Di dalam kehidupan Masyarakat Minangkabau, pendidikan pertama datang dari rumah adat yang sarat nilai karena pendidikan tidak hanya dimulai dari sekolah. Di situlah peran Bundo Kanduang dan Mamak hadir sebagai dua sosok utama yang membentuk karakter, akhlak, dan jati diri seorang anak.
Dengan adanya Bundo Kanduang dan Mamak yang memiliki peran yang saling melengkapi dapat memastikan nilai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Istilah Bundo Kanduang secara perannya dimaknai sebagai ibu sejati dalam suatu keluarga matrilineal Minangkabau. Dengan kata lain, Bundo Kanduang merujuk kepada Perempuan yang diberikan tanggungjawab dan amanah untuk menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang selalu mendidik anaknya. Dan sudah pasti Bundo Kanduang dapat mengajarkan anaknya mana yang baik dan buruk, serta mana yang halal dan haram.
Ada sebuah pepatah Minangkabau yang mengatakan: “Dari Tangan Bundo lah tabit anak dibentuk”, menggambarkan bahwa pendidikan pertama yang diterima seorang anak berasal dari ibunya karena itulah perempuan memiliki kedudukan yang terhormat yang memiliki figure yang besar dalam rumah tangga.
Bundo Kanduang juga memiliki peran sebagai penjaga moral kepada anaknya. Ia mengajarkan bagaimana cara bicara yang baik, rasa hormat kepada orang tua dan sopan santun.
“Nan luruih dijalankan, nan salah dibetulkan” merupakan pepatah yang mencermikan bagaimana tindakan dari seorang Ibu apabila anak melakukan kesalahan dengan kesabaran. Tidak hanya sebagai tempat untuk menuntut ilmu pertama Bundo Kanduang juga bisa berperan sebagai tempat menumpahkan rasa, tempat cerita, dan mencari kehangatan.
Pepatah “Bundo tempat manaruko rasa”, menegaskan bahwa sosok ibu adalah tempat kembalinya seorang anak ketika menghadapi persoalan. Hal ini juga menentukan perkembangan anak sehingga dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
Tidak hanya Bundo Kanduang yang memiliki peran penting sebagai pendidik sejati tetapi Mamak juga memiliki perannya dalam hal tersebut. Istilah Mamak atau bahasa Indonesianya paman, merupakan saudara laki-laki (pria) dari pihak Ibu, kakak maupun adik yang memiliki hubungan yang erat dan berkesinambungan dengan kemanakan dan keponakan.
Peranan Mamak dalam Minangkabau di antaranya: pemimpin formal (pemerintahan) dan pemimpin nonformal. Mamak sendiri termasuk ke dalam nonformal, sesuai pepatah yang diamalkan masyarakat Minangkabau yaitu “alam takambang jadi guru”.
Ungkapan tersebut memiliki arti: alam yang terbentang luas menjadi sumber pelajaran. Dalam konteks tersebut Mamak bertindak sebagai pendidik, pembimbing, dan penjaga kemanakan yang tidak hanya memberi nasihat, tetapi mengajarkan nilai hidup melalui contoh nyata.
Salah satu tokoh figure yang memerankan peran sebagai Mamak adalah Buya Hamka yang dikenal sebagai ulama dan sastrawan.
Baca juga: Restorasi Pemikiran Buya Hamka
Di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh modernisasi dan kemajuan teknologi, peran Bundo Kanduang dan Mamak masih tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Meskipun sistem pendidikan formal semakin dominan, pendidikan berbasis keluarga dan adat tetap memegang peranan fundamental dalam pembentukan karakter generasi muda.
Pada masa kini, Bundo Kanduang tidak hanya berperan dalam lingkup domestik, tetapi juga aktif dalam ranah sosial dan budaya. Banyak Bundo Kanduang yang terlibat dalam organisasi adat, lembaga kemasyarakatan, dan kegiatan pelestarian budaya. Melalui peran ini, mereka tetap menjadi penjaga nilai, moral, dan identitas budaya Minangkabau di tengah pengaruh budaya global yang semakin kuat.
Sementara itu, peran Mamak di era modern mengalami penyesuaian. Jika dahulu Mamak memegang kendali penuh dalam berbagai keputusan keluarga, kini perannya lebih banyak sebagai penasihat dan penjaga nilai.
Mamak menjadi penyeimbang antara nilai tradisi dan realitas kehidupan modern, khususnya dalam membimbing kemanakan agar tetap berpegang pada prinsip adat dan agama, tanpa terlepas dari tuntutan zaman.
Dalam kerangka pendidikan karakter, nilai-nilai yang diajarkan oleh Bundo Kanduang dan Mamak sejatinya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, serta memiliki tanggung jawab sosial. Falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” menjadi panduan utama dalam membangun masyarakat yang beradab, religius, dan berbudaya.
Dengan demikian, peran Bundo Kanduang dan Mamak tidak hanya bersifat tradisional, melainkan juga kontekstual dan adaptif. Keduanya merupakan pilar utama dalam menjaga kesinambungan nilai adat Minangkabau agar tidak tergerus arus globalisasi, sekaligus menjadi landasan moral bagi generasi muda dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.
Penulis: Farrel Matin Valezka
Mahasiswa Sastra Jepang, Universitas Andalas
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













