Di balik manisnya kalimat “Ini semua demi kamu”, kerap kali tersembunyi sebuah paradoks pengasuhan yang menyakitkan. Meski diucapkan dengan dalih kasih sayang, frasa ini perlahan menjelma menjadi rantai tak kasatmata. Alih-alih merasa dicintai, anak justru merasa tercekik oleh ekspektasi dan aturan sepihak yang membatasi ruang geraknya.
Jebakan Strict Parents dan Dampaknya
Ketatnya pola asuh kepada anak kerap kali membuat kesehatan mental mereka tidak stabil. Saat orang tua mendidik anak dengan gaya yang terlalu kaku dan menuntut kepatuhan mutlak tanpa ruang diskusi, komunikasi dalam keluarga perlahan akan rusak.
Faktanya, dampak buruk ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah temuan terbaru di Surabaya memperlihatkan bahwa remaja yang dibesarkan dengan aturan yang sangat mengekang cenderung mengalami kesulitan bersosialisasi (Risqia & Muthmainnah, 2025).
Alih-alih merasa aman, anak justru menarik diri, rela berbohong, atau menyembunyikan masalah demi menghindari omelan orang tua. Ketika orang tua terlalu mencampuri ranah privasi anak, rasa saling percaya di dalam keluarga pun perlahan akan memudar (Sari, 2022).
Mengapa Kontrol Berlebihan Justru Menjadi Bumerang
Banyak orang tua berpikir bahwa dengan memegang kendali penuh atas hidup anak, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang sukses dan bahagia. Sayangnya, dari sudut pandang psikologi, hasilnya justru bisa berlawanan.
Grolnick (2003) menjelaskan bahwa niat baik orang tua yang terlalu menekan anak dapat berubah menjadi bumerang.
Bumerang pertama muncul pada sisi internal anak. Aturan yang terlalu mengekang tidak hanya mematikan motivasi intrinsik, tetapi juga membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mengenali jati dirinya. Anak akhirnya sulit memahami siapa dirinya di luar tuntutan untuk selalu patuh.
Dampak berikutnya terlihat pada kemampuan mereka menghadapi kehidupan. Ketika anak dijauhkan dari segala risiko demi melindunginya, mereka kehilangan kesempatan belajar dari kegagalan. Akibatnya, saat menghadapi persoalan di masa depan, mereka lebih mudah merasa kewalahan (Grolnick, 2003).
Baca Juga: Pandangan Generasi Z terhadap Perilaku dan Pola Asuh Anak Usia Dini
Fondasi Pengasuhan Positif melalui Teori PERMA
Sebagai alternatif, orang tua dapat menengok model PERMA yang dikembangkan oleh Martin Seligman, tokoh yang dikenal sebagai pelopor psikologi positif. Menurut Seligman (2011), kesejahteraan psikologis dibangun atas lima elemen utama, yaitu Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment.
Dari kelima elemen tersebut, hubungan yang positif (Relationships) menjadi fondasi yang paling penting dalam pengasuhan. Aturan dan nasihat, sebaik apa pun, akan lebih mudah diterima apabila orang tua telah membangun ikatan emosional yang kuat dengan anak.
Pengasuhan yang berakar pada kedekatan emosional membuat anak merasa dicintai tanpa syarat. Ketika rasa aman telah terbentuk, interaksi di rumah tidak lagi terasa kaku. Sebaliknya, hubungan tersebut akan mendorong keterlibatan yang hangat (Engagement) sekaligus menghadirkan emosi positif (Positive Emotion) dalam kehidupan sehari-hari (Surahman, 2021).
Mulai dari Hal Sederhana: Mengetuk Pintu Sebelum Masuk
Sebagai orang tua, sering kali perhatian lebih banyak tercurah pada aturan mengenai durasi penggunaan smartphone atau jam malam. Padahal, fondasi boundaries justru dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu menghargai ruang pribadi anak.
Kebiasaan mengetuk pintu kamar sebelum masuk bukan sekadar bentuk sopan santun. Tindakan tersebut merupakan pengakuan bahwa anak memiliki hak atas privasinya.
Bayangkan bagaimana perasaan anak ketika orang tua masuk begitu saja tanpa izin. Secara psikologis, mereka dapat merasa diremehkan dan kehilangan kendali atas ruang pribadinya.
Sebaliknya, menghargai privasi merupakan bentuk nyata pengasuhan yang positif. Pendekatan yang menghormati ruang pribadi anak terbukti lebih efektif menjaga kestabilan emosi dibandingkan pengawasan yang terus-menerus dilandasi rasa curiga (Kyriazos & Stalikas, 2018).
Menanamkan Kedekatan Emosional (Attachment)
Ketika anak merasa aman menjadi dirinya sendiri di rumah, mereka akan lebih mudah menerima aturan dari orang tua. Kedekatan ini akan semakin kuat apabila orang tua berfokus pada potensi anak, bukan sekadar mencari kesalahannya.
Menurut pengamatan Pentti dan timnya (2019), momen kebersamaan dalam keluarga dengan pendekatan yang suportif menciptakan suasana yang lebih menyenangkan. Pendekatan tersebut juga terbukti membantu mengurangi beban psikologis yang dirasakan anak (von Kraemer et al., 2024).
Kehadiran orang tua sebagai pendukung utama bukan hanya berdampak pada kesehatan mental anak, tetapi juga membentuk ketangguhan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan. Ketangguhan tersebut pada akhirnya membantu anak membangun hubungan sosial yang lebih sehat di luar rumah (Veesar et al., 2024).
Baca Juga: Pakaian Wanita Emirates di Jaman Modern
Seni Membangun Batasan: Belajar dari Aliran Sungai
Tantangan berikutnya adalah membangun batasan tanpa merampas kebebasan anak. Tidak sedikit orang tua yang khawatir ketegasan akan merusak kedekatan yang telah dibangun.
Padahal, psikologi positif tidak memaknai kebebasan sebagai kondisi ketika anak dibiarkan tanpa aturan. Tanpa batasan yang jelas, anak justru dapat merasa bingung dan cemas (Taabudillah et al., 2026).
Ibarat aliran sungai, batasan dari orang tua adalah tepiannya. Tepian sungai bukanlah dinding yang menghentikan arus, melainkan penuntun yang menjaga air tetap mengalir menuju tujuannya tanpa meluap menjadi banjir yang merusak.
Menjadi Orang Tua yang Tegas Tanpa Marah
Lalu, bagaimana menjadi “tepian” yang kokoh sekaligus lembut? Kuncinya adalah memadukan ketegasan dengan kehangatan.
Jangan sampai karena takut dianggap mengekang, orang tua justru membebaskan anak tanpa batas. Contohnya adalah pola asuh yang hanya menanggapi perilaku buruk anak dengan senyuman tanpa memberikan disiplin yang jelas. Alih-alih belajar, anak justru menganggap teguran tersebut tidak memiliki makna.
Di sinilah ketegasan perlu berjalan beriringan dengan empati (United We Care, 2023). Melalui prinsip “tegas tanpa marah”, orang tua dapat menghentikan perilaku yang kurang tepat tanpa membentak atau merendahkan harga diri anak.
Ketika anak mulai beranjak remaja, aturan sebaiknya ditegakkan melalui diskusi yang logis. Dengan demikian, kedisiplinan tumbuh dari kesadaran mereka sendiri, bukan semata-mata karena takut dihukum (Putriana, 2025).
Seni menyayangi anak seutuhnya terletak pada keseimbangan antara cinta dan kemandirian. Batasan yang dibangun dengan empati tidak akan menjadi musuh kebebasan, melainkan kompas moral yang membantu anak melangkah dengan lebih bijaksana di masa depan.
Penulis:
1. Erwandi
2. Diva Wira Anwar
3. Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana (UMB)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi:
Grolnick, W. S. (2003). The psychology of parental control: How well-meant parenting backfires. Psychology Press.
Kyriazos, T. A., & Stalikas, A. (2018). Positive parenting or positive psychology parenting? Towards a conceptual framework of positive psychology parenting. Psychology, 9(7), 1761-1788. https://doi.org/10.4236/psych.2018.97104
Pentti, S., Fagerlund, Å., & Nyström, P. (2019). Flourishing families: Effects of a positive psychology intervention on parental flow, engagement, meaning and hope. International Journal of Wellbeing, 9(4), 79-96. https://doi.org/10.5502/ijw.v9i4.1003
Putriana, I. A. (2025). Perspektif peranan orangtua dalam membangun pola kedisiplinan melalui aturan dan batasan di rumah untuk anak di RA Nurul Ulum Poncokusumo-Malang. Juraliansi: Jurnal Lingkup Anak Usia Dini, 6(2), 136-147.
Risqia, A. N., & Muthmainnah, A. N. (2025). Keterbukaan komunikasi remaja akhir dalam keluarga dengan pengasuhan strict parents di Kota Surabaya. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Komunikasi (SEMAKOM), 3(2), 892-895.
Sari, D. A. M. (2022). Strategi manajemen privasi remaja dan orang tua di media sosial [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta].
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A visionary new understanding of happiness and well-being. Free Press.
Surahman, B. (2021). Korelasi pola asuh attachment parenting terhadap perkembangan emosional anak usia dini. CV Zigie Utama.
Taabudillah, H., Farid, M. Z., & Fakhruddin, N. (2026). Antara batas dan kebebasan dalam tegas tanpa marah, menerima tanpa luka. Sosiotekno: Jurnal Ilmu Sosial dan Teknologi, 1(1), 61-70.
United We Care. (2023, June 13). Nurturing parenting: Balancing love and boundaries for effective parenting. https://www.unitedwecare.com/nurturing-parenting-balancing-love-and-boundaries-for-effective-parenting/
Veesar, K. A., Bilal, M. S., Noor, S., & Otho, W. A. (2024). Exploring how positive psychology-based parenting techniques contribute to children’s emotional development, resilience, and their ability to form healthy social relationships. Review of Applied Management and Social Sciences (RAMSS), 7(4), 791-808.
von Kraemer, M., Fagerlund, Å., & Pettersson, K. (2024). Strengthening parents’ and children’s wellbeing through positive psychology: A qualitative study of parents’ experiences of a structured training in mindfulness and character strength. International Journal of Applied Positive Psychology, 9(2), 511-532. https://doi.org/10.1007/s41042-023-00137-y
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















