Yogyakarta, 15 November 2025, MMI — Di tengah maraknya tren belanja impulsif yang mengakar pada generasi muda, sekelompok mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Negeri Yogyakarta menghadirkan inisiatif kreatif bertajuk “Belanja Bijak”.
Kampanye ini dirancang tidak hanya untuk mengajak remaja lebih cerdas dalam mengelola keinginan belanja, tetapi juga menguatkan kembali minat terhadap produk lokal yang kini mulai terpinggirkan.
Kampanye ini muncul dari kegelisahan mahasiswa terhadap pola konsumsi digital yang semakin cepat. Dorongan FOMO, tren viral, flash sale, dan promosi daring sering kali membuat anak muda sulit menahan keinginan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Di sisi lain, produk lokal yang menjadi sumber penghidupan banyak pelaku UMKM justru kehilangan perhatian.
Sebagai langkah awal, mahasiswa menyebarkan Google Form berisi pertanyaan seputar kebiasaan belanja, pengaruh media sosial, hingga tingkat impulsivitas. Survei ini mendapat respons luas dari remaja dan dewasa muda, dengan mayoritas responden berusia 17–20 tahun.
Dari temuan yang terkumpul, sebagian besar mengaku berbelanja 3–5 kali setiap bulan, terutama melalui marketplace dan Instagram/ TikTok Shop.
Faktor terbesar yang memengaruhi keputusan belanja adalah diskon, promo, serta review pembeli, sementara produk yang paling banyak dibeli meliputi kebutuhan harian, makanan–minuman, kosmetik, dan fashion.
Survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden pernah melakukan pembelian impulsif, khususnya ketika melihat flash sale atau tren viral, meski di sisi lain mayoritas tetap memiliki pandangan positif terhadap produk lokal yang dinilai terjangkau dan mudah dijangkau. Temuan-temuan inilah yang menjadi dasar penyusunan naskah video edukatif bagian inti lain dari kampanye ini.
Video tersebut menampilkan situasi-situasi yang lekat dengan keseharian generasi digital, seperti godaan diskon kilat, tekanan mengikuti tren, hingga pengalaman membeli barang tanpa perencanaan.
Di sisi lain, video juga mengangkat sisi positif gerakan cinta produk lokal melalui adegan seperti membeli batik di Pasar Beringharjo. Penyajian visual dibuat dinamis agar resonan dengan gaya konsumsi media anak muda.
Pada video yang diproduksi, tim kampanye menyampaikan bahwa setiap keputusan belanja membawa dampak sosial.
“Setiap rupiah yang kita keluarkan sebenarnya punya kekuatan. Memilih produk lokal berarti ikut membantu keluarga yang menggantungkan hidupnya pada UMKM,” ungkapnya. Pesan ini sekaligus menjadi ruh dari seluruh rangkaian kampanye.
Baca Juga: Belanja Online, Paylater, dan Tantangan Anak Muda Mengatur Keuangan
Kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), terutama SDG 8 tentang pertumbuhan ekonomi dan SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan.
Dengan meningkatkan literasi konsumsi dan kepedulian terhadap produk lokal, kampanye “Belanja Bijak” berupaya menciptakan pola pikir yang lebih berkelanjutan bagi generasi muda.
Rangkaian kampanye tidak hanya berhenti pada penyebaran survei dan pembuatan video, tetapi juga melibatkan observasi lapangan yang menunjukkan rendahnya minat masyarakat muda terhadap produk lokal dibandingkan barang impor yang sedang viral. Data inilah yang memperkuat urgensi edukasi mengenai konsumsi bijak.
Sebagai bagian dari sivitas akademika yang turut mendukung komitmen Universitas Negeri Yogyakarta terhadap pencapaian SDGs, kami memandang kampanye “Belanja Bijak” sebagai contoh konkret kontribusi mahasiswa dalam memperkuat literasi konsumsi dan keberpihakan terhadap UMKM.
Dalam proses penyusunan berita ini, kami mendokumentasikan seluruh rangkaian kegiatan mulai dari penyebaran survei, pengamatan lapangan, hingga produksi video edukatif.
Seluruh aktivitas tersebut tidak hanya menggambarkan upaya pengembangan diri mahasiswa, tetapi juga menunjukkan bahwa generasi muda mampu mengambil peran strategis dalam menyikapi isu sosial-ekonomi secara kritis.
Baca Juga: Tips Bijak Menggunakan Internet: Jangan Habiskan Waktu Percuma!
Melalui kampanye ini, mahasiswa PGPAUD UNY menghadirkan pendekatan kreatif dalam membaca fenomena sosial di sekitarnya.
Di tengah budaya belanja instan yang terus menguat, kampanye “Belanja Bijak” menjadi upaya untuk mengingatkan kembali bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas membeli, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial untuk mendukung ekonomi lokal.
Link Video:
Drive Video:
https://drive.google.com/file/d/1EE_h0tC4tr7VH2xzN4c9g4DsSTBd1n1l/view?usp=drivesdk
Youtube:
https://youtu.be/8lIMNgzomE4?si=ShFUYQ2H9sXZY12v
Penulis:
1. Niswatun Husna
2. Silfia Rahma Dealistya
3. Riski Dwi Setiyowati
4. Tanzila Rahmah
5. Novita Alya Romadhoni
Mahasiswa Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dr. Drs. Hiryanto, M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












