Pengaruh Kredibilitas Influencer Terhadap Kecenderungan Impulsive Buying pada Generasi Z

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Generasi Z merupakan kelompok yang tumbuh di era digital dan memiliki intensitas penggunaan media sosial yang tinggi, sehingga lebih sering terpapar berbagai rekomendasi produk dari influencer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain ex post facto. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 43 responden Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial. Instrumen yang digunakan adalah Skala Kredibilitas Influencer dan Skala Impulsive Buying yang telah terbukti valid dan reliabel (Cronbach’s Alpha Kredibilitas Influencer = 0,912; Impulsive Buying = 0,868). Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa kredibilitas influencer berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z (R = 0,297; R² = 0,088; p = 0,050). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat keahlian, kepercayaan, dan daya tarik influencer yang dipersepsikan oleh Generasi Z, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian secara impulsif. Meskipun demikian, kontribusi kredibilitas influencer terhadap impulsive buying tergolong rendah, sehingga terdapat faktor-faktor lain yang turut memengaruhi perilaku tersebut.

Keyword: kredibilitas influencer, impulsive buying, Generasi Z, media sosial

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan teknologi digital yang berlangsung pesat dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi sosial, konsumsi informasi, dan perilaku belanja masyarakat. Data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023 terdapat 215,63 juta pengguna internet Indonesia atau 78,19 persen penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet (APJII, 2023, dalam (Nurmalasar, Made Ratih, Putu Diah Kumalasari, 2025). Berdasarkan data resmi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bahwa Gen Z mencakup sekitar 27,5% dari total pengguna internet di Indonesia.  Salah satu dampak signifikan dari pertumbuhan internet adalah maraknya transaksi jual beli online melalui platform e-commerce, meningkatnya transaksi jual beli online melalui platform e-commerce merupakan perubahan pola belanja masyarakat (Ulfa et al., 2023).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya generasi Z. Di antara seluruh kelompok demografi yang ada, Generasi Z menempati posisi paling dominan dalam lanskap digital Indonesia. Generasi Z adalah generasi yang lahir di rentang tahun antara 1997 sampai 2012, tepatnya setelah generasi millenium atau generasi Y (Sekar Arum et al., 2023). Dalam era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi Z, yaitu individu yang lahir dan tumbuh di tengah perkembangan pesat teknologi komunikasi digital. Berdasarkan laporan (Pew Research Center, 2022 dalam  (Derajat, 2025) menunjukkan bahwa lebih dari 95% remaja di dunia menggunakan setidaknya satu platform media sosial, sehingga media sosial berperan penting sebagai sarana komunikasi, hiburan, sekaligus sumber informasi bagi kelompok usia tersebut. Sebagai generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi digital (digital natives), generasi Z memiliki tingkat keterikatan yang tinggi terhadap berbagai platform media sosial. Dalam ekonomi digital saat ini, Generasi Z adalah generasi konsumen utama, dan media sosial telah muncul sebagai salah satu sarana utama untuk memengaruhi keputusan pembelian mereka (Nisa & Wijayani, 2023 dalam (Shefi et al., 2025)..

Perkembangan internet dan media sosial yang berlangsung sangat pesat telah memudahkan masyarakat dalam memperoleh berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia. Pemanfaatan internet saat ini tidak lagi terbatas pada kebutuhan tertentu, melainkan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat Indonesia. Kemajuan teknologi digital juga membuka peluang luas bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis mereka. Teknologi tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana promosi, tetapi juga digunakan sebagai media untuk melakukan transaksi penjualan produk maupun jasa secara langsung melalui platform digital. Pesatnya perkembangan media sosial mendorong banyak individu untuk membangun pengaruh di platform digital. Influencer sebagai figur yang memiliki banyak pengikut sering kali menjadi sumber informasi dan opini bagi audiencenya. Namun, tidak semua informasi yang disampaikan dapat dipercaya, sehingga kredibilitas influencer menjadi faktor penting dalam menilai kualitas dan kebenaran suatu informasi (Tabriza et al., 2024).

Salah satu fenomena yang muncul sebagai dampak dari tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan Generasi Z adalah semakin besarnya peran influencer dalam membentuk opini dan perilaku konsumen. Influencer credibility adalah bagaimana influencer dipandang dapat menarik konsumen, kompeten, dapat dipercaya dalam memberikan suatu review atau informasi mengenai suatu produk serta memberikan pengaruh terhadap pengikutnya dengan memberikan suatu penjelasan dan penilaian dari suatu merek dan produk (Prayoga & Artanti, 2021).

Influencer seringkali menjadi sumber inspirasi bagi Generasi Z dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk fashion, kecantikan, travel, kuliner, dan hiburan. Generasi Z mengikuti tren dan gaya hidup influencer mereka. Influencer memiliki peran yang signifikan dalam memengaruhi perilaku dan preferensi Generasi Z. Pertama, influencersering menjadi sumber inspirasi dalam berbagai aspek kehidupan, seperti gaya berpakaian, kecantikan, kuliner, perjalanan, dan hiburan. Kedua, melalui ulasan, pengalaman penggunaan, maupun konten promosi, influencer kerap memberikan rekomendasi produk yang dapat memengaruhi minat beli pengikutnya. Ketiga, penyajian produk yang menarik dan eksklusif dalam konten mereka dapat mendorong terjadinya pembelian impulsif tanpa perencanaan sebelumnya. Selain itu, influencer juga sering dipandang sebagai panutan yang tidak hanya memengaruhi keputusan pembelian, tetapi juga gaya hidup dan nilai-nilai yang dianut oleh pengikutnya. Hubungan yang terjalin antara influencer dan audience biasanya didasarkan pada kepercayaan serta kedekatan emosional, sehingga rekomendasi yang diberikan cenderung lebih mudah diterima. Influencer juga berperan dalam membentuk maupun memperkuat tren yang berkembang di kalangan Generasi Z melalui berbagai jenis konten yang mereka ciptakan. Di sisi lain, influencer dapat meningkatkan kesadaran terhadap suatu merek dengan menampilkan produk dalam aktivitas sehari-hari mereka. Jika pengikut melihat influencer menggunakan produk dalam jangka waktu yang lama dan merasa puas, mereka mungkin terus membeli produk tersebut (Nisa, 2024).

  Kondisi inilah yang kemudian menjadikan munculnya perilaku implusive buying atau pembelian impulsif di kalangan Generasi Z. Pembelian impulsif merupakan perilaku dorongan kuat untuk berbelanja yang terjadi secara mendadak, tidak direncanakan, dan sering kali muncul karena konsumen mengalami ketertarikan pada suatu produk akibat paparan stimulus dari luar (Hashem, 2021, dalam (Nurmalasar, Made Ratih, Putu Diah Kumalasari, 2025). Menurut  penelitian  (Fadhilah  dan Saputra, 2023 dalam (Ramadhan et al., 2025), faktor kredibilitas influencer yang meliputi daya tarik, keahlian, dan kepercayaan terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku impulsif pada generasi Z. Hal ini menunjukkan bahwa rekomendasi dari figur yang dianggap autentik dapat menimbulkan dorongan emosional yang kuat untuk membeli tanpa perencanaan sebelumnya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kredibilitas influencer yang dipersepsikan oleh Generasi Z dalam konsumsi konten media sosial ditinjau dari dimensi keahlian (expertise), kepercayaan (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness), serta mengetahui gambaran kecenderungan perilaku pembelian impulsif pada Generasi Z yang mencakup dimensi spontanitas, kekuatan dorongan, kesenangan emosional, dan pengabaian konsekuensi. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan pembelian impulsif pada Generasi Z, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika perilaku konsumen digital pada kelompok usia tersebut.

 

KAJIAN TEORI

Kredibilitas Influencer

Kredibilitas influencer merupakan persepsi audiens terhadap kemampuan seorang influencer dalam menyampaikan informasi yang dapat dipercaya dan meyakinkan. Dalam pemasaran digital, kredibilitas influencermenjadi salah satu faktor penting karena dapat memengaruhi sikap dan perilaku konsumen terhadap produk yang dipromosikan. Semakin tinggi kredibilitas yang dimiliki influencer, semakin besar kemungkinan audience menerima pesan yang disampaikan dan mempertimbangkan rekomendasi produk tersebut (Prayoga & Artanti, 2021).

Konsep kredibilitas influencer umumnya mengacu pada Source Credibility Theory yang menjelaskan bahwa efektivitas suatu pesan dipengaruhi oleh persepsi audiens terhadap sumber pesan tersebut. Dalam konteks influencer marketing, kredibilitas sumber terdiri atas tiga dimensi utama, yaitu expertise (keahlian), trustworthiness(kepercayaan), dan attractiveness (daya tarik) (Yudha, 2023).

  1. Expertise (Keahlian)

Expertise merupakan persepsi audience mengenai tingkat pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang dimiliki influencer terkait produk atau bidang yang dibahas. Influencer yang dianggap memiliki pengetahuan yang memadai cenderung lebih dipercaya sehingga rekomendasi yang diberikan lebih mudah diterima oleh pengikutnya. Penelitian (Saputra, 2023) menunjukkan bahwa aspek expertise merupakan salah satu komponen penting kredibilitas influencer yang mampu memengaruhi perilaku konsumen Generasi Z.

  1. Trustworthiness (Kepercayaan)

Trustworthiness mengacu pada tingkat kejujuran, integritas, dan ketulusan influencer dalam menyampaikan informasi kepada audience. Konsumen cenderung lebih mempercayai influencer yang dianggap memberikan ulasan secara objektif dan tidak berlebihan dalam mempromosikan produk. Oleh karena itu, kepercayaan menjadi faktor penting dalam membangun hubungan antara influencer dan pengikutnya (Aji & Setyaning, 2025).

  1. Attractiveness (Daya Tarik)

Attractiveness merupakan daya tarik yang dimiliki influencer, baik dari segi penampilan fisik, kepribadian, maupun gaya komunikasi. Daya tarik tersebut dapat meningkatkan perhatian audience terhadap pesan yang disampaikan sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya perubahan sikap maupun perilaku konsumen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Yudha,2023) menemukan bahwa daya tarik influencermemiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas komunikasi pemasaran melalui media sosial.

Impulsive Buying

Impulsive buying merupakan perilaku pembelian yang terjadi secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya dan didorong oleh keinginan yang muncul secara tiba-tiba. Perilaku ini umumnya melibatkan aspek emosional yang lebih dominan dibandingkan pertimbangan rasional sehingga konsumen sering kali membeli produk tanpa mempertimbangkan kebutuhan atau konsekuensi jangka panjangnya .Dalam lingkungan digital, impulsive buyingsemakin mudah terjadi karena konsumen memperoleh berbagai stimulus pemasaran secara terus-menerus melalui media sosial dan platform e-commerce. Kemudahan akses informasi, promosi yang menarik, serta proses transaksi yang cepat dapat meningkatkan dorongan konsumen untuk melakukan pembelian spontan (Venia & Marzuki, 2021). Menurut (Shamim & Islam, 2022) impulsive buying ditandai oleh adanya dorongan membeli yang kuat dan tiba-tiba, keputusan pembelian yang berlangsung cepat, dominasi aspek emosional dalam proses pengambilan keputusan, serta minimnya pertimbangan terhadap konsekuensi pembelian.

Generasi Z merupakan kelompok individu yang lahir dan tumbuh pada era perkembangan teknologi digital sehingga memiliki kedekatan yang tinggi dengan internet dan media sosial. Karakteristik tersebut membuat Generasi Z lebih mudah memperoleh informasi, berinteraksi dengan berbagai konten digital, serta terpapar berbagai bentuk pemasaran online dibandingkan generasi sebelumnya (Lina et al., 2022) Tingginya penggunaan media sosial menjadikan Generasi Z sebagai kelompok yang sangat dekat dengan influencer. Rekomendasi produk yang diberikan influencer sering kali dijadikan referensi dalam proses pengambilan keputusan pembelian karena dianggap lebih relevan, autentik, dan mudah dipahami dibandingkan iklan konvensional (Shefi & Prakoso, 2025).

Dalam konteks pemasaran digital, kredibilitas influencer menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku konsumen. Kredibilitas influencer merujuk pada persepsi audiens mengenai tingkat keahlian (expertise), kepercayaan (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness) yang dimiliki influencer dalam menyampaikan informasi mengenai suatu produk (Yudha, 2023). Influencer yang dianggap memiliki pengetahuan yang memadai, mampu memberikan informasi yang jujur, serta memiliki daya tarik yang positif cenderung lebih mudah memperoleh kepercayaan dari pengikutnya. Ketika konsumen mempercayai informasi yang disampaikan influencer, rekomendasi produk yang diberikan menjadi lebih meyakinkan sehingga dapat memunculkan dorongan untuk melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan yang matang.

Hubungan antara kredibilitas influencer dan impulsive buying dapat dijelaskan melalui konsep Source Credibility Theory yang menyatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh sumber yang kredibel akan lebih mudah diterima dan dipercaya oleh audience. Semakin tinggi tingkat keahlian, kepercayaan, dan daya tarik yang dimiliki influencer, semakin besar pula kemungkinan audiens menerima rekomendasi produk yang diberikan dan terdorong untuk melakukan pembelian spontan (Yudha, 2023). Temuan ini didukung oleh penelitian (Saputra, 2023) yang menunjukkan bahwa source credibility influencer berpengaruh signifikan terhadap impulse buying pada generasi Z pengguna Instagram. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi kredibilitas influencer yang dipersepsikan konsumen, semakin besar kecenderungan mereka melakukan pembelian impulsif setelah terpapar konten promosi yang disampaikan oleh influencer.

 

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian non-eksperimental. Pendekatan ini tidak bertujuan untuk memberikan perlakuan atau memanipulasi variabel penelitian, melainkan untuk mengkaji pengaruh yang terjadi secara alami antara variabel kredibilitas influencer sebagai variabel independen dan kecenderungan impulsive buying sebagai variabel dependen. Penelitian dilakukan dengan desain ex post facto field study, yaitu meneliti fenomena yang telah terjadi tanpa adanya intervensi dari peneliti. Selain itu, penelitian ini bersifat cross-sectional karena pengumpulan data dilakukan pada satu waktu tertentu, sehingga dapat menggambarkan kondisi responden pada saat penelitian berlangsung. Melalui desain penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran mengenai pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z.

Prosedur penelitian diawali dengan penyusunan instrumen penelitian berupa kuesioner menggunakan skala likert yang disesuaikan dengan indikator variabel kredibilitas influencer dan impulsive buying. Instrumen yang digunakan merupakan alat ukur yang telah diadaptasi dan disesuaikan dengan konteks penelitian. Setelah melalui proses uji validitas dan reliabilitas, kuesioner disebarkan secara daring menggunakan google form kepada responden yang termasuk dalam kategori Generasi Z. Penyebaran kuesioner dilakukan melalui berbagai platform media sosial, seperti instagram, whatsapp, dan platform digital lainnya untuk menjangkau responden yang sesuai dengan karakteristik penelitian.

Sebelum mengisi kuesioner, setiap responden diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian serta informed consent sebagai bentuk persetujuan partisipasi secara sukarela. Langkah ini dilakukan untuk menjaga aspek etika penelitian, termasuk kerahasiaan data dan hak responden dalam berpartisipasi. Pengumpulan data dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Setelah seluruh data terkumpul, data diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak JASP sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z.

Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah Generasi Z. Generasi Z dipilih karena merupakan kelompok yang tumbuh dan berkembang di era digital serta memiliki tingkat penggunaan media sosial yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Intensitas interaksi mereka dengan berbagai platform media sosial menjadikan kelompok ini lebih sering terpapar konten yang dibuat maupun dipromosikan oleh influencer. Paparan tersebut berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen, termasuk kecenderungan melakukan pembelian secara impulsif. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara ilmiah apakah kredibilitas influencer memiliki pengaruh terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z.

Penelitian ini menggunakan teknik sampling non-probabilitas dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan karakteristik tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Responden dalam penelitian ini berjumlah 43 orang yang termasuk dalam kategori generasi Z, yaitu individu yang berada pada rentang usia 14–29 tahun. Selain itu, responden merupakan pengguna aktif media sosial dan mengikuti setidaknya satu influencer pada platform media sosial yang mereka gunakan. Kriteria tersebut ditetapkan agar responden memiliki pengalaman yang relevan dengan variabel yang diteliti, sehingga data yang diperoleh dapat menggambarkan pengaruh antara kredibilitas influencer dan kecenderungan impulsive buying secara lebih akurat.

Instrumen Penelitian

Blue Print  Kredibilitas Influencer

Variabel Kredibilitas Influencer diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari model komponen kredibilitas sumber milik Ohanian yang dimodifikasi oleh Lou dan Yuan (2019) untuk konteks influencer media sosial. Skala ini terdiri dari 9 item pernyataan yang mencakup tiga dimensi utama, yaitu Keahlian (Expertise), Kepercayaan (Trustworthiness), dan Daya Tarik (Attractiveness).

Skala Pembelian Impulsif (Impulsive Buying)

Variabel Kecenderungan Impulsive Buying diukur menggunakan instrumen yang diadaptasi dari dimensi pembelian impulsif daring berdasarkan teori dari Verhagen dan van Dolen (2011) serta Rook. Skala ini awalnya terdiri dari 20 item pernyataan yang mencakup empat dimensi utama: Spontanitas (Spontaneity), Kekuatan Dorongan (Urge), Kesenangan Emosional (Emotional Gratification), dan Pengabaian Konsekuensi (Disregard for Consequences).

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana. Analisis ini dipilih karena tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap satu variabel dependen, yaitu pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan impulsive buying pada generasi Z. Melalui analisis regresi linear sederhana, peneliti dapat mengetahui arah hubungan, kekuatan pengaruh, serta besarnya kontribusi variabel kredibilitas influencer dalam menjelaskan variasi kecenderungan impulsive buying. Pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak statistik JASP, adapun tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan sebesar 5% (p < 0,05).

 

HASIL

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kredibilitas influencer terhadap kecenderungan impulsive buying pada generasi-z. Untuk menjawab tujuan tersebut, peneliti menggunakan teknik analisis korelasi pearson. Lalu sebelum uji korelasi pearson, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas untuk mengetahui validitas dan reliabilitas item-item pada alat ukur tersebut. Analisis ini dilakukan menggunakan software statistic JASP.

Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas Skala Kredibilitas Influencer

Berdasarkan hasil uji validitas pada instrumen Kredibilitas Influencer, seluruh item pernyataan dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (r hitung) masing-masing item yang lebih besar dibandingkan nilai r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan jumlah responden sebanyak 43 orang, diperoleh nilai r tabel sebesar 0,3801. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai r hitung di atas 0,3801 sehingga memenuhi kriteria validitas.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa setiap item dalam instrumen mampu mengukur konstruk kredibilitas influencersecara tepat dan konsisten sesuai dengan tujuan pengukuran. Dengan demikian, seluruh item pernyataan dapat dipertahankan dan digunakan dalam proses pengumpulan data penelitian karena telah memenuhi persyaratan validitas serta mampu merepresentasikan variabel yang diukur secara memadai.

2. Reliabilitas Skala Kredibilitas Influencer

Dari hasil reliabilitas pada skala Kredibilitas Influencer memiliki reliabilitas yang sangat baik, ditunjukkan oleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.912. Nilai ini menunjukkan konsistensi internal yang kuat dari kuisioner, yang berarti instrumen tersebut dapat diandalkan untuk mengukur kredibilitas influencer

3. Validitas Skala Impulsive Buying

Berdasarkan hasil uji validitas pada instrumen Impulsive Buying, sebagian item pernyataan dinyatakan valid. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (r hitung) masing-masing item yang lebih besar dibandingkan nilai r tabel pada taraf signifikansi 5%. Dengan jumlah responden sebanyak 43 orang, diperoleh nilai r tabel sebesar 0,3801. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa item memiliki nilai r hitung di atas 0,3801 dan diketahui bahwa item nomor 11, 13, 14, 16, 17 memiliki nilai korelasi (r hitung) di bawah nilai r tabel. Hal ini menunjukkan bahwa kelima item tersebut tidak valid, sehingga tidak mampu merepresentasikan konstruk yang diukur secara memadai dan sebaiknya dipertimbangkan untuk direvisi atau dihapus dari alat ukur.

4. Reliabilitas Skala Impulsive Buying

Dari hasil reliabilitas pada skala Impulsive Buying diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,868. Nilai tersebut menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang baik sehingga dapat diandalkan untuk mengukur impulsive buying.

Uji Regresi Linear

Model regresi menunjukkan bahwa nilai R = 0.297, artinya terdapat hubungan yang cukup rendah antara kredibilitas influencer dan kecenderungan impulsive buying. Model regresi menunjukkan nilai R = 0,297 yang mengindikasikan adanya hubungan positif dengan kekuatan hubungan yang lemah antara kredibilitas influencer dan impulsive buying. Nilai R² = 0,088 menunjukkan bahwa kredibilitas influencer mampu menjelaskan sebesar 8,8% variasi perilaku impulsive buying pada Generasi Z. Sementara itu, sebesar 91,2% variasi impulsive buying dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Uji Anova

Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa model regresi memiliki nilai F = 4,072 dengan p = 0,050. Nilai tersebut menunjukkan bahwa model regresi signifikan pada taraf signifikansi 5%, sehingga kredibilitas influencer dapat digunakan untuk memprediksi impulsive buying pada Generasi Z.

Koefesien Regresi

Berdasarkan hasil analisis regresi, diketahui bahwa variabel kredibilitas influencer memiliki koefisien regresi sebesar 0,312 dengan nilai t = 2,018 dan p = 0,050. Nilai p yang berada pada taraf signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa pengaruh kredibilitas influencer terhadap impulsive buying signifikan secara statistik. Koefisien regresi yang bernilai positif mengindikasikan bahwa semakin tinggi kredibilitas influencer, maka semakin tinggi pula kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z.

Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai untuk mengukur variabel kredibilitas influencer dan impulsive buying. Analisis regresi linear sederhana menunjukkan adanya pengaruh positif kredibilitas influencer terhadap impulsive buyingpada Generasi Z. Meskipun kekuatan hubungan yang ditemukan tergolong rendah, hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa kredibilitas influencer tetap berperan dalam meningkatkan kecenderungan impulsive buying. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh kredibilitas influencer terhadap impulsive buying pada Generasi Z diterima, sedangkan hipotesis nol (Ho) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh kredibilitas influencer terhadap impulsive buying pada Generasi Z ditolak.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kredibilitas influencer berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kredibilitas influenceryang dipersepsikan oleh individu, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian secara impulsif. Temuan tersebut mendukung hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa kredibilitas influencer memiliki pengaruh terhadap impulsive buying pada Generasi Z.

Pengaruh tersebut dapat dijelaskan melalui konsep kredibilitas sumber yang menyatakan bahwa pesan yang disampaikan oleh sumber yang dianggap kredibel akan lebih mudah diterima dan dipercaya oleh audiens. Dalam konteks media sosial, kredibilitas influencer dibentuk oleh aspek keahlian (expertise), daya tarik (attractiveness), dan kepercayaan (trustworthiness). Influencer yang dipersepsikan memiliki pengetahuan yang baik mengenai suatu produk, mampu memberikan informasi yang meyakinkan, serta memiliki daya tarik yang positif cenderung lebih mudah memperoleh kepercayaan dari pengikutnya. Kepercayaan tersebut membuat rekomendasi produk yang diberikan lebih mudah diterima sehingga dapat mendorong munculnya keputusan pembelian secara spontan (Yudha, 2023).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Leasa, 2026) yang menunjukkan bahwa paparan influencerTikTok berpengaruh signifikan terhadap impulsive buying pada generasi muda. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa konten influencer yang bersifat persuasif, menarik secara visual, dan sering muncul di media sosial mampu mendorong individu untuk melakukan pembelian secara spontan. Paparan yang berulang terhadap konten influencer membuat pengguna lebih mudah terpengaruh oleh rekomendasi produk yang diberikan sehingga meningkatkan kecenderungan impulsive buying.

Temuan penelitian ini juga didukung oleh penelitian mengenai perilaku konsumtif Generasi Z pada platform TikTok yang menunjukkan bahwa konten promosi yang dikemas secara kreatif mampu menarik perhatian audiens dan menimbulkan keinginan untuk memiliki produk yang sama seperti yang digunakan atau direkomendasikan oleh content creator. Konten yang menarik secara visual dapat membangkitkan dorongan emosional yang pada akhirnya memengaruhi perilaku konsumsi individu (Christabella & Purnama Sari, 2022).

Pengaruh kredibilitas influencer terhadap impulsive buying pada penelitian (Diky Budiman et al., 2025) juga dapat dipahami melalui karakteristik Generasi Z sebagai digital native. Generasi Z merupakan kelompok yang tumbuh dan berkembang di era digital sehingga memiliki tingkat penggunaan internet dan media sosial yang tinggi. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi membuat Generasi Z lebih sering terpapar berbagai bentuk promosi digital, termasuk rekomendasi produk dari influencer. Akibatnya, influencer menjadi salah satu referensi yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan pembelian, terutama ketika produk yang dipromosikan dianggap relevan dengan kebutuhan maupun gaya hidup mereka.

Meskipun demikian, nilai koefisien determinasi (R²) dalam penelitian ini hanya sebesar 0,088. Hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas influencer hanya mampu menjelaskan 8,8% variasi impulsive buying pada Generasi Z, sedangkan 91,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Temuan ini mengindikasikan bahwa impulsive buying merupakan perilaku yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor selain kredibilitas influencer.

Hasil penelitian (Venia & Marzuki, 2021) menunjukkan bahwa gaya hidup, promosi penjualan, dan motivasi belanja hedonis berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku impulsive buying pada Generasi Z pengguna e-commerce. Dalam penelitian tersebut, motivasi belanja hedonis menjadi faktor yang memiliki pengaruh paling besar dibandingkan faktor lainnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kecenderungan pembelian impulsif tidak hanya dipengaruhi oleh sumber informasi seperti influencer, tetapi juga oleh karakteristik individu, pengalaman berbelanja yang menyenangkan, serta berbagai stimulus pemasaran yang diterima konsumen.

Sejalan dengan temuan tersebut, (Leksono et al., 2026) menjelaskan bahwa impulsive buying merupakan fenomena yang kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis dan situasional. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti penggunaan paylater, gaya hidup konsumtif, serta tingkat literasi keuangan individu. Selain itu, (Shamim & Islam, 2022) menjelaskan bahwa impulsive buying dipengaruhi oleh berbagai antecedents atau faktor pemicu yang dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yaitu karakteristik individu (traits), motif berbelanja, sumber daya yang dimiliki konsumen, dan stimulus pemasaran. Faktor-faktor seperti dorongan hedonis, pencarian kebaruan, ketersediaan waktu dan uang, serta paparan iklan dan promosi merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan impulsive buying. Oleh karena itu, meskipun kredibilitas influencer terbukti berpengaruh terhadap impulsive buying pada Generasi Z, pengaruh tersebut bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan munculnya perilaku pembelian impulsif.

Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat temuan-temuan sebelumnya bahwa kredibilitas influencermerupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, daya tarik, dan keahlian yang dimiliki influencer, semakin besar pula kemungkinan pengikutnya melakukan pembelian secara spontan. Namun, mengingat besarnya pengaruh yang relatif rendah, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap impulsive buyingsehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku konsumsi Generasi Z.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 43 responden Generasi Z, dapat disimpulkan bahwa kredibilitas influencer memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,312 dengan nilai signifikansi sebesar p = 0,050. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kredibilitas influencer yang dipersepsikan oleh Generasi Z, maka semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan pembelian secara impulsif.

Kredibilitas influencer dalam penelitian ini diukur melalui tiga dimensi utama, yaitu keahlian (expertise), kepercayaan (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness). Ketiga aspek tersebut berperan dalam membentuk persepsi positif pengikut terhadap influencer sehingga informasi dan rekomendasi produk yang disampaikan lebih mudah diterima dan dipercaya. Kepercayaan yang terbentuk antara influencer dan pengikut dapat meningkatkan minat serta dorongan emosional untuk membeli produk yang direkomendasikan tanpa perencanaan yang matang.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan antara kredibilitas influencer dan impulsive buyingtergolong positif dengan kekuatan hubungan yang relatif rendah (R = 0,297). Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,088 mengindikasikan bahwa kredibilitas influencer hanya mampu menjelaskan 8,8% variasi kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Sementara itu, sebesar 91,2% variasi perilaku impulsive buying dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti gaya hidup, motivasi belanja hedonis, promosi penjualan, literasi keuangan, kondisi emosional, kemudahan transaksi digital, serta berbagai stimulus pemasaran lainnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kredibilitas influencer berperan dalam meningkatkan kecenderungan impulsive buying, pengaruh yang diberikan tidak terlalu besar dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya perilaku pembelian impulsif. Dengan demikian, perilaku impulsive buying pada Generasi Z dapat dipahami sebagai fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, maupun situasional.

Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa kredibilitas influencer merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan impulsive buying pada Generasi Z. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat keahlian, kepercayaan, dan daya tarik yang dimiliki influencer, semakin besar pula kemungkinan pengikutnya untuk melakukan pembelian secara spontan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian psikologi konsumen dan pemasaran digital, khususnya terkait peran influencer dalam memengaruhi perilaku konsumsi generasi Z di era media sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Aji, R. S., & Setyaning, A. N. (2025). The Influence of Influencer Credibility on Purchase Intention of Local Skincare Products Through Brand Trust Among Tiktok Users in Indonesia Pengaruh Kredibilitas Influencer Terhadap Intensi Pembelian Produk Skincare Lokal melalui Kepercayaan Merek pada Pengguna Tiktok di Indonesia. 3(6), 901–914.
  • Christabella, M., & Purnama Sari, W. (2022.). Pengaruh EPIC Model terhadap Pembentukan Perilaku Konsumtif Generasi Z (Studi Iklan Racun Shopee Pada Aplikasi TikTok).
  • Derajat, S. P. (2025). Eksplorasi Persepsi Generasi Z terhadap Kredibilitas dan Popularitas Influencer TikTok dalam Memengaruhi Pilihan Produk Fashion: Sebuah Literatur Review. 2(2), 183–191.
  • Diky Budiman, Yudi Sutrasna, & Sakum, S. (2025). Perilaku Konsumtif Gen Z dan Kesadaran Keamanan Digital dalam Ekonomi Digital Indonesia. JUMINTAL: Jurnal Manajemen Informatika Dan Bisnis Digital, 4(2), 317–328. https://doi.org/10.55123/jumintal.v4i2.6776
  • Hendrik Leasa, S., (2026). Dari Viral Ke Finansial: Pengaruh Paparan Influencer TikTok Terhadap Financial Management Behavior Generasi Muda di Kota Ambon Melalui Impulsive Buying. 4, 2026. https://doi.org/10.61104/alz.v4i2.4580
  • Leksono, W., Ahmad, G. N., & Noviarini, D. (2026). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impulse Buying: Studi tentang Penggunaan Paylater, Gaya Hidup Konsumtif, dan Literasi Keuangan. Ekopedia: Jurnal Ilmiah Ekonomi, 2(1), 2134–2135. https://doi.org/10.63822/n2vwc420
  • Lina, Y., Hou, D., & Ali, S. (2022). Impact of online convenience on generation Z online impulsive buying behavior: The moderating role of social media celebrity. (August), 1–17. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.951249
  • Nisa, K. (2024). Peran Influencer Media Social Dalam Impulsive Buying dan Konsumsi Generasi Z: Studi Kasus Marketplace Shopee. 2(1).
  • Nurmalasar, Made Ratih, Putu Diah Kumalasari, R. O. (2025). ADA PENGARUH INFLUENCER MARKETING DAN RATING PRODUK TERHADAP IMPULSIVE BUYING PENGGUNA TIKTOK SHOP THERE IS AN INFLUENCE OF INFLUENCER MARKETING AND PRODUCT. XI(1), 38–50.
  • Prayoga, I. C., & Artanti, Y. (2021). PERAN KREDIBILITAS INFLUENCER , PENGETAHUAN PRODUK , DAN. 5(1), 111–123.
  • Ramadhan, K., Putra, R., Dinata, I., Armando, M., Utama, F. R., Syariah, P., Islam, U., Jurai, N., & Lampung, S. (2025). Pengaruh Influencer Media Sosial dan Iklan Digital Terhadap Motivasi Belanja Impulsif Gen Z. 1(2), 3089–3099.
  • Saputra, G. G. (2023). Factors in Influencer Marketing That Affect Generation Z ’ s Impulse Buying Behavior on Instagram. 13(September), 66–75.
  • Sekar Arum, L., Amira Zahrani, & Duha, N. A. (2023). Karakteristik Generasi Z dan Kesiapannya dalam Menghadapi Bonus Demografi 2030. Accounting Student Research Journal, 2(1), 59–72. https://doi.org/10.62108/asrj.v2i1.5812
  • Shamim, K., & Islam, T. (2022). Digital influencer marketing: How message credibility and media credibility affect trust and impulsive buying. Journal of Global Scholars of Marketing Science: Bridging Asia and the World, 32(4), 601–626. https://doi.org/10.1080/21639159.2022.2052342
  • Shefi, A. N., Prakoso, A. F., & Surabaya, U. N. (2025). DETERMINAN PEMBELIAN IMPULSIF GENERASI MUDA DI ERA. 4(2), 164–176.
  • Tabriza, T., Brawijaya, U., Rohman, F., & Brawijaya, U. (2024). PENGARUH KREDIBILITAS INFLUENCER TERHADAP E-REVIEW DAN MINAT BELI PRODUK. 03(4), 945–959.
  • Ulfa, R., Ginting, N., Harahap, D. A., & Malik, M. (2023). Pengaruh Product Quality , Online Customer Review , dan Price Discount Terhadap Impulse Buying Pada Marketplace Shopee. 758–767.
  • Venia, M., & Marzuki, F. (2021.). ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IMPULSE BUYING (STUDI KASUS PADA GENERASI Z PENGGUNA E-COMMERCE) (Vol. 2).
  • Yudha, A. (2023). A Source Effect Theory Perspective on How Opinion Leadership, Parasocial Relationship, and Credibility Influencers Affect Purchase Intention. Jurnal Manajemen Teori Dan Terapan | Journal of Theory and Applied Management, 16(2), 240–253. https://doi.org/10.20473/jmtt.v16i2.48099

Penulis:
1.⁠ ⁠Feby Rahmawati
2. Khairunnisa Ardiyanti Labibah
3. Juliantino Ponco Nugroho
Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses