Ketika FOMO Mencuri Ketengan Hati: Apa Solusi dari Hadis Nabi?

FOMO dalam Islam
Ketika FOMO Mencuri Ketengan Hati: Apa Solusi dari Hadis Nabi? Sumber: Penuils.

Taukah kalian? Pada era digital, penggunaan sosial media telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai aplikasi sosial media seperti Instagram, Tiktok, Facebook, WhatsApp, dan media digital lainnya yang menyajikan beragam informasi, tren, hingga pencapaian orang lain.

Kondisi tersebut sering kali menimbulkan Fear Of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari informasi, pengalaman, atau tren yang terus-menerus berkembang.

Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa cemas jika tidak selalu membuka sosial media, membandingkan kehidupannya dengan orang lain, bahkan mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dilihat di layar ponsel.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental dan perasaan seseorang, tetapi juga kurangnya rasa bersyukur dan kepuasan terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Dalam konteks ilmiah, hadis-hadis Nabi Muhammad SAW menawarkan konsep qana’ah yaitu sikap merasa cukup, menerima nikmat Allah SWT dengan penuh syukur, dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Jadi, nilai qana’ah menjadi pedoman yang relevan bagi masyarakat era digital untuk menghadapi budaya FOMO, sehingga seseorang tetap menggunakan dan memanfaatkan sosial media secara bijak tanpa kehilangan ketenangan hati dan kebahagiaan yang orang itu miliki.

Salah satu hadis yang relevan dengan fenomena FOMO adalah sabda Nabi Muhammad SAW:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa qana’ah (merasa cukup) terhadap apa yang telah dianugerahkan kepadanya.” (HR. Muslim).

Hadis tersebut merupakan riwayat Shahih Muslim, yaitu salah satu kitab hadis yang menjadi rujukan utama dalam aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni).

Dalam kitab syarah hadis Shahih Muslim halaman 123 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-kafaf adalah rezeki yang mencukupi kebutuhan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa sabda Nabi Muhammad SAW: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi (kafaf), dan Allah menjadikannya merasa qana’ah terhadap apa yang telah Dia berikan kepadanya,” menunjukkan keutamaan seseorang yang memperoleh tiga nikmat sekaligus, yaitu memeluk agama Islam, memperoleh rezeki yang mencukupi, serta memiliki sifat qana’ah terhadap karunia Allah.

Hadis ini juga dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang berpendapat bahwa kehidupan yang berkecukupan (al-kafaf) lebih utama daripada kemiskinan maupun kekayaan yang berlebihan.

Baca Juga: Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dan Konstruksi Identitas Anak Muda di Media Sosial

Lebih lanjut, dalam penjelasan hadis, “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar yang mencukupi (qut),” dijelaskan bahwa al-qut menurut para ahli bahasa adalah rezeki atau makanan yang sekadar dapat mempertahankan hidup dan menghilangkan rasa lapar.

Oleh karena itu, hadis ini menunjukkan keutamaan hidup sederhana, membatasi diri pada kebutuhan pokok, tidak berlebihan dalam urusan dunia, serta anjuran untuk memohon kepada Allah agar dikaruniai rezeki yang cukup sesuai kebutuhan.

Jadi dalam memahami hadis di atas juga merujuk pada penjelasan kitab Tafsir Ibnu Katsir karya Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi sebagai rujukan tambahan.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir yang dikarang oleh Abu al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi juz delapan halaman 415 yaitu dijelaskan bahwa Qatadah berkata mengenai firman Allah Ta’ala: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu dalam keadaan bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. ad-Duha: 6–8).

Qatadah berkata, “Inilah keadaan-keadaan yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum Allah ‘Azza wa Jalla mengutus beliau sebagai seorang rasul.” Riwayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim.

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, melalui jalur ‘Abd al-Razzaq, dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, ia berkata, “Inilah hadis-hadis yang telah disampaikan kepada kami oleh Abu Hurairah.” Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.”

Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin ‘Amr, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa puas (qana’ah) terhadap apa yang telah diberikan kepadanya.”

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah seberapa cepat kita mengikuti setiap tren, melainkan seberapa mampu kita menjaga hati agar tidak kehilangan rasa syukur.

Hadis Nabi tentang qana’ah yang telah dijelaskan, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari banyaknya hal yang dimiliki atau seberapa sering kita mendapat pengakuan di media sosial, tetapi dari hati yang merasa cukup atas nikmat yang Allah SWT berikan.

Baca Juga: Psikoedukasi Pengelolaan Fear of Missing Out (FOMO) pada Remaja di MAN 1 Langsa

Karena itu, mari menjadikan qana’ah sebagai bekal dalam bermedia digital: menggunakan media sosial secara bijak, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, serta lebih fokus mengembangkan potensi diri dan memperbanyak amal kebaikan.

Dengan demikian, kita tidak hanya terbebas dari jerat Fear of Missing Out (FOMO), tetapi juga mampu meraih ketenangan hidup sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.


Penulis: Amin Fausen (2301762350001)
Mahasiswa Ilmu Hadis Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Qadim


Dosen Pengampu: Muhammad Ainul Yaqin, M.Ag.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses