Bagaimana sih Rasanya Menjadi Anak Kost?

opini
Ilustrasi: Pixabay.com

Pada saat menentukan perguruan tinggi, banyak calon mahasiswa baru yang mencari informasi mengenai jurusan dan kampus yang diimpikan. Tentunya banyak sekali calon mahasiswa baru yang memilih untuk berkuliah di luar daerah.

Beberapa alasan mereka ingin berkuliah di luar daerah adalah ingin merasakan suasana baru dan ingin hidup bebas jauh dari pantauan orang tua.

Namun mereka yang memilih untuk berkuliah di luar daerah, mau tidak mau dituntut untuk bisa belajar hidup mandiri dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dengan daerah asal mereka. Mereka yang memilih untuk hidup merantau kebanyakan memilih untuk tinggal mengekost.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Menjadi Anak Kost yang Sering Merasakan Home Sick? Yuk, Terapkan Tips Berikut Ini!

Sebagian anak kost sangat pemilih dalam menentukan kost yang tepat, mereka pasti akan memilih kost dengan harga termurah namun dengan fasilitas yang mencukupi, serta dekat dengan kampus.

Banyak dari mereka yang berpikir bahwa menjadi anak kost sangat menyenangkan, karena dapat hidup bebas dan jauh dari pantauan orang tua. Tetapi siapa sangka, kalau menjadi anak kost sebenarnya tidaklah semenyenangkan itu, mereka harus bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Menjadi anak kost tentunya harus bisa bersosialisasi dengan penghuni kost lain agar dapat saling membantu saat membutuhkan bantuan. Selain itu, juga harus beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan baru.

Saat merasakan menjadi anak kost, kita dapat mejumpai berbagai macam karakter dan latar belakang dari penghuni kost lainnya. Tinggal dengan berbagai macam karakter baru, tentunya tidak mudah diterima oleh diri, namun dengan seiringnya waktu maka lama kelamaan akan terbiasa.

Beberapa dari mereka yang baru pertama kali merasakan mengekost, tentunya akan merasakan culture shock (gegar budaya) yaitu sebuah perasaan seseorang yang terkejut dengan budaya dan lingkungan baru.

Mahasiswa pendatang atau perantau pasti akan merasakan hal ini. Contohnya dalam perbedaan bahasa, cara bicara, tata krama dan cara bergaul, dan mereka tentunya harus bisa menyesuaikan diri dari hal-hal tersebut.

Mahasiswa yang berasal dari luar daerah memiliki tantangan untuk beradaptasi dengan budaya baru, terlebih lagi dalam masalah berkomunikasi karena memiliki perbedaan bahasa. Dalam mengatasi situasi tersebut para perantau harus bisa belajar menyesuaikan diri.

Baca Juga: Dilema Mahasiswa: Ngekos atau Ngontrak?

Belajar Hidup Mandiri

Dengan mengekost pastinya akan mengalami beberapa perbedaan saat masih tinggal dengan orang tua, di mana saat masih tinggal dengan orang tua semua yang kita butuhkan pasti akan didapatkan. Jika saat di rumah selalu disediakan makanan oleh ibu, ketika kamu mengekost kamu harus membeli makanan sendiri.

Saat di rumah ada yang membangunkanmu tidur agar tidak terlambat untuk berangkat ke sekolah, namun ketika mengekost kamu harus bisa bangun tidur sendiri. 

Mereka para anak kost harus bisa mengurus keperluan sehari hari seorang diri tanpa bantuan orang tua. Contohnya seperti mencuci baju, menyetrika baju, mencuci piring, dan merapikan kamar.

Sangat Pemilih dalam Hal Makanan

Masalah yang sering terjadi pada anak kost adalah mereka sangat pemilih dalam hal makanan, dikarenakan perbedaan rasa makanan yang tidak cocok di lidah.

Para anak kost pun terkadang malas untuk membeli makanan, faktor lain di karenakan belum tersedianya kendaraan, sehingga membiarkan dirinya kelaparan dan jatuh sakit, padahal sakit di saat jauh dari orang tua sangat menyusahkan diri sendiri, karena harus berjuang sendiri untuk datang ke klinik atau sekadar membeli obat.

Pintar Memanajemen Keuangan

Selain masalah tersebut, masalah yang sering juga terjadi adalah masalah keuangan. Anak kost harus pintar memanajemen keuangan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua mereka sudah memberikan uang yang cukup untuk waktu sebulan, sehingga mereka dituntut untuk bisa mengatur keuangan dan harus bisa hidup hemat demi mencukupi kebutuhan dalam waktu sebulan. Untuk berbelanja bulanan pun mereka harus memilih barang dengan harga yang murah.

Beberapa dari mereka sudah merasa cukup dengan uang yang diberikan oleh orang tua mereka, namun beberapa dari mereka, juga ada yang tetap merasa kekurangan dikarenakan pola hidup mereka yang boros.

Tak banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja part time untuk menambah uang bulanan, daripada harus meminta lagi.

Baca Juga: Culture Shock Anak Kota yang Merantau

Menjadi Lebih Boros

Pada saat mengekost mereka bisa menjadi sangat boros, dikarenakan mengikuti pergaulan, menongkrong di coffee shop dengan alasan belajar kelompok contohnya. Agar bisa diterima dalam lingkup pertemanan mereka harus menyesuaikan diri dengan pertemanan tersebut.

Mereka harus mencari teman-teman baru untuk bergaul, jika salah memilih pertemanan akan mengarahkan ke hal yang tidak baik. Oleh karena itu, anak kost harus sangat selektif dalam memilih teman.

Merasakan Homesick

Di saat mengekost, beberapa dari mereka pasti akan mengalami kesepian dan merindukan rumah, atau pada zaman sekarang biasa disebut dengan homesick. Rindu keluarga, suasana rumah, dan hal-hal yang dirasakan di saat belum mengekost, tidak sedikit dari anak rantau yang merasakan hal ini.

Beberapa cara untuk menghilangkan homesick, bisa dengan mengajak teman ke kost-an untuk bermain atau sekadar berbincang-bincang. Selain itu, dengan cara menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan yang positif seperti mengikuti organisasi atau UKM.

Jadi seperti itu rasanya menjadi anak kost. Hal-hal di atas tentunya dapat berbeda, tergantung dengan pengalaman orang yang menjalani. Mengekost tidak semenakutkan yang dibayangkan orang-orang, justru dengan mengekost kita dapat banyak belajar hal-hal baru.

Penulis: Afifi Safitri
Mahasiswa D3 Perpustakaan Universitas Sebelas Maret

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI