Saya sempat mengira pekerjaan desainer interior lebih banyak dihabiskan di depan layar komputer. Empat bulan magang justru mengajarkan hal sebaliknya.
Sebelum membuka AutoCAD, saya lebih dulu belajar mengukur ruang, mendengarkan kebutuhan klien, berdiskusi dengan mandor, hingga memahami bahwa sebuah desain sering kali berubah berkali-kali sebelum akhirnya disepakati.
Program magang menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan ritme dunia kerja sebelum benar-benar memasuki profesi yang dipilih. Kesempatan itulah yang saya ambil pada semester enam.
Melalui program semacam ini, perguruan tinggi berupaya menjembatani mahasiswa dengan dunia profesional agar ilmu yang dipelajari di kelas dapat diuji dalam praktik.
Pada semester enam saya mengikuti Program Mahasiswa Berdampak skema Magang Berdampak selama empat bulan di Omahalit Interior & Architecture Consultant, Pekalongan.
Program tersebut menggantikan sebagian perkuliahan reguler sehingga saya benar-benar menjalani ritme kerja layaknya seorang desainer interior profesional. Sejak hari pertama, saya dipaksa beradaptasi dengan ritme kerja yang sama sekali berbeda dengan kehidupan perkuliahan.
Perubahan yang paling terasa adalah disiplin waktu. Hari kerja dimulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, dari Sabtu sampai Kamis. Ritme seperti ini membuat saya harus mengubah kebiasaan yang selama ini lebih fleksibel sebagai mahasiswa.
Dalam mengikuti program ini, saya diberikan arahan untuk menangani tugas yang berfokus pada pembuatan desain di studio.
Pembuatan desain ini mencakup denah eksisting/ denah lapangan hasil pengukuran, denah layout dan potongan ruang, 3D modeling interior dan rendering. Selain itu, beberapa kesempatan juga diberikan untuk melakukan survei lapangan, pelayanan konsultasi dan presentasi desain kepada klien.
Kegiatan survei lapangan menjadi tindak lanjut awal ketika klien berencana untuk membuat suatu desain ruangan atau arsitektur bangunan.
Terkadang saya ditugaskan untuk mendampingi lead designer dan mandor mendatangi lokasi yang akan dirancang untuk berkomunikasi dengan klien, melakukan pengukuran lapangan, dan pendokumentasian area secara detail.
Setelah memperoleh data survei, hasil pengukuran tersebut diolah melalui software AutoCAD untuk dibuat gambar yang lebih tepat dan presisi. Melalui denah eksisting yang telah dibuat, M. Teguh Pujiyanto selaku lead designer dan mentor magang membuat sketsa berdasarkan kebutuhan dan keinginan klien.
Dari hasil sketsa tersebut, kemudian diolah kembali pada software AutoCAD untuk dibuat menjadi denah layout. Dalam tahap ini, desain layout yang telah dibuat dan dirasa sesuai akan dipresentasikan kepada klien terlebih dahulu.
Tak jarang setelah berdiskusi dengan klien, terdapat beberapa kali revisi atau perbaikan denah untuk menyesuaikan kembali terhadap keinginan klien. Pengalaman yang paling membekas adalah ketika saya dan tim menyusun desain rumah sekaligus toko dua lantai bergaya Spanish sesuai keinginan klien.
Setelah seluruh konsep selesai dipresentasikan, klien tiba-tiba berubah pikiran dan meminta seluruh desain dirombak menjadi bergaya French House. Saat itu saya benar-benar memahami bahwa dalam dunia profesional, perubahan adalah bagian dari proses, bukan hambatan.
Pada kesempatan lain, revisi demi revisi telah kami kerjakan sesuai permintaan klien. Namun ketika hasil akhirnya dipresentasikan, mereka justru berkata bahwa desain pertama adalah yang paling sesuai.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa mendengarkan kebutuhan klien jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi setiap permintaan perubahan. Saat itu saya belajar bahwa proses desain tidak selalu berjalan lurus.
Akan tetapi apapun itu, apabila desain layout sudah disetujui oleh klien, tahap selanjutnya adalah pembuatan 3D modeling & rendering yang ditangani oleh tim studio Omahalit. Meski demikian dalam kondisi tertentu, saya dilibatkan dalam tim untuk membuat 3D modeling interior sekaligus rendering.
Beberapa software yang digunakan di antaranya, SketchUp, D5 Render, hingga pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mengolah gambar akhir. Tahap ini menuntut kreativitas sekaligus pemahaman mengenai material, finishing, teknik konstruksi, dan estetika interior.
Banyak hal baru yang diperoleh selama mengikuti kegiatan magang. Sebagai seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk bekerja dalam pembuatan desain, saya harus mampu memahami gambar hasil survei lapangan yang dibuat oleh tim lapangan.
Ketika tidak terlibat langsung dalam survei lapangan, diperlukan koordinasi dan komunikasi yang jelas dengan tim lapangan agar gambar yang dibuat sesuai dengan kondisi aslinya.
Selain itu, pemahaman terkait standardisasi ukuran ruang dan elemen ruang menjadi pembelajaran penting yang pada akhirnya menjadi kewajiban untuk dihafalkan karena selalu menjadi acuan dalam merancang suatu ruang.
Di studio, saya diberikan pemahaman terkait bagaimana cara menggunakan software yang efisien serta cara memanfaatkan teknologi AI untuk rendering gambar dalam rangka meningkatkan output dan efektivitas tugas. Awalnya AI hanya kami coba sebagai eksperimen kecil.
Baca Juga: Magang di Better Youth Foundation: Desain sebagai Media Kebaikan
Namun setelah melalui berbagai percobaan, teknologi tersebut justru menjadi bagian dari alur kerja studio karena mampu mempercepat proses visualisasi. Saya bahkan diberi kesempatan menggunakan akun tersebut untuk mengerjakan proyek perkuliahan.
Di luar pekerjaan teknis, saya belajar bahwa kemampuan berkomunikasi sama pentingnya dengan kemampuan mendesain.
Seorang desainer tidak cukup hanya menghasilkan gambar yang baik, tetapi juga harus mampu meyakinkan klien, menjelaskan alasan di balik setiap keputusan desain, dan menyampaikan gagasan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Saya juga belajar bahwa kemampuan menjelaskan desain sama pentingnya dengan kemampuan membuat desain itu sendiri. Ide yang baik tidak akan diterima apabila tidak mampu dikomunikasikan dengan bahasa yang dipahami klien. Saya juga mulai belajar membaca karakter setiap klien.
Ada yang sangat memperhatikan anggaran, ada yang lebih mengutamakan estetika, dan ada pula yang sering berubah pikiran. Memahami karakter seperti ini membantu saya menyusun pendekatan desain yang lebih tepat sekaligus meminimalkan revisi. Percakapan dengan para mandor juga membuka perspektif baru.
Saya baru mengetahui bahwa keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kualitas desain, tetapi juga oleh hal-hal yang jarang dibahas di ruang kelas, seperti koordinasi dengan warga sekitar, perizinan kepada RT/RW, hingga menjaga keamanan peralatan proyek dari risiko pencurian.
Hal-hal seperti ini tidak pernah saya temukan di ruang kuliah, tetapi justru menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek di lapangan. Di samping untuk meminimalisir adanya peristiwa yang tidak diinginkan, tindakan ini juga sebagai bentuk etika mengingat aktivitas yang dilakukan berpotensi mengganggu warga sekitar.
Saya datang ke tempat magang dengan membawa bekal teori dari ruang kelas. Saya pulang dengan pemahaman yang jauh berbeda.
Saya belajar bahwa desain yang baik tidak hanya lahir dari kreativitas, tetapi juga dari kemampuan mendengar kebutuhan orang lain, berkomunikasi dengan berbagai pihak, dan beradaptasi dengan kondisi nyata di lapangan.
Penulis: Muhammad Fatih Tegar Rabbani
Mahasiswa Desain Interior Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Surakarta)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















