Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ultra-processed foods (UPF) semakin sering muncul dalam diskusi mengenai kesehatan dan pola makan.
Pangan dalam kategori ini umumnya digambarkan sebagai produk yang banyak mengalami proses industri dan mengandung beragam bahan tambahan pangan. Contohnya meliputi roti kemasan, sereal sarapan, minuman siap saji, makanan beku, hingga camilan dalam kemasan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pola makan sehat, UPF sering mendapat citra negatif dan dianggap sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan. Namun, pandangan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.
UPF merupakan kelompok pangan yang sangat beragam, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih seimbang tentang peran dan dampaknya.
Apa yang Dimaksud dengan UPF?
Menurut NOVA Classification, UPF merupakan kelompok pangan yang telah mengalami proses pengolahan kompleks dan umunya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, emulsifier, perisa, dan pewarna. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan, memperpanjang umur simpan, dan mutu produk.
Walaupun sering dikaitkan dengan makanan tinggi gula, garam, dan lemak, pada kenyataannya UPF mencakup berbagai produk yang berbeda satu sama lain. Keberagaman ini menunjukkan bahwa UPF tidak dapat disamaratakan sebagai makanan “tidak sehat”.
Baca Juga: Mengulas Istilah ‘Ultra-Processed Food’: Sudah Tepatkah dalam Mengatur Menu MBG?
Tidak Semua UPF Berdampak Negatif
Stigma terhadap UPF muncul terutama karena sebagian produk dalam kelompok ini memang tinggi gula, garam, atau lemak jenuh. Namun, penelitian dan evaluasi gizi menunjukkan bahwa tidak semua UPF memiliki komposisi yang merugikan. Beberapa di antaranya justru berkontribusi positif dalam pola makan masyarakat.
1. Meningkatkan Asupan Zat Gizi Penting
Produk fortifikasi seperti susu UHT, sereal sarapan, atau minuman nabati yang diperkaya nutrisi dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang sering kurang dikonsumsi.
2. Mendukung Keamanan dan Ketersediaan Pangan
Proses industri memungkinkan pangan memiliki umur simpan lebih panjang dan aman dikonsumsi, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur distribusi dan penyimpanan pangan segar.
3. Menyediakan Pilihan Praktis untuk Berbagai Kondisi
Bagi kelompok masyarakat dengan kesibukan tinggi, akses terbatas terhadap pasar segar, atau kebutuhan gizi khusus (misalnya lansia atau pasien klinis), UPF dapat menjadi pilihan yang mudah diakses dan terkontrol secara nutrisi.
4. Inovasi Produk Bernutrisi Baik
Beberapa UPF dirancang untuk memberikan profil nutrisi yang seimbang, misalnya yogurt rendah gula, roti gandum kemasan, dan produk tinggi protein, tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat.
Baca Juga: Benarkah Makanan Semakin Diproses Semakin Berbahaya?
Yang Penting Adalah Pola Makannya
Risiko kesehatan tidak ditentukan oleh status “ultra-processed” semata, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas nutrisi dan pola konsumsi secara keseluruhan.
Produk yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh memang perlu dibatasi, tetapi itu berlaku baik untuk makanan olahan maupun makanan non-UPF. Sebaliknya, UPF dengan komposisi gizi yang baik dan dikonsumsi dalam jumlah wajar tidak serta-merta memberikan dampak negatif.
Pendekatan yang Lebih Seimbang
Daripada menghindari UPF secara total, pendekatan yang lebih realistis adalah:
- Membaca label gizi untuk melihat kandungan gizi dalam produk;
- Memilih UPF yang lebih sehat, seperti roti gandum, yogurt rendah gula, atau sereal fortifikasi;
- Mengombinasikan UPF dengan makanan utuh seperti sayur, buah, dan sumber protein segar;
- Membatasi porsi konsumsi produk UPF yang rendah gizi.
Pendekatan ini lebih relevan dengan pola hidup modern dan tetap mempertahankan kualitas diet secara keseluruhan.
Penulis: Nazwa Nurhaliza
Mahasiswa Ilmu Pangan IPB University
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












