Apakah Cinta Sebuah Pilihan atau Bagian dari Ketetapan Tuhan?

Cinta Sebuah Pilihan
(Sumber: MMI)

Pernahkah kita bertanya, mengapa hati bisa memilih seseorang, tetapi tidak selalu mampu memilikinya? Ada pertemuan yang terasa begitu dekat, ada rasa yang tumbuh tanpa direncanakan, tetapi pada akhirnya tidak semua berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam keadaan seperti itu, kita sering menyebutnya sebagai takdir. Namun, jika dipikirkan lebih jauh, persoalan cinta ternyata menyimpan pertanyaan yang cukup mendalam apakah manusia benar-benar bebas menentukan siapa yang dicintainya, atau justru segala sesuatu telah berada dalam ketetapan Tuhan?

Cinta sering kali dianggap sebagai urusan perasaan semata. Padahal, di baliknya terdapat persoalan tentang kehendak, pilihan, dan keterbatasan manusia.

Seseorang bisa memilih untuk mengenal, mendekati, dan mempertahankan orang yang dicintainya. Ia juga bisa menentukan bagaimana cara memperlakukan perasaan tersebut. Akan tetapi, ia tidak selalu memiliki kuasa untuk menentukan balasan dari orang lain, apalagi memastikan bagaimana hubungan itu akan berakhir.

Dari sini, cinta menjadi salah satu contoh sederhana untuk memahami hubungan antara kehendak manusia dan kekuasaan Allah, sebuah persoalan yang sejak dahulu menjadi pembahasan penting dalam ilmu kalam.

Dalam sejarah pemikiran Islam, persoalan kebebasan manusia pernah melahirkan perdebatan antara aliran Jabariyah dan Qadariyah. Jabariyah cenderung menekankan bahwa manusia tidak memiliki kebebasan dalam perbuatannya karena segala sesuatu berada di bawah ketentuan Allah.

Sementara itu, Qadariyah memberikan penekanan pada kemampuan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri. Jika dibawa ke dalam persoalan cinta, kedua pandangan tersebut seolah menghadirkan pertanyaan: apakah mencintai seseorang merupakan pilihan manusia, ataukah sepenuhnya bagian dari ketetapan Allah? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana dalam kehidupan ternyata dapat membuka pembahasan teologis yang cukup luas.

Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk berusaha, tetapi kehendak tersebut tidak berdiri di luar kekuasaan Allah. Allah memiliki kehendak mutlak atas seluruh ciptaan-Nya, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya. Artinya, ketika seseorang mencintai, ia tidak bisa begitu saja menjadikan takdir sebagai alasan untuk membenarkan segala tindakannya.

Mencintai seseorang bukan alasan untuk menyakiti, memaksa, atau melanggar batas-batas agama. Sebab, meskipun perasaan bisa hadir tanpa diminta, cara manusia menyikapi perasaan itu tetap berkaitan dengan pilihan dan tanggung jawabnya.

Di sinilah pembahasan tentang sifat Allah juga memiliki keterkaitan dengan cinta. Allah Maha Mengetahui, termasuk apa yang tidak diketahui manusia tentang masa depan dan akibat dari setiap pilihannya. Namun, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat kita hanya menilai sesuatu berdasarkan apa yang sedang dirasakan.

Ketika seseorang hadir, kita menganggapnya sebagai kebahagiaan yang harus dipertahankan. Ketika ia pergi, kita terkadang merasa bahwa seluruh harapan telah hilang. Padahal, dalam akidah Islam, manusia tidak memiliki pengetahuan yang sempurna untuk memastikan apakah sesuatu yang diinginkannya benar-benar membawa kebaikan bagi dirinya. Kesadaran terhadap keterbatasan inilah yang seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati di hadapan ketentuan Allah.

Lebih jauh lagi, cinta juga dapat menjadi ruang untuk memahami makna tauhid. Tauhid bukan hanya tentang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, tetapi juga menyadari bahwa tidak ada makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak sebagaimana kekuasaan-Nya.

Seseorang boleh menjadi begitu berarti dalam hidup kita, tetapi ia tetaplah manusia yang memiliki keterbatasan. Ia bisa berubah, pergi, atau bahkan tidak mampu memenuhi seluruh harapan kita.

Ketika manusia menggantungkan seluruh kebahagiaannya kepada makhluk, ia berisiko melupakan bahwa hanya Allah yang tidak pernah bergantung kepada siapa pun. Bukan berarti mencintai manusia adalah sesuatu yang salah, melainkan cinta perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak membuat kita kehilangan arah dalam beragama.

Persoalan ini juga mengajarkan bahwa menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha. Dalam kehidupan, manusia tetap diperintahkan untuk memilih, berikhtiar, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika sebuah hubungan tidak berakhir sebagaimana yang diharapkan, bukan berarti seluruh usaha sebelumnya sia-sia.

Kita tidak harus menganggap setiap perpisahan sebagai hukuman, sebagaimana kita juga tidak bisa memastikan bahwa setiap pertemuan merupakan tanda bahwa seseorang akan menjadi bagian dari masa depan kita. Ada hal-hal yang hanya dapat kita pahami setelah melewati waktu, sementara sebagian lainnya mungkin tetap menjadi rahasia Allah.

Pada akhirnya, cinta bukan hanya persoalan tentang siapa yang kita pilih, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami posisi diri sebagai manusia di hadapan Tuhan. Kita memiliki kehendak, tetapi kehendak itu terbatas.

Kita boleh berharap, tetapi tidak dapat memaksa segala sesuatu terjadi sesuai keinginan. Di sinilah ilmu kalam menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari: bukan sekadar perdebatan para teolog tentang kehendak dan kekuasaan Allah, melainkan juga cara kita memahami pilihan, tanggung jawab, dan ketetapan-Nya dalam kehidupan.

Mungkin kita tidak selalu bisa memiliki seseorang yang dicintai, tetapi kita tetap memiliki pilihan untuk mencintai dengan cara yang benar, menjaga diri, dan menerima bahwa tidak semua yang diinginkan harus menjadi milik. Sebab pada akhirnya, manusia berusaha dengan kehendaknya, sementara Allah tetap menjadi pemilik segala kehendak.


Penulis: Najmi Zakiyya Putri (2576235019)
Mahasiswa Ilmu Hadits, Universitas PTIQ Jakarta


Dosen Pengampu: Dr. Abdurrauf, M.A


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *