Siswa Stres dengan Tugas yang Menggunung

Stres

Di masa pandemi ini, KPAI diserbu oleh banyak laporan dari siswa dan orang tua siswa mengenai terlalu banyaknya tugas yang diberikan oleh guru dalam sistem pembelajaran daring. Oleh karenanya, pada bulan Maret 2020, KPAI mengimbau para pemangku kepentingan di lembaga pendidikan untuk lebih mengawasi tenaga pengajar supaya lebih bijak dalam memberikan tugas. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan fisik dan mental pada murid akibat menerima terlalu banyak tugas. Pengawasan ini baik dilakukan, namun yang perlu dievaluasi dan diawasi. Penyebab murid kesulitan menyelesaikan tugas bukan semata-mata soal faktor kuantitas atau kesulitan dari tugas tersebut, tetapi ada faktor lain yang perlu dievaluasi dan diperbaiki.

Fakta Homework Anxiety yang Jarang Diketahui

Faktor pertama yang membuat murid kesulitan menyelesaikan tugas adalah faktor internal (dari diri murid sendiri), yakni homework anxiety atau kegelisahan terhadap PR. Homework anxiety dapat menyebabkan anak menghabiskan waktu lebih banyak untuk khawatir terhadap PR yang diberikan daripada benar-benar mengerjakannya. Homework anxiety ini dapat mengaktifkan pusat ketakutan di otak murid yang membuat murid menghindari PR tersebut. PR yang belum juga terselesaikan sampai mendekati batas akhir pengumpulan pun membuat anak semakin tertekan. Hal ini bisa membuat murid terus-menerus merasa takut atau gelisah ketika diberikan tugas.

Banyak riset dari tahun ke tahun yang membuktikan bahwa sebagian besar dari murid di berbagai belahan dunia mengalami homework anxiety. Contohnya, riset yang diadakan pada tahun 2014 oleh Denise Pope, seorang dosen senior dari Stanford Graduate School of Education, menyatakan bahwa 56 persen murid menganggap bahwa PR adalah sumber utama pembuat stres. Banyak murid responden yang mengatakan bahwa mereka menerima terlalu banyak PR dan akibatnya jam tidur mereka berkurang. Tidak sedikit juga yang berkata bahwa tugas yang diberikan tidak mendukung proses pembelajaran (tidak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa), tetapi hanya dibuat untuk melengkapi nilai rapor.

Evaluasi untuk Para Guru

Tentu ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk para guru dalam memberikan tugas yang lebih efektif demi melatih dan mengembangkan kreativitas siswa. Namun, faktanya penyebab homework anxiety bukan hanya karena kuantitas atau konten dari PR tersebut, tetapi juga berasal dari faktor lainnya. Dikutip dari artikel berjudul “Homework Anxiety Explained” dari websiteBrain Balance Centers”, salah satu faktor yang membuat murid mengalami homework anxiety adalah takut akan penilaian. Dalam sekolah atau perkuliahan, banyak murid yang lebih fokus memikirkan nilai daripada mencari pengetahuan dari program pendidikan mereka.

Begitu juga dalam melihat tugas. Banyak murid yang lebih fokus untuk mendapatkan nilai akhir yang bagus dalam pengerjaan tugas. Akhirnya, banyak siswa merasa bahwa semakin banyak tugas yang diberikan, semakin banyak pula beban untuk mendapatkan nilai yang bagus. Padahal, ada tujuan mulia dalam pemberian tugas, yaitu untuk “melatih” siswa dalam topik pembelajaran tertentu. Tujuan mulia proses pembelajaran ini baik ditanamkan pada diri siswa, baik oleh orang tua, guru, maupun konselor, supaya murid-murid lebih termotivasi dengan baik dalam mengerjakan tugas.

Peran Orang Tua sebagai Pengawas

Faktor kedua yang bisa membuat siswa kesulitan menyelesaikan tugas adalah banyaknya gangguan selama proses pembelajaran daring. Di masa pembelajaran daring, materi tugas biasanya diunggah secara digital dan dapat diakses secara daring melalui gawai. Sayangnya, gawai adalah salah satu sumber esensial yang dapat menganggu siswa untuk fokus mengerjakan tugas. Dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 oleh Dr. Larry Rosen dari Stanford University, murid-murid sekolah menengah pertama dan atas hanya bisa fokus mengerjakan tugas selama rata-rata tiga menit.

Hal tersebut dihitung sebelum terganggu oleh hal-hal lain yang utamanya berasal dari gawai, seperti group chat, game, media sosial, video Youtube, dan sebagainya. Dalam hal ini, pengawasan dan pendisiplinan dari orang tua di rumah sangat penting mengingat bahwa orang tua adalah figur yang bisa dipercayai untuk mengawasi secara langsung di rumah, terutama untuk orang tua yang bekerja dari rumah. Mereka harus mampu membagi waktu antara bekerja dan menjadi pengawas anak-anak mereka dalam belajar.

Pemerintah Harus Peka di Masa Krisis Ini

Faktor ketiga yang seharusnya cukup bisa mencuri perhatian pemerintah adalah keterbatasan fasilitas yang memadai, seperti listrik, kuota internet, jaringan internet, dan gawai. Banyak daerah yang masih kesulitan mengakses internet dan bahkan tidak memiliki gawai yang memadai. Hal ini bukan hanya membuat murid-murid kesulitan mengerjakan tugas, tetapi juga kesulitan mengakses materi pembelajaran. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah dan satuan pendidikan sangat diperlukan dalam mengambil tindakan yang cepat dan tepat dalam menanggapi situasi krisis ini.

Kebijakan yang mungkin bisa diambil dan sudah diterapkan di beberapa daerah misalnya memberikan subsidi kuota internet, penyesuaian kurikulum, kunjungan guru ke rumah murid yang tidak dapat mengakses internet, dan sebagainya. Intinya banyak pihak yang seharusnya bekerja sama demi mendukung murid dalam mengerjakan tugas di masa pandemi ini. Pihak guru harus bijak dalam memilih tugas yang tepat sasaran sehingga tugas tidak semata-mata diberikan sebagai alat ukur untuk memberikan nilai kepada siswa, tetapi juga benar-benar dapat melatih dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas siswa, serta menarik minat siswa dalam belajar.

Orang tua juga harus berperan aktif dalam memberi pengawasan terhadap anak yang belajar dari rumah dengan menggunakan gawai. Orang tua harus bisa mendidik anak untuk lebih fokus ketika sedang belajar ataupun mengerjakan tugas. Murid juga harus memiliki motivasi yang baik dalam mengerjakan tugas. Murid seharusnya bisa melihat bahwa tugas bukanlah semata-mata beban, tetapi salah satu alat untuk melatih mereka dalam pengetahuan dan keterampilan mereka sebagai bekal mereka di masa yang akan datang. Peran pemerintah dan satuan pendidikan juga tidak kalah penting dalam memikirkan solusi yang tepat terhadap masalah-masalah yang timbul selama pembelajaran jarak jauh.

Adven Simarmata
Mahasiswa Sampoerna University

Editor: Dara Ginanti

Baca Juga:
Hubungan Orang Tua dengan Minat Belajar Siswa pada Masa Covid-19
Corona Tidak Menggugurkan Tugas dan Kewajiban
Keluhan Mahasiswa untuk Bapak Ibu Dosen di Seluruh Indonesia

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI