Kegiatan sosialisasi pemanfaatan limbah cangkang rajungan sebagai pupuk organik cair (POC) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 49 di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, menjadi salah satu upaya nyata dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah berbasis lingkungan. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 30 warga yang antusias untuk belajar memanfaatkan limbah hasil laut menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Aengdake, Bapak Edi Sutikno, S.E., yang menyampaikan apresiasi terhadap program kerja mahasiswa KKN Kelompok 49. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Koordinator Desa, Laili, yang turut mengajak warga untuk mengikuti kegiatan dengan serius hingga selesai.
Pemaparan Materi dan Praktik Pembuatan POC
Memasuki inti kegiatan, pemaparan materi disampaikan oleh mahasiswa KKN Kelompok 49, Laras dan Emi. Keduanya menjelaskan secara sistematis mengenai pupuk organik cair berbahan dasar limbah cangkang rajungan, mulai dari pengertian, manfaat, hingga tahapan pembuatannya. Proses yang dijelaskan meliputi pengolahan awal cangkang, pencampuran bahan, hingga proses fermentasi.
Selama ini, cangkang rajungan kerap dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki manfaat dan hanya berakhir sebagai sampah. Padahal, kandungan kalsium serta nutrisi di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Melalui inovasi ini, limbah yang sebelumnya terabaikan dapat diolah menjadi produk yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomis.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kelompok 49 menyampaikan materi secara sistematis, mulai dari pengenalan POC, manfaatnya bagi tanaman, hingga tahapan pembuatannya. Proses yang dijelaskan meliputi pengolahan awal cangkang rajungan, pencampuran bahan, hingga tahap fermentasi.
Materi disampaikan oleh Laras dan Emi menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan praktik langsung. Warga diajak untuk melihat secara nyata proses pembuatan POC sehingga tidak hanya memahami secara teoritis, tetapi juga memiliki gambaran untuk mempraktikkannya secara mandiri di rumah.
Antusiasme Masyarakat dan Sesi Diskusi
Antusiasme masyarakat terlihat dari berbagai tanggapan dan pertanyaan yang muncul selama kegiatan berlangsung. Salah satu warga yang berprofesi sebagai petani mengungkapkan pengalamannya dalam memanfaatkan limbah cangkang rajungan, “Saya sudah pernah mencoba yang dibakar, bukan yang cair, dan memang hasilnya bagus untuk tanaman.”
Praktik tersebut dilakukan dengan cara membakar cangkang rajungan hingga menjadi abu, kemudian abu tersebut disebarkan ke lahan pertanian sebagai pupuk alami.
Dalam sesi diskusi, warga juga menanyakan manfaat dan potensi efek samping dari pengolahan limbah cangkang rajungan menjadi POC. Menanggapi hal tersebut, pemateri dari tim KKN Kelompok 49 menjelaskan bahwa POC berbahan dasar cangkang rajungan yang kaya kitosan memiliki banyak manfaat, di antaranya mempercepat pertumbuhan tanaman, memperkuat struktur fisik tanaman, serta meningkatkan ketahanan terhadap serangan jamur.
Selain itu, pemanfaatan limbah ini juga menjadi solusi ekologis dalam mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya di wilayah pesisir.
Namun demikian, pemateri juga menekankan bahwa proses pengolahan perlu dilakukan dengan benar. Fermentasi yang tidak sempurna dapat menimbulkan bau menyengat, sementara penggunaan bahan kimia dalam proses ekstraksi kitosan harus dinetralkan terlebih dahulu agar tidak mencemari lingkungan. Selain itu, penggunaan POC yang terlalu pekat atau berlebihan dapat memengaruhi pH tanah serta berpotensi merusak tanaman, sehingga diperlukan pengenceran dan penggunaan yang tepat.
POC sebagai Alternatif Pupuk yang Berkelanjutan
Pertanyaan lain yang muncul berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi penggunaan POC dibandingkan dengan pupuk kimia. Menanggapi hal tersebut, tim KKN Kelompok 49 menjelaskan bahwa pupuk kimia umumnya memberikan hasil yang lebih cepat dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan jangka panjang dapat berdampak pada penurunan kualitas tanah.
Sementara itu, POC memiliki keunggulan dalam menjaga kesuburan tanah serta lebih ramah lingkungan, meskipun membutuhkan waktu lebih lama karena melalui proses fermentasi.
Dari segi efisiensi, pupuk kimia dinilai lebih praktis dalam penggunaan, tetapi cenderung memiliki biaya yang lebih tinggi. Sebaliknya, POC dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis karena memanfaatkan limbah yang tersedia di lingkungan sekitar. Selain itu, penggunaan POC tidak merusak unsur hara tanah sehingga lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mampu mengurangi limbah lingkungan, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di Desa Aengdake.
Kolaborasi antara mahasiswa KKN Kelompok 49 dan masyarakat diharapkan dapat terus terjalin dan berkembang sehingga inovasi sederhana seperti pemanfaatan limbah cangkang rajungan ini mampu memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.

Penulis:
– Sabrina Husnatin Pitoyo (Teknik Mekatronika)
– Nur Lailia Ilhami (Sistem Informasi)
– Nida ul Syofyun Nahidoh (Akuntansi)
– Hera Laras Trinita Ningtyas (Agroekoteknologi)
– Emi Firda Aulia (Manajemen Sumber Daya Perairan)
– Muhammad Hilmy Zhafran Al-Mahdy (Agribisnis)
– Wahyuni Salamah (Teknologi Industri Pertanian)
– Muhammad Zakiy (Sosiologi)
– Rifkhi Risma Erfina Galant (Agribisnis)
– Rahel Amanda Manullang (Psikologi)
– Puji Omega Rahayu (Sastra Inggris)
– Ilmi Laila Purwanti (Sosiologi)
– Moch. Azka Tsalzady Lubis (Sastra Inggris)
– Dilla Rachma Ayu (Akuntansi)
– Abidur Rahman (Teknologi Industri Pertanian)
Kelompok KKN 49 Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep
Dosen Pengampu: Dwi Kuswanto, S.Pd., M.T.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














