Abstract
Generally, women in the early days of Islam wore the hijab to cover their heads or with a piece of cloth, shawl and the like. However, during the Umayyad Dynasty, this tradition changed. Many men wore forbidden things. Only religious people or usually called Sufis wore simple clothes.
During the Umayyad Dynasty, the development of luxurious clothing was seen very significantly, especially in royal circles. For example, among royal men, many wore robes made of silk or brocade, while women often wore qalansuwa and covered their faces with cloth. Over the years, the kaftan has become a general term in fashion for any type of loose robe or tunic.
In fact, the term kaftan is also often used to describe a number of garments originating from the Middle East and North Africa; such as the Djellaba, abaya, and burnouse. Quoting Vogue Arabia, the kaftan is actually a garment that has a narrow cut, a long robe with full sleeves, an open neckline and sometimes buttoned.
Meanwhile, the model of clothing that is very thick and has no sleeves is actually more similar to the abaya, rather than the kaftan. The shayla is often worn by Indo-Pakistani women as a cultural symbol rather than for religious reasons. The shayla holds special significance for the Pashtun people. The shayla is a long, usually black, shawl worn by women to cover their hair and partly to cover their neck and chest.
Abstrak
Umumnya perempuan pada masa awal Islam memakai jilbab untuk menutupi kepala mereka atau dengan selembar kain, selendang dan sejenisnya. Namun, pada masa Dinasti Umayah tradisi ini berubah. Banyak laki-laki memakai hal yang dilarang. Hanya orang taat agama atau biasanya disebut sufi yang memakai pakaian sederhana.
Pada masa Dinasti Umayah perkembangan pakaian mewah terlihat begitu signifikan terutama di kalangan kerajaan, contohnya di kalangan laki-laki kerajaan banyak menggunakan jubah berbahan sutra atau brokat, sedangkan perempuan banyak menggunakan qalansuwa dan menutup wajah dengan kain.
Selama bertahun-tahun, kaftan telah menjadi istilah umum dalam fashion untuk segala jenis jubah atau tunik yang longgar. Bahkan, istilah kaftan juga sering digunakan untuk menggambarkan sejumlah pakaian yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara; seperti Djellaba, abaya, dan burnouse. Mengutip Vogue Arabia, kaftan sejatinya adalah busana yang memiliki potongan sempit, jubah panjang dengan lengan penuh, potongan leher terbuka dan terkadang dikancingkan.
Sementara itu, model pakaian yang sangat tebal dan tak memiliki lengan sebetulnya lebih mirip dengan abaya, alih-alih kaftan. Shayla sering dikenakan oleh wanita Indo-Pakistan sebagai simbol budaya dan bukan karena alasan keagamaan. Shayla memiliki makna khusus bagi suku Pashtun. Shayla, merupakan selendang panjang yang umunya berwarna hitam yang biasa dipakai oleh perempuan untuk menutupi rambut mereka sebagian lagi berfungsi untuk menutup leher bahkan dada mereka.
Kata Kunci: Pakaian wanita Emirat, abaya modern, identitas budaya Emirati, modest fashion, evolusi busana Emirat, abaya kontemporer, shayla, mukhawar, globalisasi fashion, identitas nasional UAE, desain abaya, tradisi dan modernitas.
Pendahuluan
Abaya adalah pakaian tradisional yang banyak dipakai oleh wanita di negara-negara Timur Tengah, khususnya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk dan Jazirah Arab seperti Afrika Utara.
Secara umum, abaya merupakan jubah panjang yang longgar dan menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah, tangan, dan kaki. Karena bentuk busana garmen ini mirip jubah, abaya juga diistilahkan dengan gamis arab (Muslimah Arrifina,2020). Pakaian ini memiliki dimensi budaya yang dalam, serta telah mengalami perkembangan dalam dunia fashion, menyatu dengan tren modern tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional
Abaya umumnya dikenakan di Uni Emirat Arab. Pada tahun 2008 abaya dijadikan sebagai pakaian nasional di UEA, sehingga negara ini menjadi pusat abaya bagi beberapa negara. Umumnya abaya memiliki warna gelap. Mayoritas abaya tradisional berwarna hitam dan dipakai bersama Burqa (Burka merupakan penutup wajah yang paling rapat dari semua kerudung dalam Islam. bentuknya merupakan satu kain yang menutup wajah dan tubuh dan hanya menyisakan lubang di bagian mata untuk melihat.
Lihat “Hijab, niqab, burka-there are lots of different kinds of coverings worn by Muslim women all over the world,” [1]atau niqab(Niqab adalah istilah yang digunakan untuk menyebut potongan kain yang menutupi wajah dan biasa dipakai wanita yang juga menutupi tangannya. Banyak dipakai oleh wanita Muslim Arab Saudi dan Anak benua India dan sebagian wanita di Barat. Lihat “Niqab Introduction, [2]
Sedangkan pada tahun 2008, abaya tradisional diubah oleh perancang busana UEA dan menarik minat para perempuan sehingga menjadi populer di masa sekarang. Mayoritas perempuan UEA di masa modern tidak lagi menggunakan pakaian yang berwarna hitam tetapi menggunakan abaya yang lebih berwarna dengan tambahan beberapa motif (Khadeeja Al-Hosani, “Young Emirati Woman: My Abaya Never Held Me Back,”) Umumnya abaya memiliki warna gelap. Abaya sering dibuat dari kain seperti krep, georgette, dan sifon serta warna-warna terang seperti krem dan putih yang sesuai dengan iklim negara tersebut. (Marifatullah Alfida, 2018)
Shayla ( bahasa Arab : شيلة ) adalah penutup kepala Islami yang dikenakan oleh sebagian wanita Muslim ketika bertemu dengan pria di luar keluarga inti mereka. Shayla berbeda dengan khimar , karena biasanya dililit dan disematkan. Terkadang dikenakan dalam bentuk niqab setengah dengan sebagian wajah masih terlihat (Ross, Heather Colyer (1993) Seni Busana Arab: Profil Arab Saudi)
Dari uraian di atas, penulis mengkaji tentang “Pakaian wanita abaya Emirat d jaman modern”. Untuk memfokuskannya, penulis jelaskan dari segi sejarah sosialnya. Penulis merasa hal tersebut perlu dikaji dan ditulis terutama dalam sejarahnya, agar kita semua dapat mengetahuinnya.
Agar artikel ini tidak merembet kemana-mana, maka di fokuskan dengan rumusan masalah atau beberapa pertanyaan di bawah ini, pertama, Bagaimana pengaruh budaya Barat terhadap tren pakaian wanita Emirat saat ini?, Apakah modernisasi pakaian wanita Emirat memengaruhi nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal?, Bagaimana perkembangan pakaian wanita di Uni Emirat Arab pada era modern?, Bagaimana asal mula kemunculan abaya di UEA?
Metode
Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian kepustakaan. Artikel ini termasuk dalam jenis kajian sejarah, sehingga metode yang dipakai yakni meliputi, heuristic seperti mengkaji, menggumpulkan dan mengolah data dari berbagai sumber literatur, baik jurnal maupun buku.
Artinya penelitian ini merupakan kajian yang datanya berasal dari berbagai tulisan yang relevan untuk mendapatkan fakta sejarah dengan tujuan mengembangkan aspek teoretis maupun aspek manfaat praktis. Kritik dalam hal ini, dari jurnal dan buku yang sudah terkumpul tersebut dipilah-pilah sesuai dengan kebenaran dari isi jurnal dan buku tersebut.
Interpretasi maksudnya penulis melakukan analisa yang berupaya untuk menemukan benang merah dari kajian pembahasan ini guna mendeskripsikan hasil temuan dari data-data yang dihimpun dari berbagai rujukan untuk dituliskan sebagai hasil temuan tulisan. Dan terakhir adalah historiografi sebagai sarana untuk menuliskan hasil yang sudah dikumpulkan tersebut
Pembahasan dan Hasil
A. Definisi Pakaian wanita Emirate dan asal usul kemunculan abaya di UEA
1. Definisi Pakaian wanita Emirate
Abaya adalah pakaian tradisional yang banyak dipakai oleh wanita di negara-negara Timur Tengah, khususnya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Teluk dan Jazirah Arab seperti Afrika Utara.
Secara umum, abaya merupakan jubah panjang yang longgar dan menutupi seluruh tubuh, kecuali wajah, tangan, dan kaki. Karena bentuk busana garmen ini mirip jubah, abaya juga diistilahkan dengan gamis arab (Muslimah Arrifina,2020). Pakaian ini memiliki dimensi budaya yang dalam, serta telah mengalami perkembangan dalam dunia fashion, menyatu dengan tren modern tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional.
Abaya mungkin dulu hanyalah pakaian sederhana dan kusam yang dimaksudkan hanya untuk menyembunyikan; namun, saat ini, abaya telah menjadi “mantel yang stylish dan personal” yang banyak perempuan nikmati untuk dikenakan, sebagai ungkapan individualitas di dalam kerangka jubah yang tetap menjaga kesopanan fisik (al-Mukhtar 37).
Abaya tradisional berfungsi sebagai simbol penting identitas Islam dan nasionalisme bagi masyarakat di negara-negara Teluk Arab. Namun, dengan munculnya abaya baru yang fashionable, konflik pun timbul antara pendukung ulama neofundamentalis yang mendukung abaya tradisional dan konservatif dengan para fashionista Islam yang mendukung abaya-as-fashion yang baru.
Dengan mengembangkan studi Noor al-Qasimi tahun 2008 berjudul “Immodest Modesty: Accommodating Dissent and the ‘Abaya-as-Fashion in the Arab Gulf States,” penelitian ini akan berupaya menyoroti dampak globalisasi terhadap tren abaya-as-fashion serta terhadap identitas simbolis perempuan yang memakai abaya di seluruh dunia.
Penelitian ini akan mengikuti perjalanan abaya dari awal kemunculannya hingga gaya, sikap, dan teknik penjualan di masa kini, serta penyebarannya secara bertahap dari negara-negara Teluk Arab ke dunia yang lebih luas, guna memahami kekuatan-kekuatan di balik perubahan makna abaya (Elizabeth D. Shimek, 2012)
Abaya adalah jubah panjang dan longgar yang dikenakan di atas pakaian lain oleh banyak perempuan Muslim, khususnya di negara-negara Teluk Arab. Ia menutupi dari leher hingga kaki, bahkan menutupi sepatu pemakai dari pandangan, dengan lengan yang memanjang hingga pergelangan tangan. Abaya secara tradisional berwarna hitam, dan biasanya dikenakan bersama dengan kerudung ringan yang senada yang disebut shayla.

Menurut Al-Qasimi, “abaya adalah bentuk pakaian perempuan yang dominan di seluruh negara-negara Teluk Arab,” dan “mengenakan abaya merupakan praktik penutupan aurat dan merupakan bentuk pakaian yang dilembagakan serta diterapkan secara sosio-legal oleh negara” Arab Saudi memiliki kebijakan paling ketat terhadap penutupan aurat, sesuai dengan polisi agama Wahhabi-nya, yang secara efektif mewajibkan perempuan di sebagian besar wilayah negara itu untuk memakai abaya di ruang publik (Ambah).
Negara-negara lain, seperti Uni Emirat Arab dan Qatar, tidak mewajibkan perempuan memakai abaya, meskipun ia merupakan pakaian nasional resmi dan perempuan didorong untuk berpakaian secara konservatif (Sharp) (D. Shimek Elizabeth, 2012)
Pakaian tradisional UEA lebih dari sekadar busana. Pakaian ini merupakan wujud nyata identitas Emirati yang sangat erat kaitannya dengan sejarah panjang, nilai-nilai budaya, dan keyakinan Islam bangsa tersebut. Memahami jenis-jenis pakaian ini sangat penting bagi siapa pun yang ingin mendalami bahasa dan budaya Arab, karena hal ini memberikan wawasan menarik mengenai jati diri Uni Emirat Arab.

Shayla: Pelengkap abaya adalah sheila, yaitu selendang persegi panjang yang dikenakan untuk menutupi kepala dan terkadang leher. Seperti halnya abaya, shayla umumnya berwarna hitam namun juga tersedia dalam berbagai warna dan bahan. Wanita Emirat mengenakannya dengan beragam gaya modis yang mencerminkan perpaduan antara tradisi dan tren mode kontemporer.

Niqab dan Burqa: Meskipun kini lebih jarang ditemui, sebagian wanita lanjut usia mungkin masih mengenakan niqab—yaitu kain penutup wajah yang hanya menyisakan bagian mata—atau burqa, yakni penutup wajah dengan celah kecil untuk mata. Burqa di UEA berbeda dengan yang ada di wilayah lain; bentuknya sering kali menyerupai topeng kaku yang dihias, dan penggunaannya terutama lazim di kalangan generasi tua di wilayah-wilayah tertentu

Kaftan Jalabiya: Untuk busana yang lebih santai di rumah atau saat acara khusus wanita, wanita Emirat sering mengenakan kaftan atau jalabiya. Keduanya merupakan jenis gaun longgar—yang sering kali berwarna cerah dan kaya akan sulaman—yang nyaman sekaligus indah dipandang. Kaftan cenderung memiliki hiasan yang lebih rumit dan sering dikenakan untuk acara-acara istimewa, sedangkan jalabiya lebih ringan dan praktis untuk dikenakan sehari-hari [3]

2. Asal usul kemunculan abaya di UEA
Kemunculan abaya di dunia Arab menjadi perdebatan karena tidak ada catatan khusus yang menuliskan tentang abaya (Marifatullah Alfida, 2018)
Namun, pada zaman pra-Islam sudah ada pakaian yang mirip dengan abaya yakni pakaian orang-orang Arab Badui, berbentuk jubah dan berwarna gelap. Selain itu terdapat pakaian longgar untuk menutup seluruh tubuh biasa digunakan oleh kalangan elit pada masa itu yang disebut jilbab. Pakaian ini berasal dari masyarakat Persia yang berhasil ditaklukkan oleh Bizantium yang kemudian cepat ditiru oleh rakyat jelata dan menyebar ke seluruh wilayah taklukkan Bizantium. (Marifatullah Alfida, 2018)
Al-Qasimi menuliskan bahwa abaya merupakan pakaian tradisional yang berasal dari Timur Arab Saudi yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu (Marifatullah Alfida, 2018)
Menurut al-Bassam, Profesor di Universitas Riyadh, abaya datang ke Saudi Arabia dari Iraq atau Suriah lebih dari 75 tahun lalu. Sedangkan menurut Al-Mukhtar, abaya hitam datang dari Turki, Irak, Suriah pada 80 tahun lalu. (Shimek Elizabeth, 2012)
Al-Bassam bukan satu-satunya perempuan yang mendeskripsikan peristiwa-peristiwa ini; kisahnya tentang kebangkitan abaya digaungkan dalam wawancara dengan perempuan Saudi lanjut usia dalam artikel Rima Al-Mukhtar di majalah Sayidaty, “Saudi “Women are Expressing it Through an Abaya Evolution.” Abaya hitam “datang dari Turki, Irak, atau Suriah 80 tahun yang lalu,” jelas artikel tersebut Nazeera Sadek, yang berusia 78 tahun, menceritakan bahwa perempuan tidak pernah memakai abaya ketika ia masih kecil, tetapi mereka juga jarang keluar rumah (qtd. in al-Mukhtar 37).
Ketika mereka keluar, “mereka biasa memakai kain khusus yang dirancang khusus untuk pria yang kami sebut meshlah” Perempuan lain, Fatima, 82 tahun, dari Mekah, mengatakan bahwa “perempuan dulu memakai kostum lokal berwarna konservatif dan menutupi rambut mereka dengan kerudung”.
Ketika ibu Fatima mengunjungi teman atau masjid, ia pergi “dengan jubah biasa, hanya menambahkan syal di rambutnya,” tetapi ketika Fatima semakin dewasa, “kami mulai memakai semi-abaya yang seperti syal besar yang kami lingkarkan di tubuh kami ketika keluar rumah” Abaya secara resmi diwajibkan bagi gadis-gadis di sekolah menengah Saudi pada tahun 1955, ketika kesempatan pendidikan bagi perempuan menjadi lebih luas tersedia di kerajaan tersebut (Ambah). (Shimek Elizabeth, 2012)
Abaya umumnya dikenakan di Uni Emirat Arab. Pada tahun 2008 abaya dijadikan sebagai pakaian nasional di UEA, sehingga negara ini menjadi pusat abaya bagi beberapa negara. Umumnya abaya memiliki warna gelap. Mayoritas abaya tradisional berwarna hitam dan dipakai bersama Burqa (Burka merupakan penutup wajah yang paling rapat dari semua kerudung dalam Islam.
Bentuknya merupakan satu kain yang menutup wajah dan tubuh dan hanya menyisakan lubang di bagian mata untuk melihat. Lihat “Hijab, niqab, burka-there are lots of different kinds of coverings worn by Muslim women all over the world,” atau niqab (Niqab adalah istilah yang digunakan untuk menyebut potongan kain yang menutupi wajah dan biasa dipakai wanita yang juga menutupi tangannya. Banyak dipakai oleh wanita Muslim Arab Saudi dan Anak benua India dan sebagian wanita di Barat. Lihat “Niqab Introduction[4] (Marifatullah Alfida, 2018)

Sedangkan pada tahun 2008, abaya tradisional diubah oleh perancang busana UEA dan menarik minat para perempuan sehingga menjadi populer di masa sekarang. Mayoritas perempuan UEA di masa modern tidak lagi menggunakan pakaian yang berwarna hitam tetapi menggunakan abaya yang lebih berwarna dengan tambahan beberapa motif (Khadeeja Al-Hosani, “Young Emirati Woman: My Abaya Never Held Me Back,”) Umumnya abaya memiliki warna gelap. Abaya sering dibuat dari kain seperti krep, georgette, dan sifon serta warna-warna terang seperti krem dan putih yang sesuai dengan iklim negara tersebut. (Marifatullah Alfida, 2018)

3. Perkembangan pakaian wanita abaya di UEA di era modern
Seiring berjalannya waktu, perkembangan dalam dunia fashion berlangsung sangat cepat, di antaranya adalah pakaian Muslimah untuk wanita. Abaya busana sepanjang mata kaki yang berasal dari Timur Tengah dan selama bertahun-tahun telah menjadi pernyataan budaya, kebangsaan, atau sebagai seragam kesopanan bagi banyak wanita Muslim hanyalah salah satu jenis busana yang telah mengalami perkembangan yang cukup besar.
Sebelumnya, abaya pada dasarnya ditentukan oleh potongan yang longgar dan sederhana, serta hampir seluruhnya berwarna hitam. Namun demikian, pahamilah bahwa ketika kreativitas dalam fashion semakin berkembang dan kebutuhan untuk dipadukan (combo wear) meningkat, di mana setiap bagian tidak hanya harus berfungsi tetapi juga menarik, abaya itu sendiri telah mengalami evolusi yang beragam ketika menyangkut desain, warna, bahan, hingga detail hiasan.
Di era modern, abaya tidak lagi hanya dipandang sebagai pakaian tradisional, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian dari tren fashion muslim global. Berbagai model abaya kini dirancang dengan sentuhan kontemporer yang tetap mempertahankan nilai-nilai kesopanan sesuai syariat Islam.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa abaya mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa menghilangkan fungsi dan makna budayanya. Oleh karena itu, kajian mengenai perkembangan pakaian wanita abaya di era modern menjadi penting untuk memahami perubahan bentuk, fungsi, serta pengaruhnya terhadap gaya hidup dan identitas perempuan Muslim di berbagai negara salah satunya negara India
Dalam beberapa tahun terakhir, India menyaksikan lonjakan signifikan dalam popularitas desain abaya yang penuh warna. Secara tradisional dikenakan oleh perempuan Muslim sebagai simbol kesantunan dalam berpakaian (modesty), abaya telah berkembang menjadi pernyataan mode yang memadukan warisan budaya dengan desain modern. Transformasi ini memicu minat yang kian besar terhadap abaya karya desainer di seluruh India, menjadikannya pilihan yang banyak diminati oleh perempuan yang menghargai gaya sekaligus tradisi.
Desain abaya penuh warna yang sedang tren di India mencerminkan pergeseran yang lebih luas menuju mode santun (modest fashion) yang kian populer secara global. Bagi banyak perempuan India, khususnya di kalangan komunitas Muslim, abaya bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan identitas budaya dan agama mereka.
Desain abaya modern menawarkan cara untuk mengekspresikan identitas tersebut sembari tetap mengikuti tren mode terkini. Dengan potongan elegan, sulaman rumit, dan bahan mewah, abaya ini memungkinkan perempuan untuk tetap memegang teguh prinsip kesantunan sekaligus menampilkan gaya mereka (The Abaya.in 2024)[5]

Beragam Desain untuk Wanita Modern Salah satu alasan mengapa abaya rancangan desainer semakin populer di India adalah beragamnya desain yang tersedia. Saat ini, abaya desainer hadir dalam berbagai gaya, mulai dari desain abaya hitam klasik dengan hiasan halus hingga busana penuh warna yang mencolok dengan potongan kontemporer.
Variasi ini memungkinkan para wanita memilih abaya yang sesuai untuk berbagai kesempatan, baik itu untuk aktivitas santai sehari-hari, acara formal, maupun pertemuan keagamaan. Kemudahan dalam menemukan abaya yang selaras dengan selera dan gaya hidup pribadi menjadikan busana ini pilihan yang serbaguna dan menarik bagi wanita India modern.
Aturan berpakaian bagi semua komunitas dan gender terus mengalami perubahan sejak abad ke-19. Perubahan di kalangan Muslim ini didorong oleh pergeseran dari idiom budaya Hindu menuju idiom kesantunan yang lebih Islami; perubahan tersebut mencerminkan kesadaran yang kian tumbuh di kalangan Muslim India (yang juga tampak dalam ranah lain) bahwa sebagian besar budaya yang dianggap sebagai budaya bersama India sebenarnya berakar pada praktik Hindu.
Kami juga menunjukkan bahwa meskipun perhatian publik maupun kajian etnografis lebih banyak tertuju pada perempuan, kaum laki-laki pun sangat terikat pada aturan berpakaian tersebut. Namun, pertimbangan mengenai kepatutan senantiasa dinegosiasikan dengan hasrat untuk tampil modis. Komunitas Muslim di Kerala memiliki tingkat pengeluaran di atas rata-rata dan sangat meminati penampilan yang rapi serta dunia mode, baik yang bersifat lokal/khas (dipengaruhi film India) maupun global (merek-merek ternama) (Osella, C., & Osella, F. 2013)

4. Modernisasi pakaian wanita Emirat memengaruhi nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal
Pakaian menjadi perhatian utama bagi perubahan budaya di UEA yang terkenal sebagai salah satu negara Arab dengan gaya berpakaian yang serba tertutup dengan warna dominan hitam. Gaya berpakaian orang Arab ini bisa dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti geografi, iklim, ekonomi, atau bahkan pakaian yang ada di masa lalu.
Pakaian tidak pernah benar-benar berubah dari masa ke masa sehingga di masa yang akan datang akan ditemui modelpakaian yang sama dengan tambahan sesuai dengan perubahan zaman.
Seperti yang dicatat oleh para peneliti fashion dalam temuan mereka, gaya modern tidak cenderung “merusak tampilan tradisional dan tradisional dalam kasus UEA adalah abaya, yang oleh perancang busana UEA masih dianggap simbol penghormatan dan tradisi yang harus dipertahankan oleh wanita di UAE“.
Selain itu, meski wanita Emirati tertutup saat mereka keluar di depan umum, mereka juga memiliki banyak pertemuan dengan wanita lainnya, menurut perempuan UEA mereka jika bersamakeluarga dan teman ingin menunjukan apa yang mereka miliki di dalam pakaian abaya mereka
Keinginan intrinsik wanita Emirat untuk perubahan, integrasi, ekspresi diri dan kebutuhan untuk tetap mengikuti perkembangan telah mengubah abaya dari garmen utilitarian menjadi “pernyataan gaya yang melambangkan anugerah, keanggunan dan pesona“.
Itulah kesimpulan para periset dari Universitas Amerika Lebanon di Beirut, yang fokus dengan wanita Emirati untuk memeriksa bagaimana “benturan” antara tren kontemporer dan kesopanan religius konvensional telah mempengaruhi kebutuhan fashion wanita UEA dan mempengaruhi evolusi desain abaya (Marifatullah Alfida, 2018)
Dalam beberapa tahun terakhir, UEA telah menjadi banyak topik artikel mengenai pagelaran busana yang berkembang pesat. Di luar itu, pemerintah UEA ingin mendukung perancang busana baru, yang ditunjukkan dengan pembangunan Pusat Desain Dubai dan peluncuran The Dubai Design and Fashion Council pada tahun 2014.
Dukungan lebih lanjut diberikan kepada bakat daerah oleh Fashion Forward dan Abu Dhabi Fashion Week, yang membawa penonton internasional ke UEA untuk menyaksikan koleksi perancang berbakat.
Eksekutif mode mengatakan Timur Tengah kemungkinan akan tetap menjadi klien teratas di masa depan jika lingkungan ekonomi memburuk di Eropa dan Amerika Utara. Hal ini membuat perempuan di UEA untuk membuka usaha di sektor pakaian.
Selain dukungan dari para desainer dan pemerintah, warga lokalpun menjadi pendukung berkembangnya beragam model pakaian dengan tingginya tingkat pembelian fashion.
Di Timur Tengah peran agama bagi perilaku, interaksi sosial, dan hubungan sosial bagi perempuan sangat berperan aktif dalam pembentukan tingkah laku perempuan.
Sehingga Gallan dan Punder mengidentifikasi tiga faktor penting lainnya yang dapat mempengaruhi isu yang terkait dengan wanita Arab, pertama yaitu perempuan memerlukan kesempatan kerja melalui legislasi, fasilitas, dan dukungan; kedua, perempuan membutuhkan pendidikan dan keterampilan bekerja; ketiga, individu dan negara harus memahami kebutuhan wanita dalam bekerja.
Sejak UEA menjadi negara maju, perempuan di negara ini memiliki peluang unuk mengeksplorasi diri mereka terutama dengan membangun bisnis-bisnis.
Menurut survei menemukan bahwa pebisnis wanita di UEA cenderung terpelajar dan muncul dari berbagai kalangan, dan kewarganegaraan.
Sejak abaya sebagai fashion muncul ragam abaya menjadi semakin bervariasi yang awalnya hanya sekadar motif dan renda saja yang berwarna kini abaya semakin mewah dengan tambahan berlian atau emas yang dijahit sebagai hiasan abaya.
Abaya yang mewah di dunia modern sebetulnya telah ada sejak abad 2M. Terdapat Kerajaan Palmyra yang dipimpin seorang ratu bernama Zenobia yang kemudian orang-orang Romawi yang menguasai Arab kemudian merantai ratu dengan rantai emas.
Selain itu ada juga anggapan oang-orang UEA bahawa semakin banyak barang mewah yang dipakai semakin baik mereka di pandang orang lain.
Menurut Lezley George yang mewawancari 70 orang wanita emirat yang memakai abaya dengan umur 18-70 tahun. Beberapa ada yang menyatakan bahwa mereka ingin mengenakan abaya yang berwarna namun mereka sadar bahwa itu menantang.
Beberapa pekerja juga mengatakan hal seperti itu akan tetapi mereka menyatakan bahwa abaya berwarna dilarang di kantor-kantor mereka.206 Tapi sebetulnya pakaian di kantor tidak ada aturan khusus yang tertulis untuk memakai abaya asalkan tidak berwarna mencolok (Marifatullah Alfida, 2018)

5. Pengaruh budaya Barat terhadap tren pakaian wanita Emirat jaman modern
Abaya, yang umumnya dipandang sebagai busana religius dan konservatif, telah mengalami transformasi signifikan di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir; dari pakaian sederhana dan bersahaja yang melambangkan tradisi, kini abaya menjadi pernyataan gaya yang mencerminkan keanggunan, elegansi, dan daya tarik(Ramadan, Z.B. & Mrad, M. 2017)
Melalui studi etnografi terhadap warga muda Emirat asal Dubai, artikel ini mengeksplorasi peran simbolis pakaian nasional mereka dalam pembentukan dan pemeliharaan identitas nasional Emirat.
Dengan mempertimbangkan keragaman etnis dan ras di kalangan warga Emirat serta ketimpangan demografis di negara tersebut, saya berargumen bahwa pakaian nasional berfungsi baik untuk meyakinkan warga Emirat bahwa “mereka cukup Emirat” maupun untuk mengingatkan para migran mengenai siapa sebenarnya warga negara Emirat.
Praktik keseharian ini secara bersamaan menciptakan “budaya bersama” yang menentukan ketangguhan identitas nasional Emirat, bahkan tanpa adanya leluhur yang sama atau terkadang tanpa status kewarganegaraan yang sama.
Dengan berpijak pada teori mengenai everyday nationhood (nasionalisme keseharian) dan performativitas, artikel ini menghubungkan kawasan Teluk sebuah wilayah yang masih minim kajian dengan masyarakat “Barat”; dalam kedua konteks tersebut, budaya bersama yang diasumsikan semakin sering dijadikan instrumen pembenaran bagi penentuan batas-batas nasional dan diperkuat melalui praktik-praktik keseharian (Akinci, I. 2020).
Penulis: Iffah Hanifah (0401520017)
Mahasiswa Sastra dan Kebudayaan Arab, Universitas Al Azhar Indonesia
Dosen Pengampu: Febri Priyoyudanto
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Al-Qasimi, N. (2010). The Abaya: Fashion, Religion, and Identity in a Globalized World. Lawrence University.
Marifatullah, A. (2018). Abaya di Uni Emirat Arab Pasca Oil Booming II (2000-2010): Pakaian, Negara, dan Identitas. Skripsi Sarjana, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ramadan, Z. B. (2017). Fashionable Stereotypes and Evolving Trends in the UAE. Journal of International Women’s Studies.
BBC Newsround (2018, 07 August). What’s the difference between a hijab, niqab and burka?. Diakses dari http://www.bbc.co.uk/newsround/24118241
The Abayas (2024, 14 August). The Rising Popularity of Colorful Abaya Designs in India: A Blend of Tradition and Fashion. Diakses dari https://theabayas.in/the-rising-popularity-of-colorful-abaya-designs-in-india-a-blend-of-tradition-and-fashion/
Osella, C., & Osella, F. (2013). “Introduction: Islamic Reformism and Muslim Fashion in India”. Modern Asian Studies.
Shimek, Elizabeth D. (2012) The Abaya: Fashion, Religion, and Identity in a Globalized World” Lawrence University Honors Projects.
Ross, Heather Colyer (1993) Seni Busana Arab: Profil Arab Saudi)
Kaleela (2020, 03 May). Emirati Clothing – Traditional Dress Wear Of The People In The UAE. Diakses dari https://kaleela.com/en/blog/traditional-emirati-clothing/
Akinci, I. (2020). Dressing the nation? Symbolizing Emirati national identity and boundaries through national dress. Ethnic and Racial Studies, 43(10), 1776–1794.
Sitasi
[1] http://www.bbc.co.uk/newsround/24118241) diakses pada tanggal 26 April 2026
[2] https://www.bbc.co.uk/newsround/24118241 diakses pada tanggal 26 April 2026
[3] Kaleela https://kaleela.com/en/blog/traditional-emirati-clothing/ diakses pada tanggal 4 July 2026
[4] BBC Newroud https://www.bbc.co.uk/newsround/24118241 diakses pada tanggal 26 April 2026
[5] https://theabayas.in/the-rising-popularity-of-colorful-abaya-designs-in-india-a-blend-of-tradition-and-fashion/ diakses pada tanggal 16 July 2026
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













