7 Tips Menjaga Kesehatan Jantung bagi Mahasiswa

Tips Menjaga Kesehatan Jantung Bagi Mahasiswa
Inilah Tips Menjaga Kesehatan Jantung Bagi Mahasiswa

Kesibukan kuliah sering membuat mahasiswa lebih memperhatikan tugas, jadwal organisasi, dan aktivitas sosial daripada kesehatan tubuh. Pola makan yang kurang teratur, duduk terlalu lama, kurang tidur, stres, serta kebiasaan merokok juga dapat menjadi bagian dari rutinitas yang sulit disadari.

Menjaga kesehatan jantung tidak harus dimulai dari perubahan besar. Kebiasaan sehari-hari seperti memilih makanan yang lebih sehat, aktif bergerak, tidak merokok, tidur cukup, dan mengetahui faktor risiko dapat membantu menjaga kesehatan kardiovaskular dalam jangka panjang.

WHO menyebut pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, serta penggunaan alkohol yang berbahaya sebagai beberapa faktor perilaku penting yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular.

Berikut tujuh kebiasaan yang dapat diterapkan mahasiswa.

1. Perbaiki Pola Makan Sehari-hari

Pola makan sehat tidak berarti mahasiswa harus menghindari semua makanan favorit. Yang lebih penting adalah membangun pola makan yang beragam dan seimbang.

WHO merekomendasikan pola makan yang menekankan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Makanan yang minim proses, sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sumber serat dapat menjadi bagian dari pola makan tersebut. Sebaliknya, konsumsi makanan dengan kadar garam, gula bebas, dan lemak tidak sehat yang tinggi perlu dibatasi.

Bagi mahasiswa, penerapannya bisa sederhana. Misalnya, pilih lauk yang tidak selalu digoreng, tambahkan sayuran pada makanan utama, konsumsi buah sebagai camilan, dan perhatikan jumlah makanan olahan yang dikonsumsi.

Tidak perlu mengejar satu jenis makanan yang disebut sebagai “makanan super”. Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan.

2. Luangkan Waktu untuk Aktif Bergerak

Aktivitas fisik merupakan salah satu kebiasaan penting untuk menjaga kesehatan kardiovaskular. American Heart Association memasukkan aktivitas fisik sebagai salah satu komponen utama kesehatan kardiovaskular.

Mahasiswa tidak selalu harus berolahraga di pusat kebugaran. Berjalan kaki menuju kelas, menggunakan tangga, bersepeda, berlari, berenang, atau mengikuti olahraga bersama teman dapat menjadi pilihan.

Jika sebagian besar waktu dihabiskan untuk duduk mengerjakan tugas, sisihkan waktu untuk berdiri dan bergerak secara berkala. Pilihan aktivitas dapat disesuaikan dengan kondisi fisik, jadwal kuliah, dan kemampuan masing-masing.

Yang penting bukan mencari olahraga yang paling populer, tetapi menemukan aktivitas yang realistis untuk dilakukan secara konsisten.

3. Jangan Merokok dan Hindari Paparan Asap Rokok

Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting penyakit kardiovaskular. WHO memasukkan penggunaan tembakau sebagai faktor perilaku utama yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Bagi mahasiswa yang merokok, berhenti merupakan langkah yang lebih bermanfaat daripada sekadar mencari cara untuk “menetralisir” dampak rokok melalui makanan atau olahraga.

Paparan asap rokok dari orang lain juga sebaiknya dikurangi. Karena itu, lingkungan pergaulan dan tempat berkumpul juga perlu diperhatikan, terutama jika seseorang sering berada di ruangan dengan paparan asap rokok.

Tidak ada pola hidup sehat yang dapat menjadikan kebiasaan merokok aman bagi jantung.

4. Jaga Kualitas dan Keteraturan Tidur

Tidur sering menjadi bagian pertama yang dikorbankan ketika tugas kuliah menumpuk. Padahal, kesehatan tidur merupakan salah satu komponen kesehatan kardiovaskular.

American Heart Association memasukkan tidur dalam kerangka Life’s Essential 8 dan menjelaskan bahwa kesehatan tidur berkaitan dengan sejumlah faktor kardiometabolik, termasuk tekanan darah, lipid, obesitas, aktivitas fisik, dan pola makan.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak menjadikan begadang sebagai rutinitas.

Cobalah menjaga jadwal tidur yang lebih teratur, memberi waktu istirahat yang cukup, dan menghindari kebiasaan mengerjakan tugas hingga dini hari secara terus-menerus.

Jika sulit tidur berlangsung terus-menerus atau disertai keluhan lain, masalah tersebut sebaiknya tidak dianggap sekadar akibat kesibukan kuliah.

5. Kelola Stres dan Jangan Abaikan Kesehatan Mental

Tugas, ujian, masalah keuangan, organisasi, hubungan sosial, dan tekanan untuk menyelesaikan kuliah dapat menjadi sumber stres bagi mahasiswa.

Mengelola stres bukan berarti semua tekanan harus dihilangkan. Yang lebih realistis adalah memiliki cara yang sehat untuk menghadapinya.

Aktivitas fisik, tidur yang cukup, istirahat dari pekerjaan akademik, mengatur prioritas, melakukan kegiatan yang menyenangkan, serta berbicara dengan orang yang dipercaya dapat menjadi bagian dari strategi tersebut.

Jika tekanan psikologis terasa berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional merupakan pilihan yang lebih tepat daripada memaksakan diri untuk mengatasinya sendirian.

Dalam konteks kesehatan jantung, pengelolaan stres sebaiknya dipandang sebagai bagian dari kesehatan secara menyeluruh, bukan sebagai satu-satunya cara untuk mencegah penyakit jantung.

6. Pertahankan Berat Badan dan Faktor Risiko dalam Rentang yang Sehat

Berat badan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular, tetapi angka berat badan saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi kesehatan seseorang.

American Heart Association memasukkan berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah sebagai bagian dari faktor kesehatan kardiovaskular.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka timbangan. Pola makan, aktivitas fisik, tekanan darah, riwayat keluarga, dan kondisi kesehatan lainnya juga perlu dipertimbangkan.

Jika berat badan berubah secara signifikan tanpa sebab yang jelas atau terdapat faktor risiko tertentu, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang sesuai.

7. Kenali Faktor Risiko dan Lakukan Pemeriksaan yang Sesuai

Merasa masih muda dan tidak memiliki keluhan bukan berarti seluruh faktor risiko kesehatan dapat diabaikan.

Beberapa faktor seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak sehat, gula darah tinggi, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga dapat berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular. WHO menyebut tekanan darah, gula darah, lipid darah, serta overweight dan obesitas sebagai faktor risiko yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi peningkatan risiko kardiovaskular.

Namun, pemeriksaan tidak harus berarti melakukan seluruh tes jantung secara rutin tanpa alasan.

Jenis dan frekuensi pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, faktor risiko, keluhan, serta rekomendasi tenaga kesehatan. Pemeriksaan tekanan darah, misalnya, dapat menjadi bagian dari pemantauan kesehatan rutin.

Jika memiliki riwayat keluarga penyakit kardiovaskular atau faktor risiko tertentu, sampaikan informasi tersebut ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Menjaga Jantung Dimulai dari Kebiasaan yang Realistis

Kesehatan jantung mahasiswa tidak ditentukan oleh satu makanan, satu jenis olahraga, atau satu kebiasaan saja. Pola hidup secara keseluruhan jauh lebih penting.

Mulailah dari hal yang realistis: perbaiki pilihan makanan, lebih banyak bergerak, hindari rokok, jaga tidur, kelola stres, perhatikan faktor risiko, dan lakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan.

Kebiasaan tersebut bukan jaminan bahwa seseorang pasti terbebas dari penyakit jantung. Faktor genetik, kondisi medis, lingkungan, dan faktor lainnya juga berperan. Namun, membangun kebiasaan sehat sejak masa kuliah merupakan langkah yang masuk akal untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses