Pendahuluan
Manajemen keuangan merupakan salah satu bagian penting dalam keberlangsungan suatu perusahaan maupun perekonomian secara keseluruhan. Secara sederhana, manajemen keuangan berkaitan dengan bagaimana suatu organisasi memperoleh dana, menggunakan dana, mengelola aset, mengendalikan risiko, serta mengambil keputusan investasi dan pembiayaan. Namun, perkembangan teknologi dan perubahan kondisi ekonomi membuat praktik manajemen keuangan saat ini tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Memasuki tahun 2026, dunia keuangan menghadapi perubahan yang cukup cepat. Perkembangan artificial intelligence (AI), digitalisasi pembayaran, pertumbuhan fintech, Buy Now Pay Later (BNPL), pinjaman daring, perubahan suku bunga, serta meningkatnya kebutuhan pengelolaan likuiditas membuat manajemen keuangan harus semakin adaptif. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tidak cukup hanya memiliki laporan keuangan yang baik, tetapi juga harus mampu menggunakan teknologi, membaca risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Di Indonesia, perkembangan tersebut dapat dilihat dari kondisi sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pada Juli 2026 Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 11,21% secara tahunan menjadi Rp10.336 triliun. Pada periode yang sama, kredit perbankan juga terus berkembang, sementara pembiayaan BNPL dan pinjaman daring menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi (Otoritas Jasa Keuangan [OJK], 2026a).
Di sisi lain, Bank Indonesia pada Agustus 2026 mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Kebijakan tersebut dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (Bank Indonesia [BI], 2026).
Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa manajemen keuangan saat ini sedang memasuki fase baru. Perusahaan harus mampu mengelola keuangan secara lebih cepat, berbasis data, dan memperhatikan risiko yang semakin kompleks.
Perubahan Manajemen Keuangan di Era Digital
Perkembangan teknologi telah mengubah cara perusahaan mengelola keuangan. Dahulu, banyak proses keuangan dilakukan secara manual, mulai dari pencatatan transaksi, analisis laporan keuangan, hingga pengambilan keputusan. Saat ini, teknologi memungkinkan sebagian besar proses tersebut dilakukan secara digital.
Digitalisasi dapat membantu perusahaan mengakses informasi keuangan dengan lebih cepat. Data transaksi dapat dipantau secara real time sehingga manajemen dapat mengetahui kondisi kas, piutang, utang, dan penjualan dengan lebih cepat dibandingkan sistem manual.
Perubahan tersebut semakin berkembang dengan hadirnya artificial intelligence. AI mulai digunakan dalam analisis data, prediksi arus kas, pendeteksian transaksi mencurigakan, penilaian kredit, hingga otomatisasi pekerjaan administratif.
BACA JUGA: Strategi Pengelolaan Keuangan Pribadi Mahasiswa untuk Mencegah Terjerat Utang Pinjaman Online
IMF pada 2026 menyatakan bahwa AI berpotensi mengubah perekonomian global melalui otomatisasi pekerjaan dan peningkatan produktivitas. Namun, IMF juga menekankan bahwa perkembangan AI membawa konsekuensi terhadap stabilitas keuangan dan membutuhkan kesiapan institusi serta infrastruktur untuk menghadapinya (International Monetary Fund [IMF], 2026).
Menurut saya, penggunaan AI dalam manajemen keuangan memiliki potensi yang besar, tetapi perusahaan tidak boleh langsung menyerahkan seluruh keputusan kepada teknologi. AI seharusnya menjadi alat bantu bagi manajer keuangan, bukan menggantikan pertimbangan manusia sepenuhnya. Keputusan mengenai investasi, pembiayaan, dan risiko tetap membutuhkan pemahaman terhadap kondisi perusahaan dan lingkungan bisnis.
AI sebagai Alat Bantu Pengambilan Keputusan Keuangan
Salah satu manfaat utama AI dalam manajemen keuangan adalah kemampuannya mengolah data dalam jumlah besar. Perusahaan dapat menggunakan teknologi untuk menganalisis pola penjualan, perilaku konsumen, arus kas, dan kemungkinan risiko.
Sebagai contoh, perusahaan dapat menggunakan sistem berbasis AI untuk memprediksi apakah arus kas bulan berikutnya akan mengalami surplus atau defisit. Informasi tersebut dapat membantu manajemen menentukan apakah perusahaan perlu menambah modal kerja, menunda investasi, atau mengatur kembali pembayaran utang.
AI juga dapat digunakan untuk membantu mendeteksi transaksi yang tidak normal. Dalam industri keuangan, teknologi analisis data dan machine learning dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi pola transaksi yang berpotensi mengandung risiko.
IMF mencatat bahwa AI dan big data semakin digunakan dalam proses pemberian pinjaman. Platform fintech dapat menggunakan data transaksi dan machine learning untuk mempercepat proses penilaian kredit dan memperluas akses pembiayaan kepada kelompok yang sebelumnya mungkin kurang terlayani oleh lembaga keuangan tradisional (Zeng, 2025).
Namun, penggunaan AI juga memiliki risiko. Jika data yang digunakan tidak berkualitas, keputusan yang dihasilkan sistem juga dapat menjadi tidak akurat. Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan keamanan data, privasi, transparansi algoritma, dan risiko ketergantungan terhadap teknologi.
Oleh karena itu, menurut saya, kompetensi manajer keuangan di masa sekarang tidak cukup hanya memahami akuntansi dan keuangan. Mereka juga perlu memiliki kemampuan memahami data dan teknologi.
Likuiditas Menjadi Perhatian Penting
Selain perkembangan AI, salah satu aspek penting dalam manajemen keuangan saat ini adalah pengelolaan likuiditas. Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan atau lembaga keuangan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Kondisi likuiditas menjadi semakin penting karena perubahan ekonomi dapat terjadi dengan cepat. Perusahaan yang memiliki keuntungan belum tentu memiliki kondisi kas yang sehat. Sebuah perusahaan dapat mencatat laba tetapi mengalami kesulitan membayar kewajiban apabila sebagian besar asetnya berbentuk piutang atau aset yang sulit dicairkan.
Dalam sektor perbankan Indonesia, OJK melaporkan bahwa pada Juli 2026 rasio alat likuid terhadap non-core deposit berada pada 102,45%, sedangkan alat likuid terhadap dana pihak ketiga berada pada 23,10%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat sebesar 187,5% (OJK, 2026a).
Data tersebut menunjukkan bahwa likuiditas menjadi salah satu indikator yang terus diperhatikan dalam menjaga stabilitas sektor keuangan.
Dalam konteks perusahaan, prinsip yang sama juga berlaku. Manajemen perlu memastikan bahwa perusahaan memiliki kas yang cukup untuk membayar gaji, pemasok, cicilan utang, pajak, dan kebutuhan operasional lainnya.
Menurut saya, kesalahan dalam mengelola likuiditas dapat memberikan dampak yang besar. Perusahaan yang terlalu banyak menyimpan kas dapat kehilangan peluang investasi, sedangkan perusahaan yang terlalu agresif menggunakan dana untuk ekspansi dapat menghadapi masalah ketika arus kas terganggu.
Karena itu, manajemen keuangan harus mencari keseimbangan antara likuiditas, profitabilitas, dan pertumbuhan.
Pertumbuhan BNPL dan Pembiayaan Digital
Perubahan lain yang sangat terlihat dalam sektor keuangan Indonesia adalah meningkatnya pembiayaan digital. Salah satu contohnya adalah Buy Now Pay Later atau BNPL.
OJK mencatat bahwa pada Juli 2026 baki debet BNPL perbankan mencapai Rp31,56 triliun dan tumbuh 31,22% secara tahunan. Jumlah rekening BNPL juga mencapai sekitar 33,50 juta rekening. Sementara itu, pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,62 triliun dengan pertumbuhan 54,65% secara tahunan (OJK, 2026a).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa menggunakan pembiayaan digital. Dari sisi konsumen, layanan tersebut memberikan kemudahan untuk memperoleh barang atau jasa tanpa harus membayar seluruhnya di awal.
Namun, dari perspektif manajemen keuangan, pertumbuhan pembiayaan digital juga perlu disertai dengan pengelolaan risiko yang baik. Kemudahan memperoleh kredit dapat meningkatkan risiko penggunaan utang secara berlebihan apabila tidak diimbangi kemampuan membayar.
Hal yang sama berlaku bagi perusahaan fintech dan lembaga pembiayaan. Semakin besar pembiayaan yang disalurkan, semakin penting kemampuan perusahaan dalam melakukan penilaian risiko kredit.
Manajemen keuangan harus mampu menjawab pertanyaan: apakah pertumbuhan pembiayaan tersebut benar-benar menghasilkan pendapatan yang sebanding dengan risiko kredit yang ditanggung?
Pertanyaan tersebut penting karena pertumbuhan bisnis tidak selalu berarti peningkatan kualitas keuangan.
Pinjaman Daring dan Risiko Kredit
Selain BNPL, pinjaman daring atau fintech lending juga mengalami perkembangan. OJK mencatat bahwa outstanding pembiayaan industri pinjaman daring pada Juli 2026 mencapai Rp105,63 triliun dengan pertumbuhan 24,76% secara tahunan. Tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 tercatat sebesar 4,32% (OJK, 2026a).
Data tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan yang cukup besar sekaligus memperlihatkan pentingnya manajemen risiko.
Dalam teori manajemen keuangan, risiko dan tingkat pengembalian memiliki hubungan yang penting. Ketika perusahaan meningkatkan pembiayaan kepada pihak yang memiliki risiko lebih tinggi, perusahaan harus memiliki sistem pengelolaan risiko yang memadai.
Teknologi memang dapat membantu proses penilaian kredit, tetapi teknologi bukan berarti menghilangkan risiko. Data yang digunakan dapat salah, kondisi ekonomi dapat berubah, dan perilaku peminjam tidak selalu dapat diprediksi secara sempurna.
Menurut saya, perkembangan fintech seharusnya diikuti dengan peningkatan literasi keuangan masyarakat. Masyarakat perlu memahami bahwa kemudahan mendapatkan pembiayaan bukan berarti seseorang memiliki kemampuan finansial untuk menambah utang.
Suku Bunga dan Keputusan Pembiayaan
Faktor lain yang penting dalam manajemen keuangan adalah suku bunga. Suku bunga dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam menentukan apakah akan menggunakan utang atau modal sendiri.
Pada Agustus 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. BI menyatakan bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi serta mendukung pertumbuhan ekonomi (BI, 2026).
Bagi perusahaan, tingkat suku bunga berkaitan dengan biaya pinjaman. Jika biaya utang meningkat, perusahaan perlu mempertimbangkan kembali rencana ekspansi yang sebagian besar dibiayai oleh pinjaman.
Sebaliknya, kondisi suku bunga yang lebih mendukung dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan investasi dan ekspansi.
Oleh sebab itu, manajer keuangan harus selalu memperhatikan kebijakan moneter. Keputusan pembiayaan tidak dapat dibuat hanya berdasarkan kondisi internal perusahaan karena faktor eksternal seperti suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi juga dapat memengaruhi biaya modal.
Keuangan Berkelanjutan sebagai Bagian dari Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan modern juga semakin berkaitan dengan keberlanjutan. Perusahaan mulai mempertimbangkan faktor lingkungan dan sosial dalam keputusan investasi dan pembiayaan.
Di Indonesia, OJK menerbitkan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3 pada 2026. TKBI digunakan sebagai panduan untuk meningkatkan alokasi modal dan pembiayaan berkelanjutan. Versi 3 memperluas cakupan ke berbagai sektor, termasuk pertanian, manufaktur, pengelolaan air dan limbah, teknologi informasi dan komunikasi, serta kegiatan profesional, ilmiah, dan teknis (OJK, 2026b).
Perkembangan ini menunjukkan bahwa manajemen keuangan tidak lagi hanya mempertimbangkan keuntungan finansial. Faktor keberlanjutan juga semakin relevan dalam menentukan arah investasi dan pembiayaan.
OJK juga memperkuat pengelolaan risiko iklim di sektor perbankan melalui Climate Risk Management and Scenario Analysis (CRMS). Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan perbankan dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan mendukung pembiayaan transisi menuju ekonomi rendah karbon (OJK, 2026c).
Menurut saya, hal ini merupakan perubahan penting karena risiko lingkungan pada akhirnya dapat menjadi risiko keuangan. Banjir dapat mengganggu produksi, perubahan regulasi dapat meningkatkan biaya, dan perubahan preferensi konsumen dapat memengaruhi pendapatan.
Tantangan Manajemen Keuangan di Masa Depan
Melihat perkembangan tersebut, manajemen keuangan menghadapi beberapa tantangan.
Pertama, perusahaan harus mampu mengelola teknologi dengan baik. Penggunaan AI dan sistem digital memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi juga menciptakan risiko baru terkait keamanan data dan ketergantungan teknologi.
Kedua, perusahaan harus semakin kuat dalam mengelola likuiditas. Kondisi ekonomi yang cepat berubah membuat perusahaan membutuhkan cadangan kas yang memadai.
Ketiga, pertumbuhan pembiayaan digital perlu diimbangi dengan manajemen risiko kredit. Pertumbuhan kredit yang terlalu agresif tanpa pengelolaan risiko yang baik dapat meningkatkan potensi masalah keuangan.
Keempat, manajer keuangan perlu memahami faktor eksternal. Suku bunga, inflasi, nilai tukar, regulasi, perkembangan teknologi, dan perubahan kondisi global dapat memengaruhi keputusan perusahaan.
Kelima, keberlanjutan semakin masuk ke dalam keputusan keuangan. Perusahaan perlu mempertimbangkan risiko lingkungan dan sosial sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Opini Penulis
Menurut saya, manajemen keuangan saat ini sudah memasuki tahap yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Seorang manajer keuangan tidak cukup hanya mampu membaca neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas. Mereka harus mampu memahami data, teknologi, risiko, serta perubahan ekonomi.
AI memang dapat membantu perusahaan mengolah data dengan lebih cepat, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Begitu juga dengan pembiayaan digital. Pertumbuhan kredit dapat meningkatkan pendapatan, tetapi jika risiko tidak dikendalikan, pertumbuhan tersebut justru dapat menjadi masalah.
Hal yang sama berlaku pada likuiditas. Perusahaan harus memiliki dana yang cukup untuk menghadapi kebutuhan jangka pendek tanpa kehilangan terlalu banyak kesempatan untuk melakukan investasi.
Menurut saya, prinsip utama manajemen keuangan di era sekarang adalah keseimbangan. Perusahaan harus menyeimbangkan antara pertumbuhan dan risiko, likuiditas dan profitabilitas, teknologi dan pengawasan manusia, serta keuntungan jangka pendek dan keberlanjutan jangka panjang.
Dengan demikian, manajemen keuangan bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi bagaimana perusahaan dapat menciptakan nilai secara berkelanjutan sambil tetap mampu menghadapi perubahan.
Kesimpulan
Manajemen keuangan pada 2026 menghadapi perubahan yang cukup besar akibat perkembangan teknologi, pembiayaan digital, kondisi suku bunga, perubahan risiko, dan meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan.
Di Indonesia, perkembangan sektor keuangan menunjukkan bahwa digitalisasi semakin kuat. Pembiayaan BNPL dan pinjaman daring tumbuh, sementara perbankan tetap menjaga likuiditas di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Pada saat yang sama, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar (BI, 2026; OJK, 2026a).
Perkembangan AI juga memberikan peluang besar bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pengambilan keputusan. Namun, teknologi tersebut harus disertai dengan pengawasan, kualitas data, keamanan informasi, dan manajemen risiko yang baik.
Selain itu, keuangan berkelanjutan semakin menjadi bagian dari manajemen keuangan melalui kebijakan seperti TKBI dan pengelolaan risiko iklim.
Pada akhirnya, manajemen keuangan modern menuntut perusahaan untuk tidak hanya berpikir mengenai laba, tetapi juga mengenai risiko, teknologi, likuiditas, keberlanjutan, dan kemampuan menciptakan nilai dalam jangka panjang. Menurut saya, perusahaan yang mampu menggabungkan kemampuan finansial dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan akan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi di masa depan.
Daftar Pustaka
Bank Indonesia. (2026). Tinjauan kebijakan moneter Agustus 2026. Bank Indonesia.
International Monetary Fund. (2026). Global economic and financial implications of artificial intelligence: Lessons from a scenario planning exercise. IMF Notes, 2026(002).
Otoritas Jasa Keuangan. (2026a). Kinerja dan intermediasi sektor jasa keuangan terjaga mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi. OJK.
Otoritas Jasa Keuangan. (2026b). Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3. OJK.
Otoritas Jasa Keuangan. (2026c). OJK dan perbankan perkuat ketahanan risiko iklim, luncurkan Indonesia-UK Working Group on Climate Financing. OJK.
Otoritas Jasa Keuangan. (2026d). Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK Triwulan III-2026. OJK.
Zeng, Y. (2025). Finance changed, risks didn’t: New technologies are rewiring liquidity, payments, and economic stability. Finance & Development, 62(3). International Monetary Fund.
Penulis:
– Adjie Zulfiansyah
– Dita Apriyanti
– Elsa Sri Santi
– Kahfi Khanahaya Romadon
- Lia Dwi Pertiwi
– Liana Mange
– Maudinda Aisyaturrohmah
– Melsa Juliana
– Muhamad Nur Alamsyah [231010500414]
– Siti Nuramelia
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















