Culture Shock Anak Kota yang Merantau

opini
Ilustrasi: Pixabay.com

Sebagian besar mahasiswa di suatu universitas ialah anak yang merantau, salah satunya adalah diri saya sendiri. Menjadi anak rantau untuk menempuh pendidikan merupakan sebuah tantangan bagi saya. Karena dengan menjadi anak rantau, saya diharuskan untuk lebih mandiri, bertanggung jawab di setiap kegiatan yang saya lakukan.

Berbicara mengenai rantau, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman dan bercerita mengenai culture shock saya menjadi anak rantau.

Saya lahir di Ibukota DKI Jakarta dan menempuh pendidikan di kota Surakarta. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di D3 Perpustakaan, Fakultas Vokasi, Universitas Sebelas Maret.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Pentingnya Manajemen Keuangan bagi Mahasiswa

UNS adalah kampus impian saya saat masih di bangku SMA, dan dapat diterima sebagai mahasiswa di UNS merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Terlebih pada seleksi SNM dan SBM saya telah gagal, kemungkinan ini merupakan jalan yang diberikan oleh Tuhan kepada saya.

Melalui konsep culture shock diperkenalkan oleh Oberg (1960) yang kemudian disempurnakan oleh Furnham dan Bochner (1970) menunjukkan bahwa culture shock terjadi biasanya dipicu oleh salah satu atau lebih dari tiga penyebab berikut ini, yaitu:

  1. Kehilangan cues atau tanda-tanda yang dikenalnya. Cues adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seperti tanda-tanda, gerakan bagian-bagian tubuh (gestures), ekspresi wajah ataupun kebiasaan-kebiasaan yang dapat menceritakan kepada seseorang bagaimana sebaiknya bertindak dalam situasi-situasi tertentu.
  2. Putusnya komunikasi antar pribadi baik pada tingkat yang disadari yang mengarahkan pada frustasi dan kecemasan. Halangan bahasa adalah penyebab jelas dari gangguan ini.
  3. Krisis identitas dengan pergi keluar daerahnya seseorang akan kembali mengevaluasi gambaran tentang dirinya (dikutip dari Dayakisni, 2012: 265).

Kembali ke topik, saat ini saya sudah menjadi mahasiswa UNS. Saya menjadi anak kost dikarenakan perkuliahan sudah berlangsung offline, sehingga culture shock yang saya alami cukup banyak.

Hal pertama, kondisi jalan yang naik turun. Selama nge-kost saya tidak membawa kendaraan, otomatis saya harus berjalan kaki dengan kondisi jalan menanjak dan menurun. Hal itu membuat saya kaget, karena di Jakarta rata-rata kondisi jalannya datar.

Hal kedua, jarangnya transportasi umum. Di sini transportasi umum cukup sedikit, meskipun ada kita perlu menunggu cukup lama untuk dapat menaiki transportasi umum tersebut. Berbeda dengan Jakarta yang setiap sisi jalannya terdapat angkot dan ojek pangkalan yang menunggu.

Hal ketiga, berkaitan dengan makanan. Menurut saya harga makanan di Surakarta sangat murah dibandingkan dengan di Jakarta. Hal itu sering sekali membuat saya kaget setiap saya membeli makanan. Yang membuat saya kaget lagi, meskipun murah tetapi porsinya cukup banyak untuk mengenyangkan perut dan makanannya juga lezat-lezat.

Hal keempat, mengenai biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari. Sebagai anak rantau, tentu saya harus berhemat, baik itu makanan atau bahan-bahan yang menurut saya mahal harganya. Terkadang saya hanya makan mi instan untuk satu hari penuh ketika sedang tanggal tua.

Hal kelima, halangan dalam berkomunikasi. Hal ini sering saya alami ketika sedang berbicara dengan teman kuliah saya yang berbeda daerah. Terkadang saya tidak mengerti apa yang dia ucapkan karena terdapat kata yang terdengar asing bagi saya. Karena hal tersebut, saya sedikit sulit untuk berkomunikasi.

Hal keenam, jarak minimarket yang jauh. Semenjak diterapkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5/2011 tentang Penataan dan Pembinaan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Dalam Perda, minimarket wajib berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional. Apabila saya ingin mengambil uang ataupun berbelanja perlengkapan kost, maka otomatis saya harus berjalan kaki menuju minimarket yang jaraknya 500 meter lebih dari kost saya, karena saya tidak memiliki kendaraan.

Baca Juga: Dilema Mahasiswa: Ngekos atau Ngontrak?

Lalu kenapa tidak pesan ojol aja? Karena mahal, sebagai anak rantau saya harus menghemat uang saku yang diberikan. Hal ini paling membuat saya culture shock, karena selama di Jakarta di sepanjang jalan pasti terdapat minimarket.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap menyikapi culture shock tersebut? Apakah dengan melakukan protes kepada pemerintah daerah karena tidak sesuai dengan budaya kita?

Sikap yang paling benar dalam menyikapi culture shock adalah dengan menerima dan beradaptasi terhadap kebudayaan baru tersebut. Berikut beberapa cara mengatasi culture shock atau gegar budaya:

  1. Menyadari dan mengakui perasaan tidak nyaman;
  2. Berpikiran terbuka;
  3. Membuka diri terhadap hal baru;
  4. Beradaptasi dengan budaya tersebut;
  5. Sering bersosialisasi dengan sekitar.

Itu semua merupakan culture shock saya menjadi anak rantau. Sebenarnya masih ada lagi, tetapi saya lebih menekankan hal tersebut. Seorang anak yang hidup di ibukota, yang telah dimanjakan dengan berbagai fasilitas. Kemudian merantau di tempat yang menurut saya harga apapun relatif murah tetapi fasilitas yang ada tidak selengkap ibukota merupakan sebuah culture shock.

Pada tulisan ini, saya tidak menjelekkan kota yang saya tulis. Namun, ini bisa menjadi tambahan wawasan bagi kalian yang ingin merantau. Untuk itu, harus mempersiapkan diri dan lainnya.

Terakhir, saya meminta maaf jika terdapat kata yang menyinggung pihak manapun. Ini adalah cerita pengalaman saya menjadi anak rantau. Terima kasih dan salam sehat.

Penulis: Naufal Adiputra Giffary
Mahasiswa D3 Perpustakaan Universitas Sebelas Maret

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI