Bagi banyak pekerja di kota besar Indonesia, hari kerja sebenarnya tidak dimulai saat sampai di kantor, tetapi sejak keluar meninggalkan rumah. Perjalanan ke tempat kerja, apalagi jika menggunakan transportasi umum, sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tidak bisa dihindari. Jarak yang jauh, harga tempat tinggal yang makin mahal, dan lokasi kerja yang terpusat membuat banyak pekerja harus “berdamai” dengan commuting setiap hari.
Commuting sendiri dapat dipahami sebagai perjalanan pulang pergi dari rumah ke tempat kerja. Sekilas, hal ini terlihat hanya sebagai perpindahan tempat. Namun, jika dijalani setiap hari dengan kondisi padat, lama, dan terkadang tidak pasti, pengalaman ini ternyata memiliki dampak psikologis. Di sinilah topik ini menjadi relevan dalam psikologi kerja karena kondisi mental sebelum bekerja dapat memengaruhi performa sepanjang hari.
Di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, penggunaan transportasi umum seperti KRL, bus, atau moda transportasi lainnya telah menjadi pilihan utama bagi banyak pekerja. Tingginya jumlah pengguna setiap hari menunjukkan bahwa aktivitas commuting bukan lagi fenomena kecil, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dialami oleh jutaan orang. Kondisi ini membuat pengalaman selama perjalanan menjadi sesuatu yang penting untuk dipahami, terutama dari sisi psikologis.
Pengalaman perjalanan yang dilakukan setiap hari tentu tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap individu. Bagi sebagian orang, commuting mungkin terasa biasa saja. Namun, bagi sebagian lainnya, perjalanan tersebut dapat menimbulkan tekanan dan kelelahan sebelum aktivitas kerja dimulai. Dari kondisi inilah muncul pembahasan mengenai dampak psikologis yang dapat dialami pekerja selama melakukan commuting.
Dampak Psikologis Commuting
Salah satu konsep yang sering dibahas adalah commuting stress, yaitu stres yang muncul selama perjalanan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari berdesakan di transportasi umum, keterlambatan, hingga waktu tempuh yang panjang. Menariknya, penelitian dari Faisal dan Salendu (2024) menunjukkan bahwa yang paling berpengaruh bukan hanya kondisi padatnya, tetapi bagaimana individu mempersepsikan situasi tersebut. Artinya, pengalaman commuting sangat subjektif dan dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain, meskipun berada dalam kondisi yang sama.
Dari sudut pandang teori, commuting dapat dianggap sebagai job demand, yaitu tuntutan yang menguras energi fisik dan mental. Murphy et al. (2022) juga mengemukakan bahwa tuntutan dalam commuting berkaitan dengan meningkatnya stres dan menurunnya kesejahteraan. Artinya, bahkan sebelum mulai bekerja, energi seseorang bisa saja sudah terkuras lebih dahulu di jalan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan yang berulang dan berdampak pada kesehatan psikologis.
Dampaknya tidak berhenti sampai di situ. Pengalaman selama perjalanan dapat terbawa ke tempat kerja, yang dikenal sebagai efek spillover. Individu yang sudah merasa lelah atau kesal di jalan cenderung mengalami penurunan konsentrasi, motivasi, dan kualitas interaksi sosial di tempat kerja. Hal-hal kecil seperti mudah tersinggung, kurang fokus saat bekerja, atau sulit berinteraksi dengan rekan kerja dapat menjadi dampak lanjutan dari pengalaman commuting yang tidak menyenangkan.
Baca Juga: Siswa Stress karena Tugas yang Menggunung: Penyebab, Dampak, dan Solusi Efektif untuk Mengatasinya
Selain itu, dampak commuting juga dapat terlihat dalam perilaku sosial. Penelitian oleh Zefanya et al. (2025) menemukan bahwa semakin tinggi stres perjalanan seseorang, semakin rendah kecenderungannya untuk menolong orang lain secara spontan. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan yang dialami selama perjalanan tidak hanya berdampak pada individu secara personal, tetapi juga memengaruhi interaksi sosial di ruang publik.
Di sisi lain, persepsi terhadap kenyamanan juga berpengaruh. Pratiwi dan Amarul (2021) menemukan bahwa ketika individu merasa tidak nyaman secara psikologis, mereka cenderung kurang berminat menggunakan transportasi umum. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman commuting tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh faktor psikologis, seperti rasa aman dan nyaman selama perjalanan.
Menariknya, commuting tidak selalu berdampak negatif. Bagi sebagian orang, perjalanan justru dapat menjadi waktu untuk beristirahat sejenak atau mempersiapkan diri sebelum bekerja. Aktivitas sederhana seperti mendengarkan musik atau sekadar diam dapat membantu proses pemulihan psikologis. Dalam konteks ini, commuting dapat menjadi ruang transisi antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Upaya Mengelola Dampak Commuting
Commuting stress bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh organisasi. Meskipun terjadi di luar tempat kerja, dampaknya tetap memengaruhi performa karyawan secara keseluruhan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah penerapan fleksibilitas jam kerja sehingga pekerja dapat menghindari jam sibuk yang cenderung lebih melelahkan. Selain itu, sistem kerja jarak jauh (work from anywhere) juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi frekuensi perjalanan yang intens. Kebijakan seperti ini tidak hanya membantu mengurangi kelelahan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan karyawan.
Dari sisi individu, strategi coping juga berperan penting. Mengatur rutinitas perjalanan, memilih aktivitas yang membuat perjalanan lebih nyaman, serta melakukan teknik relaksasi sederhana dapat membantu mengurangi stres selama commuting. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan kecil ini dapat memberikan dampak yang cukup besar dalam menjaga kondisi psikologis sehari-hari.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Dari sudut pandang psikologi kerja, commuting stress bukan semata-mata masalah individu yang harus diselesaikan sendiri oleh pekerja. Organisasi memiliki peran besar dalam merespons fenomena ini. Beberapa langkah yang relevan antara lain menerapkan jam kerja fleksibel sehingga pekerja dapat menghindari jam sibuk, menyediakan opsi kerja dari mana saja pada hari-hari tertentu, atau memberikan subsidi transportasi.
Dari sisi individu, strategi seperti mengubah waktu perjalanan menjadi waktu transisi yang bermakna, entah dengan mendengarkan podcast, berlatih mindfulness ringan, atau sekadar mengatur napas, dapat membantu mengurangi dampak psikologis dari perjalanan yang panjang. Regulasi emosi dan manajemen stres yang baik menjadi bekal penting bagi pekerja urban.
Baca Juga: Fresh Start atau Fresh Stress? Ini Alasan Gen Z Harus Waspada Kesehatan Mental
Commuting bagi banyak pekerja Indonesia merupakan kebutuhan yang tidak terhindarkan dan membawa dampak psikologis yang nyata. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran psikologi kerja, tidak hanya untuk memahami masalah, tetapi juga mengubahnya menjadi kebijakan yang bermanfaat. Jika perjalanan saja sudah menguras energi mental, maka wajar apabila produktivitas dan kesejahteraan kerja ikut terdampak. Oleh karena itu, commuting seharusnya tidak lagi dianggap sebagai urusan di luar pekerjaan, melainkan bagian penting yang perlu diperhatikan dalam manajemen sumber daya manusia.
Penulis:
1. Azzahra Zhifa Putri Syahrina
2. Delfina Fernanda
3. Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana
Dosen Pengampu: Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Faisal, F. F., & Salendu, A. (2024). Peranan pengalaman kesesakan terhadap stres perjalanan pada pekerja pengguna KRL Commuter Line. Jurnal Diversita, 10(2), 171–175. https://doi.org/10.31289/diversita.v10i2.12387
Murphy, L. D., Cobb, H. R., Rudolph, C. W., & Zacher, H. (2022). Commuting demands and appraisals: A systematic review and meta-analysis of strain and wellbeing outcomes. Organizational Psychology Review, 13(1), 11–43. https://doi.org/10.1177/20413866221131404
Pratiwi, N. O., & Amarul, A. (2021). Persepsi risiko fisik dan psikologis terhadap minat menggunakan commuter line di Indonesia. Jurnal Inovasi dan Kreativitas (JIKa), 1(1), 9–14. https://doi.org/10.30656/jika.v1i1.3285
Syahidillah, A., & Archianti, P. (2019). Hubungan commuting stress dengan keterikatan kerja pada karyawan. Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris, 5(2), 55–64. https://doi.org/10.22236/jippuhamka.v5i2.9256
Zefanya, D. S., Nurwianti, F., Iman, M. F., Putri, D. A. D., Nu’ma, F. A., & Damas, R. R. (2025). Masyarakat kota enggan menolong? Pengaruh commuting stress terhadap spontaneous helping behavior. Universitas Indonesia. https://scholar.ui.ac.id/en/publications/masyarakat-kota-enggan-menolong-pengaruh-commuting-stress-terhada/
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













