Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Perilaku Pembelian Impulsif pada Produk Fashion di Kalangan Mahasiswa

fomo-belanja-fashion-mahasiswa

ABSTRAK

Perkembangan teknologi digital dan penggunaan media sosial yang semakin meningkat telah memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa, khususnya dalam mengikuti tren fashion yang berkembang. Paparan terhadap berbagai konten fashion, rekomendasiproduk, serta gaya hidup di media sosial dapat memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan takuttertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang dilakukan oleh orang lain. Kondisi tersebut dapat mendorong individu melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya atau disebut sebagai impulsive buying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 58 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Fear of Missing Out (FoMO) dan skala impulsive buying dengan model skala Likert. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan aplikasi JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion. Hasil analisis menunjukkan nilaikoefisien regresi sebesar 1,145 dengan nilai signifikansi p < 0,001. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,610 menunjukkan bahwa FoMO memberikan kontribusi sebesar 61,0% terhadap impulsive buying, sedangkan 39,0% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa melakukan pembelian produk fashion secara impulsif.

Kata Kunci: Fear of Missing Out, FoMO, Impulsive Buying, Mahasiswa, Fashion

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

PENDAHULUAN

 Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam cara seseorang melakukan aktivitas belanja. Saat ini, kegiatan membeli suatu produk tidak lagi terbatas pada toko fisik, tetapi dapat dilakukan dengan mudah melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial. Kehadiran platform digital tersebut membuat konsumen semakin mudah mendapatkan informasi mengenai produk, melihat rekomendasi, serta mengikuti berbagai tren yang sedang berkembang. Perubahan pola konsumsi ini juga banyakdirasakan oleh mahasiswa yang termasuk dalam kelompok pengguna aktif teknologi digital. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi membuat mahasiswa sering terpapar berbagai konten mengenai gaya hidup, tren fashion, hingga promosi produk yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi keputusan pembelian mereka.

Fenomena tersebut semakin relevan mengingat tingginya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet Indonesia yang dirilis oleh (APJII 2024), jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221,56 juta jiwa dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5% dari total populasi. Tingginya penggunaan internet tersebut menunjukkanbahwa masyarakat semakin bergantung pada media digital dalam berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk dalam mencari informasi dan melakukan transaksi pembelian. Generasi Z, yang sebagian besar berada pada usia mahasiswa, menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan media sosial sehingga lebih mudah terpapar berbagai tren yangberkembang di lingkungan digital.

Salah satu tren yang berkembang pesat melalui media sosial adalah tren fashion. Fashion tidak lagi dipandang hanya sebagai kebutuhan dasar berupa pakaian, tetapi juga menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun citra sosial. Berbagai konten seperti Outfit of The Day (OOTD), fashion haul, ulasan produk, dan rekomendasi influencer membuat mahasiswa semakin mudah mengetahui produk fashion yang sedang populer. Akibatnya, mahasiswa sering kali terdorong untuk mengikuti tren yang berkembang agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya..

Kecenderungan untuk selalu mengikuti tren tersebut berkaitan dengan fenomena Fear of Missing Out (FoMO). (Syandana & Dhania 2024) menjelaskan bahwa FoMO merupakan kondisi ketika individu merasa khawatir tertinggal dari pengalaman, aktivitas, maupun tren yang sedang diikuti oleh orang lain. Dalam konteks media sosial, FoMO dapat muncul ketika seseorang melihat teman sebaya atau influencer menggunakan produk tertentu yang sedang populer sehingga timbul keinginan untuk memiliki produk yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga mampu memengaruhi pola pikir dan perilaku konsumsi individu.

Pada kalangan mahasiswa, FoMO dapat memunculkan kecenderungan perilaku konsumtif. Penelitian (Manopo et al., 2024) menunjukkan bahwa FoMO memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumerisme mahasiswa. Individu yang memiliki tingkat FoMO tinggi cenderung lebih mudah terdorong untuk mengikuti tren yang berkembang agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Keinginan untuk memperoleh penerimaan sosial dan menjaga citra diri sering kali menjadi alasan utama mahasiswa mengikuti berbagai tren yang sedang populer. Dorongan untuk mengikuti tren tersebut dapat berkembang menjadi perilaku impulsive buying. Impulsive buying merupakan perilaku pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya dan lebih didorong oleh faktor emosional dibandingkan pertimbangan rasional. Dalam era digital, perilaku ini semakin mudah terjadi karena konsumen terus menerima berbagai stimulus berupa promosi, diskon, rekomendasi produk, maupun konten pemasaran yang menarik. Ketika individu merasa khawatir tertinggal dari tren yang sedang berkembang, mereka cenderung mengambil keputusanpembelian secara cepat tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya.

Hubungan antara FoMO dan impulsive buying telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. (Damayanti & Sagoro 2024) menemukan bahwa FoMO berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulsive buying pada pengguna e-commerce. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki individu, semakin besar kecenderungannya untuk melakukan pembelian secara impulsive. Hasil penelitian tersebut didukung oleh (Sari & Kencana 2024) yang menemukan bahwa FoMO berpengaruh terhadap perilaku impulsive buying pada pengguna marketplace. Kedua penelitian tersebut mengindikasikan bahwa rasa takut tertinggal dari tren atau informasitertentu dapat mendorong seseorang melakukan pembelian secara spontan.

Dalam konteks produk fashion, pengaruh FoMO terhadap impulsive buying menjadi semakin menarik untuk dikaji. Produk fashion merupakan kategori produk yang sangat dipengaruhi oleh tren, gaya hidup, serta kebutuhan akan penerimaan sosial. (Asyida dan Ahmadi 2024) menemukan bahwa FoMO berpengaruh positif terhadap impulsivebuying pada produk fashion di marketplace. Hasil tersebut menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat FoMO tinggi cenderung lebih mudah melakukan pembelian produk fashion secara spontan ketika melihat produk yang sedang populer atau banyak digunakan oleh orang lain.

Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara FoMO dan impulsive buying, penelitian yang secara khusus mengkaji pengaruh FoMO terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus pada pengguna e-commerce ataumarketplace secara umum tanpa menyoroti mahasiswa sebagai kelompok yang rentan terhadap pengaruh tren media sosial. Padahal, mahasiswa merupakan kelompok usia yang aktif menggunakan media sosial dan berada pada faseperkembangan yang ditandai dengan kebutuhan akan penerimaan sosial serta pembentukan identitas diri. Oleh karena itu, penelitian mengenai pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion penting dilakukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perilaku konsumsi mahasiswa di era digital.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilakuimpulsive buying mahasiswa pada produk fashion. Pada penelitian ini, FoMO dipahami sebagai kecenderungan individu untuk merasa khawatir atau takut tertinggal dari tren, informasi, maupun pengalaman yang sedang berkembang dilingkungan sosial dan media sosial. Sementara itu, perilaku impulsive buying dipahami sebagai kecenderungan mahasiswa melakukan pembelian produk fashion secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh pemahaman mengenai bagaimana FoMO berperan dalam mendorong perilaku pembelian impulsive pada mahasiswa di era digital.

 

KAJIAN TEORI

Fear of Missing Out

Fear of Missing Out (FoMO) merupakan kondisi psikologis yang ditandai oleh perasaan khawatir, cemas, atau takuttertinggal dari informasi, aktivitas, pengalaman, maupun tren yang sedang dialami oleh orang lain. Dalam konteks media sosial, FoMO muncul ketika individu merasa perlu untuk terus mengikuti perkembangan yang terjadi dilingkungannya agar tidak merasa tertinggal dari kelompok sosialnya. (Groenestein et al. 2023) menjelaskan bahwa FoMO tidak hanya berkaitan dengan kekhawatiran akan kehilangan pengalaman sosial, tetapi juga mencerminkan keinginan individu untuk tetap terhubung dengan aktivitas dan pengalaman yang dimiliki orang lain.

FoMO semakin relevan pada kelompok Generasi Z yang memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi. Paparan terhadap berbagai konten digital, tren, dan aktivitas pengguna lain dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, individu menjadi lebih rentan mengalamikekhawatiran apabila tidak mengikuti tren yang sedang berkembang, termasuk tren fashion yang populer di media sosial (Pratama et al., 2024).

Impulsive Buying

Impulsive buying merupakan perilaku pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan yang matangsebelumnya. Perilaku ini umumnya muncul karena adanya dorongan emosional yang kuat sehingga individu melakukan pembelian secara cepat tanpa mempertimbangkan konsekuensi maupun kebutuhan yang sebenarnya. Dalam konteks konsumsi modern, impulsive buying sering ditemukan pada aktivitas belanja yang dipengaruhi oleh promosi, tren sosial, serta paparan informasi yang terus-menerus melalui media digital (Mashilo et al., 2024).

Pada produk fashion, impulsive buying cenderung lebih sering terjadi karena produk fashion memiliki nilaisimbolik yang berkaitan dengan identitas diri, citra sosial, dan kebutuhan untuk mengikuti tren yang sedangberkembang. Oleh karena itu, keputusan pembelian produk fashion sering kali dipengaruhi oleh faktor emosional dibandingkan pertimbangan rasional (Renganathan et al., 2025).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa FoMO) berhubungan dengan meningkatnya kecenderungan impulsive buying. Individu yang mengalami FoMO cenderung memiliki keinginan yang lebih besar untuk mengikuti tren yang berkembang di lingkungan sosialnya. Ketika melihat orang lain menggunakan atau merekomendasikan suatu produkyang sedang populer, individu dapat terdorong untuk segera membeli produk tersebut agar tidak merasa tertinggal dari kelompok sosialnya (Groenestein et al., 2023).

Pada konteks produk fashion, dorongan untuk mengikuti tren menjadi semakin kuat karena fashion tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai sarana mengekspresikan identitas diri dan memperolehpenerimaan sosial. Oleh karena itu, mahasiswa dengan tingkat FoMO yang tinggi cenderung lebih rentan melakukanpembelian fashion secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. Temuan ini didukung oleh penelitian (Farhatun & Herwanto 2025) yang menunjukkan bahwa FoMO memiliki hubungan positif dengan perilaku impulsive buying pada konsumen muda dan pengguna media sosial.

 

HIPOTESIS

H₁ : Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh positif terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion.

 

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Pemilihan pendekatan tersebut didasarkan pada tujuan penelitian untuk mengidentifikasi serta menganalisis hubungan antara dua variabel, yaitu FoMO sebagai variabel independen dan impulsive buying sebagai variabel dependen. Pendekatan kuantitatif menekankan pada sifat objektif dan sistematis, dengan mengumpulkan data dalam bentuk angka yang kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik guna menguji hipotesis yang telah ditetapkan

Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Sampel penelitian berjumlah 58 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampelberdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan peneliti sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria responden meliputi mahasiswa yang memenuhi karakteristik penelitian dan bersedia berpartisipasi dengan mengisi kuesioner penelitian.  Data  penelitian  dikumpulkan  melalui  penyebaran  kuesioner  yang  disusun berdasarkan indikator variabel penelitian. Jumlah sampel sebanyak 58 responden dianggap memadai untuk melakukan analisis statistik sesuai dengan tujuan penelitian.

Instrumen Penelitian

 Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu Fear of Missing Out (FoMO) dan impulsive buying. Penyusunan skala dilakukan berdasarkan aspek-aspek dari masing-masing variabel yang kemudian diturunkan menjadi indikator dan butir pernyataan. Butir pernyataan disusun dalam bentuk aitem favorable danunfavorable. Selanjutnya, aitem tersebut disajikan dalam bentuk kuesioner menggunakan Google Form yangdisebarkan kepada responden melalui berbagai platform media sosial, seperti WhatsApp.

Penelitian ini menggunakan skala Likert sebagai metode penskalaan. Setiap pernyataan memiliki lima alternatifjawaban, yaitu Sangat Tidak Sesuai (STS), Tidak Sesuai (TS), Sesuai (S), dan Sangat Sesuai (SS). Pada aitem favorable, skor diberikan dari 1 sampai 5, sedangkan pada aitem unfavorable skor diberikan secara terbalik, yaitu dari 4 sampai 1. Respons yang diberikan responden terhadap skala psikologis kemudian diberi skor melalui prosespenskalaan untuk memperoleh data penelitian yang selanjutnya dianalisis.

Teknik Analisis

 Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif untuk mengetahui pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying. Pendekatan kuantitatif dipilih karena sesuai dengan paradigmapositivistik yang menekankan objektivitas, pengukuran numerik, serta pengujian hipotesis secara sistematis (Pramesty dan Merida 2024)

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan software JASP. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, data terlebih dahulu melalui proses pengolahan yang meliputi uji validitas, uji reliabilitas, dan uji asumsi. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan setiap item dalam mengukur konstruk yang diteliti. Item dinyatakanvalid apabila memiliki koefisien korelasi item-total lebih dari 0,25. Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha untuk mengetahui konsistensi internal instrumen penelitian. Instrumen dinyatakan reliabelapabila memiliki nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,70.

Setelah instrumen dinyatakan valid dan reliabel, dilakukan uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan ujilinearitas. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data penelitian berdistribusi normal, sedangkan uji linearitas dilakukan untuk memastikan bahwa hubungan antara variabel Fear of Missing Out (FoMO) dan impulsivebuying bersifat linear. Pemenuhan kedua asumsi tersebut diperlukan agar analisis parametrik dapat digunakan secara tepat.

Selanjutnya, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying. Hasil analisis regresi diinterpretasikan berdasarkan nilai signifikansi (p), koefisien regresi (B), nilai F, koefisien korelasi (R), dankoefisien determinasi (R²). Hipotesis penelitian diterima apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying.

Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel Fear ofMissing Out (FoMO) dalam menjelaskan variasi impulsive buying. Semakin besar nilai R², semakin besar pula kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen. Sementara itu, arah pengaruh ditentukan berdasarkan tandakoefisien regresi, yaitu positif atau negatif. Koefisien regresi yang bernilai positif menunjukkan bahwa peningkatan Fear of Missing Out (FoMO) diikuti oleh peningkatan impulsive buying, sedangkan koefisien regresi yang bernilai negatif menunjukkan hubungan yang berlawanan arah.

 

HASIL

Hasil Uji Validitas Skala Fear of Missing Out (FoMO)

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan setiap item dalam mengukur konstruk Fear of Missing Out (FoMO). Analisis validitas dilakukan menggunakan software JASP terhadap 58 responden penelitian. Item dinyatakan valid apabila memiliki nilai korelasi item-total (r) lebih besar dari 0,25 dan nilai signifikansi (p) kurang dari 0,05.

Berdasarkan hasil uji validitas, skala Fear of Missing Out (FoMO) yang semula terdiri dari 22 item menunjukkan bahwa terdapat 12 item yang memenuhi kriteria validitas dan 10 item dinyatakan gugur karena tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan. Dengan demikian, hanya 12 item valid yang digunakan dalam proses analisis data penelitian.

Hasil uji validitas skala Fear of Missing Out (FoMO) disajikan pada Tabel 1

Tabel 1 Hasil Uji Validitas Skala Fear of Missing Out (FoMO)

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa seluruh item yang dipertahankan memiliki nilai korelasi di atas batas minimum yang ditentukan, sehingga item-item tersebut dinilai mampu mengukur konstruk Fear of Missing Out (FoMO)secara memadai dan layak digunakan dalam penelitian.

Hasil Uji Reliabilitas Skala Fear of Missing Out (FoMO)

Setelah dilakukan uji validitas, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas untuk mengetahui tingkat konsistensi internal instrumen. Reliabilitas diukur menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,948. Nilai tersebut berada jauh di atas batas minimum reliabilitas sebesar 0,70. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa skala Fear of Missing Out (FoMO) memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi.

Tabel 2 Hasil Uji Reliabilitas Skala Fear of Missing Out (FoMO)

Hasil Uji Validitas Skala Impulsive Buying

Nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,948 menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangatbaik, sehingga instrumen layak digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian. Uji validitas pada skala impulsive buying dilakukan untuk mengetahui kemampuan item dalam mengukur konstruk impulsive buying. Kriteria validitas yang digunakan adalah nilai korelasi item-total lebih besar dari 0,25 dan nilai signifikansi kurang dari 0,05.

Berdasarkan hasil analisis, skala impulsive buying yang semula terdiri dari 30 item menunjukkan bahwa terdapat23 item yang memenuhi kriteria validitas dan 7 item dinyatakan gugur. Item-item yang valid kemudian digunakan dalam proses pengolahan dan analisis data.

Hasil uji validitas skala impulsive buying disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 3 Hasil Uji Validitas Butir Item Skala Impusive Buying

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa seluruh item yang dipertahankan memiliki nilai korelasi yang memenuhi kriteria validitas sehingga mampu merepresentasikan konstruk impulsive buying secara memadai. 

Hasil Uji Normalitas Residual

Uji normalitas residual dilakukan untuk mengetahui apakah residual (galat) dari model regresi berdistribusi normal. Dalam analisis regresi linear, asumsi yang perlu dipenuhi adalah normalitas residual, bukan semata-matanormalitas data mentah masing-masing variabel. Oleh karena itu, meskipun hasil uji normalitas pada data awal menunjukkan distribusi yang tidak normal, analisis regresi linear masih dapat digunakan apabila residual model berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil uji normalitas residual menggunakan uji Shapiro-Wilk, diperoleh nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa residual model regresi berdistribusi normal. Selain itu, pemeriksaan melalui histogram residual dan Normal Q-Q Plot menunjukkan bahwa sebaran residual mengikuti pola distribusi normal dan titik-titik data berada di sekitar garis diagonal.

Gambar 1. Histogram Standardized Residual

Gambar 2. Q-Q Plot Standardized Residual

Berdasarkan Gambar 1, histogram residual menunjukkan pola distribusi yang mendekati kurva normal (bell-shaped), dengan sebagian besar residual terkonsentrasi di sekitar nilai nol. Selain itu, berdasarkan Gambar 2, sebagian besartitik pada Q-Q Plot berada di sekitar garis diagonal, yang menunjukkan bahwa distribusi residual mendekati distribusi normal. Meskipun terdapat beberapa titik yang sedikit menyimpang pada bagian ekor distribusi, penyimpangan tersebut masih berada dalam batas yang dapat diterima.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa residual model regresi berdistribusi normal sehingga asumsi normalitas residual telah terpenuhi. Oleh karena itu, analisis regresi linear sederhana dapat digunakan untuk menguji pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying.

Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis regresi linear sederhana dilakukan untuk mengetahui pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying. Penggunaan analisis regresi linear dalam penelitian ini didasarkan pada terpenuhinya asumsi normalitasresidual, sehingga model regresi dinilai layak digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.

Tabel 4 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap Impulsive Buying

 

Berdasarkan Tabel 8, diperoleh nilai koefisien regresi (B) sebesar 1,145 yang menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh positif terhadap impulsive buying. Nilai t sebesar 9,366 dengan tingkat signifikansi p < 0,001 menunjukkan bahwa pengaruh tersebut signifikan secara statistik. Selain itu, nilai F sebesar 87,718 menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan signifikan. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,781 mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara Fear of Missing Out (FoMO) dan impulsive buying. Sementara itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,610 menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) mampu menjelaskan 61,0% variasi impulsive buying, sedangkan 39,0% sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying diterima.

Selain itu, diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,781 yang menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara Fear of Missing Out (FoMO) dan impulsive buying. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,610mengindikasikan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) mampu menjelaskan sebesar 61,0% variasi impulsive buying,sedangkan sisanya sebesar 39,0% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Hasil uji model regresi juga menunjukkan nilai F sebesar 87,718 dengan tingkat signifikansi p < 0,001, yang berarti model regresi yang digunakan layak dan signifikan untuk menjelaskan pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap impulsive buying. Dengan demikian, hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh Fear ofMissing Out (FoMO) terhadap impulsive buying dapat diterima.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana, diperoleh nilai koefisien regresi (B) sebesar 1,145 dengan nilai signifikansi p < 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh positif dansignifikan terhadap perilaku pembelian impulsif pada produk fashion. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki mahasiswa, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian impulsif. Selain itu, nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,781 menunjukkan hubungan yang kuat antara FoMO dan impulsive buying.

Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki kecenderungan FoMO akan lebih mudah terdoronguntuk mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Perasaan takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang dimiliki orang lain dapat mendorong individu melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan yang matang.Dalam konteks produk fashion, keinginan untuk tetap mengikuti perkembangan tren dan memperoleh penerimaan sosial menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif.

Hasil penelitian ini juga mendukung berbagai penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa FoMO merupakansalah satu faktor psikologis yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku pembelian impulsif. Individu yang mengalami kekhawatiran akan kehilangan informasi, pengalaman, atau tren tertentu cenderung lebih terdorong untuk melakukan pembelian secara cepat guna memenuhi kebutuhan psikologisnya. Oleh karena itu, FoMO dapat dipandangsebagai faktor yang berperan dalam meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif pada mahasiswa, khususnya dalam konteks produk fashion.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh terhadap impulsive buying dengan nilai koefisien regresi sebesar 1,145 dan tingkat signifikansi p < 0,001. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,610 menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) mampu menjelaskan sebesar 61,0% variasi perilaku impulsivebuying, sedangkan 39,0% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat FoMO lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan pembelian produk fashion secara spontan. Keinginan untuk mengikuti tren, tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosial, serta adanya pengaruh konten fashion di media sosial menjadi faktor yang dapat mendorong munculnya perilaku pembelian impulsif.

Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) merupakan salah satu faktorpsikologis yang berperan dalam memengaruhi perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion di era digital. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) terhadap perilaku impulsive buying mahasiswa pada produk fashion dapat diterima.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • APJII. (2024). Laporan survei penetrasi & perilaku pengguna internet Indonesia 2024.
  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
  • Syandana, D. A., & Dhania, D. R. (2024). Hubungan antara Fear of Missing Out (FoMO) dan gaya hidup hedonis dengan impulsive buying pada mahasiswa pengguna e-commerce. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, &Akuntansi (MEA), 8(3), 691-705.
  • Manopo, A. N., Mandang, J. H., & Kaunang, S. E. (2024). Pengaruh Fear of Missing Out Terhadap PerilakuKonsumersime Pada Mahasiswa Fipp Unima. Psikopedia, 5(3), 159-168.
  • Damayanti, M. R., & Sagoro, E. M. (2024). Pengaruh Perilaku Fear of Missing Out dan Kemudahan PenggunaanTerhadap Impulsive Buying pada Pengguna E-Commerce dengan Self Control Sebagai Variabel Moderasi. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 22(2), 66-77.
  • Sari, N. K., & Kencana, A. S. B. (2024). FOMO: TRUST DAN impulsive BUYING MARKETPLACE. POMA JURNAL:PUBLISH OF MANAGEMENT, 2(1), 32-46.
  • Asyida, M. Z., & Ahmadi, M. A. (2025). Pengaruh Fomo (Fear of Missing Out) Terhadap impulsive Buying padaSuatu Produk Fashion di Marketplace (Tokopedia). Journal of Multidisciplinary Inquiry in Science, Technology and Educational Research, 2(1b), 2050-2059.
  • Farhatun, L., & Herwanto. (2025). Pengaruh hedonic motivation, lifestyle, dan fear of missing out (FoMO) terhadapimpulsive buying produk Jims Honey pada konsumen Shopee di Kota Kalianda: Penelitian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(1), 3403–3413. https://doi.org/10.31004/jerkin.v4i1.1991
  • Mangundap, B. E., & Wijayanti, C. A. (2023). Pengaruh emosi positif sebagai variabel lain pada pembelian impulsif di toko offline produk fashion merek Nike. In Proceeding National Conference Business, Management, and Accounting (NCBMA) (pp. 560–588).
  • Purwanti, N., & Nuryani, Y. (2026). Pengaruh FOMO dan gaya hidup berbelanja terhadap pembelian impulsif pada Generasi Z konsumen TikTok Shop di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Cakrawala Jurnal EkonomiManajemen dan Bisnis, *3*(1), 67–76 https://doi.org/10.70451/cakrawala.v3i1.729
  • Sari, P. A., Efendi, N., & Joe, S. (2025). Pengaruh FOMO, hedonic shopping, dan shopping lifestyle terhadap impulsive buying pada e-commerce Shopee. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, *15*(2), 157–170. https://doi.org/10.55601/jwem.v15i2.1929
  • Pramesty, J. A., Merida, S. C., Psikologi, F., Bhayangkara, U., & Raya, J. (2025). Fear of Missing Out (FoMO) dan Impulsive Buying pada Generasi Z: Kajian dalam Fenomena Doom Spending 1, 2.

Penulis:
– Rayinda Zulfaa Nabila
– Putri Ananda
– Khalisa Noor Fatiha Shasie
– Alvin Eryandra
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses