Strategi Wacana Iklan Berbasis Al dalam Memicu Perilaku Belanja Impulsif Ibu Rumah Tangga Pengguna Media Sosial

Strategi Wacana Iklan Berbasis Al dalam Memicu Perilaku Belanja Impulsif Ibu Rumah Tangga Pengguna Media Sosial. Sumber: Penulis.

Abstrak

Penelitian ini mengkaji cara-cara iklan berbasis AI bekerja baik dari sisi tampilan visual seperti efek gambar dan video buatan AI, maupun dari sisi penggunaan bahasa seperti gaya bicara yang persuasif, tekanan waktu, dan pujian yang dikaitkan dengan identitas pembeli dalam mendorong perilaku belanja tanpa rencana atau impulsif. Pendekatan yang dipakai adalah metode campuran (mixed methods) yang memadukan analisis wacana iklan secara mendalam sebagai inti kajian kualitatif, dilengkapi dengan data kuesioner dari responden 13 ibu rumah tangga berusia 34–43 tahun yang aktif memakai TikTok, Instagram, dan Facebook sebagai penguat temuan. Landasan teori yang digunakan mencakup model Stimulus-Organism-Response (SOR) dan konsep Fear of Missing Out (FOMO). Hasil dari penelitian ini ditemukan tiga pola utama strategi iklan AI: pertama, tampilan visual yang dibuat sangat sempurna sehingga tidak mencerminkan produk sesungguhnya; kedua, penggunaan bahasa yang terasa akrab dan personal layaknya percakapan antar teman; dan ketiga, penciptaan kesan mendesak yang memanfaatkan rasa takut ketinggalan (FOMO) agar pembeli segera bertindak sebelum kehabisan. Data kuesioner memperkuat ketiga temuan ini dengan sebagian besar responden (69,2% hingga 92,3%) mengakui merasakan pengaruh dari ketiga cara tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa iklan berbasis AI bukan sekadar alat pemasaran biasa, melainkan sudah berfungsi seperti sistem ideologis yang secara halus mengubah cara pandang dan kebiasaan belanja masyarakat melalui bahasa digital yang seolah netral tidak memihak, atau hanya memberikan informasi namun, sebenarnya dirancang untuk mendorong atau mempengaruhi orang agar membeli barang/jasa secara berlebihan demi status sosial.

Kata Kunci: Analisis Wacana Iklan, Iklan Berbasis AI, Belanja Impulsif, Ibu Rumah Tangga, Media Sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Abstract

This study examines how AI-based advertising works, both in terms of visual appearance, such as AI-generated image and video effects, and in terms of language use, such as persuasive speaking styles, time pressure, and praise associated with buyer identities, in encouraging unplanned or impulsive shopping behavior. The approach used is a mixed methods approach that combines in-depth analysis of advertising discourse as the core of the qualitative study, supplemented by questionnaire data from 13 housewives aged 34–43 who actively use TikTok, Instagram, and Facebook to strengthen the findings. The theoretical basis used includes the Stimulus-Organism-Response (SOR) model and the concept of Fear of Missing Out (FOMO). The results of this study found three main patterns of AI advertising strategies: first, the visual appearance is made so perfect that it does not reflect the actual product; second, the use of language that feels familiar and personal, like a conversation between friends; and third, creating a sense of urgency that leverages the fear of missing out (FOMO) to encourage shoppers to act quickly before they run out. Questionnaire data reinforces these three findings, with the majority of respondents (69.2% to 92.3%) admitting to experiencing the effects of all three methods. These findings confirm that AI-based advertising is not simply a marketing tool, but rather functions as an ideological system that subtly changes people’s perspectives and shopping habits through digital language that appears neutral and impartial, or simply provides information, but is actually designed to encourage or influence people to overpurchase goods and services for social status.

Keywords: Advertising Discourse Analysis, AI-Based Advertising, Impulse Buying, Housewives, Social Media.

Baca Juga: TikTok Shop: Surga Diskon atau Pemicu Belanja Impulsif? 

Introduction/Pendahuluan

Perubahan besar dalam dunia digital yang terjadi begitu cepat selama beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan mendasar dalam cara iklan bekerja. Iklan bukan lagi sekadar sarana penyampaian informasi tentang suatu produk, melainkan telah berkembang menjadi instrumen persuasi yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) agar bisa menjangkau setiap konsumen secara lebih tepat dan personal. Di tengah semakin meluasnya penggunaan media sosial di Indonesia, platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook telah bertransformasi menjadi tempat pemasaran digital yang menyajikan iklan-iklan berbasis AI dengan kemampuan penyesuaian yang jauh melampaui iklan konvensional (Faridatul & Purwanto, 2025). Kondisi ini membentuk cara konsumsi yang baru, khususnya bagi ibu rumah tangga yang dikenal sebagai salah satu kelompok pengguna media sosial sekaligus paling mudah terpengaruh oleh rangsangan belanja digital.

Berdasarkan data terkini, pengguna internet di Indonesia sudah menyentuh angka lebih dari 78% dari total populasi, dan jumlah pengguna aktif media sosial terus bertambah dari tahun ke tahun. TikTok, Instagram, dan Facebook mendominasi peta media sosial di Indonesia, masing-masing dengan karakteristik konten dan cara kerja algoritma yang berbeda namun mereka sama-sama punya potensi untuk mendorong perilaku konsumtif. TikTok, adalah salah satu contohnya yaitu, mengandalkan algoritma yang belajar dari kebiasaan pengguna untuk menyajikan video pendek yang terasa sangat personal, termasuk iklan-iklan yang dibuat menyerupai konten hiburan sehingga sulit dibedakan dari tontonan biasa. Instagram menonjolkan kekuatan visual lewat foto dan Reels, sedangkan Facebook memanfaatkan jaringan pertemanan yang luas untuk menyebarkan iklan yang didasarkan pada data pengguna secara rinci.

Penggunaan AI dalam periklanan digital bergerak di dua bidang utama yang saling mendukung. Pertama, di bidang visual, AI dipakai untuk membuat gambar produk sintetis, efek video yang tampak nyata, dan simulasi hasil pemakaian produk yang terlihat sempurna. Kedua, di bidang bahasa, AI digunakan untuk menyusun teks iklan yang terasa personal, menggunakan gaya bicara yang hangat dan akrab, membuat kalimat-kalimat yang terkesan mendesak, serta pujian yang terhubung dengan identitas pembeli. Kedua area ini bekerja bersama-sama menghasilkan rangsangan yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga membangkitkan respons emosional yang mendorong pembelian spontan tanpa berpikir panjang, inilah yang disebut sebagai impulsive buying (Noor, 2020; Sadia & Komalasari, 2025).

Dari sudut pandang linguistik dan analisis wacana iklan kritis, teks-teks iklan yang dihasilkan atau disempurnakan oleh AI tidak muncul begitu saja tanpa alasan. Sebaliknya, teks-teks tersebut penuh dengan pesan-pesan tersembunyi yang dirancang dengan cermat untuk mempengaruhi cara berpikir dan bertindak konsumen. Bahasa iklan digital berfungsi jauh lebih dari sekadar menyampaikan informasi melainkan menjadi alat pembentuk kenyataan yang mampu menciptakan kebutuhan buatan, membangun kesan bahwa stok terbatas, dan merekayasa rasa mendesak untuk segera membeli (Asri & Nurhayati, 2024). Dalam kerangka analisis wacana iklan, teks semacam ini mencerminkan relasi kekuasaan yang tidak seimbang antara pengiklan yang menguasai teknologi AI dan konsumen yang berada dalam posisi lebih lemah secara informasi maupun psikologis.

Ibu rumah tangga sebagai kelompok sasaran utama iklan produk sehari-hari menempati posisi yang secara sosial dan psikologis mudah terpengaruh oleh strategi persuasi digital. Dari Penelitian Ramadhani, Agustini, dan Amanah (2022) mengungkapkan bahwa ibu rumah tangga di perkotaan rata-rata menghabiskan empat hingga enam jam sehari berinteraksi dengan media sosial, dan sebagian besar dari waktu itu diisi dengan paparan iklan yang sudah dipersonalisasi. Algoritma AI di platform-platform tersebut terus-menerus mempelajari kesukaan, riwayat pencarian, dan pola interaksi pengguna, lalu menyajikan iklan yang disesuaikan secara presisi (Faridatul & Purwanto, 2025). Paparan yang intens dan berulang terhadap iklan-iklan yang dirancang secara logis dan berurutan seperti ini berpotensi besar memicu perilaku belanja impulsif yaitu keputusan membeli yang terjadi secara spontan tanpa pertimbangan yang cukup (Sadia & Komalasari, 2025).

Perlu dipahami bahwa ibu rumah tangga bukanlah sekadar objek pasif dalam ekosistem digital ini. Mereka adalah pengguna aktif yang sekaligus berperan sebagai konsumen, pengulas produk, dan penyebar konten. Namun justru posisi inilah yang menempatkan mereka pada titik yang paling rentan: sebagai konsumen yang aktif mencari informasi dan referensi produk, mereka lebih sering bertemu dengan konten iklan berbasis AI yang sudah dipersonalisasi berdasarkan rekam jejak perilaku mereka sendiri. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai filter bubble konsumsi, yaitu kondisi di mana algoritma terus-menerus mempertegas dan memperkuat kecenderungan konsumsi yang sudah ada, sehingga paparan terhadap iklan produk-produk tertentu makin lama makin intens.

Baca Juga: Belanja Cerdas: Cara Menghindari Pengeluaran yang Tidak Perlu

Analisis wacana iklan kritis membedah bagaimana makna dibangun, bagaimana strategi persuasi bekerja, dan bagaimana relasi kekuasaan tersimpan di balik teks-teks iklan. Berbeda dari analisis iklan biasa yang lebih berfokus pada seberapa efektif pesan tersampaikan, analisis wacana iklan kritis memandang teks iklan sebagai tempat ideologis yang mencerminkan dan mereproduksi struktur sosial yang lebih besar (Asri & Nurhayati, 2024). Pendekatan ini mengakui bahwa setiap pilihan kata, gambar, warna, dan komposisi dalam iklan bukanlah keputusan estetis yang bebas nilai, melainkan pilihan ideologis yang memengaruhi cara konsumen memahami diri mereka sendiri dan dunia sekitarnya.

Dalam konteks iklan digital berbasis AI, analisis wacana ini semakin relevan karena lapisan makna yang dihasilkan oleh perpaduan teknologi dan bahasa yang semakin kompleks. AI tidak hanya mengotomatiskan pembuatan teks iklan, tetapi juga memungkinkan personalisasi pesan di tingkat individual yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan. Ketika iklan mampu menyapa konsumen menggunakan sebutan peran spesifik mereka yaitu “Bunda”, “Mama Muda”, “Ibu Cerdas” dan menampilkan produk yang persis sesuai dengan riwayat pencarian dan interaksi mereka, iklan tersebut bukan lagi pesan iklan biasa, melainkan wacana yang dibangun khusus untuk menyentuh titik psikologis paling rentan dari seseorang secara individual.

Dalam ranah iklan digital, analisis wacana ini juga memperhatikan bagaimana teks, gambar, warna, suara, dan gerak bekerja untuk menciptakan makna. Iklan berbasis AI di media sosial adalah produk yang sangat kompleks: sebuah video TikTok berdurasi 15–60 detik, misalnya, bisa memadukan narasi suara, teks yang muncul di atas gambar, efek visual AI, musik latar, dan tampilan produk yang semuanya bekerja secara sinergis untuk menciptakan pengalaman persuasif yang terasa hidup.

Hadirnya kecerdasan buatan dalam ekosistem periklanan telah mengubah cara iklan beroperasi secara mendasar, bukan hanya secara teknis tetapi juga secara kualitatif. Brilianty dan Alamiyah (t.t.) dalam kajian mereka tentang persepsi para animator terhadap AI generatif dalam produksi iklan komersial menemukan bahwa AI tidak hanya mempercepat proses pembuatan iklan, tetapi juga membuka peluang personalisasi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan secara manual. Sistem AI mampu mengolah jutaan titik data perilaku pengguna untuk menebak preferensi setiap individu dan menghasilkan konten iklan yang secara spesifik dirancang agar sesuai dengan profil psikologis masing-masing konsumen.

Camelia dan Rofiq (t.t.) dalam analisis multimodal iklan Samsung Galaxy S24 menunjukkan bahwa ketika fitur AI diintegrasikan ke dalam materi iklan, tercipta sinergi antara elemen visual dan verbal yang menghasilkan lapisan-lapisan persuasi. Visual yang dibuat AI tidak sekadar memperindah tampilan produk, tetapi secara aktif membangun “kenyataan baru” yang menghubungkan produk dengan gambaran diri ideal konsumen. Prasetia (2026) menyebut fenomena ini sebagai transformasi visual branding yang mengubah iklan dari sekadar penyampai informasi menjadi pengalaman visual yang bisa memanipulasi cara konsumen memandang produk sekaligus diri mereka sendiri.

Koswara (t.t.) dalam kajiannya tentang perkembangan bahasa iklan di era AI generatif mengidentifikasi beberapa ciri khas strategi linguistik dalam iklan berbasis AI yang tidak ditemukan pada iklan konvensional: penggunaan bahasa informal yang meniru suasana percakapan antar teman, pembentukan kesan mendesak secara waktu yang disesuaikan secara logis dan berurutan dengan momen titik keputusan tertinggi konsumen, serta pujian tentang identitas yang memanfaatkan data profil pengguna untuk menyentuh peran sosial yang paling relevan bagi mereka. Semua strategi ini menjadi satu pada apa yang Koswara sebut sebagai depersonalization of commercial intent yaitu penyembunyian niat komersial di balik penggunaan bahasa yang tampak tulus dan personal.

Ketiga platform yang menjadi fokus penelitian ini yaitu TikTok, Instagram, dan Facebook masing-masing memiliki karakteristik wacana iklan berbasis AI yang berbeda namun saling melengkapi dalam membangun lingkungan konsumsi digital yang menyeluruh. TikTok mengandalkan format video vertikal pendek yang dilengkapi musik dan efek visual AI yang imersif, sehingga pengalaman menonton iklan sulit dibedakan dari menikmati konten hiburan organik. Instagram memadukan kekuatan visual dan dinamis melalui foto, Stories, dan Reels, dengan algoritma yang sangat handal dalam mencocokkan iklan dengan estetika visual yang sebelumnya disukai pengguna. Facebook, sebagai platform dengan pengguna yang lebih beragam secara demografis, mengoptimalkan iklan berbasis jaringan sosial dengan memanfaatkan data antar-pengguna untuk membuat rekomendasi produk yang terasa seperti saran dari orang-orang terdekat. Bagi ibu rumah tangga yang memakai ketiga platform ini secara bersamaan, paparan terhadap iklan berbasis AI berlangsung lewat platform dengan intensitas yang saling memperkuat.

Belanja impulsif didefinisikan sebagai tindakan pembelian yang tidak direncanakan sebelumnya, terjadi secara spontan, dan lebih banyak digerakkan oleh dorongan emosi daripada pertimbangan rasional (Noor, 2020). Dalam konteks belanja digital, perilaku ini semakin marak seiring meningkatnya intensitas interaksi konsumen dengan platform media sosial yang diperkuat AI. Zhang dan Shi (2022) dalam penelitian mereka tentang perilaku belanja impulsif secara daring menemukan bahwa rasa kehadiran sosial yang diciptakan oleh fitur-fitur platform digital secara signifikan meningkatkan kecenderungan pembelian yang tidak terencana.

Kerangka Stimulus-Organism-Response (SOR) memberikan kerangka berpikir yang kuat untuk memahami cara kerja pembelian impulsif dalam konteks digital. Dalam model ini, rangsangan berupa konten iklan AI mempengaruhi kondisi internal organisme meliputi emosi, persepsi nilai, kepercayaan, dan kondisi psikologis konsumen yang kemudian melahirkan respons berupa niat dan tindakan pembelian (Wahyuni dkk., 2025). Ketika rangsangan digital berhasil membangkitkan perasaan positif kegembiraan, hasrat, rasa ingin memiliki, atau bahkan kecemasan akan ketinggalan konsumen menjadi jauh lebih mudah untuk mengambil keputusan pembelian secara impulsif.

Konsep Fear of Missing Out (FOMO) menambahkan dimensi psikologis penting dalam pemahaman tentang belanja impulsif di era digital. Przybylski dkk. (2013) dalam Sadia & Komalasari (2025) mendefinisikan FOMO sebagai kecemasan yang terus-menerus bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih baik dan menyenangkan, sementara diri sendiri tidak ada di sana. Dalam konteks iklan digital, FOMO dimanfaatkan melalui penciptaan kelangkaan buatan dan tekanan waktu dalam bahasa iklan yang mendorong konsumen untuk segera bertindak sebelum kesempatan yang mereka bayangkan itu berlalu. Nyrhinen dkk. (2024) dalam studi komprehensif tentang faktor-faktor penyebab pembelian impulsif pada konsumen muda mengkonfirmasi bahwa tekanan waktu dan kelangkaan buatan yang dibentuk oleh platform digital merupakan faktor kuat yang mendorong pembelian impulsif atau tidak terencana.

FOMO dalam konteks belanja digital bukan hanya soal perasaan individual, tetapi juga fenomena sosial yang diperkuat oleh perilaku sosial secara online. Ketika seorang ibu rumah tangga melihat iklan produk yang disertai komentar-komentar dari “pembeli yang puas” yang dipilih secara logis, atau testimoni yang disajikan seolah berasal dari sesama ibu rumah tangga, FOMO yang dirasakannya bukan sekadar takut melewatkan promo itu melainkan juga takut tidak menjadi bagian dari komunitas yang digambarkan iklan sebagai kumpulan ibu-ibu yang cerdas, selalu terupdate, dan penuh perhatian pada keluarga. Cara kerja sosial ini memperluas efek persuasif iklan jauh melampaui sekadar hanya paparan visual atau verbal semata yang berarti daya bujuk sebuah iklan tidak hanya bergantung pada seberapa bagus visual (gambar/video) atau verbal (kata-kata) iklan tersebut dilihat/didengar oleh konsumen. Sebaliknya, pengaruh iklan tersebut justru diperkuat oleh interaksi dan konteks sosial yang terjadi setelah konsumen melihat iklan tersebut, sehingga efek persuasifnya menjadi jauh lebih kuat dan luas.

Dari analisis kesenjangan yang ada, tampak celah antara besarnya paparan iklan berbasis AI yang dialami ibu rumah tangga dengan kemampuan kritis mereka dalam memahami cara kerja wacana iklan tersebut. Studi Hamidah dan Mubarokah (2023) tentang peran media sosial dalam perilaku konsumtif ibu rumah tangga, serta kajian Ramadhani dkk. (2022), telah memberikan gambaran sosiologis yang berguna. Namun keduanya belum menjelaskan secara mendalam tentang  dimensi konstruksi wacana iklan berbasis AI. Studi yang lebih dekat dengan kajian ini adalah penelitian Sari dkk. (2025) yang menganalisis wacana AI di media sosial dengan pendekatan Sara Mills.Meski demikian, belum ada yang secara spesifik mengkaji tentang bagaimana strategi iklan berbasis al memicu perilaku belanja impulsif yang mengintegrasikan data primer dari responden ibu rumah tangga dengan menggunakan analisis wacana iklan kritis secara eksplisit dan sistematis.

Berdasarkan latar belakang dan kesenjangan yang teridentifikasi, penelitian ini merumuskan tiga tujuan utama: (1) menggambarkan strategi wacana visual iklan berbasis AI yang mempengaruhi cara pandang dan kepercayaan ibu rumah tangga pengguna media sosial; (2) mengidentifikasi strategi bahasa iklan berbasis AI yang memancing respons emosional dan keinginan berbelanja; serta (3) menganalisis pola belanja impulsif ibu rumah tangga sebagai dampak dari paparan strategi wacana iklan berbasis AI. Perbedaan penelitian ini dengan  penelitian sebelumnya terletak pada upaya memadukan analisis wacana iklan kritis sebagai pendekatan utama dengan data survei kuesioner empiris sebagai penguatnya, sehingga menghasilkan pemahaman tentang bagaimana wacana iklan AI bekerja sekaligus bagaimana konsumen nyata meresponsnya.

Baca Juga: Mahasiswa PGPAUD UNY Angkat Isu Konsumsi Bijak lewat Kampanye ‘Belanja Bijak’

Method/Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) yang memadukan analisis wacana iklan kritis sebagai komponen kualitatif yang dominan dengan survei kuesioner terhadap ibu rumah tangga berusia 34–43 tahun yang aktif menggunakan TikTok, Instagram, dan Facebook sebagai komponen kuantitatif untuk memperkuat temuan. Penggunaan dua pendekatan ini dikarenakan analisis wacana iklan kritis mampu menggali lapisan-lapisan makna ideologis yang tersimpan dalam teks iklan, sementara survei kuesioner memberikan konfirmasi empiris tentang bagaimana konsumen nyata merespons strategi wacana tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dinyatakan Sugiyono (2019), metode campuran memungkinkan peneliti mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh karena kelemahan satu metode dapat dikompensasi oleh kelebihan metode lainnya.

Analisis wacana iklan kritis dalam penelitian ini mengkaji teks iklan berbasis AI dari tiga level yang saling berkaitan. Level pertama adalah analisis tekstual, yang mencakup kajian atas fitur linguistik dan semiotik teks iklan: pilihan kata dan gaya bahasa, susunan gramatikal kalimat iklan, penggunaan gaya bahasa persuasif, serta elemen visual dan hubungannya dengan teks verbal dalam membangun makna secara multimodal. Level kedua adalah analisis kontekstual, yang mengkaji bagaimana teks iklan diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dalam ekosistem media sosial yang diperkuat AI termasuk cara kerja algoritma yang menentukan siapa yang melihat iklan apa, kapan, dan dalam konteks apa. Level ketiga adalah analisis yang menelaah relasi kekuasaan, reproduksi ideologi konsumerisme, dan implikasi sosial yang lebih luas dari praktik periklanan berbasis AI terhadap kelompok konsumen yang rentan, khususnya ibu rumah tangga (Asri & Nurhayati, 2024; Ilma dkk., 2026).

Survei kuesioner dilakukan sebagai komponen kuantitatif yang berfungsi sebagai penguat temuan kualitatif. Kuesioner disebarkan melalui Google Form kepada ibu rumah tangga dengan rentang usia 34–43 tahun (rata-rata 39,5 tahun). Seluruh responden adalah pengguna aktif setidaknya satu dari tiga platform media sosial yang menjadi fokus penelitian ini. Pemilihan menggunakan teknik pengambilan sampel non-acak dengan kriteria: (a) berstatus ibu rumah tangga; (b) aktif menggunakan minimal satu platform media sosial setiap hari selama minimal dua jam; (c) pernah melihat dan merespons iklan di media sosial dalam tiga bulan terakhir; dan (d) pernah melakukan pembelian melalui media sosial atau lewat tautan yang disebarkan di sana.

Instrumen kuesioner memuat 12 pernyataan yang terbagi dalam tiga kelompok: (1) efek visual iklan berbasis AI (item 1–4); (2) pengaruh gaya bahasa dan wacana iklan berbasis AI (item 5–8); serta (3) perilaku belanja impulsif akibat paparan iklan berbasis AI (item 9–12). Setiap pernyataan dijawab dengan pilihan “Setuju” atau “Tidak Setuju”. Format dua pilihan ini dipilih karena sederhana dalam mengukur kecenderungan respons dan mudah diinterpretasikan dalam konteks analisis deskriptif, serta kejelasan dan kemudahan pengisian yang mendukung kejujuran jawaban peserta.

Profil peserta penelitian ini mencakup: Ria Aulia (36 tahun), Fitri Mulia (34 tahun), Herawati Ramli (41 tahun), Tina Rahman (38 tahun), Nizaini (40 tahun), Niar Rasyid (37 tahun), Fahmi (38 tahun), Enceng (42 tahun), Rusni Yodding (41 tahun), Hasanah (43 tahun), Sartika Nurdin (41 tahun), Diana Patoppoi (43 tahun), dan satu peserta yang memilih untuk tidak memberitahukan identitasnya. Keragaman usia dan latar belakang dalam kelompok ini memberikan gambaran yang lebih mewakili tentang berbagai pengalaman dan respons ibu rumah tangga terhadap iklan berbasis AI di berbagai platform media sosial.

Data kuesioner yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan menghitung frekuensi dan persentase jawaban “Setuju” pada setiap item untuk menggambarkan pola respons kolektif responden. Sumber data kualitatif berupa contoh iklan digital berbasis AI yang muncul di TikTok, Instagram, dan Facebook, dengan fokus pada iklan yang menargetkan segmen ibu rumah tangga. Teks iklan yang dianalisis meliputi elemen verbal (kalimat iklan, slogan, teks deskriptif, kalimat ajakan) dan elemen visual (gambar produk berfilter AI, video demonstrasi produk, efek visual berbasis AI).

Pengecekan data dilakukan dengan menghubungkan temuan analisis wacana iklan kritis dengan temuan survei kuesioner untuk menghasilkan interpretasi yang saling memperkuat dan memvalidasi. Temuan dari analisis tekstual diverifikasi melalui data survei yang menunjukkan bagaimana konsumen nyata merespons strategi wacana tersebut, sementara pola respons kuesioner dikembangkan lebih lanjut melalui analisis wacana untuk mengungkap mekanisme ideologis yang mendasarinya.

Baca Juga: Maraknya Belanja Online di Era Digital: Memahami Tren, Dampak, dan Cara Aman Berbelanja

Result/Hasil

Bagian ini menyajikan data dari survei kuesioner yang melibatkan responden ibu rumah tangga pengguna aktif TikTok, Instagram, dan Facebook. Data ditampilkan berdasarkan tiga kelompok pernyataan dalam instrumen penelitian, disertai dengan penafsiran awal yang akan dikembangkan lebih lanjut dalam bagian Pembahasan.

Respons terhadap Efek Visual Iklan Berbasis AI

Kelompok pertama kuesioner mengukur persepsi peserta terhadap efek visual iklan berbasis AI yang mereka temui di TikTok, Instagram, dan Facebook.

Tabel 1. Respons Peserta terhadap Efek Visual Iklan Berbasis AI (n=13)

No. Pernyataan Setuju %
1 Gambar/video iklan dengan efek AI terlihat lebih nyata dan menarik dibandingkan foto produk biasa 11 84,6%
2 Video iklan menampilkan hasil pemakaian produk yang sangat instan dan sempurna (efek glowing, tampilan rapi instan, dll.) 12 92,3%
3 Sering berhenti scrolling karena visual iklan AI sangat memanjakan mata 10 76,9%
4 Kepercayaan untuk membeli meningkat setelah menyaksikan video demo produk berbasis AI 11 84,6%

Data hasil kuesioner pada Tabel 1  memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (76,9%–92,3%) memberikan respons positif terhadap keempat pernyataan terkait efek visual. Pernyataan kedua yang menyangkut tampilan hasil pemakaian produk yang tampak sempurna dan instan mendapat tingkat persetujuan tertinggi sebesar 92,3%, dan pernyataan tentang kesan nyata visual AI (84,6%) dan kepercayaan yang terbentuk dari video demo (84,6%). Fakta ini menunjukkan bahwa rangsangan visual berbasis AI di berbagai platform memiliki daya pengaruh yang sangat kuat terhadap cara konsumen mempersepsi dan mempercayai suatu produk, yang pada akhirnya membentuk niat pembelian.

Baca Juga: Belanja Online Tanpa Rencana: Apa Alasan Gen-z Melakukannya?

Respons terhadap Gaya Bahasa Iklan Berbasis AI

Kelompok kedua mengukur respons peserta terhadap strategi bahasa yang digunakan dalam iklan berbasis AI, mencakup penggunaan bahasa personal, gaya akrab, tekanan waktu, dan pujian yang dikaitkan dengan identitas peran sosial ibu rumah tangga.

Tabel 2. Respons Peserta terhadap Gaya Bahasa Iklan Berbasis AI (n=13)

No. Pernyataan Setuju %
5 Kalimat iklan seperti “Bunda, ini solusi yang dicari!” terasa berbicara langsung secara personal 12 92,3%
6 Gaya bahasa santai dan akrab membuat produk terasa sesuai dengan kebutuhan sebagai ibu rumah tangga 11 84,6%
7 Kalimat bertekanan waktu seperti “Sisa 2 barang lagi!” mendorong untuk segera melakukan pembelian 10 76,9%
8 Pujian berbasis identitas seperti “Untuk Bunda yang cerdas” meningkatkan minat beli 9 69,2%

Tabel 2 menunjukkan bahwa strategi personalisasi bahasa pada pernyataan ke 5 mendapatkan respons tertinggi (92,3%), setara dengan respons terhadap tampilan visual yang sempurna. Membuktikan bahwa kemampuan iklan AI untuk menyapa konsumen secara individual menggunakan identitas peran sosial yang relevan merupakan strategi paling efektif dalam membangun kedekatan emosional antara pesan iklan dan konsumen. Strategi gaya bahasa akrab (84,6%) dan tekanan waktu (76,9%) juga menunjukkan efektivitas yang tinggi, sementara pujian berbasis identitas peran (69,2%) tetap bermakna meski lebih rendah dari strategi wacana iklan berbasis Al lainnya.

Respons terhadap Perilaku Belanja Impulsif

Kelompok ketiga mengukur seberapa kuat kecenderungan perilaku belanja impulsif pada peserta sebagai dampak dari paparan iklan berbasis AI di berbagai platform media sosial yang mereka gunakan sehari-hari.

Tabel 3. Respons Peserta terhadap Perilaku Belanja Impulsif (n=13)

No. Pernyataan Setuju %
9 Pernah membeli barang yang tidak direncanakan sebelumnya akibat iklan berbasis AI 11 84,6%
10 Sering merasa takut menyesal (FOMO) jika tidak segera membeli barang yang muncul di iklan 10 76,9%
11 Merasa “terhipnotis” untuk mengklik tombol belanja setelah iklan terus-menerus muncul di beranda 9 69,2%
12 Setelah membeli, merasa kualitas asli produk tidak seindah yang digambarkan dalam iklan AI 12 92,3%

Data pada Tabel 3 mengungkap dua fakta penting. Pertama, tingkat persetujuan yang tinggi pada pernyataan 9 (84,6%) dan 10 (76,9%) membuktikan bahwa paparan iklan AI secara nyata mendorong pembelian impulsif dan memicu rasa takut ketinggalan (FOMO) di kalangan ibu rumah tangga pengguna aktif media sosial. Kedua, angka tertinggi dalam kelompok ini justru ada pada pernyataan 12 (92,3%) yang mengungkap ketidaksesuaian antara harapan yang dibentuk iklan AI dan kenyataan produk yang diterima konsumen. Temuan ini menjadi bukti kuat adanya praktik manipulasi wacana dalam iklan berbasis AI yang berdampak pada pengalaman ibu rumah tangga pasca-pembelian yang mengecewakan.

Baca Juga: Pengaruh Online Customer Review terhadap Keputusan Pembelian Impulsif pada Pengguna Shopee dan TikTok

Discussion/Pembahasan

Pada hasil data Kusioner ditemukan bahwa 92,3% peserta menyetujui bahwa iklan AI menampilkan hasil pemakaian produk yang sangat sempurna dan instan, sejalan dengan pendapat Roy dkk. (2024) yang menegaskan bahwa AI punya kemampuan untuk merekayasa tampilan produk jauh melampaui kenyataan yang sesungguhnya. Ketika responden menyatakan bahwa gambar AI “terlihat jauh lebih nyata”, ini justru menggambarkan pertentangan situasi mendasar dalam logika iklan digital: yaitu semakin sempurna tampilan yang direkayasa AI, semakin jauh pula jarak antara tampilan itu dengan produk yang sebenarnya. Prasetia (2026) menyebut transformasi visual branding berbasis AI sebagai penciptaan “kenyataan baru” yang melampaui representasi faktual produk sebuah fenomena yang punya Dampak perilaku yang serius bagi perlindungan konsumen.

Dalam kerangka analisis wacana iklan , cara AI membangun visual dalam iklan merupakan wujud nyata dari praktik wacana yang menghasilkan dan mereproduksi ideologi konsumerisme. Iklan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual mimpi dan gambaran identitas yang diidamkan oleh kelompok sasaran. Misalnya, Ketika ibu rumah tangga menyaksikan iklan produk kecantikan dengan efek glowing yang tampak instan di TikTok, atau iklan produk dapur di Instagram yang memperlihatkan hasil masakan sempurna dalam hitungan detik, mereka tidak sekadar melihat sebuah produk, namun mereka melihat kemungkinan versi diri yang lebih baik, lebih sempurna, lebih dihargai dalam peran sebagai ibu. Inilah yang disebut representasi selektif: yaitu memilih dan menonjolkan aspek-aspek tertentu dari kenyataan untuk membangun makna yang menguntungkan kepentingan pengiklan.

Camelia dan Rofiq (t.t.) dalam analisis multimodal iklan Samsung Galaxy S24 menunjukkan bahwa elemen visual dan verbal dalam iklan berbasis AI bekerja secara sinergis untuk menghasilkan efek persuasi yang lebih kuat dibanding iklan konvensional. Fakta bahwa 76,9% responden mengakui sering berhenti scrolling karena visual iklan AI yang menarik membuktikan keberhasilan strategi pemasaran berbasis AI dalam merebut perhatian konsumen di tengah banyaknya konten digital. Semakin lama seseorang melihat sebuah iklan, semakin besar kemungkinan terjadinya pembelian impulsif, sebagaimana yang disampaikan oleh Nyrhinen dkk. (2024). Di platform seperti TikTok dan Instagram Reels, iklan memang dirancang agar tidak terasa, seperti iklan visual yang menarik, musik yang pas, dan gaya penyajian yang menyerupai konten organik membuat konsumen sering tidak menyadari bahwa mereka sedang terpapar materi iklan.

Pengakuan 92,3% responden bahwa produk yang mereka terima “tidak seindah iklannya” membuktikan adanya expectation-reality gap yang dipicu AI kesenjangan sistematis antara harapan yang dibentuk oleh tampilan visual AI dan kenyataan produk fisik yang diterima. Kesenjangan ini tidak hanya merugikan konsumen secara material, tetapi juga menimbulkan perasaan tidak nyaman setelah membeli. Riggs dan Purwanto (2026) dalam kajian tentang pengaruh strategi marketing terhadap pembelian impulsif di TikTok menemukan bahwa pengalaman pasca-pembelian yang mengecewakan justru mendorong konsumen untuk terus mencari produk pengganti melalui platform yang sama menciptakan siklus konsumsi yang menguntungkan platform namun merugikan konsumen. Fenomena ini memperlihatkan betapa canggihnya arsitektur iklan berbasis AI dalam mengelola siklus konsumsi: seperti kekecewaan setelah membeli tidak membuat konsumen berhenti berbelanja, melainkan malah mendorong pencarian konsumsi baru.

Dari perspektif analisis wacana iklan kritis, rekonstruksi visual AI mencerminkan relasi kekuasaan yang tidak seimbang. Pengiklan yang menguasai teknologi AI generatif mampu menciptakan tampilan produk yang melampaui kenyataan, sementara konsumen tidak punya akses ke teknologi serupa untuk memverifikasi klaim visual tersebut. Santiko dan Bahri (2024) dalam kajian tentang fenomena AI deepfake dalam konten media sosial menegaskan bahwa representasi yang dihasilkan AI mampu membangun kenyataan palsu yang diterima konsumen sebagai hal yang autentik.

Temuan bahwa strategi personalisasi bahasa mendapat respons tertinggi (92,3%) dari seluruh item kuesioner mengungkap dimensi paling kritis dari wacana iklan berbasis AI. Kalimat iklan yang dirancang AI untuk menyapa konsumen secara personal seperti penggunaan sapaan “Bunda” yang menempatkan konsumen dalam posisi sebagai penerima solusi yang sedang dicari merupakan bentuk operasi ideologis yang dalam istilah analisis wacana iklan kritis disebut sebagai interpelasi: yaitu proses di mana wacana “memanggil” seseorang untuk mengidentifikasi diri dengan posisi tertentu yang telah dikonstruksi teks (Ilma dkk., 2026). Dengan cara ini, iklan AI berhasil menciptakan ilusi komunikasi yang terasa personal, padahal sebenarnya itu adalah komunikasi massal yang dipersonalisasi secara logis dan berurutan.

Kemampuan AI menghasilkan teks yang terasa hangat dan empatik didukung oleh sistem pemrosesan bahasa alami yang mampu menyesuaikan gaya bicara dengan kebiasaan dan pola perilaku konsumen yang terdeteksi melalui data interaksi. Faridatul dan Purwanto (2025) mencatat bahwa personalisasi konten berbasis AI telah mencapai tingkat kecanggihan yang bisa meniru komunikasi interpersonal, sehingga konsumen sulit membedakan apakah teks iklan yang mereka terima adalah buatan mesin atau tulisan manusia. Fenomena tersebut berperan langsung pada efek gaya bahasa Al “berbicara langsung kepada saya” yang dilaporkan oleh 92,3% responden dalam penelitian ini. Kenyataan bahwa ibu rumah tangga dari berbagai usia dan latar belakang yang berbeda semuanya merasakan kesan yang sama ini memperlihatkan betapa efektifnya teknologi personalisasi AI dalam menciptakan ilusi yang melampaui batas demografis.

Gaya bahasa santai dan akrab yang digunakan iklan berbasis AI disetujui oleh 84,6% responden berfungsi untuk memperkecil jarak psikologis antara merek dan konsumen. Dalam analisis wacana iklan, pemilihan bahasa yang informal dalam konteks komersial merupakan strategi untuk menurunkan kewaspadaan kritis konsumen: ketika iklan berbicara seperti teman, bukan seperti penjual, pertahanan psikologis konsumen cenderung melemah. Koswara (t.t.) mengidentifikasi fenomena ini sebagai depersonalization of commercial intent yaitu penyembunyian kepentingan komersial di balik kemasan bahasa yang tampak tulus dan personal. Di platform seperti Facebook, di mana konten iklan berhubungan dengan postingan dari teman dan keluarga dalam satu umpan berita, strategi bahasa informal ini semakin efektif karena konsumen secara psikologis sudah berada dalam mode “bersosialisasi”, bukan dalam mode “waspada terhadap iklan komersial.

Sari dkk. (2025) dalam analisis wacana AI di media sosial menunjukkan bahwa wacana berbasis AI secara konsisten menempatkan konsumen dalam posisi yang menguntungkan: konsumen digambarkan sebagai pihak yang punya kebutuhan mendesak, sementara produk yang diiklankan diposisikan sebagai solusi tepat yang sudah siap menunggu. Strategi ini tidak hanya mempengaruhi cara konsumen memandang produk, tetapi juga mempengaruhi pembentukan identitas konsumen itu sendiri, mereka yang membeli produk tertentu dikatakan sebagai konsumen yang cerdas, peduli keluarga, dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Mekanisme ini bekerja sebagai interpelasi ideologis: konsumen “dipanggil” oleh wacana iklan untuk mengidentifikasi diri dengan gambaran identitas konsumtif tertentu yang disajikan sebagai sesuatu yang positif dan diidamkan.

Strategi pujian berbasis identitas peran dalam iklan AI seperti “Untuk Bunda yang cerdas” atau “Ibu hebat pasti punya ini” meskipun mendapat persetujuan yang sedikit lebih rendah dari responden yaitu (69,2%), merupakan strategi yang paling kompleks secara ideologis. Koswara (t.t.) menyebut teknik ini sebagai identity-leveraging discourse: keputusan membeli tidak lagi direpresentasikan sebagai tindakan konsumsi biasa, melainkan sebagai ungkapan dan penegasan identitas diri yang positif. Teknik serupa diidentifikasi oleh Brilianty dan Alamiyah (t.t.) dalam kajian produksi iklan AI generatif, dimana AI secara logis dan berurutan mencari aspek identitas yang paling relevan dengan profil demografis dan psikografis target audiens untuk kemudian menjadikannya sebagai daya tarik persuasi. Selanjutnya 30,8% responden tidak terpengaruh oleh pujian berbasis identitas ini mengindikasikan bahwa sebagian ibu rumah tangga memiliki kewaspadaan kritis yang lebih tinggi terhadap strategi ini dibanding strategi personalisasi lainnya.

Strategi wacana ketiga yang ditemukan adalah konstruksi tekanan waktu yang memanfaatkan mekanisme psikologis Fear of Missing Out (FOMO). Kalimat-kalimat seperti “Sisa 2 barang lagi!” atau “Hanya 5 menit ke depan!” bukan sekadar informasi tentang ketersediaan produk melainkan konstruksi wacana yang dengan sengaja merancang kondisi darurat psikologis buatan yang mendorong respons pembelian tanpa sempat berpikir. Sadia dan Komalasari (2025) dalam kajian konseptual tentang pengaruh media sosial terhadap perilaku pembelian impulsif menjelaskan bahwa FOMO adalah salah satu mekanisme psikologis paling efektif yang dimanfaatkan platform digital untuk mempercepat keputusan pembelian dengan mempersempit waktu berpikir konsumen.

Efektivitas strategi tekanan waktu ini semakin diperkuat oleh algoritma AI yang mampu menentukan kapan waktu terbaik untuk menayangkan iklan berdasarkan pola perilaku pengguna. Resindra dkk. (2025) dalam studi tentang AI-powered personalization menemukan bahwa algoritma prediktif dalam penjualan daring mampu meningkatkan konversi pembelian impulsif secara signifikan justru dengan mengoptimalkan waktu tayang iklan berdasarkan pola psikologis pengguna termasuk ketika konsumen paling rentan secara emosional, seperti setelah kelelahan bekerja atau saat sedang menjelajah konten hiburan. Bagi ibu rumah tangga yang aktif di media sosial, situasi rentan ini sering terjadi di malam hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, atau di sela-sela waktu istirahat siang. Algoritma AI yang canggih mampu mendeteksi pola waktu ini dan mengoptimalkan paparan iklan bertekanan waktu agar dampaknya maksimal.

Baca Juga: Gaya Hidup Digital dan Konsumtif: Apakah Menghambat Tujuan Pembangunan Ekonomi Syariah?

Przybylski dkk. (2013) dalam Sadia & Komalasari (2025) menjelaskan bahwa FOMO bekerja melalui mekanisme perbandingan sosial: seseorang merasa cemas bahwa orang lain mungkin sedang menikmati pengalaman atau memiliki sesuatu yang lebih baik, dan kecemasan itu mendorong tindakan impulsif agar tidak “ketinggalan”. Dalam konteks iklan berbasis AI, FOMO semakin diperhitungkan oleh kemampuan algoritma yang terus-menerus menyajikan konten yang memvalidasi kecemasan tersebut secara personal dan berulang. Fenomena “terhipnotis” yang dialami 69,2% responden dorongan kuat untuk mengklik tombol belanja setelah iklan berulang kali muncul di beranda adalah wujud dari efek paparan iklan yang diperkuat FOMO. Platform seperti Instagram memang dirancang untuk menciptakan kondisi semacam ini melalui fitur-fitur seperti penawaran waktu terbatas, hitungan mundur, dan notifikasi stok hampir habis yang terintegrasi langsung dalam tampilan belanja.

Dalam kerangka model SOR yang digunakan Wahyuni dkk. (2025), tekanan waktu yang dibangun iklan AI berfungsi sebagai rangsangan yang secara strategis memanipulasi kondisi internal organisme konsumen khususnya emosi kecemasan dan perasaan bahwa stok terbatas untuk menghasilkan respons pembelian yang tidak terencana. Zhang dan Shi (2022) membuktikan dalam konteks belanja daring bahwa rangsangan sosial yang diciptakan platform digital secara langsung mempengaruhi gejolak emosional konsumen, yang kemudian menjadi faktor kuat pendorong pembelian impulsif. Pezeshgi (t.t.) menyebut cara kerja ini sebagai cognitive bypass mechanism: yaitu rangsangan digital yang dirancang AI mampu melewati proses evaluasi rasional konsumen dan langsung memicu respons emosional yang berujung pada pembelian. Hal ini menjelaskan mengapa bahkan jika konsumen yang menyadari adanya upaya manipulasi dalam iklan tetap saja terpengaruh oleh strategi tekanan waktu karena respons terhadap tekanan itu bersifat emosional dan terjadi lebih cepat dari kemampuan untuk menahannya.

Dalam kerangka analisis wacana iklan kritis, ketiga strategi wacana yang ditemukan mencerminkan ketimpangan kekuasaan yang nyata antara industri digital dan konsumen. AI tidak sekadar berfungsi sebagai alat teknis untuk mengoptimalkan iklan melainkan beroperasi sebagai infrastruktur ideologis yang menata ulang relasi konsumsi sesuai kepentingan kapital. Pengiklan yang menguasai teknologi AI memiliki akses tak terbatas terhadap data perilaku konsumen, yang kemudian digunakan untuk merancang wacana yang menyasar titik-titik psikologis paling rentan dari setiap segmen konsumen (Roy dkk., 2024). Ketimpangan informasi dan kekuasaan ini menempatkan konsumen khususnya ibu rumah tangga pada posisi yang semakin terdominasi secara teknologis.

Rhomazani dkk. (t.t.) dalam kajian tentang efektivitas AI dalam strategi pemasaran digital menemukan bahwa pemasaran berbasis AI menciptakan siklus konsumsi yang terus memperbarui dirinya sendiri: semakin banyak data perilaku konsumen yang terkumpul, semakin tepat sasaran iklan yang dihasilkan, semakin besar peluang pembelian impulsif, dan semakin banyak pula data baru yang tergenerasi. Siklus ini secara struktural menempatkan konsumen dalam posisi yang semakin lemah secara informasi dan psikologis. Shafiq dkk. (2024) menambahkan bahwa dalam ekosistem media sosial yang diperkuat AI, kekuatan persuasi tidak lagi hanya berasal dari iklan secara langsung, tetapi juga dari jaringan pengaruh digital yang mencakup influencer, ulasan yang dikurasi algoritma, dan konten yang dipilihkan AI menciptakan lingkungan informasi yang sepenuhnya dikondisikan untuk mendorong konsumsi. Bagi ibu rumah tangga yang aktif di ketiga platform yang diteliti, paparan terhadap ekosistem persuasi berlapis ini berlangsung hampir tanpa henti sepanjang hari.

Ningsih dkk. (2025) dalam kajian tentang pengaruh influencer Muslim terhadap minat beli produk halal menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan faktor perantara yang sangat penting dalam hubungan antara rangsangan digital dan keputusan pembelian. Ketika iklan berbasis AI berhasil membangun kepercayaan melalui bahasa visual yang meyakinkan, ia sesungguhnya sedang membangun modal psikologis yang kemudian diubah menjadi modal ekonomi. Kondisi ini menjadi semakin bermasalah karena ibu rumah tangga umumnya berada dalam posisi yang rentan: mereka mengelola anggaran yang terbatas sambil menghadapi tekanan sosial untuk memenuhi standar kesempurnaan domestik yang justru dikonstruksi oleh iklan itu sendiri, sebuah lingkaran ideologis yang menjebak. Semakin sering seorang ibu rumah tangga terpapar iklan yang membangun standar tertentu, semakin mereka merasa perlu membeli produk-produk itu untuk memenuhi standar tersebut, dan semakin banyak pula data konsumsinya yang dipakai algoritma untuk menyajikan lebih banyak iklan serupa.

Ur Rehman dkk. (2024) dalam kajian tentang dampak periklanan media sosial dan faktor risiko terhadap perilaku pembelian daring menemukan bahwa intensitas paparan iklan digital berbanding lurus dengan tingkat pembelian impulsif, bahkan ketika konsumen menyadari adanya upaya manipulasi. Temuan ini memperkuat argumen bahwa perilaku belanja impulsif yang dipicu iklan AI bukan sekadar masalah kurangnya kendali diri secara individual, melainkan merupakan hasil yang dirancang secara sistematis oleh arsitektur digital yang dioptimalkan untuk tujuan komersial. Alias dkk. (2026) menekankan pentingnya pemahaman tentang teknologi AI sebagai keterampilan literasi yang mendesak di era digital, khususnya untuk membekali kelompok konsumen yang rentan dengan kemampuan membaca wacana iklan secara kritis.

Dari perspektif etika konsumsi, Yazid dan Musfiqoh (t.t.) mengingatkan bahwa perilaku konsumerisme yang dipicu media sosial bertentangan dengan prinsip-prinsip konsumsi berimbang yang mengutamakan kebutuhan di atas keinginan sesaat. Konteks ini relevan bagi mayoritas responden penelitian yang berasal dari komunitas Muslim, di mana nilai-nilai kesederhanaan dan pengendalian diri dalam berkonsumsi semestinya menjadi pendukung terhadap strategi manipulasi wacana iklan AI. Maghfirah dan Lestari (t.t.) dalam kajian tentang pengaruh konformitas terhadap perilaku pembelian impulsif pada ibu rumah tangga menemukan bahwa tekanan sosial dan keinginan untuk selaras dengan standar konsumsi yang dibangun media turut memperburuk kerentanan ibu rumah tangga terhadap strategi persuasi iklan digital.

Implikasi yang lebih luas dari penelitian ini yaitu keberadaan iklan berbasis AI yang mampu memanipulasi wacana dan mendorong pembelian impulsif secara sistematis menimbulkan pertanyaan mendasar tentang sejauh mana regulasi periklanan yang berlaku saat ini memadai untuk melindungi konsumen di era digital. Regulasi iklan tradisional umumnya dirancang untuk mengatur konten yang bersifat statis dan massal, bukan konten yang dinamis, personal, dan dioptimalkan secara logis dan sistematis. Dibutuhkan kerangka regulasi baru yang secara khusus mengatur aspek-aspek seperti transparansi algoritma iklan, batasan personalisasi berbasis data psikografis, standar representasi visual produk, dan kewajiban pengungkapan penggunaan AI dalam pembuatan konten iklan. Tanpa kerangka regulasi yang memadai, konsumen khususnya kelompok yang rentan seperti ibu rumah tangga akan terus berada dalam posisi yang semakin tidak berdaya di hadapan industri periklanan digital yang semakin canggih.

Salawu dkk. (2006) menegaskan bahwa pembentukan sikap konsumtif melalui media iklan memiliki sejarah yang panjang, dan di era AI, mekanisme ini mencapai tingkat presisi dan efektivitas yang belum pernah ada sebelumnya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kesenjangan literasi digital antara produsen dan konsumen terutama ibu rumah tangga bukan hanya masalah individual, melainkan masalah struktural yang memerlukan respons dari berbagai pihak, karena tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem periklanan digital yang adil tidak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada konsumen individual yang harus “lebih pintar” dalam berbelanja.

Tahir dkk. (2025) dalam kajian tentang peran AI dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis menegaskan bahwa berhubungan dengan teknologi AI tidak harus berakhir pada ketergantungan pasif, melainkan bisa menjadi titik awal pengembangan sikap kritis dan mandiri. Sejalan dengan itu, Astuti (2024) dalam analisis wacana kritis terhadap teks iklan kontemporer menegaskan pentingnya memahami mekanisme persuasi wacana iklan sebagai fondasi literasi media yang kritis. Implikasi praktis dari temuan penelitian ini mengarah pada urgensi program literasi digital yang secara khusus membekali ibu rumah tangga dengan pemahaman tentang cara kerja iklan berbasis AI mulai dari mekanisme personalisasi algoritmik hingga teknik konstruksi tekanan waktu sehingga mereka dapat membuat keputusan pembelian yang lebih mandiri dan rasional. Program literasi semacam ini idealnya diintegrasikan ke dalam program pemberdayaan perempuan yang sudah ada, dengan pendekatan yang kontekstual dan praktis sesuai dengan kehidupan sehari-hari ibu rumah tangga.

Baca Juga: Mudahnya Belanja dengan Paylater: FOMO sebagai Pemicu Pemborosan

Conclusion/Simpulan

Penelitian ini telah mengkaji secara mendalam strategi wacana iklan berbasis AI yang beroperasi di TikTok, Instagram, dan Facebook dalam mendorong perilaku belanja impulsif ibu rumah tangga melalui penggunaan analisis wacana iklan kritis sebagai pendekatan utama dengan data survei kuesioner dari 13 responden ibu rumah tangga berusia 34–43 tahun sebagai penguat empiris. Tiga strategi wacana utama berhasil diidentifikasi, dikaji, dan dikonfirmasi secara menyeluruh.

Pertama, meniru kenyataan dengan sangat akurat hingga detail terkecil berbasis AI yang menciptakan gambaran produk yang jauh melampaui kenyataan fisik barang yang sebenarnya. Strategi ini bekerja melalui mekanisme representasi selektif yang secara ideologis menghubungkan produk dengan gambaran identitas ideal konsumen, menghasilkan kepercayaan dan hasrat membeli yang tinggi (84,6%–92,3% persetujuan responden), namun pada akhirnya berujung pada kekecewaan setelah membeli yang dialami oleh 92,3% responden. Perbedaan antara representasi visual AI dan kenyataan produk ini bukan sekadar masalah teknis periklanan, melainkan cerminan dari ketimpangan kekuasaan di mana produsen menguasai teknologi representasi yang jauh melampaui kemampuan verifikasi konsumen.

Kedua, personalisasi wacana persuasif atau penyesuaikan pesan agar terasa sangat khusus yang meniru kedekatan interpersonal antara merek dan konsumen melalui bahasa informal, sapaan yang dikaitkan dengan identitas peran sosial, dan pujian dengan gambaran diri ibu rumah tangga. Strategi ini bekerja sebagai interpelasi ideologis yang “memanggil” konsumen untuk mengidentifikasi diri dengan posisi yang telah dikonstruksi oleh teks iklan AI, mencapai tingkat persetujuan tertinggi (92,3%) di antara semua strategi yang dikaji. strategi iklan yang sangat tinggi ini mengindikasikan bahwa personalisasi berbasis AI telah berhasil menembus kewaspadaan kognitif konsumen terhadap pesan komersial konvensional.

Ketiga, tekanan waktu yang memanfaatkan mekanisme psikologis FOMO untuk mendorong keputusan pembelian yang impulsif dan tidak terencana. Strategi ini, yang didukung kemampuan algoritma AI untuk mengoptimalkan waktu tayang iklan berdasarkan kondisi psikologis pengguna, terbukti efektif dalam mendorong 84,6% responden melakukan pembelian tidak terencana dan memicu rasa FOMO pada 76,9% peserta.

Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian analisis wacana iklan kritis dalam konteks wacana digital berbasis AI sebuah bidang yang masih sangat terbuka untuk dieksplorasi lebih jauh. Temuan ini mempertegas bahwa kerangka analisis wacana iklan kritis tetap relevan dan produktif untuk menganalisis wacana digital yang semakin rumit, dengan kemampuannya mengkaji tidak hanya struktur teks tetapi juga mekanisme ideologis dan relasi kekuasaan yang mendasarinya. Secara praktis, penelitian ini bisa menjadi dasar bagi penyusunan program literasi digital yang secara khusus ditujukan bagi ibu rumah tangga agar mereka bisa membaca wacana iklan AI secara kritis dan membuat keputusan pembelian yang lebih mandiri.

Keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah responden yang relatif kecil (13 orang) dan cakupan geografis yang terbatas. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas jangkauan responden secara geografis dan demografis, untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengalaman konsumsi digital ibu rumah tangga, serta menggunakan analisis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih sistematis tentang pola bahasa iklan berbasis AI dalam skala yang lebih besar.

Baca Juga: Gaya Hidup Digital dan Konsumtif: Apakah Menghambat Tujuan Pembangunan Ekonomi Syariah?

Acknowledgment/Ucapan Terima Kasih

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga artikel ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada kedua orang tua tercinta atas doa-doa yang tak pernah putus, kasih sayang, serta dukungan moral maupun material yang menjadi kekuatan utama penulis. Secara khusus, rasa hormat dan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen Pengampu mata kuliah analisis wacana Ibu Dr. Andi Sahtiani Jahrir, S.Pd., M.Pd, yang telah memberikan bimbingan, ilmu, serta arahan yang sangat berharga selama proses penyusunan. Tak lupa, apresiasi tulus untuk teman-teman  yang setia memberikan dukungan dan masukan dalam setiap diskusi yang kami lakukan bersama. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh ibu rumah tangga yang telah bersedia menjadi peserta penelitian dalam pembuatan artikel ini dengan mengisi kuesioner secara sukarela.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pembaca yang telah meluangkan waktu berharga untuk menyelami artikel ini hingga akhir. Penyusunan tulisan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang inspiratif, serta referensi berharga yang membantu mempertajam gagasan di dalamnya. Penulis menyadari bahwa ide-ide yang disajikan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, segala bentuk kritik yang membangun serta diskusi yang memperkaya perspektif sangat diharapkan demi perbaikan dan untuk pembuatan artikel selanjutnya. Semoga artikel ini tidak hanya menjadi sekedar bacaan, namun mampu memberikan wawasan baru, percikan ide, atau bahkan solusi praktis bagi permasalahan yang Anda hadapi.


Penulis: Nursyafiqah (250511500026)
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM)


Dosen Pengampu: Dr. Andi Sahtiani Jahrir, S.Pd., M.Pd.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


References/Referensi

Alias, M. A. K., Keke, A., Lestariwati, Said, T., & Karoluslina. (2026). Pemanfaatan Artificial Intelligence sebagai Media Pembelajaran Inovatif dalam Peningkatan Kemampuan Menulis Iklan. Jurnal Pengabdian Meambo, 5(1), 79–85. https://doi.org/10.56742/jpm.v5i1.207

Asri, A. D., & Nurhayati. (2024). Ideologi Konsumerisme pada Poster Iklan Minuman: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(1), 691–700. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i1.3296

Astuti, S. P. (2024). Analisis Wacana Kritis Fairclough dalam Teks Iklan Sprite 2024. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara. https://doi.org/10.55338/jpkmn.v5i2.3158

Brilianty, T., & Alamiyah, S. S. (t.t.). Animators’ Perceptions of Generative AI in Commercial Advertising Production Use on Youtube. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/index

Camelia, L., & Rofiq, Z. (t.t.). A Multimodal Discourse Analysis of AI Feature in Samsung Galaxy S24 Ads Video. Jurnal Impresi Indonesia. https://doi.org/10.58344/jii.v4i5.6487

Faridatul, F., & Purwanto, M. B. (2025). Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pemasaran Digital: Tantangan dan Peluang. OPTIMAL: Jurnal Ekonomi dan Manajemen, 5(3), 607–622. https://doi.org/10.55606/optimal.v5i3.7502

Hamidah & Mubarokah. (2023). Peran Sosial Media atas Perilaku Konsumtif Belanja bagi Ibu Rumah Tangga. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(3). https://ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/sentri/article/view/618

Ilma, dkk. (2026). Strategi Linguistik dan Praktik Sosial dalam Iklan Pinjaman Online: Studi Wacana Kritis Norman Fairclough. Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. https://doi.org/10.26499/bahasa.v7i3.1653

Koswara, A. (t.t.). The Evolution of Advertising Language in the Age of Generative AI: A Sociolinguistic Approach.https://doi.org/10.53611/jrj5g534

Lestari, P., & Rahmawati, S. (2025). Dampak Kecerdasan Buatan pada Strategi Pemasaran Digital dan Stimulus Pembelian Konsumen. Prosiding Seminar Nasional Dharmawangsa, 3(1), 104–116. https://doi.org/10.46576/prosundhar.v5i1.509

Maghfirah, S. P., & Lestari, S. (t.t.). Pengaruh Konformitas terhadap Perilaku Pembelian Impulsif pada Ibu Rumah Tangga. http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/114382

Ningsih, R., Nadzary, V., Jannah, N., Rohman, K., & Dzul, A. (2025). Pengaruh Influencer Muslim Terhadap Minat Beli Masyarakat Pada Produk Halal di E-Commerce. Jurnal Abqori, 1(3). https://al-abqori.hellowpustaka.id/

Noor, Z. Z. (2020). The Effect of Price Discount and In-Store Display on Impulse Buying. Sosiohumaniora, 22(2), 133–139. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v22i2.26720

Nyrhinen, J., dkk. (2024). Online Antecedents for Young Consumers’ Impulse Buying Behavior. Computers in Human Behavior, 153. https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.108129

Pezeshgi, A. (t.t.). Buying on Impulse in the Age of AI: Mechanisms, Evidence, and Moral Dilemmas. https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=5402344

Prasetia, A. R. (2026). Transformasi Visual Branding: Peran Kecerdasan Buatan dalam Evolusi Desain Komunikasi Visual Kontemporer. JURNAL VISUAL IDEAS, 6(1). https://journal.widyatama.ac.id/index.php/visualideas/article/view/3415

Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Puji Astuti, S. (2017). Persuasi dalam Wacana Iklan. NUSA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 12(1). https://doi.org/10.14710/nusa.12.1.38-45

Ramadhani, E., Agustini, F., & Amanah, D. (2022). Pola Perilaku Ibu Rumah Tangga sebagai Pengguna Media Sosial di Kota Medan. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 6(1).https://doi.org/10.24952/gender.v6i1.5523

Resindra, M. R. D., Haryanto, B., Wahyudi, L., & Setiawan, A. I. (2025). AI-Powered Personalization and Its Influence on Impulse Buying: A Study of Predictive Algorithms in Online Retail. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.16408910

Rhomazani, S. O., Gamaliel, A., Abdillah, M. F., & Gustaf, Z. (t.t.). Efektivitas Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Strategi Pemasaran Digital. Jurnal Pemasaran Digital, 7(2). https://jurnal.stiekma.ac.id/index.php/JAMIN/article/view/242

Riggs, M. D., & Purwanto, M. B. (2026). Pengaruh Strategi Marketing terhadap Impulsif Buying pada Platform Media Sosial TikTok. RIGGS: Jurnal Ilmu Data dan Teknologi Informasi, 5(1), 12–25. https://doi.org/10.31004/riggs.v5i1.6110

Roy, B., D’Souza, M. S., Bhattacharjee, S., Acharjee, P. B., Thorat, S., & Bhayani, T. (2024). Role of Artificial Intelligence in Influencing Impulsive Buying Behaviour. 2nd IEEE International Conference on Trends in Quantum Computing and Emerging Business Technologies (TQCEBT). https://doi.org/10.1109/TQCEBT59414.2024.10545278

Sadia, P. M. P., & Komalasari, Y. (2025). Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Pembelian Impulsif: Sebuah Kajian Konseptual. Prosiding Seminar Ilmiah Nasional SINTESA 2025. https://doi.org/10.36002/snts.v8i.5234

Salawu, K., Zulbeatri, F., & Sadono, D. (2006). Dampak Iklan Televisi Terhadap Sikap Konsumtif Ibu Rumah Tangga Masyarakat Adat: Kasus Kampung Naga. Jurnal Sosial, 2(3). https://www.neliti.com/publications/8562/dampak-iklan-televisi-terhadap-sikap-konsumtif-ibu-rumah-tangga-masyarakat-adat

Santiko, J. A., & Bahri, S. (2024). Analisis Wacana pada Fenomena Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Konten Pemilu: Studi Kasus Konten Deepfake Soeharto. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 4, 13215–13231. https://j-innovative.org/index.php/Innovative/article/view/11824

Sari, N. K., dkk. (2025). Analisis Wacana Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Postingan Video di Media Sosial: Pendekatan Kritis Sara Mills. Jurnal Komunikasi, 16(1), 45–58. https://doi.org/10.31294/jkom.v16i1.12093

Shafiq, dkk. (2024). The Power of Social Media Influencers: Unveiling the Impact on Consumers’ Impulse Buying Behaviour. Humanities and Social Sciences Communications. https://www.nature.com/articles/s41599-024-03796-7

Tahir, M., Jahrir, A. S., Asrifan, A., & Ariatna, A. (2025). Examining the Role of AI-Powered Writing Assistants in Enhancing Critical Thinking in EFL Academic Writing. JOLLT Journal of Languages and Language Teaching, 13(4), 1817–1831. https://doi.org/10.33394/jollt.v13i4.15077

Ur Rehman, dkk. (2024). Investigating the Impact of Social Media Advertising and Risk Factors on Customer Online Buying Behavior. Future Business Journal (Springer). https://doi.org/10.1186/s43093-024-00411-8

Wahyuni, S., Dian, R., Hasugian, B. S., & Khairunnisa, A. (2025). Dampak Kecerdasan Buatan pada Strategi Pemasaran Digital dan Pengaruh Stimulus Digital terhadap Keputusan Pembelian Pelanggan. Prosiding Seminar Nasional Universitas Dharmawangsa, 236–246. https://doi.org/10.46576/prosundhar.v5i1.509

Yazid, M., & Musfiqoh, S. (t.t.). Etika Konsumsi Al-Ghazali dan Fenomena Konsumerisme Muslim di Era Media Sosial. Jurnal Ilmiah, 6. https://ejournal.staidarussalamlampung.ac.id/index.php/eksyda/article/view/920

Zhang, Y., & Shi, H. (2022). Consumers’ Impulsive Buying Behavior in Online Shopping Based on the Influence of Social Presence. Hindawi. https://doi.org/10.1155/2022/6794729

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses