Takut Pulang Kampung: Sisi Lain Tradisi Mudik yang Jarang Dibahas

persiapan pulang kampung
Takut Pulang Kampung: Sisi Lain Tradisi Mudik yang Jarang Dibahas. Sumber: Penulis.

Beban ekspektasi keluarga menjadi alasan sebagian perantau memilih bertahan di kota saat hari raya

Mudik berarti pulang. Tapi bagi sebagian perantau, kata “pulang” justru menjadi beban paling berat. Bukan karena ongkos habis atau tiket sulit, melainkan karena rasa belum pantas menghadap keluarga dan lingkungan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Mereka memilih bertahan di kota saat hari raya, bukan karena tidak rindu, melainkan karena tekanan untuk membuktikan keberhasilan.

Fenomena ini bukanlah cerita pinggiran. Data Long Form Sensus Penduduk 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 9,83 persen penduduk Indonesia merupakan migran antarprovinsi. Angka tersebut menunjukkan bahwa merantau telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Di balik angka itu, terdapat jutaan orang yang meninggalkan kampung halaman dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui pekerjaan, pendidikan, maupun peluang ekonomi yang lebih luas.

Namun, perjalanan merantau tidak selalu berjalan sesuai rencana. Di tengah tingginya biaya hidup, ketatnya persaingan kerja, dan ketidakpastian ekonomi, tidak sedikit perantau yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam situasi seperti itu, muncul tekanan lain yang sering kali luput dari perhatian, yakni tuntutan sosial untuk terlihat berhasil.

Di masyarakat, keberhasilan masih kerap diukur melalui indikator yang bersifat materi. Pekerjaan tetap, penghasilan besar, kendaraan pribadi, rumah, atau kemampuan memberikan banyak bantuan kepada keluarga sering kali menjadi ukuran utama kesuksesan seseorang.

Tanpa disadari, standar tersebut membentuk ekspektasi yang harus dipenuhi oleh para perantau ketika kembali ke kampung halaman.

Tekanan itu biasanya semakin terasa saat momen mudik. Pertanyaan seperti “kerja di mana sekarang?”, “gajinya berapa?”, atau “sudah punya rumah belum?” mungkin dimaksudkan sebagai bentuk perhatian.

Namun bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut dapat menjadi sumber kecemasan, terutama ketika kondisi kehidupan mereka belum sesuai dengan harapan yang dibayangkan.

Kondisi ini diperkuat oleh media sosial yang setiap hari menampilkan berbagai pencapaian orang lain. Foto liburan, promosi jabatan, kendaraan baru, atau gaya hidup yang terlihat mapan sering kali menciptakan kesan bahwa semua orang sedang bergerak maju.

Baca Juga: Mahasiswa Pulang Kampung: Momentum Hangat Bersama Keluarga Tercinta

Padahal, media sosial umumnya hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Proses panjang, kegagalan, dan kesulitan yang menyertai pencapaian tersebut jarang terlihat.

Akibatnya, sebagian perantau merasa tertinggal dibandingkan orang lain. Mudik yang seharusnya menjadi perjalanan untuk melepas rindu perlahan berubah menjadi arena pembuktian status sosial.

Bagi mereka yang merasa belum berhasil, pulang kampung dapat menghadirkan perasaan tidak nyaman, bahkan ketakutan untuk menghadapi penilaian dari lingkungan sekitar.

Padahal, bertahan hidup di perantauan merupakan pencapaian yang tidak sederhana. Banyak perantau bekerja sebagai pegawai toko, pengemudi ojek daring, buruh harian lepas, maupun pekerja informal lainnya.

Penghasilan mereka mungkin tidak besar dan tidak selalu tetap, tetapi mereka tetap berupaya memenuhi kebutuhan hidup, bertahan di tengah tekanan ekonomi, dan membantu keluarga di kampung halaman sesuai kemampuan yang dimiliki.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata terletak pada capaian individu, melainkan juga pada cara masyarakat memaknai keberhasilan. Selama kesuksesan hanya diukur melalui pencapaian materi yang tampak di permukaan, tekanan sosial terhadap para perantau akan terus berulang dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Lagu Rumah Salma Salsabil, Bikin Para Perantau Ingin Pulang

Karena itu, perubahan perlu datang dari dua arah. Di satu sisi, para perantau perlu memahami bahwa setiap orang memiliki proses, tantangan, dan waktunya masing-masing sehingga tidak perlu terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Di sisi lain, keluarga dan masyarakat di kampung halaman juga perlu membangun budaya yang lebih suportif dengan mengedepankan empati daripada penilaian.

Pada akhirnya, mudik seharusnya menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga, bukan ajang untuk mengukur keberhasilan seseorang.

Rumah semestinya menjadi tempat yang menerima apa adanya, tempat seseorang dapat pulang tanpa rasa takut, tanpa beban pembuktian, dan tanpa kekhawatiran akan penilaian sosial.

Sebab, makna sejati dari pulang bukanlah tentang seberapa besar pencapaian yang dibawa, melainkan tentang kehangatan untuk kembali diterima sebagai bagian dari keluarga.


Penulis:

Shendi Junior
Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses