Benteng yang Menandai Pusat Awal Mataram
Dahulu, Benteng Cepuri mengelilingi bagian utama Keraton Mataram di Kotagede. Masyarakat menggunakan istilah cepuri untuk menyebut tembok pertahanan yang melindungi kawasan inti keraton. Tembok ini sekaligus membagi ruang kerajaan menjadi dua bagian.
Keluarga kerajaan tinggal dan menjalankan pemerintahan di kawasan dalam yang disebut jeron beteng. Sementara itu, masyarakat tinggal di kawasan luar yang disebut jaba beteng. Dengan demikian, benteng ini juga menunjukkan cara masyarakat Mataram menata pusat pemerintahannya.
Kini, Anda tidak akan menemukan benteng utuh dengan gerbang besar. Perubahan fungsi lahan dan perkembangan permukiman telah memecah Benteng Cepuri menjadi beberapa bagian. Sudut tenggaranya membentuk lengkungan yang masyarakat kenal sebagai Bokong Semar.
Bagian tersebut beserta sebagian dinding selatan berada di Singosaren I, Kalurahan Singosaren, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Sementara itu, Watu Gilang, bagian benteng utara, dan sejumlah jejak lain berada di Purbayan, Kotagede, Kota Yogyakarta.
Meskipun kini terpisah oleh batas administratif, seluruh jejak tersebut tetap membentuk satu kesatuan sejarah Keraton Mataram lama.
Karena sisa benteng tersebar di beberapa tempat, berjalan kaki menjadi cara terbaik untuk menikmatinya. Susuri jalan kampung secara perlahan, perhatikan dinding tua yang muncul di antara rumah, kemudian amati perubahan tinggi permukaan tanah yang menandai bekas parit.
Setiap bagian menyampaikan potongan cerita yang berbeda. Dengan cara ini, Anda tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memahami susunan kota lama yang jejaknya masih terasa hingga sekarang.

Sejarah Benteng Cepuri dan Perkembangan Kotagede
Untuk memahami cerita di balik Benteng Cepuri, mari kembali ke akhir abad ke-16. Pada masa itu, Mataram masih berstatus sebagai tanah perdikan di bawah Kesultanan Pajang. Ki Ageng Pemanahan membuka dan mengelola wilayah tersebut, kemudian menyerahkannya kepada putranya, Danang Sutawijaya.
Setelah menjadi penguasa Mataram dengan gelar Panembahan Senopati, Sutawijaya memilih Kotagede sebagai pusat pemerintahan.
Ia lalu memperkuat kawasan tersebut dengan benteng dan parit pertahanan. Keputusan inilah yang menandai awal perkembangan Kotagede sebagai pusat Mataram.
Data Cagar Budaya DIY mengaitkan jagang atau parit pertahanan Cepuri di Singosaren dengan Panembahan Senopati dan mencatat tahun 1594 sebagai tahun pembangunannya.
Babad Momana dan Babad Tanah Jawi juga memuat cerita tentang pembangunan benteng beserta paritnya yang lebar.
Jagang mengitari sisi barat, selatan, dan timur Cepuri. Pada masa itu, parit yang berisi air membantu menghambat pihak yang hendak mendekati keraton.
Ketika berdiri di dekat bekas jagang hari ini, cobalah membayangkan bentang pertahanan tersebut sebelum jalan dan rumah memenuhi kawasan ini.
Arkeolog Sugeng Riyanto dan M. Chawari menggambarkan Cepuri sebagai kawasan berbentuk persegi panjang yang tidak sepenuhnya simetris.
Bagian dalamnya mencakup area sekitar 6,5 hektare. Di ruang inilah raja tinggal dan menjalankan pemerintahan.
Nama Kampung Dalem dan Kampung Kedhaton yang masih digunakan warga turut membantu kita mengenali fungsi lama kawasan tersebut.
Dengan demikian, nama kampung tidak sekadar menunjukkan lokasi, tetapi juga menyimpan petunjuk mengenai tata ruang pada masa Mataram.
Kotagede berfungsi sebagai pusat pemerintahan pada masa Panembahan Senopati dan sebagian masa Sultan Agung.
Ketika penguasa Mataram memindahkan pusat kerajaan, kehidupan di dalam Cepuri pun berubah. Masyarakat mulai membangun rumah, menanam kebun, membuka jalan, serta menggunakan lahan untuk makam dan fasilitas umum.
Pada periode tertentu, warga juga memanfaatkan batu benteng sebagai bahan bangunan. Perubahan tersebut membuat bentuk Cepuri semakin sulit terlihat secara utuh. Namun, jejak benteng tetap bertahan di tengah permukiman.
Hubungan antara situs dan kehidupan warga inilah yang membuat Benteng Cepuri istimewa. Situs tersebut tidak berdiri sendiri di balik pagar, tetapi tumbuh bersama kampung di sekitarnya.
Para peneliti menggunakan istilah living heritage untuk menjelaskan warisan masa lalu yang terus hadir dan berubah bersama masyarakat.
Kajian dalam Journal of Heritage Tourism menunjukkan bahwa warga, kegiatan ekonomi, cerita lokal, dan bangunan bersejarah secara bersama-sama membentuk lanskap budaya Kotagede.
Oleh karena itu, upaya menjaga Cepuri perlu merawat struktur fisiknya sekaligus menghormati kehidupan masyarakat di sekelilingnya.
Daya Tarik yang Tidak Berhenti pada Reruntuhan
Mulailah penjelajahan dari Bokong Semar, bagian Benteng Cepuri yang paling mudah dikenali. Berbeda dari tiga sudut lain yang lebih tajam, sudut tenggara benteng ini membentuk lengkungan.
Warga mengaitkan bentuk tersebut dengan bagian belakang Semar, tokoh bijaksana dalam pewayangan Jawa.
Selain membuatnya mudah diingat, bentuk lengkung ini juga membantu kita memahami bahwa perancang Cepuri tidak membangun benteng sebagai persegi panjang yang sepenuhnya simetris.
Setelah mengamati Bokong Semar, arahkan pandangan ke bagian luar dinding. Anda akan menemukan area yang lebih rendah dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya.
Di sanalah jagang dahulu membentang. Kini, warga memanfaatkan sebagian bekas parit sebagai jalan, lapangan, ladang, dan saluran air.
Meskipun air tidak lagi mengelilingi benteng, kontur tanah masih menyimpan bentuk lamanya. Berhentilah sejenak untuk membayangkan benteng, parit, dan kesibukan pusat kerajaan yang pernah memenuhi kawasan ini.
Benteng Cepuri juga menyimpan cerita yang terus dituturkan warga dari generasi ke generasi. Di sisi utara, masyarakat mengenal sebuah celah sebagai Jebolan atau Terobosan Raden Rangga.
Menurut cerita setempat, Raden Rangga adalah putra Panembahan Senopati yang memiliki kesaktian luar biasa. Salah satu versi mengisahkan bahwa ia menjebol dinding benteng ketika sedang marah.
Versi lain menyebut tubuhnya membentur tembok setelah Panembahan Senopati menendangnya. Tidak ada bukti yang dapat memastikan kebenaran kedua kisah tersebut.
Namun, legenda itu memperlihatkan cara masyarakat merawat ingatan tentang Benteng Cepuri. Oleh sebab itu, nikmatilah kisah Raden Rangga sebagai tradisi lisan, bukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Selain menawarkan pengalaman wisata, Benteng Cepuri juga berfungsi sebagai ruang belajar terbuka. Dalam artikel yang terbit pada jurnal Harmony yang terakreditasi SINTA 4, Arrazaq, Hasan, dan Tasnur menjelaskan bahwa situs ini dapat membantu pelajar memahami sejarah masa Islam, tata kota, teknologi pertahanan, riwayat bencana, dan pelestarian warisan budaya.
Dengan mengunjungi Benteng Cepuri secara langsung, pembaca tidak hanya menemukan sejarah di dalam buku, tetapi juga melihat bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan meninggalkan jejak di tengah kehidupan modern.
Walaupun demikian, Anda tidak harus menjadi pencinta sejarah untuk menikmati kawasan ini. Gang yang tenang, tekstur batu tua, dan suasana kampung membuat perjalanan terasa dekat dan akrab.
Berjalanlah tanpa terburu-buru. Sesekali, Anda akan melihat dinding benteng muncul di samping rumah atau halaman warga.
Pengalaman seperti ini jarang ditemukan di destinasi wisata yang besar dan terpusat. Karena kawasan tersebut tetap menjadi ruang hidup masyarakat, jagalah sikap dan hormati privasi warga selama berkunjung.

Merangkai Wisata Sejarah, Religi, Budaya, dan Kuliner
Agar kunjungan terasa lebih lengkap, jadikan Benteng Cepuri sebagai awal perjalanan mengelilingi Kotagede dan Singosaren.
Datanglah pada pagi hari ketika udara masih nyaman dan jalan kampung belum terlalu ramai. Mulailah dari Bokong Semar, susuri bagian dinding yang tersisa, lalu amati bekas jagang di sekitarnya.
Setelah memahami bentuk pertahanan keraton, lanjutkan perjalanan menuju Kampung Dalem dan Watu Gilang.
Dari Bokong Semar, Anda dapat berjalan kaki atau berkendara singkat menuju Watu Gilang. Di dalam sebuah bangunan kecil, terdapat batu andesit pipih yang diduga berkaitan dengan tempat duduk Panembahan Senopati.
Perhatikan pula tulisan pendek dalam bahasa Latin, Prancis, Belanda, dan Italia pada permukaan batu. Watu Gatheng dan sebuah tempayan batu melengkapi tinggalan yang tersimpan di tempat ini.
Setelah melihat benda-benda tersebut, cerita tentang pusat pemerintahan Mataram akan terasa lebih nyata daripada sekadar nama dalam buku sejarah.
Setelah mengenal sejarah pemerintahan Mataram melalui Cepuri dan Watu Gilang, lanjutkan perjalanan menuju Masjid Gedhe Mataram.
Masjid ini menjadi salah satu bagian kota lama yang masih berdiri relatif utuh. Gerbang, tembok keliling, halaman, dan bangunan utama menghadirkan suasana yang teduh. Duduklah sejenak sambil memperhatikan susunan ruangnya.
Di tempat ini, Anda dapat melihat hubungan antara agama, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat sejak masa awal Mataram.
Jika ingin memperdalam pengalaman religi, berjalanlah menuju Kompleks Makam Raja-Raja Mataram dan Sendang Seliran di belakang masjid. Kompleks ini menjadi tempat peristirahatan sejumlah tokoh awal Mataram, termasuk Panembahan Senopati dan Ki Ageng Pemanahan.
Kenakan pakaian yang sopan, jaga suara, dan hormati peziarah yang sedang berdoa. Bagian tertentu mewajibkan pakaian adat dan hanya dapat dikunjungi pada waktu tertentu.
Oleh karena itu, periksa jadwal terbaru sebelum datang. Dengan sikap yang tepat, Anda dapat memahami nilai sejarah sekaligus menjaga kesakralan tempat tersebut.
Sesudah menikmati suasana masjid dan makam, arahkan langkah menuju Kampung Alun-Alun yang juga dikenal sebagai Between Two Gates. Dua gerbang mengapit sebuah lorong di antara deretan rumah tradisional.
Saat menyusurinya, Anda dapat mengamati bentuk rumah Jawa dan pola permukiman lama dari jarak dekat. Lorong tersebut tetap menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggal. Karena itu, berjalanlah dengan tenang dan mintalah izin jika ingin memotret bagian rumah yang bersifat pribadi.
Perjalanan berikutnya membawa Anda ke Pasar Legi Kotagede. Selama berabad-abad, pasar ini telah menghidupkan kegiatan ekonomi kawasan. Singgahlah untuk melihat aktivitas pedagang atau mencicipi jajanan setempat.
Setelah itu, jelajahi sentra kerajinan perak yang menjadi salah satu identitas Kotagede. Anda dapat menemukan berbagai perhiasan, miniatur, dan benda hias. Beberapa tempat juga memperlihatkan proses pembuatannya.
Dengan membeli produk langsung dari pelaku usaha lokal, Anda turut memperluas manfaat pariwisata bagi masyarakat.
Menjelang sore, kembalilah ke arah Singosaren dan akhiri perjalanan di Lokanusa Kotagede. Suasana rumah Jawa yang asri, hidangan Nusantara, serta pilihan teh dan minuman rempah menjadikannya tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Setelah seharian berjalan, nikmati makanan sambil mengingat kembali berbagai cerita yang telah ditemui. Perjalanan ini mempertemukan Anda dengan benteng dan parit, pusat kerajaan, masjid dan makam, lorong kampung, serta kerajinan warga.
Dengan demikian, kunjungan berakhir sebagai rangkaian pengalaman yang utuh, bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Cara Menuju Benteng Cepuri dan Waktu Berkunjung
Sepeda motor, sepeda, dan transportasi daring menjadi pilihan yang praktis untuk melewati jalan kampung yang sempit. Jika membawa mobil, parkirlah di tempat yang diperbolehkan, kemudian lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Cara ini memberi Anda kesempatan untuk mengamati hubungan antara dinding benteng, bekas jagang, dan rumah di sekitarnya. Selain itu, kendaraan Anda tidak akan menghalangi akses keluar masuk warga.
Pagi dan sore menjadi waktu yang nyaman untuk menjelajahi kawasan. Kenakan pakaian yang sopan dan alas kaki yang sesuai untuk berjalan. Selama berkunjung, jangan memanjat dinding, memindahkan batu, mencoret struktur, atau meninggalkan sampah.
Jagalah akses menuju rumah warga dan mintalah izin sebelum memotret seseorang. Sikap sederhana tersebut memungkinkan kita menikmati situs tanpa mengganggu kehidupan kampung.
Sebelum memasuki Watu Gilang atau Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, periksa kembali jadwal kunjungan dan ketentuan yang berlaku.
Jam buka, kehadiran juru kunci, dan aturan berpakaian dapat berubah. Persiapan yang baik akan membuat perjalanan lebih nyaman sekaligus menunjukkan penghargaan kepada masyarakat yang merawat situs.
Menemukan Sisi Lain Yogyakarta di Singosaren
Jangan datang ke Benteng Cepuri dengan membayangkan tembok raksasa yang masih berdiri sempurna. Datanglah dengan rasa ingin tahu.
Potongan dinding, cekungan bekas parit, nama kampung, benda arkeologis, dan cerita warga akan membantu Anda menyusun gambaran Kotagede pada masa lalu.
Di situlah daya tarik Cepuri. Sejarah tidak tampil melalui kemegahan bangunan, tetapi hadir perlahan di tengah kehidupan sehari-hari.
Bagi pencinta sejarah, kawasan ini menawarkan kesempatan untuk mendekati pusat awal Mataram. Bagi peziarah, Masjid Gedhe dan Makam Raja-Raja Mataram menyediakan ruang yang tenang untuk mengenang para pendiri kerajaan.
Sementara itu, gang kampung, pasar, kerajinan perak, dan Lokanusa tetap memberikan pengalaman yang menarik bagi pengunjung yang ingin berjalan santai. Dengan beragam pilihan tersebut, setiap orang dapat menemukan alasan untuk datang.
Oleh karena itu, luangkan waktu lebih dari sekadar singgah dan mengambil foto. Mulailah dari Bokong Semar, ikuti jejak Benteng Cepuri, lalu biarkan jalan di Kotagede membawa Anda menuju Watu Gilang, masjid, makam, kampung pusaka, pasar, dan tempat bersantap.
Setelah menyelesaikan perjalanan, Anda mungkin menyadari bahwa pesona Singosaren tidak hanya berasal dari struktur yang masih berdiri, tetapi juga dari cerita yang terus dihidupkan oleh masyarakat.
Referensi
[1] Riyanto, S., & Chawari, M. (2013). Cepuri di Kotagede: Bekas inti Keraton Mataram yang semakin terlupakan. Jurnal Kalijaga, 2, 52–77.
[2] Arrazaq, N. R., Hasan, R., & Tasnur, I. (2023). Benteng Cepuri Kotagede sebagai sumber belajar sejarah dalam mata pelajaran IPS. Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN, 8(1), 69–74. https://doi.org/10.15294/harmony.v8i1.59740
[3] Rindrasih, E., & Witte, P. A. (2021). Reinventing the post-disaster cultural landscape of heritage tourism in Kotagede Yogyakarta, Indonesia. Journal of Heritage Tourism, 16(2), 136–150. https://doi.org/10.1080/1743873X.2020.1781870
[4] Dinas Kebudayaan DIY. (n.d.). Jagang Cepuri Keraton Kotagede. Sistem Informasi Cagar Budaya Jogja. https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/3954/displayrecords-i-nama-warisan
[5] Dinas Kebudayaan DIY. (n.d.). Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Sistem Informasi Cagar Budaya Jogja. https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/915/kawasan-cagar-budaya-kotagede
[6] Dinas Kebudayaan DIY. (n.d.). Watu Gilang Kotagede. Sistem Informasi Cagar Budaya Jogja. https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/4376/displayrecords-i-nama-warisan
[7] Dinas Pariwisata DIY. (2020, 26 Maret). Kampung Wisata Purbayan. Visiting Jogja. https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/25313/kampung-wisata-purbayan/
[8] Pemerintah Kabupaten Bantul. (n.d.). Tata Cara Berkunjung ke Makam Raja Mataram Kotagede. https://makamkotagede.bantulkab.go.id/page/detail/2022000021/tata-cara-berkunjung.html
[9] Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (n.d.). Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN. Science and Technology Index. https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/detail?id=630
Penulis: Nawfal Aulia Luthfurrahman
(Universitas Gadjah Mada)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















