Seringkali asumsi dianggap rendah dan disepelekan seolah-olah tidak berharga dan tidak penting baik dalam komunikasi maupun dalam cara berpikir kita sehari-hari. Ekspresi dalam menyepelekan asumsi bisa ditemukan dalam kalimat yang sering kita temukan, “ah itu kan cuma asumsi”, pernyataan itulah yang menunjukkan bahwa, asumsi dianggap rendah dan disepelekan, padahal asumsi itu ternyata penting dan bersifat ideologis.
Secara sederhana asumsi bisa dipahami sebagai satu kebenaran yang sudah kita terima tidak perlu dipertanyakan lagi, karena sudah ada dalam pikiran kita dan bisa dijadikan sebagai landasan bagi pernyataan atau kebenaran lain.
Asumsi memiliki peran penting dalam komunikasi karena bisa mengonstruksi makna teks, makna pernyataan, dan makna tuturan ketika kita berkomunikasi.
Seringkali kita memproduksi dua bentuk teks yang secara gramatikal sebenarnya tidak bisa dipahami, namun ketika dua pernyataan itu disatukan oleh asumsi tertentu, maka makna dua pernyataan itu akan sangat ditentukan oleh asumsi seperti apa yang kita gunakan untuk menyatukan dua pernyataan tersebut. Apakah itu bersifat sinkron ataukah bertolak belakang? Sehingga bisa menentukan makna dari dua tuturan yang seolah-olah tidak memiliki hubungan gramatikal tadi.
Misalnya, dalam tuturan “Meja Bundar hari Rabu”, pernyataan itu secara gramatikal agak sulit dipahami maksudnya, tetapi bagi orang-orang yang barangkali sudah memahami konteksnya sudah memiliki asumsi bagaimana saya memproduksi teks itu, dia bisa menyambungkan dua pernyataan itu dengan asumsi yang tepat, misalnya, siapkan Meja Bundar karena hari Rabu besok kita akan ujian.
Asumsi juga bisa bersifat politis karena bisa dimainkan dalam relasi kekuasaan antara penutur dengan Mitra tutur.
Contoh yang aktual adalah ketika seorang atasan meminta anak buahnya dengan kata “bereskan persoalan itu!”, kemudian si anak buah menggunakan perintah itu dengan melakukan berbagai tindakan.
Maka hal itu akan menjadi permasalahan, apabila ada implikasi hukum yaitu atasan hanya memerintahkan untuk bereskan, sementara si bawahan melakukan tindakan dengan kegiatan yang melanggar hukum, maka siapa yang harus bertanggung jawab?
Ketika yang memproduksi kata bereskan itu si penutur atau atasnya, maka dia mengasumsikan bahwa tuturannya bisa dipahami oleh anak buahnya dan sebaliknya, ketika yang memproduksikan kata bereskan itu si bawahan atau anak buahnya maka diapun mengasumsikan bahwa interpretasinya terhadap Teks itu sudah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh atasannya.
Karena itulah asumsi memiliki dimensi politis dan bisa digunakan sebagai alat untuk menghindari tanggung jawab dan sebagainya. Dan biasanya dalam kasus-kasus persidangan yang melibatkan atasan dan bawahan cenderung demikian.
Selain itu, asumsi juga merupakan piranti kognitif yang bisa digunakan untuk melanggengkan dominasi, kekuasaan dan diskriminasi. Dan untuk memahami hal ini, kita perlu pahami bahwa, wacana itu biasanya ada yang dominan dan yang terdominasi.
Wacana dominan biasanya diproduksi oleh kelompok yang dominan. Adapun wacana yang terdominasi biasanya diproduksi atau didukung oleh kelompok sosial yang juga terdominasi.
Ketika wacana tersebut berinteraksi satu sama lain dan ada kecenderungan pada wacana yang dominan maka hal ini akan memaksakan asumsi dan kemensen yang digunakannya agar diyakini oleh orang-orang yang wacananya itu terdominasi, contoh yang paling konkret adalah misalnya ketika seorang dosen mengasumsikan bahwa dengan kalimat, “mahasiswa yang rajin baca, rajin masuk kuliah, dan rajin mengerjakan tugas kalau bisa ya lulus tepat waktu” maka yang menempati posisi sebagai dosen yang cenderung dominan akan menyodorkan, memaksakan, dan mendesakkan asumsi itu kepada semua mahasiswa seolah-olah harus meyakini apa yang yang diasumsikan oleh dosen tersebut adalah benar.
Padahal dari segi banyak mahasiswa barangkali ada mahasiswa yang memilih hidup dengan memiliki orientasi gaya yang tidak relevan dengan apa yang diasumsikan oleh dosennya. tetapi karena dosen itu menganggap mengasumsikan suatu yang benar, maka dia akan paksakan sehingga menjadi kebenaran juga bagi kelompok yang terdominasi.
Ada juga orang-orang yang justru menemukan kebermaknaan hidupnya dengan menikmati kesendirian dengan cara hidup sendiri dan sebagainya dan karena asumsi itu menjadi yang dominan, kemudian dipaksakan dan dipromosikan secara terus-menerus sehingga menjadi asumsi yang seolah-olah harus diyakini oleh semua orang.
Oleh karena itu, penjelasan yang sederhana diatas menunjukkan bahwa asumsi tidak sederhana dan tidak sepele, asumsi itu berharga karena dua alasan, yaitu, yang pertama asumsi bisa mengkonstruksi makna teks-teks yang ada di sekitar kita dan yang kedua asumsi bisa menjadi alat dominasi bagi kelompok yang dominan dan ingin melangsungkan dominan.
Penulis: Lukmatul Hasanah
Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia IAI Al Qolam Malang
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













