Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu agenda nasional yang diharapkan mampu memperbaiki status gizi anak Indonesia, mengurangi stunting, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun di tengah gencarnya program ini tersebut, muncul kembali perdebatan lama: haruskah menu makanan sekolah bebas dari UPF?
Dilansir dari Kompas.com, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa UPF tidak boleh digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjamin kualitas gizi dan mendorong UMKM lokal.
Namun, dalam Surat Edaran Nomor 13/05/01/SB.13/09/2025 yang ditandatangani Deputi BGN, Tigor Pangaribuan, tidak ada larangan UPF. Surat tersebut hanya menyebutkan bahwa bila UPF digunakan, produk harus berasal dari UMKM lokal. Kebijakan yang membuat abu-abu dalam penyusunan menu MBG.
Istilah Ultra-Processed Foods (UPF) yang dipopulerkan oleh sistem klasifikasi NOVA (Monteiro et al. 2019) kerap digunakan sebagai tolok ukur “kesehatan” sebuah makanan. Namun laporan ilmiah terbaru dari International Union of Food Science and Technology (IUFoST) mengingatkan bahwa penggunaan istilah UPF secara kaku justru dapat menyesatkan dan menghambat implementasi program gizi nasional.
NOVA Disebut Tidak Memadai Menilai Mutu Gizi
Menurut IUFoST, konsep UPF yang didefinisikan NOVA sering menyamakan dua hal yang berbeda: formulasi (komposisi bahan) dan pemrosesan (teknologi pengolahan). Padahal, dari sudut pandang sains pangan, keduanya memiliki efek yang tidak selalu sama pada nilai gizi (Ahrné et al. 2025).
Dalam laporannya, IUFoST menyebut sejumlah kelemahan mendasar pada NOVA:
- Tidak kuantitatif, sehingga tidak menilai sejauh mana pemrosesan memengaruhi kualitas gizi.
- Mengklasifikasikan makanan berdasarkan keberadaan adiktif, bukan kandungan gizi atau manfaat nutrisinya.
- Rentan salah klasifikasi, terutama untuk makanan fortifikasi yang sebenarnya bernilai gizi tinggi.
Akibatnya, susu UHT, biskuit fortifikasi, roti komersial, hingga produk protein siap makan, yang banyak digunakan dalam intervensi gizi di negara berkembang, sering dicap “berbahaya”, padahal tidak terbukti demikian.
Indonesia di Persimpangan: Antara Tantangan Logistik dan Kebutuhan Gizi

Pada konteks Indonesia membuat isu UPF jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Akses pangan segar tidak merata membuat di daerah 3T, pasokan pangan segar seperti susu, ikan, daging, dan sayur sulit stabil. Rantai dingin terbatas membuat risiko kerusakan dan kontaminasi tinggi, selain itu.
Disisi lain kebutuhan distribusi MBG sangat besar. Untuk menjangkau jutaan siswa di berbagai daerah, dibutuhkan makanan yang aman, tahan lama, mudah didistribusi, dan terstandarisasi mutunya. Di sinilah pangan olahan dan ultra-olahan berperan. Banyak produk seperti susu UHT untuk sumber kalsium, biskuit tinggi zat besi untuk anemia, ikan atau ayam beku olahan sebagai sumber protein, minuman bergizi siap minum yang menjadi solusi yang secara realistis dapat diterapkan secara nasional.
Mengabaikan produk-produk ini hanya karena label “UPF” dapat membuat program MBG kesulitan menyediakan menu yang stabil dan merata.
Baca juga: MBG: Dilanjutkan atau Dihentikan?
Apakah UPF Selalu Buruk? Sains Mengatakan Tidak
IUFoST menekankan bahwa dampak pemrosesan tidak dapat dilihat hitam-putih. Proses pangan justru:
- Meningkatkan keamanan mikrobiologis,
- Memperpanjang umur simpan,
- Mempermudah distribusi,
- Mempertahankan atau meningkatkan bioavailabilitas gizi tertentu,
- Memastikan kualitas yang konsisten.
Artinya, UPF tidak otomatis berbahaya, dan makanan alami tidak otomatis sehat. Yang paling penting adalah kandungan gizi, keamanan, dan porsi konsumsi.
Mengapa Istilah ‘Ultra-Processed Food’ Tidak Tepat Dijadikan Dasar Menu MBG?
Jika menu MBG disusun dengan prinsip “tanpa UPF”, beberapa risiko dapat muncul:
- Kehilangan sumber gizi penting. banyak produk fortifikasi masuk kategori UPF.
- Kesenjangan kualitas menu antarwilayah, daerah 3T berpotensi mendapatkan menu yang kurang bergizi karena keterbatasan pangan segar.
- Kenaikan risiko keamanan pangan, memaksa menu serba-segar tanpa infrastruktur memadai dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
- Beban logistik meningkat drastis, makanan segar membutuhkan penyimpanan dan transportasi khusus yang belum merata di Indonesia.
Menjadikan UPF sebagai musuh utama kebijakan gizi adalah pendekatan yang tidak tepat dan tidak sesuai konteks geografis Indonesia. IUFoST menawarkan alternatif ilmiah melalui IF&PC (Formulation & Processing Classification), kerangka yang memisahkan dampak formulasi dan pemrosesan secara terukur menggunakan indikator nutrisi seperti NRF9.3. (Ahrné et al. 2025).
IF&PC ini memungkinkan pemerintah untuk menilai makanan sekolah secara objektif, mendorong industri melakukan reformulasi lebih sehat, memastikan anak mendapatkan nutrisi terbaik walaupun dari produk olahan, dan menyusun menu MBG berdasarkan kandungan gizi, bukan kategori UPF.
Lalu, Sudah Tepatkah Istilah UPF Mengatur Menu MBG?
Jika mengikuti temuan ilmiah terbaru, jawabannya: belum tentu.
UPF bukanlah indikator Tunggal untuk menentukan apakah sebuah makanan layak diberikan kepada anak sekolah. Menggunakan kategori UPF dari NOVA dan melarang penggunaan sebagai dasar kebijakan dapat menyesatkan dan menghambat tujuan besar Program Makan Bergizi Gratis. Lebih penting memastikan makanan aman, bergizi, terjangkau, dan dapat didistribusikan secara merata ke seluruh pelosok Indonesia.
Penulis: Suci Latifah Noor Fahmi (F0602251027)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pangan IPB University
Editor: Rahmat Al Kafi
Referensi
Ahrné L, Chen H, Henry CJ. et al. 2025. Defining the role of processing in food classification systems—the IUFoST formulation & processing approach. npj Sci Food 9, 56. https://doi.org/10.1038/s41538-025-00395-x
Monteiro CA, Cannon G, Levy RB, et al. Ultra-processed foods: what they are and how to identify them. Public Health Nutrition. 2019. 22(5):936-941. doi:10.1017/S1368980018003762
Penjelasan BGN soal Larangan Makanan Ultra Proses untuk MBG, tapi Boleh jika Gunakan Produk UMKM (https://www.kompas.com/tren/read/2025/09/30/173000465/penjelasan-bgn-soal-larangan-makanan-ultra-proses-untuk-mbg-tapi-boleh-jika.)
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












