7 Cara Mengatasi Perut Kembung bagi Mahasiswa

7 Cara Mengatasi Perut Kembung bagi Mahasiswa

Perut terasa penuh saat sedang mengikuti kelas tentu tidak nyaman. Konsentrasi bisa terganggu, apalagi jika kembung disertai sendawa, rasa begah, atau keinginan buang angin terus-menerus.

Perut kembung sendiri bukan penyakit tertentu. Kondisi ini merupakan gejala yang dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari kebiasaan makan terlalu cepat, makanan tertentu, intoleransi laktosa, konstipasi, hingga gangguan pencernaan.

Kesibukan mahasiswa juga membuat pola makan patut diperhatikan. Penelitian Desi Jayusbar, Suriatu Laila, dan Iziddin Fadhil berjudul Hubungan Pola Makan terhadap Kejadian Sindrom Dispepsia pada Mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama menemukan hubungan antara frekuensi, jumlah, dan jenis makanan dengan kejadian sindrom dispepsia pada responden. Kembung termasuk salah satu gejala yang digunakan dalam pembahasan sindrom tersebut.

Jadi, ketika perut mulai terasa begah, apa yang bisa dilakukan?

1. Perhatikan Cara dan Pola Makan

Makan terburu-buru ketika jeda kuliah hanya tersisa beberapa menit memang praktis. Masalahnya, makan terlalu cepat dapat membuat lebih banyak udara ikut tertelan dan berkontribusi terhadap kembung.

Cobalah menyediakan waktu khusus untuk makan. Kunyah makanan secara perlahan dan hindari terburu-buru menghabiskan satu porsi besar.

Pola makan mahasiswa juga layak diperhatikan secara lebih luas. Penelitian terhadap mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama tadi menunjukkan adanya hubungan pola makan dengan sindrom dispepsia.

Temuan tersebut tidak berarti jadwal makan yang tidak teratur pasti menyebabkan kembung. Namun, ini menjadi alasan yang cukup untuk tidak mengabaikan kebiasaan makan ketika keluhan pencernaan sering muncul.

Baca juga: Tips agar Perut Tidak Buncit setelah Makan: Ternyata ini Rahasianya!

2. Kenali Makanan yang Memicu Kembung

Tidak semua orang memiliki pemicu yang sama.

Kacang-kacangan, brokoli, kubis, serta beberapa makanan yang tinggi fruktosa dapat menghasilkan lebih banyak gas pada saluran pencernaan. Produk susu juga bisa menimbulkan kembung pada orang yang kesulitan mencerna laktosa.

Karena respons setiap orang berbeda, Kamu tidak perlu langsung menghilangkan banyak kelompok makanan sekaligus.

Cobalah memperhatikan pola. Apa yang dimakan sebelum kembung muncul? Apakah keluhan berulang setelah minum susu? Apakah muncul setelah makan dalam jumlah besar?

Catatan sederhana selama beberapa hari dapat membantu mengenali makanan yang kemungkinan menjadi pemicu.

3. Kurangi Minuman Bersoda

Minuman dingin bersoda memang menggoda ketika cuaca panas atau setelah seharian berada di kampus. Namun, jika sedang kembung, pilihan tersebut justru patut dihindari.

Kementerian Kesehatan memasukkan minuman bersoda sebagai salah satu jenis minuman yang sebaiknya dihindari ketika berupaya mengurangi keluhan perut kembung.

Pilihan paling sederhana adalah air putih.

Kebiasaan minum juga perlu diperhatikan sepanjang hari. Jangan sampai kesibukan membuat Kamu baru mengingat air ketika merasa sangat haus.

Baca juga: 7 Cara Mengobati Sakit Perut dengan Ramuan Herbal yang Terbukti Ampuh

4. Bergerak dan Lakukan Peregangan Ringan

Saat perut terasa penuh, keinginan pertama mungkin rebahan di tempat tidur. Padahal, sedikit bergerak dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

Salah satu langkah yang direkomendasikan untuk membantu mengatasi kembung adalah peregangan ringan. Gerakan seperti yoga dapat membantu membuat otot saluran pencernaan lebih relaks sehingga gas yang terperangkap lebih mudah keluar.

Tidak harus langsung melakukan olahraga berat.

Kamu dapat berjalan santai atau melakukan peregangan setelah terlalu lama duduk mengerjakan tugas. Aktivitas semacam ini juga lebih mudah dimasukkan ke sela jadwal kuliah.

5. Makan Lebih Perlahan dan Kurangi Kebiasaan yang Membuat Banyak Udara Tertelan

Kembung tidak selalu berasal dari makanan.

Udara yang tertelan ketika makan atau minum juga dapat terkumpul di saluran pencernaan. Karena itu, kebiasaan makan terlalu cepat perlu diperhatikan.

Coba perlambat ritme makan. Letakkan sendok sesekali, kunyah makanan dengan baik, kemudian lanjutkan setelah makanan tertelan.

Makan sambil terburu-buru mengejar kelas berikutnya mungkin sulit dihindari sesekali. Namun, kalau menjadi rutinitas harian dan kembung juga sering muncul, kebiasaan tersebut layak dievaluasi.

6. Jangan Asal Menganggap Semua Makanan Fermentasi sebagai Obat Kembung

Artikel lama menyebut tempe dan yoghurt sebagai solusi probiotik yang seolah-olah pasti dapat mengatasi kembung. Klaim tersebut perlu dibuat lebih hati-hati.

Kementerian Kesehatan memang menyebut makanan yang mengandung probiotik dapat membantu pada kondisi tertentu, terutama ketika keluhan berkaitan dengan masalah bakteri usus atau pencernaan yang lambat.

Namun, penyebab kembung berbeda-beda.

Yoghurt berbahan susu, misalnya, justru berpotensi menimbulkan keluhan pada orang yang memiliki intoleransi laktosa. Karena itu, jangan menjadikan satu jenis makanan sebagai “obat” yang berlaku untuk semua orang.

Lebih baik kenali respons tubuh terhadap makanan yang dikonsumsi.

7. Jangan Mengabaikan Kembung yang Terus Berulang

Kembung sesekali setelah makan berbeda dengan kembung yang terus muncul atau semakin berat.

Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan konstipasi, intoleransi makanan, sindrom iritasi usus besar, penyakit celiac, atau gangguan pencernaan lainnya.

Karena itu, jangan terus mencoba berbagai cara rumahan apabila keluhannya menetap.

Pemeriksaan tenaga kesehatan menjadi lebih penting jika Kamu mengalami gejala lain seperti nyeri perut berat atau berkepanjangan, muntah berulang, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, perdarahan saluran cerna, atau perubahan buang air besar yang menetap.

Tujuannya bukan sekadar menghilangkan rasa begah, tetapi mengetahui penyebabnya.

Stres dan Pola Hidup Mahasiswa Juga Perlu Diperhatikan

Kembung terkadang tidak berdiri sendiri.

Kehidupan mahasiswa dapat melibatkan perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan tingkat stres. Penelitian Laras Puji Multazami berjudul Hubungan Stres, Pola Makan, dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Mahasiswa menggambarkan ketiga faktor tersebut sebagai bagian dari kondisi keseharian mahasiswa yang diteliti.

Namun, stres tidak boleh otomatis dianggap sebagai penyebab setiap keluhan kembung.

Jika kembung muncul ketika jadwal sedang padat, perhatikan juga apa yang berubah pada saat bersamaan. Bisa jadi Kamu makan lebih cepat, terlambat makan, lebih banyak mengonsumsi makanan tertentu, kurang bergerak, atau mengalami perubahan kebiasaan lainnya.

Melihat pola secara keseluruhan lebih berguna daripada langsung menyalahkan satu faktor.

Tidak Semua Perut Kembung Membutuhkan “Obat Alami”

Satu bagian penting dari artikel lama juga perlu diluruskan: anggapan bahwa cara alami selalu lebih efektif dan lebih aman daripada obat tidak memiliki dasar yang cukup.

Penanganan kembung bergantung pada penyebabnya.

Pada keluhan ringan, perubahan cara makan, menghindari pemicu, cukup minum, dan melakukan aktivitas ringan mungkin sudah membantu. Pada kondisi tertentu, obat seperti simetikon atau antasida dapat digunakan sesuai penyebab dan anjuran tenaga kesehatan.

Jadi, targetnya bukan mencari cara yang paling “alami” atau obat yang paling kuat.

Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang kemungkinan memicu kembung dan memilih penanganan yang sesuai.

Kenali Kebiasaan yang Membuat Perut Tidak Nyaman

Cara mengatasi perut kembung bagi mahasiswa sebenarnya dapat dimulai dari rutinitas yang sangat sederhana: makan lebih perlahan, mengenali makanan pemicu, mengurangi minuman bersoda, cukup minum, dan tetap bergerak.

Jika kembung hanya sesekali dan membaik setelah kebiasaan tersebut diperbaiki, biasanya tidak perlu terlalu khawatir.

Namun, tubuh juga punya cara untuk memberi sinyal ketika sesuatu perlu diperiksa lebih lanjut.

Jika kembung terus berulang, semakin berat, atau muncul bersama gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan hanya menahannya demi menyelesaikan kuliah atau tugas. Pemeriksaan tenaga kesehatan merupakan langkah yang lebih tepat.

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses