Dampak Kurang Tidur bagi Remaja: Picu Stres hingga Lebih Sensitif di Pagi Hari

Dampak kurang tidur bagi remaja

Bagi sebagian besar remaja, begadang sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Entah karena tugas sekolah yang menumpuk, scroll media sosial sampai larut, atau sekadar menonton serial favorit hingga tengah malam.

Padahal, dampak kurang tidur bagi remaja ternyata jauh lebih serius daripada sekadar bangun dengan mata mengantuk dan badan lemas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sejumlah riset terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa memengaruhi kondisi emosional seseorang, mulai dari mudah marah hingga rentan stres di keesokan harinya.

Dampak Kurang Tidur bagi Remaja Menurut Riset Iowa State University

Sebuah penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Iowa State University, Amerika Serikat, mengungkap bahwa orang yang waktu tidurnya berkurang beberapa jam saja pada malam hari cenderung menunjukkan tingkat amarah yang lebih tinggi keesokan harinya.

Tak hanya itu, kemampuan mereka dalam menghadapi situasi yang menekan juga ikut menurun. Mereka menjadi lebih mudah merasa frustrasi dibandingkan dengan orang-orang yang tidurnya cukup pada malam sebelumnya.

Temuan ini penting untuk diperhatikan, terutama oleh remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan dan rentan mengalami fluktuasi emosi.

Kurang tidur bukan hanya soal “ngantuk di kelas”, tapi juga bisa memengaruhi cara seseorang merespons masalah sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan sosialnya.

Baca juga: 5 Cara Sleep Hygiene untuk Kurangi Kelelahan dan Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Kanker

Mengapa Remaja yang Kurang Tidur Lebih Sulit Bahagia?

Selain berdampak pada amarah, kurang tidur juga ternyata memengaruhi cara seseorang menikmati momen-momen positif dalam hidupnya.

Mengutip dari Medical News Today, tidur yang cukup membantu seseorang menjaga kestabilan emosinya sekaligus membuatnya lebih mudah merasakan kebahagiaan dari hal-hal baik yang terjadi dalam kesehariannya.

Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada. Studi tersebut menemukan bahwa orang yang malamnya kurang tidur cenderung lebih sulit bersikap positif ketika dihadapkan pada situasi yang secara emosional menantang.

Nancy Sin, psikolog yang memimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa kondisi ini bisa membuat hari-hari terasa lebih berat dan menegangkan bagi mereka yang waktu tidurnya minim.

Menurutnya, ketika seseorang tidur lebih sedikit dari biasanya, mereka tidak mendapatkan dorongan emosi positif yang maksimal meski sedang mengalami hal-hal baik. Dengan kata lain, momen menyenangkan yang seharusnya bisa membuat mood membaik, justru terasa kurang berarti bagi orang yang kurang tidur.

Baca juga: Pentingnya Waktu Tidur bagi Kesehatan: Panduan Lengkap dan Sains di Baliknya

Berapa Jam Tidur yang Dibutuhkan agar Terhindar dari Dampak Ini?

Pedoman umum menyebutkan bahwa orang dewasa membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam untuk menjaga kondisi fisik dan emosionalnya tetap stabil. Sayangnya, sekitar satu dari tiga orang dewasa belum memenuhi standar ini.

Bagi remaja, kebutuhan tidur sebenarnya cenderung lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, mengingat tubuh dan otak mereka masih dalam proses perkembangan aktif.

Kurangnya waktu tidur pada usia ini berisiko memberikan dampak yang lebih terasa, baik dari sisi konsentrasi belajar, kestabilan emosi, maupun kemampuan menghadapi tekanan sosial sehari-hari.

Risiko Tambahan bagi Mereka dengan Kondisi Kesehatan Tertentu

Penelitian Sin juga menemukan bahwa orang dengan kondisi kesehatan kronis cenderung lebih reaktif secara emosional saat menghadapi peristiwa yang memicu stres, terutama jika waktu tidur mereka kurang dari biasanya.

Sebaliknya, ketika mereka berhasil tidur lebih lama dari durasi biasanya, respons mereka terhadap pengalaman positif keesokan harinya cenderung lebih baik.

Temuan ini menegaskan bahwa tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan juga berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang membuat tubuh lebih sensitif terhadap tekanan.

Baca juga: Memahami Insomnia sebagai Gangguan Tidur yang Serius dan Kompleks

Cara Mengurangi Dampak Kurang Tidur bagi Remaja

Mengingat besarnya pengaruh tidur terhadap kondisi emosional, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba untuk memperbaiki kualitas tidur:

Pertama, usahakan tidur dan bangun di jam yang konsisten setiap hari, termasuk saat akhir pekan, agar ritme tubuh tetap stabil. Kedua, kurangi penggunaan ponsel atau gadget setidaknya 30 menit sebelum tidur, karena cahaya layar dapat mengganggu produksi hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Ketiga, hindari konsumsi minuman berkafein di sore atau malam hari. Keempat, ciptakan suasana kamar yang nyaman dan minim gangguan agar tidur lebih berkualitas, bukan hanya sekadar lama waktunya.

Kesimpulan

Dampak kurang tidur bagi remaja jelas bukan masalah sepele. Lebih dari sekadar membuat tubuh lelah, kebiasaan ini bisa memengaruhi cara seseorang mengelola emosi, menghadapi tekanan, hingga menikmati hal-hal baik dalam hidupnya.

Memprioritaskan waktu tidur yang cukup bisa menjadi salah satu langkah sederhana namun berdampak besar untuk menjalani hari-hari dengan lebih baik.

Nur Kholifatul Afidah
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Editor: Sitti Fathimah Herdarina Darsim

FAQ Dampak Kurang Tidur bagi Remaja

1. Apa saja dampak kurang tidur bagi remaja?

Kurang tidur dapat membuat remaja lebih mudah marah, sulit mengelola emosi, rentan stres, serta sulit menikmati hal-hal positif yang terjadi di hari berikutnya.

2. Berapa jam waktu tidur yang ideal untuk remaja?

Remaja umumnya membutuhkan sekitar 8-10 jam tidur per malam, lebih banyak dibandingkan kebutuhan tidur orang dewasa yang sekitar 7 jam.

3. Mengapa kurang tidur bisa membuat seseorang lebih sensitif di pagi hari?

Saat tidur kurang, otak tidak mendapatkan dorongan emosi positif secara maksimal, sehingga seseorang menjadi lebih reaktif dan sensitif terhadap hal-hal kecil keesokan harinya.

4. Apakah kurang tidur bisa memicu stres?

Ya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur membuat seseorang lebih sulit menghadapi situasi yang menantang secara emosional, sehingga risiko stres pun meningkat.

5. Apakah kurang tidur lebih berbahaya bagi remaja yang punya kondisi kesehatan tertentu?

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kondisi kesehatan kronis cenderung lebih reaktif secara emosional saat kurang tidur, sehingga dampaknya bisa lebih terasa.

6. Bagaimana cara mengatasi kurang tidur pada remaja?

Beberapa caranya antara lain menjaga jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur, menghindari kafein di malam hari, dan menciptakan suasana kamar yang nyaman.

7. Apakah tidur lebih lama dari biasanya bisa membantu memperbaiki mood?

Ya, terutama bagi mereka dengan kondisi kesehatan tertentu. Tidur lebih lama dari durasi biasanya terbukti membantu seseorang merespons pengalaman positif dengan lebih baik keesokan harinya.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait