CIREBON – Di Jalan Kanggraksan, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, berdiri sebuah usaha percetakan yang telah malang melintang melayani masyarakat sejak tahun 2011. Percetakan Elang Sakti, demikian nama usaha itu dikenal, menjadi salah satu rujukan warga sekitar untuk urusan cetak-mencetak, mulai dari banner, spanduk, brosur, kartu nama, undangan, stiker, hingga kitab Yasin.
Pemilik usaha, Ibu Rosidah, mengaku senang karena usahanya yang telah berjalan lebih dari satu dekade ini akhirnya mulai merambah promosi digital. “Selama ini kami berjalan apa adanya, mengandalkan pelanggan lama. Baru kali ini ada yang membantu kami untuk serius mengurus Instagram,” ujarnya.
Usaha ini menjadi objek observasi dan pendampingan tiga mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon, yaitu Nihaya Ash’ari, Inggi Palani, dan Hilda Gardis Lenggani, sebagai bagian dari implementasi mata kuliah kewirausahaan yang diampu oleh Lisa Harry Sulistiyowati, S.E., M.M.
Kegiatan berlangsung selama kurang lebih tiga minggu sejak awal Juni, dan dibimbing langsung di lapangan oleh Nurhana Dhea Parlina, S.E., M.M., yang mengarahkan mahasiswa agar tidak sekadar mengamati, tetapi juga turun tangan membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi pelaku usaha.
Selama proses observasi, mahasiswa menggali cerita di balik berdirinya Percetakan Elang Sakti. Usaha ini lahir dari tingginya kebutuhan masyarakat terhadap jasa percetakan yang tidak pernah benar-benar surut, meski teknologi digital terus berkembang.
Pelajar dan mahasiswa masih memerlukan jasa cetak untuk tugas, makalah, hingga skripsi. Pelaku usaha membutuhkan banner dan kartu nama untuk berpromosi, sementara masyarakat umum masih mencetak undangan dan buku Yasin untuk berbagai keperluan. Dari sanalah pemilik usaha melihat peluang dan memutuskan mendirikan Percetakan Elang Sakti.
Kini, usaha tersebut dijalankan oleh pemilik bersama satu orang karyawan. Meski tenaga kerjanya masih terbatas hanya dua orang, roda operasional tetap berjalan lancar berkat pembagian tugas yang jelas, mulai dari menerima pesanan, membuat desain, mengoperasikan mesin cetak, hingga proses finishing seperti pemotongan, laminasi, dan penjilidan. Peralatan yang dimiliki pun cukup memadai, meliputi komputer, printer, mesin potong, dan mesin laminating.
Dari sisi permodalan, mahasiswa mencatat bahwa modal awal usaha ini berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta.
Dengan target pendapatan harian sekitar Rp2 juta, keuntungan bersih yang diperoleh diperkirakan mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta setiap bulan setelah dikurangi biaya operasional seperti tinta, kertas, listrik, dan internet.
Angka ini menunjukkan bahwa usaha percetakan skala kecil seperti Elang Sakti tetap memiliki prospek menjanjikan apabila dikelola dengan disiplin.
Namun, di balik capaian tersebut, hasil observasi mahasiswa menemukan satu titik lemah yang cukup mencolok, yaitu strategi promosi. Selama lebih dari satu dekade beroperasi, Percetakan Elang Sakti nyaris sepenuhnya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan pelanggan tetap.
Cara ini memang terbukti efektif menjaga loyalitas pelanggan lama, tetapi belum cukup ampuh untuk menjangkau calon pelanggan baru di luar lingkaran tersebut, apalagi di tengah makin banyaknya percetakan lain yang lebih dulu aktif berpromosi secara digital.
Menangkap persoalan itu, mahasiswa menawarkan sejumlah opsi pendampingan kepada pemilik usaha. Setelah berdiskusi, disepakati bahwa kebutuhan paling mendesak adalah pendampingan promosi daring, dengan Instagram sebagai platform yang dipilih karena penggunanya luas dan biayanya minim.
Pendampingan pun dimulai dari hal paling dasar, yakni membuat akun Instagram bisnis dengan nama yang mudah diingat dan selaras dengan nama usaha.
Mahasiswa turut mendampingi pelengkapan profil akun, mulai dari logo usaha, alamat lengkap, nomor WhatsApp yang aktif, jam operasional, hingga deskripsi singkat layanan.
Langkah ini penting agar calon pelanggan yang menemukan akun tersebut langsung mendapat gambaran jelas mengenai usaha yang ditawarkan.
Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga memberikan arahan mengenai jenis konten yang sebaiknya diunggah secara rutin, seperti foto hasil cetakan, dokumentasi proses pengerjaan, testimoni pelanggan, hingga informasi promo.
Fitur-fitur Instagram seperti Stories, Reels, dan Highlights pun diperkenalkan satu per satu: Stories untuk aktivitas harian, Reels untuk menampilkan proses produksi secara lebih menarik, dan Highlights untuk menyimpan informasi penting seperti daftar layanan dan kontak usaha agar mudah diakses kapan saja.
Sebagai pelengkap strategi, mahasiswa turut menyarankan penggunaan tagar (hashtag) yang relevan dengan bidang usaha, seperti #PercetakanCirebon, #BannerCirebon, #SpandukCirebon, dan #PercetakanElangSakti, serta mencantumkan lokasi usaha pada setiap unggahan agar lebih mudah ditemukan melalui pencarian media sosial maupun Google Maps.
Dari sisi analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT), mahasiswa menyimpulkan bahwa kekuatan utama Percetakan Elang Sakti terletak pada kecepatan pelayanan, kelengkapan produk, dan harga yang kompetitif.
Kelemahannya terletak pada keterbatasan modal dan jumlah tenaga kerja, yang berpotensi menghambat kapasitas produksi saat pesanan membeludak.
Di sisi lain, peluang usaha masih terbuka lebar mengingat kebutuhan masyarakat terhadap jasa cetak belum surut, sementara ancaman datang dari persaingan usaha sejenis yang lebih gesit memanfaatkan media digital.
Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang tidak sepenuhnya bisa didapat di ruang kelas.
Mereka belajar memahami cara sebuah UMKM dikelola dari hulu ke hilir, sekaligus merasakan langsung pentingnya inovasi, pelayanan yang baik, dan pemanfaatan teknologi digital sebagai strategi bertahan dan berkembang.
Salah satu anggota kelompok, Nihaya Ash’ari, mengatakan bahwa tiga minggu pendampingan mengajarkan hal yang tidak selalu didapat dari teori di kelas.
“Kami jadi tahu bahwa membuat UMKM go digital itu bukan cuma soal bikin akun Instagram, tapi juga soal membangun kepercayaan pemilik usaha untuk mau mencoba hal baru,” katanya.
Dengan pendampingan yang telah diberikan, Percetakan Elang Sakti kini memiliki modal awal untuk melangkah ke ranah promosi digital yang sebelumnya belum pernah disentuh.
Harapannya, langkah kecil ini dapat menjadi titik balik bagi usaha yang telah bertahan lebih dari satu dekade tersebut untuk menjangkau pasar yang lebih luas, tanpa kehilangan kualitas dan keramahan pelayanan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Kolaborasi antara kampus dan pelaku UMKM semacam ini menunjukkan bahwa ilmu kewirausahaan yang dipelajari di ruang kuliah dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata di lapangan.
Ke depan, pendampingan serupa diharapkan terus berlanjut dan menyasar lebih banyak UMKM lain di Kota Cirebon, tidak hanya pada aspek promosi digital, tetapi juga penguatan manajemen keuangan dan pengembangan produk.
Penulis:
– Nihayah Ash’ari 123020309
– Hilda Gardis Lenggani 123020315
– Inggi Palani 123020316
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Swadaya Gunung Jati
Dosen Pembimbing : Nurhana Dhea Parlina, S.E., M.M.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













