Tangisan pertama bayi sering disambut haru oleh keluarga. Namun, sedikit orang tua yang bertanya: apakah bayi mereka dapat mendengar tangisannya dengan baik? ada satu aspek penting yang sering terlewatkan di awal kehidupan bayi, yaitu pemeriksaan atau screening pendengaran sejak lahir.
Menurut World Health Organization (2021) dalam World Report on Hearing, lebih dari 430 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 700 juta orang pada tahun 2050 jika tidak dilakukan intervensi yang memadai.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 melaporkan bahwa prevalensi gangguan pendengaran pada penduduk Indonesia mencapai sekitar 2,6%.
Di tingkat global, WHO mencatat lebih dari 1,5 miliar orang hidup dengan gangguan pendengaran. Di Indonesia, tantangannya berbeda: layanan skrining belum merata, biaya intervensi masih tinggi, dan banyak orang tua belum memahami pentingnya deteksi dini.
Khusus pada bayi baru lahir, Joint Committee on Infant Hearing (2019) melaporkan bahwa sekitar 1–3 per 1.000 bayi yang lahir hidup mengalami gangguan pendengaran permanen. Angka ini bahkan dapat meningkat pada bayi dengan faktor risiko tertentu, seperti prematuritas atau riwayat komplikasi medis.
Padahal, kemampuan mendengar merupakan fondasi utama dalam perkembangan bahasa, komunikasi, dan interaksi sosial anak. Ketika fungsi ini terganggu dan tidak terdeteksi, anak berisiko mengalami keterlambatan bicara, kesulitan belajar, hingga hambatan dalam interaksi sosial. Gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi sejak dini dapat berdampak besar, mulai dari keterlambatan bicara hingga masalah kesehatan mental (psikologis) di kemudian hari.
Screening pendengaran pada bayi baru lahir adalah pemeriksaan sederhana, cepat, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Pemeriksaan yang dilakukan seperti Otoacoustic Emissions (OAE) dan Auditory Brainstem Response (ABR). Pemeriksaan ini bahkan bisa dilakukan di hari pertama setelah bayi lahir, 0-6 bulan. Pemeriksaan OAE dan ABR ini tersedia pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan memakai BPJS atau Rumah Sakit Swasta yang biasanya ditawarkan dalam paket melahirkan.
Baca juga: Bagaimana Mengatasi Anak yang Mempunyai Kesulitan Pendengaran?
Sayangnya, di Indonesia, kesadaran akan pentingnya screening pendengaran bayi masih tergolong rendah. Banyak orang tua baru menyadari adanya gangguan ketika anak tidak kunjung berbicara di usia yang seharusnya. Pada titik ini, intervensi menjadi lebih kompleks dan membutuhkan waktu lebih lama.
Tidak sedikit orang tua datang ke Klinik/Rumah Sakit/Hearing Center ketika anak berusia 3-5 tahun keatas karena belum bisa berbicara. Setelah diperiksa, ternyata gangguan utama berasal dari pendengaran yang terlambat terdeteksi.
Deteksi dini melalui screening memungkinkan anak mendapatkan intervensi lebih cepat Sejalan dengan penelitian internasional oleh American Academy of Pediatrics yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa anak dengan gangguan pendengaran yang terdeteksi dan mendapatkan intervensi sebelum usia enam bulan memiliki perkembangan bahasa yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang terlambat didiagnosis.
Dengan penanganan yang tepat, seperti penggunaan alat bantu dengar atau implan koklea dengan rehabilitasi terapi mendengar dan berbicara Auditory Verbal Therapy (AVT). Anak tetap memiliki kesempatan besar untuk berkembang secara optimal seperti anak lainnya.
Lebih dari itu, screening pendengaran juga memiliki kaitan erat dengan kesehatan mental anak. Anak dengan gangguan pendengaran yang tidak tertangani cenderung mengalami frustrasi kronis karena kesulitan mengekspresikan kebutuhan, yang kemudian dapat berkembang menjadi kecemasan sosial, rendah diri, bahkan isolasi sosial, kesulitan berinteraksi, dan menarik diri dari lingkungan.
Sebaliknya, anak yang mendapatkan dukungan sejak dini akan lebih percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik dan berinteraksi layaknya seperti anak seusianya, serta memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa screening pendengaran bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga investasi penting bagi kesejahteraan psikologis anak.
Oleh karena itu, peran orang tua, tenaga kesehatan/profesional, dan pemerintah sangat diperlukan dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya screening pendengaran. Fasilitas kesehatan diharapkan menyediakan layanan ini secara merata, sementara edukasi kepada masyarakat perlu terus digencarkan.
Melakukan screening pendengaran sejak lahir adalah langkah kecil dengan dampak besar. Dengan deteksi dini, kita tidak hanya menyelamatkan fungsi pendengaran anak, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan yang lebih sehat secara fisik dan mental, mendengar adalah pintu pertama anak mengenal dunia.
Ketika pintu itu tertutup dan kita terlambat menyadarinya, yang hilang bukan hanya kemampuan mendengar, tetapi juga peluang anak untuk tumbuh optimal secara emosional, sosial, dan akademik.
Penulis: Ervina Ihsa Kumalasari (25.E2.0046)
Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata
Dosen Pengampu: Dr. Siswanto, M.Si., Psikolog
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
- Joint Committee on Infant Hearing. (2019). Year 2019 position statement: Principles and guidelines for early hearing detection and intervention programs. The Journal of Early Hearing Detection and Intervention, 4(2), 1–44.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kemenkes ajak masyarakat peduli kesehatan pendengaran. https://www.kemkes.go.id/
- Kementerian Kesehatan RI. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Litbangkes.
- Sari, D. P., & Nugroho, A. (2023). Edukasi deteksi dini gangguan pendengaran pada anak usia dini. Indonesian Journal of Community Empowerment, 5(2), 45–52.
- World Health Organization. (2021). World report on hearing. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2021). World report on hearing: Executive summary. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/world-report-on-hearing
- Yoshinaga-Itano, C., Sedey, A. L., Wiggin, M., & Chung, W. (2020). Early hearing detection and vocabulary of children with hearing loss. Pediatrics, 140(2), e20162964.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













