PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, dan platform digital lainnya tidak lagi hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang sosial tempat individu membangun relasi, memperoleh informasi, hingga menampilkan identitas dirinya kepada publik.
Bagi anak muda, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari karena berbagai aktivitas sosial, pendidikan, hiburan, bahkan pekerjaan kini banyak dilakukan melalui platform digital. Intensitas penggunaan media sosial yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi lingkungan sosial baru yang memengaruhi perilaku, pola pikir, dan cara individu memandang dirinya sendiri. (Novita Utami, n.d.)
Tingginya penggunaan media sosial di kalangan anak muda juga membawa berbagai konsekuensi psikologis. Salah satu fenomena yang banyak mendapat perhatian adalah Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kondisi ketika seseorang merasa khawatir tertinggal informasi, pengalaman, maupun aktivitas yang sedang dialami orang lain.
Perasaan tersebut mendorong individu untuk terus memantau media sosial agar selalu mengetahui perkembangan terbaru. Akibatnya, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi kebutuhan psikologis yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi rasa takut tertinggal, semakin besar pula dorongan seseorang untuk terus terhubung dengan media sosial. (Dewi & Sari, 2022)
Fenomena FoMO semakin mudah ditemukan pada Generasi Z dan kelompok usia muda yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Mereka merupakan generasi yang sangat akrab dengan internet sehingga aktivitas sehari-hari banyak dilakukan melalui media sosial.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak muda menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengakses berbagai platform digital, baik untuk mencari hiburan, memperoleh informasi, berinteraksi dengan teman, maupun mengikuti tren yang sedang berkembang. Kondisi tersebut menyebabkan media sosial menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus ruang utama dalam membentuk hubungan sosial mereka. (Herawati et al., 2022)
Media sosial memiliki karakteristik yang memungkinkan pengguna melihat berbagai pencapaian, pengalaman, maupun gaya hidup orang lain secara terus-menerus. Paparan tersebut sering kali memunculkan proses perbandingan sosial. Anak muda kemudian membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih populer, atau memiliki kehidupan yang dianggap lebih menarik.
Ketika individu merasa dirinya tertinggal, muncul kecemasan yang mendorong mereka untuk terus memeriksa media sosial agar tidak kehilangan informasi terbaru. Dengan demikian, FoMO bukan hanya berkaitan dengan rasa ingin tahu, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan memperoleh pengakuan sosial dan mempertahankan hubungan dengan lingkungan sekitarnya. (Dewi & Sari, 2022)
Di sisi lain, media sosial juga berfungsi sebagai ruang bagi anak muda untuk membangun identitas dirinya. Melalui foto, video, cerita, maupun berbagai bentuk unggahan lainnya, individu berusaha menampilkan citra yang sesuai dengan bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain.
Tidak sedikit pengguna yang memilih secara selektif konten yang akan dipublikasikan agar memperoleh respons positif berupa tanda suka, komentar, maupun jumlah pengikut yang tinggi. Dalam konteks ini, media sosial menjadi arena untuk melakukan self-presentation, yaitu proses menampilkan identitas yang telah dikonstruksi sesuai harapan pribadi maupun ekspektasi lingkungan sosial.
Konstruksi identitas di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi nyata seseorang. Anak muda sering kali melakukan proses penyaringan terhadap informasi yang ingin ditampilkan sehingga citra yang muncul di media sosial merupakan hasil seleksi yang dianggap paling menarik.
Mereka dapat menampilkan kehidupan yang lebih ideal dibandingkan kenyataan sehari-hari. Proses tersebut menunjukkan bahwa identitas digital bersifat dinamis karena dapat berubah sesuai dengan audiens, platform yang digunakan, maupun tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian, media sosial memungkinkan seseorang memiliki lebih dari satu bentuk identitas yang disesuaikan dengan konteks interaksi digitalnya. (Jurnal 3, n.d.)
Hubungan antara FoMO dan konstruksi identitas menjadi semakin erat karena keduanya dipengaruhi oleh intensitas penggunaan media sosial. Individu yang mengalami FoMO cenderung lebih sering mengakses media sosial untuk mengetahui aktivitas orang lain. Pada saat yang sama, mereka juga terdorong untuk terus mengunggah berbagai aktivitas agar tetap dianggap aktif dan relevan dalam lingkungan sosialnya.
Akibatnya, media sosial menjadi ruang yang memperkuat kebutuhan akan validasi sosial melalui jumlah pengikut, komentar, maupun apresiasi dari pengguna lain. Proses tersebut menunjukkan bahwa identitas digital tidak hanya dibentuk oleh individu, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi dan respons yang diberikan oleh lingkungan digital. (Dewi & Sari, 2022; Jurnal 3, n.d.; Novita Utami, n.d.)
Fenomena ini penting untuk dikaji karena penggunaan media sosial yang semakin masif telah mengubah proses pembentukan identitas anak muda. Di satu sisi, media sosial memberikan kesempatan bagi individu untuk mengeksplorasi diri, memperluas jaringan sosial, dan memperoleh berbagai informasi.
Namun, di satu sisi, tingginya intensitas penggunaan media sosial juga dapat meningkatkan tekanan psikologis, kecemasan sosial, serta kecenderungan membentuk identitas yang lebih berorientasi pada pengakuan publik daripada keaslian diri. Oleh karena itu, memahami hubungan antara FoMO dan konstruksi identitas menjadi penting untuk menjelaskan bagaimana media sosial memengaruhi kehidupan sosial dan psikologis anak muda di era digital saat ini.
PEMBAHASAN
A. Konsep Fear of Missing Out (FoMO) pada Anak Muda di Era Media Sosial
Fear of Missing Out (FoMO) merupakan salah satu fenomena psikologis yang berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial di berbagai kalangan, terutama pada anak muda. FoMO menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki rasa cemas karena merasa ada pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dinikmati orang lain tanpa dirinya ikut terlibat.
Perasaan tersebut mendorong individu untuk terus memantau media sosial agar tidak tertinggal perkembangan terbaru. Dalam praktiknya, FoMO tidak hanya muncul sebagai rasa ingin tahu, tetapi juga berkembang menjadi kebutuhan untuk selalu terhubung dengan lingkungan digital sehingga individu merasa harus terus membuka media sosial dalam berbagai situasi.
Fenomena tersebut semakin terlihat pada kelompok usia muda karena mereka merupakan generasi yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan internet dan media sosial. Kehidupan sosial Generasi Z tidak lagi hanya berlangsung melalui interaksi tatap muka, tetapi juga melalui ruang digital yang memungkinkan komunikasi terjadi setiap saat.
Berbagai aktivitas seperti mengikuti berita, berinteraksi dengan teman, mencari hiburan, hingga membangun relasi sosial kini banyak dilakukan melalui media sosial. Kondisi tersebut menyebabkan media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari sehingga muncul kekhawatiran ketika seseorang merasa tidak mengikuti perkembangan yang sedang berlangsung.
FoMO pada anak muda juga dipengaruhi oleh karakteristik media sosial yang memungkinkan pengguna memperoleh informasi mengenai kehidupan orang lain secara cepat dan terus-menerus. Berbagai unggahan mengenai pencapaian akademik, perjalanan wisata, gaya hidup, hubungan pertemanan, maupun aktivitas hiburan menjadi konsumsi harian pengguna media sosial.
Paparan informasi tersebut secara tidak langsung mendorong individu melakukan perbandingan sosial. Anak muda mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia. Akibatnya, muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal dibandingkan orang lain sehingga timbul dorongan untuk terus mengikuti perkembangan yang terjadi di media sosial.
Selain dipengaruhi oleh paparan informasi, FoMO juga berkaitan dengan motif seseorang menggunakan media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa dorongan untuk memantau aktivitas orang lain (following and monitoring others) serta keinginan memperoleh pengakuan sosial (social recognition) memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap munculnya FoMO dibandingkan motif penggunaan media sosial lainnya.
Dengan kata lain, individu yang lebih sering menggunakan media sosial untuk melihat kehidupan orang lain dan mengharapkan respons positif atas unggahannya memiliki kecenderungan lebih besar mengalami FoMO. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis memiliki peran penting dalam membentuk perilaku penggunaan media sosial pada anak muda. (Dewi & Sari, 2022)
Kebiasaan memeriksa media sosial secara terus-menerus akhirnya menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Banyak anak muda yang secara spontan membuka media sosial ketika bangun tidur, saat sedang belajar, bekerja, bahkan sebelum tidur. Perilaku tersebut sering dilakukan tanpa tujuan yang jelas selain memastikan bahwa mereka tidak melewatkan informasi terbaru.
Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi memperkuat siklus FoMO karena semakin sering seseorang melihat aktivitas orang lain, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa tertinggal dan kebutuhan untuk kembali membuka media sosial. Kondisi tersebut menjadikan FoMO sebagai fenomena yang bersifat berulang dan sulit dihentikan apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial.
Di sisi lain, FoMO tidak selalu menghasilkan dampak negatif. Dalam beberapa kondisi, rasa takut tertinggal dapat mendorong seseorang untuk lebih aktif mencari informasi, memperluas jaringan sosial, serta meningkatkan partisipasi dalam berbagai kegiatan positif.
Namun, apabila intensitasnya berlebihan, FoMO dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kecemasan, ketergantungan terhadap media sosial, kesulitan berkonsentrasi, gangguan pola tidur, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis. Oleh sebab itu, FoMO perlu dipahami sebagai fenomena yang memiliki dua sisi, yaitu dapat memberikan motivasi untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial sekaligus berpotensi memengaruhi kesehatan mental apabila tidak dikelola secara bijaksana. (Dewi & Sari, 2022; Herawati et al., 2022; Jurnal 3, n.d.)
Berdasarkan berbagai temuan tersebut dapat dipahami bahwa FoMO bukan hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kebutuhan sosial dan psikologis individu. Media sosial menyediakan ruang yang memungkinkan setiap orang mengetahui kehidupan orang lain secara instan, sementara kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial mendorong individu terus mengikuti perkembangan tersebut.
Akibatnya, FoMO menjadi salah satu karakteristik yang banyak ditemukan pada anak muda di era digital, terutama mereka yang menjadikan media sosial sebagai bagian utama dalam aktivitas sosial sehari-hari.
B. Konstruksi Identitas Anak Muda di Media Sosial
Media sosial tidak lagi dipandang hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang sosial tempat individu membangun, menampilkan, dan menegosiasikan identitas dirinya. Bagi anak muda, media sosial menjadi media yang memungkinkan mereka menunjukkan kepribadian, minat, gaya hidup, serta nilai-nilai yang diyakini kepada masyarakat luas.
Setiap foto, video, cerita, maupun komentar yang diunggah merupakan bagian dari proses pembentukan identitas digital yang terus berkembang seiring dengan interaksi yang terjadi di dunia maya. Dengan demikian, identitas yang ditampilkan di media sosial merupakan hasil dari proses konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi maupun respons dari lingkungan digital.
Dalam proses tersebut, anak muda memiliki keleluasaan untuk menentukan bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain. Berbeda dengan interaksi secara langsung yang berlangsung spontan, media sosial memberikan kesempatan kepada pengguna untuk memilih foto terbaik, menyunting video, menghapus unggahan yang dianggap kurang sesuai, hingga mengatur kata-kata yang ingin disampaikan kepada publik.
Proses seleksi tersebut menunjukkan bahwa identitas digital tidak selalu mencerminkan kondisi nyata seseorang, melainkan merupakan representasi diri yang telah disusun sedemikian rupa agar sesuai dengan citra yang ingin dibangun. Oleh karena itu, media sosial memberikan ruang yang lebih besar bagi individu untuk mengendalikan kesan yang diterima oleh orang lain. (Jurnal 3, n.d.)
Anak muda juga cenderung menyesuaikan cara mereka menampilkan diri sesuai dengan karakteristik setiap platform media sosial. Misalnya, Instagram lebih sering digunakan untuk memperlihatkan gaya hidup, pencapaian, atau aktivitas sehari-hari melalui foto dan video yang menarik.
Sementara itu, TikTok banyak dimanfaatkan untuk menunjukkan kreativitas, mengikuti tren, maupun membangun popularitas melalui konten video pendek. Perbedaan karakteristik platform tersebut membuat seseorang dapat memiliki bentuk presentasi diri yang berbeda-beda meskipun tetap berasal dari individu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa identitas digital bersifat fleksibel dan dapat berubah mengikuti konteks sosial yang dihadapi pengguna.
Selain sebagai sarana ekspresi diri, media sosial juga berfungsi sebagai ruang untuk memperoleh pengakuan sosial. Jumlah tanda suka (likes), komentar, jumlah pengikut, hingga banyaknya konten yang dibagikan kembali sering dijadikan ukuran keberhasilan seseorang dalam membangun citra dirinya di dunia digital.
Respons positif dari pengguna lain memberikan kepuasan psikologis karena dianggap sebagai bentuk penerimaan terhadap identitas yang ditampilkan. Sebaliknya, apabila unggahan tidak memperoleh perhatian sebagaimana yang diharapkan, sebagian anak muda dapat mengalami kekecewaan, menurunnya rasa percaya diri, bahkan merasa identitas yang mereka bangun kurang dihargai oleh lingkungan sosialnya. (Jurnal 3, n.d.; Novita Utami, n.d.)
Proses konstruksi identitas juga dipengaruhi oleh mekanisme perbandingan sosial (social comparison). Anak muda secara tidak sadar membandingkan penampilan, prestasi, gaya hidup, maupun hubungan sosial yang dimiliki dengan apa yang mereka lihat di media sosial.
Ketika individu merasa dirinya tidak sesuai dengan standar yang berkembang di lingkungan digital, mereka terdorong untuk mengubah cara berpakaian, mengikuti tren tertentu, membuat konten yang sedang populer, bahkan menyesuaikan pendapat agar memperoleh penerimaan dari kelompok sosialnya. Dengan demikian, identitas yang dibentuk di media sosial tidak sepenuhnya berasal dari diri sendiri, tetapi juga merupakan hasil dari pengaruh lingkungan digital yang terus memberikan berbagai standar sosial baru. (Novita Utami, n.d.)
Di sisi lain, media sosial memberikan peluang yang besar bagi anak muda untuk mengeksplorasi identitas mereka. Ruang digital memungkinkan seseorang bergabung dengan berbagai komunitas yang memiliki minat, hobi, maupun pandangan yang sama.
Melalui interaksi tersebut, individu dapat memperoleh pengalaman baru, memperluas jaringan sosial, sekaligus menemukan aspek-aspek identitas yang sebelumnya belum mereka sadari. Oleh sebab itu, media sosial tidak hanya menjadi tempat menampilkan identitas, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial yang membantu proses pembentukan jati diri selama masa remaja dan dewasa awal. (Jurnal 3, n.d.; Novita Utami, n.d.)
Meskipun demikian, pembentukan identitas di media sosial juga memiliki berbagai tantangan. Keinginan untuk selalu terlihat sempurna dapat menyebabkan individu lebih fokus membangun citra ideal dibandingkan menunjukkan kondisi dirinya yang sebenarnya.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara identitas digital dan identitas nyata. Ketika perbedaan tersebut semakin besar, individu dapat mengalami tekanan psikologis karena harus terus mempertahankan citra yang telah dibangun di hadapan publik. Akibatnya, media sosial bukan hanya menjadi tempat berekspresi, tetapi juga menjadi sumber tekanan sosial yang memengaruhi kesejahteraan psikologis anak muda. (Novita Utami, n.d.)
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa konstruksi identitas anak muda di media sosial merupakan proses yang kompleks karena dipengaruhi oleh faktor individu, lingkungan sosial, karakteristik platform digital, serta respons yang diberikan oleh pengguna lain.
Identitas digital tidak terbentuk secara alami, melainkan melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan negosiasi yang dilakukan secara terus-menerus agar sesuai dengan harapan pribadi maupun ekspektasi sosial. Oleh karena itu, media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk cara anak muda mengenali, memahami, dan menampilkan dirinya di era digital.
C. Hubungan Fear of Missing Out (FoMO) dengan Konstruksi Identitas Anak Muda di Media Sosial
Fear of Missing Out (FoMO) dan konstruksi identitas merupakan dua fenomena yang saling berkaitan dalam kehidupan anak muda di era digital. FoMO mendorong individu untuk terus terhubung dengan media sosial agar tidak tertinggal informasi maupun aktivitas yang sedang dilakukan oleh orang lain.
Di sisi lain, media sosial menjadi ruang utama bagi anak muda untuk membangun dan menampilkan identitas dirinya kepada publik. Hubungan tersebut membentuk suatu siklus yang saling memengaruhi, di mana semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kecenderungannya untuk aktif membangun citra diri melalui berbagai platform media sosial. (Dewi & Sari, 2022; Jurnal 3, n.d.; Novita Utami, n.d.)
FoMO menyebabkan anak muda merasa harus selalu hadir dalam berbagai percakapan, tren, maupun aktivitas yang sedang berkembang di media sosial. Rasa takut dianggap tertinggal membuat mereka lebih sering membuka aplikasi media sosial untuk melihat unggahan terbaru dari teman, tokoh publik, maupun komunitas yang mereka ikuti.
Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi tersebut memberikan peluang lebih besar bagi individu untuk melakukan interaksi digital sekaligus memperlihatkan keberadaan dirinya kepada orang lain. Dengan kata lain, FoMO tidak hanya mendorong seseorang menjadi konsumen informasi, tetapi juga mendorongnya menjadi produsen konten yang aktif demi mempertahankan eksistensi sosial di ruang digital. (Dewi & Sari, 2022; Herawati et al., 2022)
Keinginan untuk memperoleh pengakuan dari lingkungan digital membuat anak muda semakin berhati-hati dalam membentuk identitas yang akan ditampilkan di media sosial. Mereka cenderung memilih foto yang dianggap paling menarik, menyunting video agar terlihat lebih berkualitas, menggunakan kata-kata yang sedang populer, hingga mengikuti tren yang sedang viral.
Semua tindakan tersebut dilakukan agar unggahan memperoleh perhatian berupa jumlah tanda suka, komentar, maupun peningkatan jumlah pengikut. Dengan demikian, identitas digital yang dibangun sering kali merupakan hasil dari proses pengelolaan citra diri yang dirancang untuk memenuhi harapan audiens, bukan semata-mata mencerminkan kondisi diri yang sebenarnya. (Jurnal 3, n.d.)
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara anak muda memaknai identitas dirinya. Apabila pada masa sebelumnya identitas lebih banyak dibentuk melalui interaksi langsung dengan keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat, kini proses tersebut juga berlangsung melalui interaksi digital.
Komentar, jumlah pengikut, serta respons yang diterima dari pengguna lain menjadi faktor penting yang memengaruhi bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri. Identitas digital akhirnya terbentuk melalui proses negosiasi antara persepsi pribadi dan penilaian sosial yang diberikan oleh komunitas daring.
Selain itu, FoMO juga berkaitan erat dengan kebutuhan akan validasi sosial. Anak muda yang mengalami FoMO umumnya memiliki keinginan lebih besar untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain melalui aktivitas di media sosial.
Setiap unggahan yang memperoleh banyak respons positif akan meningkatkan rasa percaya diri, sedangkan unggahan yang kurang mendapat perhatian sering kali menimbulkan perasaan kecewa, cemas, bahkan merasa kurang dihargai. Ketergantungan terhadap validasi eksternal tersebut menunjukkan bahwa pembentukan identitas digital tidak lagi hanya didasarkan pada penilaian individu terhadap dirinya sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana orang lain memberikan respons terhadap identitas yang ditampilkan.
Hubungan antara FoMO dan konstruksi identitas juga dapat dijelaskan melalui kecenderungan anak muda untuk mengikuti berbagai tren yang sedang berkembang. Agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya, banyak pengguna media sosial mengikuti tantangan (challenge), menggunakan gaya berpakaian tertentu, mengadopsi bahasa yang sedang populer, bahkan menyesuaikan pandangan mereka dengan opini yang sedang mendapat perhatian publik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa identitas digital sering kali bersifat dinamis karena terus berubah mengikuti perkembangan tren di media sosial. Dalam kondisi seperti ini, FoMO menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan identitas digital seseorang karena adanya dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru.
Walaupun demikian, hubungan antara FoMO dan konstruksi identitas tidak selalu memberikan dampak negatif. Pada tingkat tertentu, FoMO dapat memotivasi anak muda untuk memperluas wawasan, mengikuti perkembangan informasi, membangun jaringan sosial yang lebih luas, serta meningkatkan kreativitas dalam menghasilkan berbagai bentuk konten digital.
Media sosial juga memberikan kesempatan bagi individu untuk mengeksplorasi bakat, minat, dan kemampuan yang sebelumnya sulit ditampilkan melalui interaksi secara langsung. Oleh karena itu, FoMO dapat menjadi faktor yang mendorong perkembangan identitas apabila diimbangi dengan kemampuan mengelola penggunaan media sosial secara sehat dan proporsional. (Herawati et al., 2022; Jurnal 3, n.d.; Novita Utami, n.d.)
Sebaliknya, apabila FoMO berkembang secara berlebihan, dampaknya terhadap konstruksi identitas dapat menjadi kurang sehat. Individu cenderung membangun citra diri yang ideal demi memperoleh pengakuan sosial sehingga mengabaikan identitas aslinya.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna dapat memicu kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, bahkan menyebabkan ketidaksesuaian antara kehidupan nyata dengan identitas yang ditampilkan di media sosial. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan mental serta menghambat terbentuknya identitas diri yang autentik.
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa FoMO memiliki hubungan yang erat dengan konstruksi identitas anak muda di media sosial. FoMO meningkatkan intensitas penggunaan media sosial, memperkuat kebutuhan akan validasi sosial, serta mendorong individu untuk membangun identitas digital yang sesuai dengan ekspektasi lingkungan daring.
Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kemungkinan identitas digitalnya dipengaruhi oleh respons sosial, tren, dan budaya media sosial dibandingkan oleh nilai-nilai yang berasal dari dirinya sendiri. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembentukan identitas anak muda di era digital merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor psikologis, teknologi, dan lingkungan sosial digital.
PENUTUP
Kesimpulan
Perkembangan media sosial telah membawa perubahan yang signifikan terhadap kehidupan sosial anak muda, terutama dalam proses pembentukan identitas diri. Media sosial tidak lagi berfungsi hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi telah menjadi ruang digital yang memungkinkan individu mengekspresikan diri, membangun hubungan sosial, serta membentuk citra diri di hadapan masyarakat. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan X memberikan kesempatan bagi anak muda untuk menampilkan identitas yang mereka inginkan melalui berbagai bentuk konten digital.
Di sisi lain, tingginya intensitas penggunaan media sosial juga memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan cemas ketika seseorang merasa tertinggal informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang alami orang lain. Fenomena ini mendorong anak muda untuk terus memantau media sosial dan berusaha tetap aktif dalam berbagai aktivitas digital agar memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya. Semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki seseorang, semakin besar pula kecenderungannya menggunakan media sosial secara intensif dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa FoMO memiliki hubungan yang erat dengan konstruksi identitas anak muda di media sosial. Dorongan untuk selalu mengikuti tren, memperoleh validasi sosial, dan mempertahankan eksistensi di ruang digital membuat banyak anak muda membangun identitas yang disesuaikan dengan harapan audiens. Akibatnya, identitas digital yang ditampilkan tidak selalu mencerminkan kondisi nyata, melainkan merupakan hasil dari proses seleksi dan pengelolaan citra diri.
Meskipun media sosial dapat menjadi sarana untuk mengeksplorasi potensi, memperluas relasi, dan mengembangkan kreativitas, penggunaan yang berlebihan juga berpotensi menimbulkan kecemasan, ketergantungan terhadap validasi sosial, serta kesenjangan antara identitas nyata dan identitas digital.
Berdasarkan hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk identitas anak muda, sementara FoMO menjadi salah satu faktor psikologis yang memperkuat proses tersebut.
Oleh karena itu, diperlukan kemampuan literasi digital dan pengendalian diri agar media sosial dapat dimanfaatkan secara bijaksana sebagai sarana pengembangan diri, bukan sebagai sumber tekanan sosial maupun psikologis. Dengan penggunaan yang lebih sehat, anak muda diharapkan mampu membangun identitas yang autentik, percaya diri, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pengakuan yang diperoleh melalui media sosial.
Saran
Berdasarkan hasil pembahasan, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan. Pertama, anak muda perlu meningkatkan kesadaran dalam menggunakan media sosial dengan lebih bijaksana serta mengurangi kebiasaan membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di dunia digital.
Kedua, orang tua, pendidik, dan lembaga pendidikan perlu memberikan edukasi mengenai literasi digital dan kesehatan mental agar anak muda mampu menggunakan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.
Ketiga, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji hubungan antara FoMO dan konstruksi identitas menggunakan metode kuantitatif maupun mixed methods sehingga dapat memberikan gambaran empiris yang lebih mendalam mengenai pengaruh FoMO terhadap pembentukan identitas anak muda di media sosial.
Dengan demikian, hasil penelitian di masa mendatang dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan maupun program edukasi yang mendukung terciptanya lingkungan digital yang lebih sehat dan positif bagi generasi muda.
Penulis:
- Debora Maria El Shadai Rewah
- Riski Sulaeman
- Zahran Razhaf Nikantio
- Iqbal Pratama Yudha
- Satria Bancin
- Gendhis Marsya Salsabila
- Runi Sikah Seisabila, S.Sos., M.Krim.
Mahasiswa Kriminologi, Universitas Budi Luhur
Dosen Pengampu: Runi Sikah Seisabila, S.Sos., M.Krim.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Dewi, F. I. R., & Sari, M. P. (2022). Motivation for Instagram Use, Passive Instagram Use and Fear of Missing Out (FoMO). Jurnal Komunikasi, 14(1), 251. https://doi.org/10.24912/jk.v14i1.18592
Herawati, I., Rizal, I., Amita, N., & Psikologi, F. (2022). THE IMPACT OF SOCIAL MEDIA ON FEAR OF MISSING OUT AMONG Z GENERATION: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW. In Journal of Islamic and Contemporary Psychology (Vol. 2, Number 2).
jurnal 3. (n.d.).
Novita Utami, D. (n.d.). Peran Media Sosial dalam Pembentukan Identitas Diri Remaja: A Systematic Literature Review. https://doi.org/10.61104/alz.v4i2.5439
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












