Kenapa Snack Terasa “Nagih” Saat dimakan dan Tanpa Sadar Membuat Kita Makan Lebih Banyak

Sensory Specific Satiety
Ilustrasi Teknologi Ekstrusi (Sumber: MMI)

Pernahkah kita merasa sulit berhenti saat makan snack ringan? Satu genggam terasa kurang, dua genggam masih belum cukup. Tanpa disadari, satu bungkus makanan ringan bisa habis hanya dalam beberapa menit. Fenomena ini sering dianggap sekadar kebiasaan atau lemahnya kontrol diri.

Padahal, di balik teksturnya yang renyah dan “langsung lumer” di mulut, terdapat teknologi pangan modern yang secara tidak langsung memengaruhi cara otak dan tubuh merespons makanan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sebagian besar snack populer di pasaran dibuat menggunakan teknologi ekstrusi, yaitu proses pengolahan pangan dengan suhu dan tekanan tinggi menggunakan mesin ekstruder. Dalam proses ini, bahan seperti pati jagung, kentang, gandum, atau beras dipanaskan dan ditekan sebelum akhirnya dikeluarkan melalui cetakan tertentu.

Ketika tekanan keluar menurun secara tiba-tiba, air di dalam adonan langsung menguap sehingga produk mengembang (puffing) dan menghasilkan tekstur ringan, berongga, serta sangat renyah. Inilah alasan mengapa snack ekstrusi memiliki bentuk seragam seperti stik, bola, cincin, atau bentuk unik lainnya.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah tekstur “ringan” tersebut justru membuat kita makan lebih banyak tanpa sadar?

Teknologi ekstrusi memang berhasil menciptakan makanan yang menarik secara tekstur dan rasa. Akan tetapi, karakteristik snack hasil ekstrusi itu ringan, cepat hancur, dan mudah larut di mulut, sehingga dapat menciptakan “ilusi kenyang” yang mendorong konsumsi berlebih, terutama ketika produk tersebut didominasi karbohidrat dan rendah protein maupun serat.

Secara ilmiah, tekstur makanan memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia makan. Menurut Bolhuis dan Forde (2020) dalam jurnal Application of Food Texture to Moderate Oral Processing Behaviors and Energy Intake, makanan dengan tekstur lebih lunak dan mudah dikonsumsi cenderung meningkatkan kecepatan makan (eating rate) dan asupan energi.

Mereka menjelaskan bahwa makanan yang cepat hancur di mulut membutuhkan lebih sedikit proses mengunyah sehingga sinyal kenyang muncul lebih lambat dibandingkan makanan yang lebih keras dan membutuhkan waktu kunyah lebih lama.

Baca juga: Memahami Ultra-Processed Foods: Tidak Selalu Berdampak Buruk

Di sinilah snack ekstrusi menjadi menarik untuk dibahas. Proses puffing menghasilkan struktur berpori dan ringan sehingga makanan cepat “menghilang” di mulut. Tubuh seolah merasa belum makan banyak karena volume fisiknya ringan, padahal energi yang masuk sudah cukup tinggi. Bolhuis dan Forde (2020) juga menjelaskan bahwa peningkatan kecepatan makan berkaitan dengan peningkatan konsumsi energi dan risiko kelebihan berat badan.

Selain tekstur, komposisi gizi juga memainkan peran penting. Banyak snack ekstrusi di pasaran didominasi oleh karbohidrat sederhana dengan kandungan protein dan serat yang rendah.

Padahal, protein dan serat berkontribusi besar terhadap rasa kenyang karena memperlambat pencernaan dan membantu regulasi hormon lapar. Ketika snack hanya memberikan sensasi renyah dan rasa gurih tanpa komponen gizi yang cukup mengenyangkan, tubuh lebih cepat kembali lapar dan terdorong untuk terus mengonsumsi.

Fenomena ini semakin relevan jika dikaitkan dengan pola konsumsi masyarakat saat ini. Penelitian Wahyudi dkk. (2024) dalam Journal Syifa Sciences and Clinical Research menunjukkan bahwa konsumsi snack dan minuman kemasan cukup tinggi, terutama pada mahasiswa non-kesehatan di UIN Sumatera Utara.

Sebanyak 32,79% mahasiswa non-kesehatan mengonsumsi snack 3–6 kali per minggu dan 13,11% mengonsumsi lebih dari 6 kali per minggu. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa gaya hidup modern yang serba cepat membuat snack menjadi pilihan praktis karena mudah diperoleh, memiliki rasa menarik, dan mudah dikonsumsi di tengah aktivitas akademik yang padat.

Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi snack bukan lagi sekadar makanan selingan, tetapi telah menjadi bagian dari pola makan harian. Sayangnya, banyak konsumen belum menyadari bahwa tekstur ringan pada snack bukan berarti kalorinya rendah. Justru, makanan ultra-proses seperti snack ekstrusi sering memiliki kepadatan energi tinggi, tambahan bahan pangan (food additives), serta kandungan serat yang rendah.

Meski demikian, menyalahkan teknologi ekstrusi sepenuhnya juga tidak tepat. Ekstrusi pada dasarnya hanyalah alat pengolahan pangan. Teknologi ini bahkan dapat digunakan untuk menghasilkan produk yang lebih sehat, misalnya dengan penambahan protein nabati, serat pangan, atau bahan baku lokal bernilai gizi tinggi.

Permasalahannya terletak pada bagaimana industri lebih sering memprioritaskan sensasi rasa, kerenyahan, dan daya tarik konsumsi dibandingkan efek kenyang dan keseimbangan gizi.

Dengan demikian, rasa “nagih” pada snack tidak hanya berasal dari bumbu atau cita rasa, tetapi juga dari desain tekstur pangan hasil ekstrusi yang memengaruhi cara tubuh merasakan kenyang. Ketika produk memiliki tekstur ringan namun tinggi energi serta minim protein dan serat, konsumsi berlebih menjadi lebih mudah terjadi tanpa disadari.

Di era pangan modern, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat makanan terasa enak, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap mendukung kesehatan konsumen. Teknologi ekstrusi telah memberi banyak inovasi dalam industri pangan, tetapi penggunaannya perlu diimbangi dengan formulasi gizi yang lebih bertanggung jawab. Snack tidak harus selalu identik dengan “kalori kosong”.

Sebagai konsumen, kita perlu lebih kritis dalam memahami bahwa tekstur ringan tidak selalu berarti lebih sehat atau lebih sedikit kalorinya. Sementara bagi industri pangan dan akademisi, sudah saatnya inovasi pangan diarahkan bukan hanya untuk menciptakan produk yang “nagih”, tetapi juga produk yang benar-benar memberi rasa kenyang dan manfaat gizi yang lebih baik bagi tubuh.


Penulis:

  1. Muhammad Fatih Rizki (240210240072)
  2. Abdul Jabbar Anmorvia Putra (240210240072)

Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran


Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi 

Bolhuis, D. P., & Forde, C. G. (2020). Application of food texture to moderate oral processing behaviors and energy intake. Trends in Food Science & Technology, 106, 445–456. https://doi.org/10.1016/j.tifs.2020.10.021

Telkom University Purwokerto. (2025, December 11). Mengenal makanan ringan ekstrudat.  https://bft-pwt.telkomuniversity.ac.id/mengenal-makanan-ringan-esktrudat/

Wahyudi, Nurfadilah, A., Fransisca, C., Fahrezi, K., Zulkadri, M. F., & Manik, J. (2024). Pola konsumsi snack dan minuman kemasan pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan: Studi kasus UIN Sumatera Utara. Journal Syifa Sciences and Clinical Research, 6(3), 263–273. https://doi.org/10.37311/jsscr.v6i3.28867

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses