Apa itu FOMO dan Contohnya? Mengenal Fenomena Takut Ketinggalan di Era Digital

Fear Of Missing Out
Fear Of Missing Out (Sumber: Penulis)

Di era hiper-konektivitas saat ini, media sosial telah menjadi pedang bermata dua yang mendefinisikan ulang cara kita berinteraksi. Salah satu fenomena yang paling menonjol dan sering dibicarakan adalah perilaku yang mempengaruhi manusia akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, khususnya pada platform seperti TikTok dan Instagram. Perilaku ini dikenal dengan istilah “Fear Of Missing Out” atau yang lebih sering kita dengar sebagai FOMO.

Fenomena ini bukan sekadar tren bahasa gaul, melainkan sebuah kondisi psikologis yang dapat menyebabkan efek samping serius terhadap perilaku dan kesejahteraan mental manusia. Menurut Stead & Bibby (2017), penggunaan internet bermasalah sangat dipengaruhi oleh tingkat FOMO yang dialami seseorang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hal ini menciptakan sebuah lingkaran setan di mana kecemasan digital memicu penggunaan internet yang kompulsif, yang pada gilirannya justru memperparah kecemasan tersebut.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai apa itu FOMO dan contohnya, mengeksplorasi akar psikologisnya berdasarkan teori para ahli, hubungannya dengan Problematic Internet Use (PIU), hingga dampak sosiokultural yang muncul di tengah masyarakat modern. Dengan memahami anatomi fenomena ini, kita diharapkan dapat mengambil langkah yang lebih bijak dalam menavigasi kehidupan di dunia maya dan nyata secara seimbang.

Baca juga: Belajar dari FOMO: Riset Mahasiswa UNNES Ajak Gen Z Lebih Bijak Berinvestasi di Kripto

1. Pengertian Mendalam Apa itu FOMO Menurut Para Ahli

Secara terminologi, Fear of Missing Out atau FOMO adalah ketakutan atau kecemasan yang dirasakan seseorang ketika orang lain mendapatkan pengalaman berharga namun individu tersebut tidak merasakannya. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi secara akademis oleh Dan Herman pada akhir 1990-an, namun baru mendapatkan perhatian luas setelah media sosial merajalela.

Menurut Fullerton (2017), perasaan ini sangat terkait dengan eksistensi digital; jika Anda tidak aktif di media sosial, Anda akan mulai merasa terasing dan kehilangan relevansi di antara teman-teman Anda.

Pryzbylski et al. (2013) mendefinisikan FOMO sebagai keinginan yang meresap untuk tetap terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain. Karakteristik utama dari perilaku ini adalah keinginan konstan untuk memantau kehidupan orang di sekitarnya melalui media sosial dan media online lainnya.

Hal ini menciptakan kondisi mental di mana seseorang merasa bahwa “rumput tetangga selalu lebih hijau,” dan ada ketakutan bawah sadar bahwa mereka telah melewatkan sebuah peluang emas atau momen sosial yang tidak akan terulang kembali.

Dalam perspektif sosiologis, FOMO muncul sebagai konflik sosial karena telah terbukti menjadi prediktor berbagai perilaku berbahaya. Seseorang yang terjebak dalam arus ini rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempelajari aktivitas orang lain dan secara tidak sadar mengabaikan aktivitasnya sendiri.

Pada akhirnya, media sosial yang seharusnya menjadi alat komunikasi berubah fungsi menjadi wadah yang menyita waktu secara destruktif dan mengabaikan kepentingan pengembangan diri individu.

Baca juga: Belajar dari FOMO: Riset Mahasiswa UNNES Ajak Gen Z Lebih Bijak Berinvestasi di Kripto

2. Dimensi Psikologis yang Mewakili Fenomena FOMO

Membedah apa itu FOMO dan contohnya memerlukan pemahaman tentang kebutuhan dasar manusia yang tidak terpenuhi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pryzbylski (2013), terdapat dimensi utama yang mewakili aspek psikologis di balik fenomena ini.

Dimensi pertama adalah kebutuhan psikologis akan koneksi yang belum terpenuhi. Manusia pada dasarnya memiliki insting untuk merasa dilibatkan dan menjadi bagian dari sebuah kelompok besar, namun media sosial mendistorsi kebutuhan ini menjadi sesuatu yang bersifat kuantitatif.

Dimensi kedua adalah belum terpenuhinya kebutuhan psikologis diri dalam hal otonomi dan kompetensi. Otonomi berkaitan dengan perasaan memiliki kendali atas hidup sendiri, sementara kompetensi berkaitan dengan perasaan mampu melakukan sesuatu dengan baik.

Ketika seseorang merasa gagal dalam kehidupan nyata, mereka cenderung mencari kompensasi di dunia maya. FOMO menjadi semacam “pelarian” yang paradoks; mereka mencari validasi dari luar karena tidak memiliki fondasi internal yang kuat untuk merasa puas dengan hidupnya sendiri.

Ketidakseimbangan psikologis ini kemudian memicu perilaku pencarian informasi yang kompulsif. Individu akan terus-menerus memantau layar ponsel mereka untuk memastikan bahwa posisi sosial mereka masih aman.

Rasa takut “ketinggalan” ini sebenarnya adalah manifestasi dari rendahnya tingkat kepuasan hidup yang dialami oleh individu tersebut. Oleh karena itu, FOMO seringkali bukan tentang apa yang sedang dilakukan orang lain, melainkan tentang ketidakbahagiaan yang dirasakan seseorang terhadap dirinya sendiri.

Baca juga: Ketika Media Sosial Mengendalikan Hidup: Saatnya Gen Z Melawan FoMO

3. Mengenal Contoh Perilaku FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari

Salah satu aspek penting dalam artikel ini adalah memberikan gambaran tentang apa itu FOMO dan contohnya dalam realitas praktis. Contoh yang paling umum adalah penggunaan internet saat melakukan aktivitas yang memerlukan konsentrasi tingkat tinggi.

Banyak individu yang merasa harus memeriksa notifikasi media sosial saat sedang mengemudi, sedang berada di dalam kelas mengikuti perkuliahan, atau saat sedang melakukan pekerjaan penting. Perilaku ini menunjukkan bahwa keinginan untuk terhubung telah mengalahkan nalar keselamatan dan tanggung jawab.

Contoh lainnya adalah fenomena “Doom Scrolling,” di mana seseorang terus-menerus menggulir layar ponsel tanpa henti meskipun mereka merasa lelah atau bosan.

Mereka takut jika mereka berhenti, mereka akan melewatkan berita viral terbaru atau percakapan penting di grup WhatsApp. Individu ini seringkali merasa cemas jika baterai ponselnya lemah atau jika mereka berada di tempat tanpa koneksi internet, karena bagi mereka, terputus dari internet berarti terputus dari eksistensi sosial.

Selain itu, contoh FOMO juga terlihat pada perilaku konsumerisme yang tidak rasional. Individu seringkali memaksakan diri untuk membeli barang-barang tertentu atau mengunjungi tempat-tempat yang sedang populer hanya demi mendapatkan konten media sosial yang setara dengan orang lain. Hal ini dilakukan agar mereka tetap dianggap “up-to-date” dan tidak tertinggal oleh lingkungannya.

Permasalahan yang muncul di masyarakat seiring berjalannya waktu pun berkaitan erat dengan aspek sosial budaya ini, di mana nilai diri seseorang seringkali diukur dari seberapa relevan mereka dengan tren digital.

Baca juga: Di Balik Layar Media Sosial: Fomo yang Menggerakkan dan Melelahkan

4. Analisis Hubungan FOMO dengan Problematic Internet Use (PIU)

Perilaku FOMO adalah pintu gerbang menuju apa yang disebut dengan Problematic Internet Use (PIU). Young mengungkapkan bahwa PIU adalah penggunaan internet untuk berbagai aktivitas daring yang dilakukan secara berlebihan sampai pada tahap yang memberikan dampak negatif bagi kondisi fisik, kesehatan mental, lingkungan sosial, dan kemampuan akademik. Hubungan antara keduanya sangat erat; FOMO bertindak sebagai pendorong kognitif, sementara PIU adalah perwujudan perilakunya.

Penting untuk membedakan antara kecanduan internet secara umum dengan PIU. Problematic Internet use merupakan suatu kondisi psikologis yang diderita individu ketika mereka menggunakan internet secara berlebihan sehingga menambah waktu penggunaan yang tidak produktif dan menyebabkan perilaku maladaptif.

Individu yang mengalami hal ini seringkali tidak menyadari bahwa durasi penggunaan internet mereka telah melampaui batas kewajaran, hingga akhirnya mengganggu fungsi dasar kehidupan sehari-hari mereka.

Karakteristik individu yang mengalami PIU menurut Caplan adalah adanya pikiran obsesif untuk kembali pada aktivitas online bahkan saat sedang menjalani tugas penting lainnya. Masalah tidur yang terlalu larut malam akibat “begadang” di media sosial adalah salah satu indikator kuat rendahnya regulasi diri.

Hal ini menunjukkan bahwa FOMO telah merusak kemampuan individu dalam mengatur prioritas hidup, membuat mereka lebih mengutamakan interaksi semu di dunia digital dibandingkan kebutuhan biologis dan tanggung jawab nyata.

Dimensi Preference for Social Interaction (POSI)

Preference for Online Social Interaction (POSI) merupakan salah satu dimensi krusial dalam PIU yang dipicu oleh FOMO. Ini adalah perbedaan kognitif di mana individu menganggap interaksi melalui internet jauh lebih aman, dapat dipercaya, dan nyaman dibandingkan interaksi tatap muka secara langsung. Dalam konteks FOMO, individu merasa bahwa dengan berinteraksi secara daring, mereka memiliki kendali penuh atas bagaimana mereka mempresentasikan diri agar terlihat sempurna tanpa celah.

Bagi mereka yang memiliki kecemasan sosial di dunia nyata, internet menjadi tempat persembunyian sekaligus panggung. Melalui media sosial, seseorang bisa menutupi kekurangannya atau tidak perlu tampil rapi seperti saat berada di dalam kelompok pertemanan fisik. Ketakutan akan ketinggalan informasi (FOMO) membuat mereka terus berinteraksi secara online, karena di sana mereka merasa lebih dihargai dan memiliki suara yang lebih didengar dibandingkan di lingkungan nyata.

Namun, ketergantungan pada POSI ini menciptakan jarak emosional dengan lingkungan sekitar. Individu menjadi semakin tidak terampil dalam membaca bahasa tubuh atau melakukan empati secara langsung karena mereka terlalu terbiasa dengan simbol-simbol digital seperti emoji dan tombol suka. Pada akhirnya, preferensi ini justru memperparah rasa kesepian individu karena interaksi digital tidak pernah bisa menggantikan kehangatan hubungan interpersonal yang nyata dan tulus.

Dimensi Mood Regulation (Regulasi Emosi)

Regulasi emosi melalui penggunaan internet adalah sebuah mekanisme koping yang sering disalahgunakan oleh penderita FOMO. Caplan menyatakan bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial akan menggunakan internet untuk meminimalisir rasa cemas tersebut. Ketika seseorang merasa sedih, bosan, atau cemas akibat melihat kesuksesan orang lain (FOMO), mereka cenderung kembali mengakses internet untuk mencari “penghibur” atau mencari validasi instan yang dapat menenangkan perasaan negatif mereka.

Individu mencari hiburan di internet saat merasa gelisah, namun hal ini seringkali berujung pada perilaku kompulsif. Alih-alih menyelesaikan masalah emosional yang mendasarinya, mereka justru menggunakan media sosial sebagai narkotika digital yang memberikan efek tenang sesaat. Sayangnya, regulasi emosi jenis ini bersifat maladaptif; setelah berhenti menggunakan internet, perasaan cemas tersebut seringkali kembali dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan FOMO, individu seringkali membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain saat mencoba meregulasi emosinya. Mereka mencari tahu apa yang dilakukan orang lain sebagai standar apakah mereka “baik-baik saja” atau tidak. Jika mereka menemukan bahwa orang lain tampak lebih bahagia, mekanisme regulasi emosi ini akan gagal, dan individu tersebut akan terjebak dalam spiral depresi dan kecemasan yang semakin dalam.

Dimensi Cognitive Preoccupation (Preokupasi Kognitif)

Cognitive Preoccupation mengacu pada pola pemikiran obsesif di mana seseorang terus-menerus memikirkan dunia internet bahkan saat mereka sedang luring (offline). Bagi orang yang mengalami FOMO tingkat tinggi, pikiran mereka akan selalu dihantui oleh ketakutan bahwa ada sesuatu yang penting sedang terjadi di luar sana tanpa sepengetahuan mereka. Pikiran ini sangat mengganggu konsentrasi dan dapat menurunkan produktivitas secara signifikan baik di sekolah maupun di tempat kerja.

Fenomena ini seringkali muncul dalam bentuk lamunan tentang respons yang mungkin diterima pada unggahan terbaru atau keinginan yang kuat untuk memeriksa apakah ada pesan baru yang masuk. Preokupasi kognitif membuat seseorang tidak pernah benar-benar “hadir” secara mental di lokasi fisiknya berada. Contoh nyatanya adalah seseorang yang sedang makan malam romantis namun pikirannya sibuk menyusun kalimat yang tepat untuk caption foto makan malam tersebut agar terlihat menarik bagi pengikutnya.

Dampak jangka panjang dari preokupasi kognitif ini adalah berkurangnya kemampuan untuk menikmati momen saat ini (mindfulness). Karena pikiran selalu terbagi antara realitas dan dunia maya, individu kehilangan kapasitas untuk merasakan kebahagiaan yang autentik. Mereka hidup dalam bayang-bayang ekspektasi digital, di mana kebenaran hanya dianggap ada jika telah tervalidasi melalui layar ponsel.

Dimensi Compulsive Internet Use (Penggunaan Kompulsif)

Compulsive Internet Use ditandai dengan keinginan kuat individu untuk terus mengakses internet meskipun sebenarnya tidak ada kebutuhan mendesak untuk melakukannya. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang niat awalnya hanya membuka Instagram untuk memeriksa pengumuman kelas, namun berakhir dengan berselancar selama berjam-jam tanpa arah yang jelas. Ketidakmampuan untuk mengontrol durasi penggunaan ini adalah salah satu tanda paling jelas dari rusaknya fungsi regulasi diri.

Secara neurologis, penggunaan internet kompulsif ini bekerja mirip dengan kecanduan zat. Setiap kali pengguna mendapatkan informasi baru atau notifikasi, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa senang sesaat. Penderita FOMO sangat rentan terhadap siklus ini karena mereka selalu mencari “dosis” informasi baru untuk meredakan kecemasan akan ketertinggalan mereka. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat atau belajar habis tersita oleh aktivitas digital yang tidak bermakna.

Penggunaan kompulsif ini juga berdampak pada kesehatan fisik. Banyak individu yang mengalami masalah tidur kronis, kelelahan mata, dan gangguan postur tubuh karena menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar. Mereka mengakui merasa kesulitan dalam membatasi penggunaan internet sehari-hari, dibuktikan dengan kebiasaan tidur terlalu larut malam dan perasaan gelisah yang luar biasa jika diminta untuk menjauh dari perangkat digital mereka.

Dampak Negative Outcome (Hasil Negatif)

Negative Outcome adalah akumulasi dari semua perilaku maladaptif yang disebabkan oleh FOMO dan PIU. Dampak negatif ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesulitan dalam mengelola hidup secara mandiri hingga gangguan serius dalam kehidupan sosial. Individu seringkali merasa bersalah setelah menghabiskan waktu berjam-jam di internet, namun mereka merasa tidak berdaya untuk mengubah kebiasaan tersebut, yang pada akhirnya menurunkan harga diri mereka.

Dalam aspek sosial, hasil negatif ini terlihat dari perilaku membanding-bandingkan diri secara ekstrem. Seseorang mungkin merasa bahwa hidupnya gagal hanya karena tidak mampu mengikuti gaya hidup mewah yang dipamerkan oleh influencer di media sosial. Hal ini memicu rasa tidak puas yang konstan terhadap apa yang dimiliki, yang dapat berujung pada gangguan kecemasan atau depresi klinis jika tidak segera ditangani dengan bantuan profesional.

Selain itu, dampak negatif juga merambah ke dunia akademik dan profesional. Penurunan konsentrasi akibat FOMO menyebabkan banyak tugas yang terbengkalai atau dikerjakan dengan kualitas yang rendah. Hubungan dengan orang lain di dunia nyata juga menjadi renggang karena individu lebih mementingkan interaksi dengan orang asing di internet daripada memperhatikan orang-orang yang ada di hadapannya. Secara keseluruhan, FOMO yang tidak terkendali menghancurkan keseimbangan hidup dan mencuri kebahagiaan sejati dari individu tersebut.

Kesimpulan dan Langkah Bijak Menghadapi FOMO

Sebagai penutup, memahami apa itu FOMO dan contohnya adalah langkah awal yang sangat krusial bagi masyarakat modern untuk memproteksi kesehatan mental mereka. FOMO bukan sekadar masalah teknis penggunaan gadget, melainkan masalah sosiokultural dan psikologis yang mendalam. Kebiasaan yang berulang-ulang dalam mengakses internet sebagai pelarian emosional akan menciptakan ketergantungan yang sulit diputus tanpa adanya kesadaran diri yang kuat.

Untuk mengatasi perilaku ini, diperlukan upaya untuk menyeimbangkan kembali kebutuhan psikologis di dunia nyata. Masyarakat perlu mulai mengurangi ketergantungan pada validasi digital dan kembali menghargai interaksi tatap muka yang jujur. Mengatur durasi penggunaan internet dan memiliki hobi yang tidak melibatkan layar ponsel adalah beberapa langkah praktis yang bisa diambil untuk menurunkan tingkat FOMO dan mencegah terjadinya Problematic Internet Use.

Ingatlah bahwa apa yang kita lihat di media sosial hanyalah fragmen kecil dari realitas yang telah dikurasi dengan saksama. Jangan biarkan ketakutan akan ketinggalan momen di layar membuat Anda benar-benar kehilangan momen berharga dalam kehidupan nyata. Dengan regulasi diri yang lebih baik, kita dapat memanfaatkan teknologi tanpa harus menjadi budak dari kecemasan yang diciptakannya.


Penulis: Arumdapta Fathi Rachim
Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Jaya


Editor: I. Chairunnisa
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses