya melalui interaksi dengan teman sekelas, guru, dan warga sekolah yang berbeda latar belakang, yang merupakan pengalaman sangat berharga. Penanaman nilai moderasi beragama dapat dilakukan melalui kegiatan edukatif dan menyenangkan agar mudah dipahami oleh siswa/siswi SD. Moderasi beragama sendiri merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang mengedepankan keseimbangan, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi persatuan. Dengan memahami moderasi beragama, siswa diharapkan mampu membangun sikap toleransi, saling tolong-menolong, dan menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis tanpa membedakan agama maupun kepercayaan. ( Nisa dan Siregar, (2025))
Berdasarkan hal tersebut, kegiatan Sosialisasi SERASI dengan tema “Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi” hadir sebagai bentuk edukasi untuk meningkatkan pemahaman siswa/siswi SD mengenai pentingnya toleransi dan hidup rukun dalam keberagaman. Pendidikan di sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama, di mana guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan dalam membentuk karakter siswa yang inklusif dan menghargai keberagaman (Nisrina, dkk. (2025)). Melalui kegiatan ini diharapkan peserta dapat memahami nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati teman yang berbeda agama, menjaga kerukunan, serta menumbuhkan rasa persaudaraan antarsesama. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang memiliki karakter moderat, cinta damai, dan berperan aktif dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa/siswi SD tentang pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari?
- Bagaimana menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati antarumat beragama sejak usia dini?
- Bagaimana menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis melalui kegiatan sosialisasi moderasi beragama?
1.3 Tujuan Kegiatan
- Untuk mengetahui pemahaman siswa/siswi SD mengenai pentingnya moderasi beragama.
- Untuk menumbuhkan sikap toleransi, saling menghargai, dan hidup rukun antarumat beragama pada siswa/siswi SD.
- Untuk mengetahui cara menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis melalui kegiatan sosialisasi moderasi beragama..
1.4 Manfaat Kegiatan
- Manfaat bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, kegiatan Sosialisasi SERASI ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, serta menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pentingnya moderasi beragama. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menjadi pengalaman dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dan membangun jiwa kepemimpinan.
- Manfaat bagi Siswa/Siswi SD
Bagi siswa/siswi SD, kegiatan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya toleransi, saling menghormati, dan hidup rukun dalam keberagaman agama. Selain itu, siswa diharapkan mampu menerapkan sikap moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
- Manfaat bagi Sekolah
Bagi sekolah, kegiatan Sosialisasi SERASI ini dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis, aman, dan penuh rasa saling menghargai antar siswa. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mendukung pembentukan karakter peserta didik yang cinta damai dan menjunjung tinggi persatuan
- Manfaat Bagi Perguruan Tinggi
Bagi perguruan tinggi, kegiatan Sosialisasi SERASI ini dapat memperkuat peran kampus dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan citra perguruan tinggi sebagai lembaga yang peduli terhadap pendidikan karakter dan moderasi beragama. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan antara perguruan tinggi dengan sekolah dan masyarakat sekitar
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Konsep Moderasi Beragama
Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan dan kesederhanaan dalam sikap serta tindakan. Sementara itu, beragama merupakan menjalankan kepercayaan dan praktik spiritual yang diikuti individu atau kelompok dalam masyarakat. Moderasi beragama merupakan konsep yang menekankan pendekatan yang seimbang dan tidak berlebihan dalam memahami serta menjalankan ajaran agama, dengan menekankan sikap tengah, toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, serta penolakan terhadap segala bentuk ekstremisme dan fanatisme dalam kehidupan beragama. Dalam konteks masyarakat modern yang ditandai oleh keragaman budaya, agama, dan keyakinan, moderasi beragama menjadi landasan penting untuk menciptakan harmoni sosial, mencegah ekstremisme, dan mempromosikan nilai-nilai toleransi di tengah kompleksitas hubungan antarumat beragama. Menurut Prof. M. Quraish Shihab, moderasi beragama berarti sikap yang menghindari kekerasan dan menjauhi perilaku ekstrem dalam menjalankan agama, yang menjadi dasar penting untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian di Indonesia yang beragam. Dalam Islam, konsep moderasi beragama memiliki padanan dengan istilah wasath atau wasathiyyah yang berarti sikap atau pola berpikir yang adil dan seimbang dalam berbagai dimensi kehidupan, baik yang berkaitan dengan aspek ibadah maupun muamalah, dengan prinsip bahwa yang dimoderasi bukan agamanya, melainkan cara beragama itu sendiri.
2.2 Prinsip Moderasi Beragama
Seorang individu dapat dianggap memiliki sikap beragama yang moderat apabila ia benar-benar memahami, memegang teguh, serta mengamalkan prinsip-prinsip dasar dalam bersikap dan bertingkah laku( Darmawan, dkk.(2023)). Nilai-nilai tersebut tidak hanya muncul pada tindakan lahiriah, tetapi juga tertanam kuat dalam batin dan menjadi bagian dari kepribadiannya. Nilai-nilai moderasi beragama mencakup sikap tawassuth (tengah-tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (proporsional), tasamuh (toleran), musawah (kesetaraan), dan syura (musyawarah) yang dapat diintegrasikan dalam semua aspek kehidupan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kerukunan, toleransi, dan pemahaman mendalam tentang keberagaman pada generasi muda. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
2.2.1 Wasathiyah ( Mengambil Jalan Tengah )
Wasathiyah merupakan cara pandang yang memilih posisi tengah, yakni tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran agama tetapi juga tidak mengurangi ketentuan yang telah ditetapkan. Dalam Islam, keseimbangan ini disebut dengan konsep wasatiyyah yang berarti “jalan tengah”, di mana umat Islam dianjurkan untuk menjalankan agamanya dengan bijaksana dan proporsional tanpa berlebihan, serta menolak sikap yang condong ke arah ekstremisme (ghuluw) maupun kekenduran (tafrit). Hal ini sejalan dengan pandangan Khaled Abou el Fadl dalam The Great Theft, yang menyatakan bahwa moderasi adalah bentuk pemahaman yang menempuh jalur tengah, yakni tidak condong pada ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Dengan demikian, wasathiyah menjadi fondasi utama agar seseorang senantiasa bersikap seimbang dan terhindar dari pemahaman agama yang menyimpang.
2.2.2 I’tidal ( Tegas dan Lurus )
Istilah I’tidal berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti “adil” atau “seimbang,” dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adil diartikan sebagai tidak memihak, tidak semena-mena, dan bersikap objektif. I’tidal menggambarkan cara pandang yang menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya, memberikan bagian secara proporsional, serta menjalankan hak dan kewajiban dengan seimbang( Irwandi (2024)). Penerapan pilar moderasi beragama yang mencakup sikap i’tidal (bersikap objektif dan adil) sangat selaras dengan prinsip-prinsip Islam moderat yang mendorong setiap individu untuk bersikap proporsional dalam menilai sesuatu tanpa memihak secara berlebihan. Dengan demikian, i’tidal menjadi cerminan karakter seorang muslim yang mampu bersikap jujur dan adil dalam setiap situasi kehidupan
2.2.3 Tasamuh ( Toleransi )
Tasamuh dalam bahasa Arab berasal dari kata samhun yang bermakna mempermudah atau memberi kelonggaran, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi diartikan sebagai sikap menghargai, membiarkan, atau memberi ruang bagi sesuatu yang berbeda maupun bertentangan dengan keyakinan pribadi (Muhammad, dkk., 2023)). Dengan demikian, toleransi dapat dipahami sebagai sikap menghormati pendapat atau keyakinan orang lain, di mana menghargai di sini bukan berarti membenarkan atau mengikuti pendirian tersebut, melainkan memberikan penghormatan atas perbedaan yang ada. Islam menekankan prinsip tasamuh sebagai sikap toleran terhadap orang atau kelompok lain sebagai bagian dari upaya menjaga kerukunan antarumat beragama yang menjadi elemen sangat krusial bagi bangsa Indonesia yang kaya akan suku, ras, bahasa, budaya, dan agama (Muaz, dkk., (2022)). Toleransi hanya boleh dilakukan dalam ranah sosial dan kemanusiaan untuk menjaga kerukunan dan persatuan, sehingga tidak melampaui batas-batas prinsip keyakinan masing-masing. Sikap tasamuh sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa Indonesia yang beragam, karena ketika setiap individu menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendaknya, hubungan antarsesama akan lebih harmonis, dan tanpa toleransi kerukunan antarkelompok dapat terancam serta berpotensi memengaruhi stabilitas sosial.
2.2.4 Musawah ( Persamaan )
Musawah bermakna kesetaraan atau persamaan derajat, dan dalam ajaran Islam seluruh manusia dipandang memiliki kedudukan yang sama tanpa membedakan jenis kelamin, ras, suku, tradisi, budaya, maupun status sosial. Semua perbedaan tersebut merupakan ketetapan dari Tuhan, dan manusia tidak memiliki hak untuk mengubah atau menilai kedudukan seseorang. Nilai musawah dalam kehidupan sehari-hari tercermin dari sikap selalu bersahabat dan memperlakukan semua orang tanpa diskriminasi, baik terhadap sesama Muslim maupun non-Muslim, sebagai wujud nyata dari penghargaan terhadap kesetaraan derajat manusia (Nurdin dan Muqowim (2023)). Dengan menginternalisasi nilai musawah, setiap individu akan mampu bersikap inklusif dan menjunjung tinggi martabat setiap manusia tanpa memandang latar belakangnya. Prinsip musawah atau persamaan merupakan salah satu dari prinsip-prinsip Islam yang moderat yang perlu dikembangkan oleh setiap individu agar mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam.
2.2.5 Tawazun ( Seimbang )
Tawazun merupakan pandangan keseimbangan yang tidak keluar dari garis yang telah ditetapkan, berakar dari kata mizan yang berarti timbangan. Tawazun dalam moderasi beragama dapat dipahami sebagai sikap yang adil dan seimbang, tidak memihak, serta disertai dengan kejujuran agar seseorang tetap berada pada aturan dan batas yang telah ditetapkan (Prayogi dan Nasrullah. (2024)). Nilai tawazun dalam praktik kehidupan diwujudkan melalui upaya menjaga hubungan yang harmonis antarsesama dengan tetap mempertahankan keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan, sehingga tercipta suasana yang penuh kedamaian. Ketidakadilan dianggap dapat merusak tatanan keseimbangan dan keharmonisan alam semesta yang telah diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa. Prinsip tawazun atau keseimbangan menjadi salah satu pilar yang sangat relevan dalam memperkuat moderasi beragama dan persatuan nasional, karena sikap seimbang mendorong setiap individu untuk bersikap adil dan proporsional dalam setiap tindakan.
2.3 Moderasi Beragama dalam Konteks Sosial
Moderasi beragama dalam konteks sosial merupakan sikap beragama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat. Sikap ini penting diterapkan sejak usia dini agar anak-anak mampu memahami bahwa perbedaan agama, budaya, maupun kebiasaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan saling menghargai (Surawan, dkk.(2023)). Penguatan moderasi beragama perlu diajarkan pada anak sejak dini agar mereka mampu memiliki sifat-sifat moderat, yang mencakup penanaman komitmen kebangsaan, penguatan toleransi, anti-kekerasan, serta pengenalan dan pelestarian kebudayaan lokal sebagai upaya nyata pencegahan radikalisme di masa yang akan datang. Dengan adanya moderasi beragama, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang damai, harmonis, dan terbuka terhadap perbedaan. Moderasi beragama merupakan konsep fundamental dalam menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural seperti Indonesia, dan usia dini menjadi tahap yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, inklusivitas, serta penghargaan terhadap keberagaman.
Penerapan moderasi beragama juga berperan dalam mencegah sikap intoleransi, perundungan, maupun konflik yang dapat muncul akibat perbedaan keyakinan. Melalui sikap moderat, setiap individu diajarkan untuk tidak bersikap berlebihan dalam memahami agama, tetapi tetap menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan menghargai hak orang lain (Tantra, dkk. (2024)). Data menunjukkan bahwa sekitar 31% siswa tergolong intoleran, yang mengindikasikan adanya permasalahan serius yang perlu ditangani secara strategis melalui penanaman nilai-nilai moderasi beragama sejak dini, karena siswa adalah generasi penerus bangsa. Dengan demikian, moderasi beragama menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah masyarakat yang multikultural. Moderasi beragama bahkan telah ditetapkan sebagai program strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024, sebagai respons atas masih lemahnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai ajaran agama serta belum kokohnya moderasi beragama dalam memperkuat toleransi dan kerukunan di Indonesia.
2.4 Relevansi Moderasi Beragama dengan Kegiatan Sosialisasi SERASI
Moderasi beragama memiliki hubungan yang sangat erat dengan kegiatan Sosialisasi SERASI: “Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi” karena kegiatan ini menjadi sarana edukasi bagi siswa/siswi SD untuk memahami pentingnya toleransi dan hidup rukun dalam keberagaman. Melalui sosialisasi ini, peserta diajak untuk mengenal nilai-nilai saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menjaga kerukunan antarumat beragama sejak usia dini.
Kegiatan Sosialisasi SERASI juga berperan dalam menanamkan karakter positif seperti sikap peduli, kerja sama, dan cinta damai di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, siswa diharapkan mampu menerapkan sikap moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati teman yang berbeda agama, tidak mengejek perbedaan, dan menjaga persaudaraan antar sesama. Selain itu, kegiatan ini dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan bebas dari sikap intoleransi.
2.5 Keterkaitan dengan Nilai-Nilai Keagamaan
Kegiatan Sosialisasi SERASI memiliki keterkaitan yang erat dengan nilai-nilai keagamaan karena setiap agama mengajarkan pentingnya hidup damai, saling menghormati, dan berbuat baik kepada sesama manusia. Melalui kegiatan ini, siswa/siswi diajarkan untuk menerapkan sikap toleransi, kasih sayang, dan menghargai perbedaan sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Sikap tersebut dapat mempererat hubungan antarsesama dan menciptakan suasana yang aman serta harmonis di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Nilai-nilai keagamaan seperti tolong-menolong, persaudaraan, dan saling menghargai juga menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan ini. Selain itu, kegiatan Sosialisasi SERASI mengajarkan pentingnya menjaga persatuan serta menghindari sikap diskriminasi dan permusuhan akibat perbedaan keyakinan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang memiliki karakter moderat, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.
BAB III
GAMBARAN UMUM KEGIATAN
3.1 Nama Kegiatan
Kegiatan ini bernama Sosialisasi SERASI: “Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi”. Nama SERASI dipilih sebagai simbol terciptanya kehidupan yang selaras, harmonis, dan penuh toleransi di tengah keberagaman agama dan budaya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya memberikan edukasi kepada siswa/siswi sekolah dasar mengenai pentingnya moderasi beragama sejak usia dini. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik agar memiliki sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menjaga persatuan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Bentuk Pelaksanaan
Kegiatan Sosialisasi SERASI dilaksanakan dalam bentuk kunjungan edukatif langsung ke sekolah dasar yang menjadi sasaran. Kegiatan ini dikemas secara menyenangkan dan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa/siswi SD. Beberapa bentuk pelaksanaan yang akan dilakukan antara lain:
(1) Penyampaian materi moderasi beragama melalui presentasi bergambar dan video animasi yang menarik;
(2) Kegiatan diskusi dan tanya jawab untuk menggali pemahaman siswa tentang toleransi dan kerukunan;
(3) Permainan edukatif bertema keberagaman yang mengajak siswa untuk bekerja sama tanpa membedakan latar belakang; serta
(4) Pembuatan karya kreatif bersama berupa poster “Kita Satu” sebagai simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama.
Seluruh bentuk kegiatan ini dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang berkesan dan bermakna bagi peserta, sehingga nilai-nilai moderasi beragama dapat tertanam dengan baik dalam diri siswa/siswi SD.
3.2 Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam kegiatan Sosialisasi SERASI ini meliputi tiga pendekatan utama. Pertama, metode ceramah interaktif, yaitu penyampaian materi moderasi beragama oleh mahasiswa kepada siswa/siswi SD menggunakan media visual yang menarik seperti poster, slide presentasi bergambar, dan tayangan video animasi pendek tentang kerukunan dan toleransi. Kedua, metode permainan edukatif, di mana siswa diajak mengikuti permainan yang secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai kerja sama, kebersamaan, dan saling menghargai perbedaan antar teman. Ketiga, metode kreatif berbasis proyek, yakni siswa bersama-sama membuat karya poster bertema “Kita Satu” yang mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman.
Metode ini menekankan aksi nyata berbagi, sehingga nilai-nilai moderasi beragama seperti kepedulian sosial, toleransi, dan solidaritas dapat dirasakan secara langsung. Dengan pendekatan ini, Sosialisasi SERASI menjadi sederhana namun efektif, memberikan pengalaman langsung bagi siswa/siswi SD dalam memahami dan mempraktikkan nilai-nilai toleransi serta kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
3.3 Output Kegiatan
- Terlaksananya kegiatan Sosialisasi SERASI di sekolah dasar sasaran.
- Meningkatnya pemahaman siswa/siswi SD mengenai moderasi beragama dan toleransi.
- Terciptanya sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan antar siswa.
- Hasil karya poster bertema “Kita Satu” sebagai simbol persatuan dan toleransi.
- Dokumentasi kegiatan berupa foto dan video pelaksanaan sosialisasi.
- Terjalinnya hubungan baik antara mahasiswa, sekolah, dan masyarakat sekitar melalui kegiatan edukatif.
BAB IV
TEKNIS KEGIATAN
4.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Sosialisasi SERASI: “Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi” dilaksanakan pada:
- Hari/Tanggal : Jumat, 5 juni 2026
- Waktu : 05.00 – 11.00
- Tempat : Sekolah Dasar Negeri Medokan Ayu I
4.2 Sasaran Peserta
Sasaran Peserta Kegiatan ini adalah siswa/siswi kelas 3 Sekolah Dasar Negeri Medokan Ayu I. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah setempat yang telah berkoordinasi dengan pihak sekolah guna mendukung program sosialisasi moderasi beragama. Dengan pelaksanaan kegiatan di lingkungan sekolah, diharapkan siswa dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman, aktif, dan lebih mudah memahami nilai-nilai toleransi serta kerukunan dalam kehidupan sehari-hari.
4.3 Susunan Panitia
Panitia kegiatan terdiri dari dosen dan mahasiswa yang membimbing jalannya kegiatan, antara lain :
Pembimbing : Dr. Taufikurrahman, S.Pd., M.Pd
| NO | DIVISI | NAMA | NPM |
| 1 | Ketua Pelaksana | Mochammad Fahmy | 25071010116 |
| 2 | Sekretaris | Luthfiansyah Zaky Ramadhani | 25082010252 |
| 3 | Acara | Alfian Nuril Ilham | 25024010098 |
| 4 | Acara | Ahmad Alfico Zulatmi | 252401010097 |
| 5 | PDD | Muhammad Raihan Akbar | 25025010226 |
Struktur panitia ini bertujuan agar setiap bagian kegiatan, mulai penyuluhan, permainan edukatif, hingga dokumentasi dapat berjalan dengan lancar.
4.4 Alur pelaksanaan kegiatan
| Rundown Pelaksanaan Kegiatan | |||
| Jam |
Durasi |
Kegiatan |
|
| Awal | Akhir | ||
| 06:00:00 | 06:30:00 | 00:30:00 | Kumpul panitia dan briefing persiapan kegiatan |
| 06:30:00 | 07:00:00 | 00:30:00 | Persiapan tempat |
| 07:00:00 | 07:15:00 | 00:15:00 | Registrasi peserta dan penyambutan siswa/siswi |
| 07:15:00 | 07:25:00 | 00:10:00 | Pembukaan oleh MC |
| 07:25:00 | 07:35:00 | 00:10:00 | Sambutan pihak sekolah |
| 07:35:00 | 07:45:00 | 00:10:00 | Sambutan ketua pelaksana |
| 07:45:00 | 08:15:00 | 00:30:00 | Penyampaian materi moderasi beragama |
| 08:15:00 | 08:30:00 | 00:15:00 | Pemutaran video animasi edukatif |
| 08:30:00 | 08:50:00 | 00:20:00 | Diskusi dan tanya jawab |
| 08:50:00 | 09:20:00 | 00:30:00 | Permainan edukatif bertema keberagaman |
| 09:20:00 | 09:45:00 | 00:25:00 | Pembuatan poster “Kita Satu” |
| 09:45:00 | 10:00:00 | 00:15:00 | Presentasi hasil poster dan apresiasi peserta |
| 10:00:00 | 10:15:00 | 00:15:00 | Penyerahan kenang-kenangan kepada pihak sekolah |
| 10:15:00 | 10:25:00 | 00:10:00 | Dokumentasi dan foto bersama |
| 10:25:00 | 10:30:00 | 00:05:00 | Penutupan kegiatan |
| 10:30:00 | 10:45:00 | 00:15:00 | Bersih-bersih dan evaluasi singkat panitia |
| 10:45:00 | 11:00:00 | 00:15:00 | Persiapan pulang dan kegiatan selesai |
4.5 Pembagian Tugas Panitia
| Kegiatan | Penanggung jawab kegiatan | Pemateri |
| Kumpul panitia dan briefing persiapan kegiatan | Mochammad Fahmy | – |
| Persiapan tempat | Ahmad Alfico Zulatmi | – |
| Registrasi peserta dan penyambutan siswa/siswi | Mochammad Fahmy | – |
| Pembukaan oleh Moderator | Luthfiansyah Zaky Ramadhani | Luthfiansyah Zaky Ramadhani |
| Sambutan pihak sekolah | Ahmad Alfico Zulatmi | Menyesuaikan |
| Sambutan ketua pelaksana | Ahmad Alfico Zulatmi | Mochammad Fahmy |
| Penyampaian materi moderasi beragama | Alfian Nuril Ilham | Ahmad Alfico Zulatmi |
| Pemutaran video animasi edukatif | Alfian Nuril Ilham | Ahmad Alfico Zulatmi |
| Diskusi dan tanya jawab | Luthfiansyah Zaky Ramadhani | – |
| Permainan edukatif bertema keberagaman | Luthfiansyah Zaky Ramadhani | – |
| Pembuatan poster “Kita Satu” | Mochammad Fahmy | Mochammad Fahmy |
| Presentasi hasil poster dan apresiasi peserta | Mochammad Fahmy | Ahmad Alfico Zulatmi |
| Penyerahan kenang-kenangan kepada pihak sekolah | Muhammad Raihan Akbar | Mochammad Fahmy |
| Dokumentasi dan foto bersama | Muhammad Raihan Akbar | – |
| Penutupan kegiatan | Luthfiansyah Zaky Ramadhani | – |
| Bersih-bersih dan evaluasi singkat panitia | Alfian Nuril Ilham | – |
| Persiapan pulang dan kegiatan selesai | Alfian Nuril Ilham | – |
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Kegiatan
Kegiatan Sosialisasi SERASI (Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi) telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Kegiatan berlangsung di SDN Medokan Ayu I dengan sasaran siswa/siswi kelas III. Seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pembukaan, penyampaian materi, pemutaran video edukatif, diskusi, permainan edukatif, pembuatan poster, hingga penutupan dapat terlaksana dengan baik. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut terlihat dari keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan, mengikuti permainan, dan menyampaikan pendapat selama sesi diskusi.
5.2 Pembahasan
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan oleh moderator. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari pihak sekolah dan ketua pelaksana sebagai bentuk pengenalan kegiatan kepada peserta. Selanjutnya, pemateri menyampaikan materi mengenai moderasi beragama, pentingnya toleransi, serta cara menghargai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari melalui media presentasi yang menarik dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.
Setelah penyampaian materi, peserta diajak menyaksikan video animasi edukatif yang menggambarkan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung secara interaktif. Siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat serta pengalaman mereka terkait sikap toleransi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pada sesi berikutnya, peserta mengikuti permainan edukatif bertema keberagaman yang bertujuan menumbuhkan kerja sama, saling menghargai, dan rasa persaudaraan. Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan poster bertema “Kita Satu” yang dikerjakan secara berkelompok. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat mengekspresikan pemahaman mereka mengenai persatuan dan toleransi dalam bentuk karya kreatif. Acara kemudian ditutup dengan presentasi hasil poster, penyerahan kenang-kenangan kepada pihak sekolah, dokumentasi bersama, dan evaluasi singkat panitia.
5.3 Capaian Kegiatan
| No | Aspek yang Dinilai | Indikator Capaian | Hasil yang Dicapai |
| 1 | Pemahaman Materi | Siswa memahami konsep moderasi beragama dan toleransi | Sebagian besar siswa mampu menjelaskan pentingnya menghormati perbedaan |
| 2 | Partisipasi Peserta | Keaktifan siswa selama kegiatan berlangsung | Peserta aktif mengikuti diskusi, tanya jawab, dan permainan edukatif |
| 3 | Kerja Sama Kelompok | Kemampuan bekerja sama dalam kegiatan poster | Siswa mampu bekerja sama dengan baik dalam kelompok |
| 4 | Tujuan Program | Penanaman nilai toleransi dan kerukunan | Tujuan kegiatan tercapai melalui respon positif peserta |
| 5 | Kreativitas Peserta | Kemampuan menuangkan ide dalam poster | Peserta menghasilkan poster yang mencerminkan nilai persatuan dan toleransi |
5.4 Kendala Kegiatan
Selama pelaksanaan kegiatan tidak ditemukan kendala yang berarti. Beberapa siswa memiliki tingkat pemahaman yang berbeda terhadap materi yang disampaikan sehingga diperlukan pendekatan yang lebih sederhana dan interaktif. Kondisi peserta yang cukup aktif juga memerlukan pengelolaan kelas yang baik agar kegiatan tetap berjalan sesuai jadwal. Kendala tersebut dapat diatasi melalui penggunaan media visual, permainan edukatif, serta pendampingan langsung oleh panitia selama kegiatan berlangsung.
dini.
5.5 Respon Peserta
Berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan berlangsung, siswa/siswi memberikan respon yang sangat positif terhadap kegiatan Sosialisasi SERASI. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan dan menunjukkan ketertarikan terhadap materi yang disampaikan. Guru pendamping juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan karena dinilai mampu memberikan edukasi mengenai toleransi dan moderasi beragama dengan metode yang menarik dan sesuai dengan usia peserta didik. Secara umum, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kerukunan kepada siswa sejak usia dini.
BAB VI
ANGGARAN BIAYA
6.1 Rincian Anggaran Biaya
Berikut adalah rincian anggaran biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi SERASI “Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi” bagi Siswa/Siswi SD:
6.1.1 Anggaran Pemasukan
| No | Uraian | Jumlah | Harga Satuan (Rp) | Total (Rp) |
| 1 | Iuran Swasembada | 5 Orang | 60.000 | 300.000 |
| 2 | Bantuan eksternal | 1 orang | 20.000 | 20.000 |
| Total Keseluruhan | Rp 320.000 | |||
6.1.2 Anggaran Pengeluaran
| No | Uraian | Jumlah | Harga Satuan (Rp) | Total (Rp) |
| 1 | Kertas karton, krayon, dan alat tulis kegiatan kreatif | 1 paket | 100.000 | 100.000 |
| 2 | Snack dan minuman untuk peserta siswa/siswi SD | 30 orang | 5.000 | 150.000 |
| 3 | Kenang Kenagan untuk sekolah tujuan | 1 Pack | 60.000 | 60.000 |
| 4 | Print Proposal dan surat menyurat | 20 lembar | 500 | 10.000 |
| Total Keseluruhan | Rp 320.000 | |||
Total Pemasukan – Total Pengeluaran = Sisa
320.000 – 320.000 = 0
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan pelaksanaan kegiatan Sosialisasi SERASI (Toleransi Terjadi, Umat Beragama Terlindungi), dapat disimpulkan bahwa:
- Kegiatan sosialisasi berhasil meningkatkan pemahaman siswa/siswi SD mengenai pentingnya moderasi beragama, toleransi, dan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
- Kegiatan yang dikemas melalui penyampaian materi, video edukatif, diskusi, permainan, dan pembuatan poster mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta selama kegiatan berlangsung.
- Nilai-nilai moderasi beragama seperti toleransi, persamaan, kerja sama, dan persaudaraan dapat diperkenalkan kepada siswa sejak usia dini melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan.
- Kegiatan Sosialisasi SERASI memberikan pengalaman belajar yang positif bagi peserta serta mendukung terciptanya lingkungan sekolah yang harmonis dan menghargai keberagaman.
7.2 Saran
Kegiatan Sosialisasi SERASI ini merupakan upaya nyata untuk menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama di kalangan generasi muda, khususnya siswa/siswi SD, melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan dan bermakna. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menanamkan sikap toleransi, saling menghargai, dan kebersamaan dalam keberagaman, sekaligus memperkuat karakter generasi penerus bangsa yang cinta damai dan moderat.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, kami berharap tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang menerima, tetapi juga membentuk karakter peserta yang lebih peduli, adil, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Besar harapan kami agar proposal ini dapat diterima dan mendapatkan dukungan sehingga Sosialisasi SERASI dapat berjalan dengan lancar, membawa keberkahan, dan menjadi contoh nyata praktik moderasi beragama bagi masyarakat luas.
Penulis: Kelompok 8
1. Mochammad Fahmy 25024010105
2. Ahmad Alfico Zulatmi 25024010097
3. Alfian Nuril Ilham25024010098
4. Luthfiansyah Zaky Ramadhani 25082010252
5. Muhammad Raihan Akbar 25025010226
Mahasiswa Sistem informasi, Agroteknologi, Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT)
Dosen Pengampu: Dr. Taufikurrahman, S.Pd., M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Darmawan, A., dkk. (2023). Implementasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Kehidupan Masyarakat. Jurnal Pendidikan dan Keagamaan, 8(2), 45–57.
Irwandi. (2024). Konsep I’tidal dalam Penguatan Moderasi Beragama. Jurnal Studi Islam, 12(1), 33–44.
Muaz, A., dkk. (2022). Toleransi Beragama dalam Masyarakat Multikultural Indonesia. Jurnal Sosial Keagamaan, 10(2), 101–112.
Muhammad, R., dkk. (2023). Implementasi Tasamuh dalam Kehidupan Beragama. Jurnal Pendidikan Islam, 15(1), 50–61.
Nisa, F., & Siregar, M. (2025). Penanaman Moderasi Beragama pada Peserta Didik Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Karakter, 11(1), 1–12.
Nisrina, A., dkk. (2025). Peran Guru dalam Penguatan Moderasi Beragama pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 9(1), 15–26.
Nurdin, M., & Muqowim. (2023). Musawah sebagai Nilai Dasar Moderasi Beragama. Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 7(2), 89–98.
Prayogi, A., & Nasrullah. (2024). Tawazun dalam Perspektif Moderasi Beragama. Jurnal Pemikiran Islam, 13(1), 66–78.
Surawan, S., dkk. (2023). Penguatan Moderasi Beragama pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Multikultural, 6(2), 22–31.
Tantra, D., dkk. (2024). Moderasi Beragama sebagai Upaya Pencegahan Intoleransi pada Peserta Didik. Jurnal Pendidikan dan Kebangsaan, 5(1), 55–67.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














