Pentingnya Sarapan untuk Remaja

Pentingnya Sarapan untuk Remaja

Sarapan biasanya sering dilupakan dan diremehkan ketika anak sudah memasuki usia remaja. Masalah ini sering terjadi karena kebanyakan remaja memiliki jadwal yang padat, ketidakcukupan uang jajan, malas makan di pagi hari, makanan belum tersedia, dan ingin menurunkan berat badan.

Terdapat sebuah penelitian dari Sary (2021) yang mendapatkan hasil bahwa 3 dari 10 remaja tidak melakukan sarapan sebab menunda makan pagi hingga jam istirahat. Seluruh remaja tidak makan pagi serta lebih senang untuk membeli jajanan di sekolah, dan menyangka kalau makan pagi itu kurang berarti serta tidak mengenali manfaat dari makan pagi itu sendiri.

Di sisi lain, melewatkan sarapan dapat dikaitkan dengan efek buruk pada kognisi, kehadiran di sekolah, fungsi psikososial, dan suasana hati pada remaja.

Bacaan Lainnya
DONASI

Faktor-faktor seperti munculnya gerai makanan cepat saji, pusat perbelanjaan, toko serba ada, dan mahalnya makanan sehat juga telah berkontribusi pada kebiasaan makan yang tidak sehat di kalangan remaja saat ini, serta kurangnya pengetahuan tentang pilihan makanan sehat dapat berdampak negatif pada status gizi dan kebiasaan makan remaja.

Sarapan adalah konsumsi santapan awal yang masuk ke dalam tubuh sesudah tidur di malam hari. Sarapan atau makan pagi juga mempengaruhi kemampuan otak serta mempunyai manfaat dalam memberikan tenaga untuk otak.

Makan pagi juga bisa menolong tingkatkan energi ingat serta konsentrasi. Jumlah kalori yang dikonsumsi di pagi hari sangat berpengaruh terhadap jumlah total yang dikonsumsi setiap hari.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang melakukan sarapan pagi akan mempengaruhi asupan hariannya.

Sarapan juga dapat mempengaruhi status gizi pada seseorang, salah satunya yaitu pada remaja. Status gizi remaja akan menjadi tidak wajar jika sikap tentang makan berubah yang pada akhirnya mengarah pada sikap tidak sehat.

Remaja yang tidak terbiasa makan pagi akan mengalami rasa lapar yang meningkat sepanjang hari sehingga menyebabkan mereka mengkonsumsi lebih banyak makanan sepanjang hari dan pada malam hari.

Pada jam sekolah kebiasaan tidak melakukan makan pagi ini dapat menyebabkan anak mengkonsumsi jajanan, makanan cepat saji, dan makanan kurang bergizi lainnya yang dapat mengakibatkan obesitas.

Malnutrisi, obesitas, dan kelebihan berat badan pada remaja merupakan masalah gizi yang potensial. Jika remaja kelebihan berat badan, mereka akan lebih cenderung memiliki masalah kesehatan di masa depan dan menjadi obesitas.

Remaja yang kegemukan hendak lebih berisiko kepada permasalahan kesehatan, serta mengarah menjadi kelebihan berat tubuh ataupun kegemukan pada umur berusia.

Pemicu permasalahan gizi bisa diakibatkan oleh sebagian aspek yang saling berhubungan. Salah satu aspek yang bisa berpengaruh pada status gizi remaja yaitu kebiasaan makan pagi.

Bersumber pada hasil data riset Amalia dan Andriani (2019) ditemukan bahwa kebiasaan makan pagi adalah aspek risiko penangkalan status gizi kurang baik.

Berdasarkan hasil data riset tersebut dapat kita ketahui bahwa jika kita memiliki kebiasaan makan pagi yang baik dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menangkal memiliki status gizi yang kurang baik.

Penulis: Putri Shabirah Dhiyazahra
Mahasiswa Jurusan Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI