Penerapan Metode Talaqqi Musyafahah dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Santri TPQ Baitul Ilmi

Metode Talaqqi Musyafahah
(Sumber: MMI)

PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup utama bagi umat Islam yang wajib dibaca sesuai dengan kaidah tajwid yang benar, mencakup ketepatan makharijul huruf dan penerapan hukum-hukum bacaan (Umar, 2020). Kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar menjadi prasyarat mendasar bagi setiap muslim agar dapat memahami dan mengamalkan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun demikian, fenomena rendahnya kemampuan membaca Al-Qur’an masih menjadi persoalan serius di Indonesia; hasil riset nasional yang dilakukan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta terhadap 3.111 responden di 25 provinsi menemukan bahwa 72,25% di antaranya berada pada kategori belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, ditinjau dari empat parameter yaitu makharij al-huruf, sifat al-huruf, ahkam al-huruf, dan al-mad wa al-qashr (Institut Ilmu Al-Qur’an [IIQ] Jakarta, 2023).

Kondisi ini turut tercermin pada tingkat pendidikan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), yang berperan penting dalam membina kemampuan membaca Al-Qur’an anak-anak di lingkungan masyarakat (Nabilah & Hidayah, 2022).

Observasi awal yang dilakukan peneliti di TPQ Baitul Ilmi, Jakarta Selatan, menunjukkan bahwa sebagian besar santri kelas 4–5 SD masih mengalami kesulitan dalam kelancaran membaca, ketepatan makharijul huruf, serta penerapan hukum bacaan nun mati dan tanwin, khususnya ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya tindakan pembelajaran yang terencana dan terukur agar kemampuan membaca Al-Qur’an santri dapat ditingkatkan secara bertahap.

Salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab persoalan tersebut adalah Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), yang memungkinkan peneliti merancang, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan tindakan pembelajaran secara siklikal hingga tujuan pembelajaran tercapai (Kemmis & McTaggart, 1988).

Melalui pendekatan ini, perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil refleksi pada setiap siklus, sehingga metode pembelajaran yang diterapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa (Arikunto, 2013).

Berbagai penelitian terdahulu telah menunjukkan efektivitas metode sorogan maupun talaqqi-musyafahah secara terpisah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri (Mumtazah, 2024; Suriansyah, 2021).

Namun demikian, kajian yang secara khusus memadukan kedua metode tersebut secara bertahap dalam kerangka siklus Penelitian Tindakan Kelas — yaitu sorogan sebagai penguatan kemandirian membaca pada siklus awal, kemudian diperkuat dengan talaqqi-musyafahah dan drill pada siklus lanjutan untuk mengatasi kelemahan spesifik pada penguasaan tajwid — masih terbatas, khususnya pada konteks pendidikan nonformal seperti TPQ. Kesenjangan inilah yang menjadi dasar pentingnya penelitian ini dilakukan.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji sejauh mana penerapan metode sorogan pada siklus I, serta penguatan metode talaqqi-musyafahah dan drill pada siklus II, mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri TPQ Baitul Ilmi, khususnya pada aspek kelancaran membaca, ketepatan makharijul huruf, dan penguasaan tajwid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an santri melalui penerapan kombinasi metode tersebut dalam dua siklus tindakan, sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan strategi pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan nonformal.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahap dalam setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi (Kemmis & McTaggart, 1988).

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus; apabila indikator keberhasilan belum tercapai pada siklus pertama, tindakan dilanjutkan dan disempurnakan pada siklus berikutnya berdasarkan hasil refleksi. Penelitian dilaksanakan di TPQ Baitul Ilmi, Jakarta Selatan, selama empat minggu dengan frekuensi tiga kali pertemuan per minggu untuk masing-masing siklus. Subjek penelitian berjumlah 23 siswa kelas 4–5 SD yang terdaftar sebagai santri TPQ Baitul Ilmi, terdiri atas 13 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki.

Penelitian ini memfokuskan pada tiga aspek kemampuan membaca Al-Qur’an, yaitu kelancaran membaca, makharijul huruf, dan tajwid yang dibatasi pada hukum bacaan nun mati dan tanwin (ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab) serta mad thabi’i (Umar, 2020).

1. Prosedur Penelitian

Pada tahap pra-siklus, peneliti melakukan tes awal secara lisan dan individual kepada seluruh siswa untuk memetakan kemampuan awal membaca Al-Qur’an sebagai dasar penyusunan rencana tindakan.

Pada tahap I, setiap pertemuan dibagi menjadi tiga sesi dengan total durasi 90 menit, yaitu: (1) membaca bersama-sama secara klasikal, (2) membaca mandiri secara individual sambil menunggu giliran, dan (3) sesi sorogan, yaitu siswa membaca satu demi satu di hadapan peneliti selama kurang lebih tiga menit per siswa untuk satu halaman bacaan (Mumtazah, 2024).

Pada tahap siklus II, berdasarkan hasil refleksi siklus I, peneliti menambahkan teknik talaqqi-musyafahah (guru mencontohkan bacaan, kemudian siswa menirukan) yang dipadukan dengan teknik drill berupa latihan berulang antarsiswa, serta permainan mengidentifikasi hukum tajwid pada suatu ayat (Suriansyah, 2021).

2. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Data dikumpulkan melalui tes bacaan mingguan, dokumentasi hasil tes, dan catatan lapangan mengenai proses pembelajaran selama tindakan berlangsung. Data kuantitatif berupa skor tes bacaan dianalisis secara deskriptif menggunakan skala persentase 1–100, dengan kriteria ketuntasan individu ditetapkan pada skor ≥70. Data kualitatif dari catatan lapangan dianalisis secara deskriptif untuk memperkaya interpretasi terhadap data kuantitatif (Arikunto, 2013).

 

HASIL PENELITIAN

1. Pra-Siklus

Tes awal dilaksanakan secara lisan dan individual untuk mengetahui kemampuan dasar membaca Al-Qur’an setiap siswa sebelum tindakan diberikan. Hasil tes awal disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kemampuan awal membaca Al-Qur’an siswa (pra-siklus)

Kategori Kriteria Skor Jumlah Siswa Persentase
Lancar (tuntas) ≥ 70 5 21,7%
Kurang lancar 60–69 6 26,1%
Belum lancar < 50 12 52,2%
Total 23 100%

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (52,2%) berada pada kategori belum mampu membaca dengan baik, sementara hanya 21,7% siswa yang telah mencapai kategori lancar, dengan rata-rata capaian skor tes awal sebesar 72%. Kondisi ini menjadi dasar bagi peneliti untuk merancang tindakan pada siklus I.

2. Siklus I

Pada pertemuan minggu pertama, suasana pembelajaran belum sepenuhnya kondusif karena peneliti belum membangun kedekatan dengan siswa, sehingga sebagian siswa masih enggan membaca di depan karena malu atau takut salah, dan sebagian lainnya membentuk kelompok bermain sendiri. Peneliti kemudian menerapkan aturan agar setiap siswa membaca secara terpisah dan tidak berkumpul, yang terbukti efektif meminimalkan gangguan.

Pada minggu kedua, suasana kelas membaik seiring terbangunnya kedekatan antara peneliti dan siswa, ditandai berkurangnya rasa malu siswa saat maju membaca (sorogan). Hasil tes akhir siklus I menunjukkan peningkatan dibandingkan pra-siklus, dengan rata-rata capaian sebesar 73,25%.

Jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 5 siswa menjadi 12 siswa. Sebanyak 5 siswa masih berada pada kategori kurang lancar (skor di atas 60), dan 6 siswa memperoleh skor antara 50–59.

Pada aspek tajwid, penguasaan hukum ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab masih menjadi catatan karena belum mencapai target ketuntasan (skor ≥70); sebanyak 11 siswa (62,2%) dinyatakan tuntas pada ketiga hukum tersebut, dengan hasil yang relatif seragam di antara ketiganya.

3. Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi siklus I, peneliti memperkuat pembelajaran dengan teknik talaqqi-musyafahah dan drill, serta permainan identifikasi hukum tajwid dalam ayat. Perubahan perilaku yang teramati antara lain siswa mulai saling mengoreksi kesalahan bacaan temannya dan menunjukkan inisiatif mencari hukum tajwid pada ayat lain secara mandiri — dua perilaku yang tidak muncul pada siklus I.

Hasil tes akhir siklus II menunjukkan peningkatan lebih lanjut, dengan rata-rata capaian sebesar 74,6%. Jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 12 siswa menjadi 19 siswa, sementara 4 siswa sisanya memperoleh skor tepat 70, yaitu tepat pada batas kriteria ketuntasan.

Pada aspek tajwid, jumlah siswa yang tuntas pada hukum ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab meningkat menjadi 19 siswa (74,6%), sejalan dengan capaian pada aspek kelancaran membaca secara umum. Rekapitulasi peningkatan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rekapitulasi peningkatan ketuntasan klasikal antar siklus

Tahap Jumlah Siswa Tuntas Rata-Rata Persentase Skor
Pra-Siklus 5 dari 23 72%
Siklus I 12 dari 23 73,25%
Siklus II 19 dari 23 74,6%

 

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang konsisten pada kemampuan membaca Al-Qur’an siswa dari pra-siklus (5 siswa tuntas; rata-rata 72%), siklus I (12 siswa tuntas; rata-rata 73,25%), hingga siklus II (19 siswa tuntas; rata-rata 74,6%). Peningkatan ini mengindikasikan bahwa kombinasi sorogan, talaqqi-musyafahah, dan drill efektif meningkatkan kelancaran membaca, ketepatan makharijul huruf, dan penguasaan tajwid siswa (Mumtazah, 2024; Suriansyah, 2021).

Pada siklus I, peningkatan tidak hanya disebabkan oleh metode sorogan, tetapi juga faktor afektif, yaitu terbangunnya kedekatan emosional antara peneliti dan siswa. Berkurangnya rasa malu siswa untuk membaca di depan menunjukkan bahwa aspek psikologis turut berperan penting dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an (Sardiman, 2018). Penerapan aturan agar siswa membaca secara terpisah juga menunjukkan pentingnya pengelolaan kelas yang tepat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (Karwati & Priansa, 2014).

Meskipun demikian, hasil siklus I mengungkap bahwa penguasaan hukum tajwid — khususnya ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab — masih menjadi kelemahan yang menonjol, dengan hanya 62,2% siswa mencapai ketuntasan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kelancaran membaca secara umum dapat meningkat lebih cepat dibandingkan penguasaan kaidah tajwid yang bersifat lebih teknis (Robbani, 2025).

Temuan tersebut menjadi dasar penambahan teknik talaqqi-musyafahah dan drill pada siklus II, sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an memerlukan proses peniruan langsung dari pengajar yang diperkuat melalui pengulangan (Suriansyah, 2021). Hasilnya, penguasaan tajwid siswa meningkat signifikan menjadi 74,6% pada siklus II.

Perubahan perilaku belajar pada siklus II, yaitu munculnya sikap saling mengoreksi antarsiswa dan inisiatif mencari hukum tajwid secara mandiri, mengindikasikan pergeseran dari pembelajaran pasif menuju pembelajaran yang lebih aktif dan kolaboratif, sebagai bentuk penguatan pemahaman melalui interaksi sosial antarsiswa (Boud, Cohen, & Sampson, 1999).

Meskipun capaian klasikal pada siklus II (19 dari 23 siswa, atau 82,6%) cukup baik, empat siswa yang tersisa memperoleh skor tepat pada batas ketuntasan (70), sehingga masih memerlukan pendampingan lanjutan agar pencapaiannya lebih stabil di atas kriteria minimum, mengingat perbedaan kemampuan tiap siswa (Sari, 2020).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode sorogan pada siklus I serta penguatan metode talaqqi-musyafahah dan drill pada siklus II mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri TPQ Baitul Ilmi secara konsisten. Jumlah siswa yang mencapai kriteria ketuntasan meningkat dari 5 siswa (rata-rata 72%) pada pra-siklus, menjadi 12 siswa (rata-rata 73,25%) pada siklus I, dan 19 siswa (rata-rata 74,6%) pada siklus II.

Peningkatan serupa juga terjadi pada penguasaan hukum tajwid ikhfa haqiqi, idgham, dan iqlab, yaitu dari 62,2% pada siklus I menjadi 74,6% pada siklus II. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart (1988), yang dilaksanakan secara bertahap dan reflektif melalui empat tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi, efektif digunakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran membaca Al-Qur’an secara berkesinambungan.

Peningkatan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penerapan metode pembelajaran, tetapi juga oleh faktor afektif berupa terbangunnya kedekatan emosional antara peneliti dan siswa serta pengelolaan kelas yang tepat, sehingga siswa menjadi lebih percaya diri dan terbuka dalam proses sorogan (Sardiman, 2018; Karwati & Priansa, 2014).

Selain itu, penguatan melalui teknik talaqqi-musyafahah dan drill pada siklus II turut mendorong perubahan perilaku belajar siswa ke arah yang lebih aktif dan kolaboratif, sebagaimana tercermin dari sikap saling mengoreksi bacaan dan inisiatif mencari hukum tajwid secara mandiri (Boud, Cohen, & Sampson, 1999).

Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan efektivitas metode sorogan maupun talaqqi-musyafahah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an (Mumtazah, 2024; Suriansyah, 2021), sekaligus memperkuat argumen bahwa kombinasi kedua metode tersebut memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan penerapan salah satu metode secara tunggal.

Meskipun demikian, masih terdapat empat siswa yang capaiannya berada tepat pada batas kriteria ketuntasan sehingga memerlukan pendampingan lanjutan agar pencapaiannya lebih stabil, mengingat perbedaan kemampuan awal setiap siswa (Sari, 2020).

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan membaca Al-Qur’an, khususnya pada aspek tajwid yang bersifat lebih teknis, memerlukan waktu dan pendampingan yang lebih intensif dibandingkan aspek kelancaran membaca secara umum (Robbani, 2025).

Oleh karena itu, disarankan agar TPQ Baitul Ilmi dan lembaga pendidikan Al-Qur’an sejenis dapat mengadopsi kombinasi metode sorogan, talaqqi-musyafahah, dan drill secara berkelanjutan, disertai perhatian khusus pada aspek afektif dan pengelolaan kelas siswa.

Penelitian selanjutnya juga disarankan untuk memperpanjang jumlah siklus atau memperdalam evaluasi pada aspek tajwid secara lebih rinci, guna memperoleh hasil yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

 


Penulis:

  1. Shifa Agnia Rahmi Daga
  2. Dr. Faisal Hendra, Lc., M.A.

Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses