Belanja online kini sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Hampir setiap hari ada saja promo, diskon, atau flash sale yang menggoda.
Anak muda, terutama generasi sekarang, sering kali lebih memilih belanja melalui aplikasi dibandingkan harus keluar rumah.
Praktis, cepat, dan tinggal klik barang pun sampai di depan pintu. Tetapi di balik kemudahan ini, ada tantangan besar dalam cara kita mengatur keuangan.
Salah satu fenomena yang muncul adalah penggunaan fitur paylater. Bagi sebagian orang, ini terasa menyenangkan karena bisa membeli barang tanpa harus langsung membayar.
Namun, di sisi lain, paylater juga bisa membuat seseorang terjebak dalam pola konsumsi berlebihan.
Banyak yang tidak sadar bahwa pembayaran kecil-kecil itu lama-lama menumpuk menjadi beban keuangan. Inilah titik di mana literasi keuangan benar-benar diuji.
Baca Juga: Mudahnya Belanja dengan Paylater: FOMO sebagai Pemicu Pemborosan
Generasi muda sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi lebih mandiri dalam hal finansial.
Dengan teknologi, mereka bisa belajar cara mengatur uang, menyisihkan tabungan, bahkan mencoba investasi sejak dini.
Sayangnya, sering kali semangat konsumtif lebih dominan dibandingkan semangat menabung.
Akhirnya, gaji habis di awal bulan hanya untuk gaya hidup, sementara kebutuhan pokok justru terabaikan.
Mengelola uang memang tidak semudah kedengarannya. Dibutuhkan disiplin dan kesadaran diri untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Belanja online sebaiknya diposisikan sebagai hiburan sesekali, bukan kebiasaan harian yang menguras kantong.
Sama halnya dengan paylater, sebaiknya digunakan secara bijak, bukan sekadar untuk mengikuti tren.
Baca Juga: Maraknya Belanja Online di Era Digital: Memahami Tren, Dampak, dan Cara Aman Berbelanja
Menurut saya, tantangan terbesar anak muda saat ini bukan sekadar mencari uang, tetapi bagaimana menjaga pola hidup agar keuangan tetap sehat.
Percuma saja kalau penghasilan besar, tetapi tidak pernah ada tabungan atau cadangan untuk masa depan.
Hidup di era digital menuntut kita lebih cerdas dalam mengatur keuangan. Bukan berarti tidak boleh menikmati kemudahan, tetapi kita harus tahu batas dan prioritas.
Pada akhirnya, kebebasan finansial tidak datang dari banyaknya promo atau kemudahan berhutang, melainkan dari kemampuan mengendalikan diri.
Kalau generasi muda bisa menyeimbangkan antara menikmati teknologi dan mengelola keuangan secara bijak, saya percaya mereka akan menjadi generasi yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.
Penulis: Laurenzia Puspita
Mahasiswa Prodi Akuntansi, Universitas Katolik Soegijapranata
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













