Di Balik Matcha Fair Trade: Ketika Label ‘Etis’ Perlu Didukung Transparansi

produk matcha
Di Balik Matcha Fair Trade: Ketika Label 'Etis' Perlu Didukung Transparansi. Sumber: MMI.

Matcha telah menjadi sangat populer akhir-akhir ini. Baik di restoran, kafe/coffeeshop, supermarket, hingga e-commerce sehingga tidak diragukan lagi bahwa teh hijau bubuk dari Asia Timur ini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Fenomena ini juga terlihat dalam data Google Trends yang diolah Databoks, di mana pencarian kata kunci “matcha” mencapai indeks tertinggi 100 pada September 2025. Padahal, pada periode 2004-2013, minat masyarakat terhadap kata kunci tersebut nyaris tidak terlihat dengan skor indeks hanya 0-1 (Ahdiat, 2026).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sekarang popularitasnya telah meningkat pesat, semakin banyak orang mengonsumsi produk matcha yang diberi label keberlanjutan, seperti sertifikasi fair trade, yang menunjukkan praktik perdagangan yang lebih baik atau disebut perdagangan etis.

Namun, seiring meningkatnya popularitas produk berlabel etis, muncul masalah transparansi informasi terkait praktik-praktik ini.

Artikel ini berargumen bahwa sertifikasi fair trade merupakan langkah yang positif, tetapi transparansi dalam pelaksanaannya juga turut menjadi unsur penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap klaim perdagangan etis (fair trade).

Perusahaan yang menarik untuk dikaji adalah Starwest Botanicals dengan salah satu produknya yakni Matcha Tea Powder Organic, Fair Trade. Starwest Botanicals ini ialah perusahaan asal Amerika Serikat yang didirikan tahun 1975 di Sacramento, California.

Pada awalnya, perusahaan ini adalah sebuah toko herbal kecil yang kemudian berkembang menjadi salah satu pemasok produk herbal, teh, rempah-rempah, dan bahan botani seperti saat ini. Dalam profil resminya, Starwest

Botanicals menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan didukung oleh pengembangan pengolahan bahan herbal secara mandiri, pengadaan bahan baku dari berbagai negara, serta pembangunan hubungan jangka panjang dengan petani dan pemasok.

Perusahaan juga menekankan komitmen terhadap kualitas, transparansi, dan keberlanjutan sebagai bagian dari identitas usahanya (Starwest Botanicals, 2025).

Bubuk Teh Matcha Organik ini bersertifikasi Fair Trade dan merupakan bagian dari program Fair Trade USA. Selain itu, sesuai dengan data yang dipublikasikan perusahaan, produk ini adalah matcha kuliner yang berasal dari Tiongkok.

Bagi banyak konsumen, keberadaan label tersebut tidak hanya menunjukkan kualitas produk yang tinggi, tetapi juga proses produksinya yang mempertimbangkan kesejahteraan orang-orang dalam rantai pasoknya.

Baca Juga: Contoh Bisnis F&B Ala Gen Z: Kreativitas Tanpa Batas di Era Digital

Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap konsumsi yang lebih bertanggung jawab, sertifikasi semacam ini dapat memengaruhi keputusan pembelian sekaligus membangun citra positif suatu produk.

Untuk melihat fenomena ini, terdapat 2 pendekatan dalam perdagangan etis yaitu Fair Trade Movement dan Ethical Supply Chain.

Fair Trade Movement bertujuan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih adil dengan memberikan kesempatan kepada produsen kecil memperoleh harga yang layak, kondisi kerja yang lebih baik, dan peluang pemberdayaan ekonomi (Nicholls & Opal, 2005).

Beberapa studi menunjukkan bahwa sertifikasi berkelanjutan, seperti sertifikasi Fair Trade, dapat menyebabkan harga produk yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih tinggi di antara produsen dibandingkan dengan perusahaan yang tidak bersertifikasi (Meemken, 2020; Sellare et al., 2020).

Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan etis merupakan upaya yang bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan perdagangan global.

Meskipun demikian, fair trade bukan hanya tentang sertifikasi. Seperti yang dinyatakan oleh Nicholls dan Opal (2005), ada komponen lain yang membentuk praktik fair trade seperti harga minimum yang layak, premi sosial bagi komunitas, hubungan dagang jangka panjang, akses pembiayaan, serta komitmen terhadap standar ketenagakerjaan dan lingkungan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manfaat terbesar dari fair trade adalah penerapan praktis dari komponen-komponen tersebut, bukan semata-mata pada sertifikasi yang tertera di kemasan produk. 

Di sinilah konsep Ethical Supply Chain berperan. Manajemen rantai pasokan etis memastikan bahwa rantai pasokan etis mempertimbangkan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta membentuk hubungan yang lebih berkelanjutan antara bisnis dan pemasok (Nicholls & Opal, 2005).

Ethical Supply Chain juga merupakan respons terhadap berbagai persoalan perdagangan global, seperti ketimpangan posisi tawar antara korporasi besar dan produsen kecil, rendahnya perlindungan terhadap pekerja, serta minimnya transparansi dalam proses produksi.

Artinya, jika Fair Trade menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, maka Ethical Supply Chain membantu menilai bagaimana tujuan tersebut diwujudkan dalam praktik

Melalui perspektif inilah Starwest Botanicals menjadi menarik untuk dicermati. Berdasarkan informasi publik yang tersedia pada saat artikel ini disusun, laman produk perusahaan menjelaskan status Fair Trade Certified dan karakteristik produknya, tetapi belum memberikan informasi rinci mengenai identitas komunitas produsen maupun implementasi manfaat sosial di tingkat lokal.

Baca Juga: Pesatnya Pertumbuhan Kedai Kopi di Semarang: Tren, Sejarah, dan Rekomendasi

Temuan ini tidak berarti bahwa perusahaan tidak menjalankan prinsip Fair Trade, melainkan menunjukkan bahwa informasi yang tersedia bagi publik masih terbatas. Padahal, keterbukaan mengenai asal-usul produk dan pelaku dalam rantai pasok dapat memperkuat akuntabilitas sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen.

Transparansi memiliki fungsi yang lebih luas daripada hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu publik. Informasi mengenai asal bahan baku, kelompok petani, atau manfaat yang diterima masyarakat dapat membantu konsumen memahami bagaimana nilai-nilai fair trade diwujudkan dalam praktik.

Sebaliknya, ketika informasi tersebut sulit diakses, masyarakat cenderung hanya mengandalkan label sertifikasi tanpa memiliki gambaran yang utuh mengenai dampak sosial di balik produk yang mereka beli. Oleh karena itu, transparansi dapat diartikan sebagai bagian yang memperkuat kredibilitas fair trade.

Keterbatasan informasi publik ini tidak hanya memengaruhi kemampuan konsumen untuk memahami suatu produk, tetapi juga menciptakan perbedaan pemahaman antara perusahaan dan masyarakat umum.

Dalam keadaan seperti itu, konsumen bergantung pada sertifikasi sebagai satu-satunya cara untuk menentukan apakah telah ada praktik perdagangan yang etis. Namun, membangun hubungan yang lebih kuat antara produsen dan konsumen adalah salah satu tujuan utama Perdagangan Adil (Nicholls & Opal, 2005).

Jika informasi mengenai asal produk, komunitas produsen, atau penggunaan keuntungan sosial tidak memadai, konsumen akan kesulitan menilai seberapa jauh realitas tersebut tercapai.

Oleh karena itu, hal ini tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang tambahan, melainkan sebagai salah satu bagian penting yang membantu mewujudkan visi tersebut.

Gagasan ini juga dapat dikonfirmasi oleh berbagai karya ilmiah. Seperti yang ditunjukkan oleh Loconto et al. (2021) dan Park (2023), transparansi mengenai pengelolaan dan implementasi manfaat fair trade di pihak produsen sulit dicapai.

Oleh karena itu, sertifikasi harus dianggap sebagai titik awal yang harus diperkuat melalui penyediaan informasi publik yang memadai mengenai bagaimana manfaat tersebut benar-benar dijalankan di lapangan.

Selain masalah yang berkaitan dengan transparansi, terdapat juga temuan dalam literatur yang menunjukkan bahwa sertifikasi Perdagangan Adil mungkin tidak sepenuhnya membantu dalam menyelesaikan ketidaksetaraan dalam rantai pasokan global.

Menurut Zavala (2022), kekuatan tawar-menawar yang tidak setara dapat mengakibatkan sebagian besar manfaat ekonomi diperoleh oleh agen hilir, sementara lebih sedikit manfaat yang diperoleh oleh produsen.

Selain itu, menurut temuan penelitian oleh Glavee-Geo dkk. (2021), hubungan pembeli-penjual yang tidak setara dapat memengaruhi kekuatan tawar-menawar produsen.

Oleh karena itu, jelas bahwa Perdagangan Adil adalah salah satu cara untuk mencapai praktik perdagangan yang adil, tetapi mungkin tidak menyelesaikan semua masalah struktural dalam perdagangan internasional.

Baca Juga: WEDRINK, Pemilik Boneka Cha-Cha Besar yang Viral di Jakarta, Apa itu WEDRINK?

Berkaitan dengan transparansi dari sudut pandang Ethical Supply Chain, hal ini juga menyangkut hubungan kekuasaan dalam rantai pasokan global. Perusahaan, eksportir, dan bahkan lembaga sertifikasi biasanya memiliki akses ke lebih banyak informasi daripada konsumen dan produsen di lini depan rantai pasokan.

Mengenai metode produksi, pembagian keuntungan, dan perlakuan terhadap produsen yang tidak transparan, siapa pun yang memiliki akses ke informasi tersebut jelas akan memiliki kendali lebih besar dalam menentukan keberlanjutan produk.

Dengan demikian, transparansi dapat dianggap sebagai alat untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi dan mendorong akuntabilitas dalam rantai pasokan.

Dari sudut pandang Fair Trade, operasi seperti Matcha Tea Powder Organic, Fair Trade dari Starwest Botanicals dapat dianggap sebagai praktik yang baik karena menerapkan standar fair trade yang bertujuan untuk menguntungkan produsen.

Ada peluang bagi petani dan masyarakat untuk mendapatkan kompensasi dan program sosial yang lebih layak, sementara perusahaan memperoleh keunggulan kompetitif dengan menciptakan kepercayaan tambahan di pasar dan konsumen menerima lebih banyak barang yang mendukung nilai-nilai keberlanjutan mereka.

Namun demikian, ada masalah yang muncul karena kurangnya pertukaran informasi antara perusahaan dan orang-orang yang menjadi pembeli. Jika tidak ada cukup informasi tentang manfaat fair trade yang berlaku, konsumen tidak dapat menilai pemenuhan standar perdagangan etis.

Dengan demikian, persoalan utama dalam studi kasus ini bukanlah apakah sertifikasi Fair Trade dapat dipercaya, melainkan apakah informasi yang tersedia bagi publik sudah cukup untuk mendukung akuntabilitas.

Kritik yang diajukan bukan ditujukan pada validitas sertifikasi Starwest Botanicals, melainkan pada pentingnya memperkuat transparansi agar nilai-nilai yang diperjuangkan Fair Trade dapat dipahami secara lebih utuh oleh masyarakat.

Pendekatan semacam ini justru sejalan dengan semangat perdagangan etis yang menempatkan kepercayaan dan tanggung jawab sebagai bagian penting dari hubungan antara produsen, perusahaan, dan konsumen.

Pada akhirnya, meningkatnya popularitas matcha menunjukkan bahwa konsumen semakin peduli terhadap asal-usul produk yang mereka konsumsi. Sertifikasi Fair Trade merupakan instrumen penting untuk mendorong perdagangan yang lebih adil, tetapi label saja belum cukup.

Keterbukaan mengenai rantai pasok, identitas produsen, dan dampak sosial yang dihasilkan perlu diperkuat agar tujuan perdagangan etis tidak berhenti sebagai klaim di kemasan, melainkan benar-benar dapat dirasakan oleh produsen dan diyakini oleh konsumen.

Dengan demikian, tantangan utama perdagangan etis saat ini bukan hanya memastikan adanya sertifikasi, tetapi juga memastikan tersedianya informasi yang memadai untuk mendukung kepercayaan dan akuntabilitas dalam rantai pasok global.


Penulis: Komang Ayu Meva Budayanthi (NIM : 2312521078)
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Udayana (Unud)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Adi Ahdiat. (2026, January 19). Minat Warga RI terhadap Teh Matcha Melonjak pada 2025. Share.google; Databoks. https://share.google/dBj64ylTEcwy7i7NE

Glavee-Geo, R., Engelseth, P., & Buvik, A. (2021). Power Imbalance and the Dark Side of the Captive Agri-food Supplier–Buyer Relationship. Journal of Business Ethics, 178(3). https://doi.org/10.1007/s10551-021-04791-7

Loconto, A. M., Arnold, N., Silva-Castañeda, L., & Jimenez, A. (2021). Responsibilising the Fairtrade Premium: Imagining better decision-making. Journal of Rural Studies, 86, 711–723. https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2021.07.011

Meemken, E.-M. (2020). Do smallholder farmers benefit from sustainability standards? A systematic review and meta-analysis. Global Food Security, 26, 100373. https://doi.org/10.1016/j.gfs.2020.100373

Nicholls, A., & Opal, C. (2005). Fair Trade: Market-Driven Ethical Consumption Fair trade: Market-driven ethical consumption. Sage Publications Ltd.

Park, M. (2023). A Study on Solutions for Overcoming Fair Trade Challenges and Limitations Minjun Park. International Journal of Science and Research (IJSR). https://doi.org/10.21275/SR23706133101

Sellare, J., Meemken, E., Kouamé, C., & Qaim, M. (2020). Do Sustainability Standards Benefit Smallholder Farmers Also When Accounting For Cooperative Effects? Evidence from Côte d’Ivoire. American Journal of Agricultural Economics, 102(2), 681–695. https://doi.org/10.1002/ajae.12015

Starwest Botanicals. (2025). About Us | Starwest Botanicals. Starwest-Botanicals.com. https://www.starwest-botanicals.com/about-us/

Zavala, L. (2022a, January 31). Unfair Trade: Monopsony Power in Agricultural Value Chains? – Princeton University – Department of Economics. Princeton University – Department of Economics. https://economics.princeton.edu/events/lucas-zavala/

Zavala, L. (2022b, January 31). Unfair Trade: Monopsony Power in Agricultural Value Chains? – Princeton University – Department of Economics. Princeton University – Department of Economics. https://economics.princeton.edu/events/lucas-zavala/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses