Perkembangan zaman yang kian pesat telah membawa perubahan besar pada cara masyarakat kita menikmati waktu luang. Saat ini, Generasi Z telah tumbuh menjadi kelompok wisatawan yang memiliki pengaruh cukup besar di sektor pariwisata. Namun, menarik minat generasi muda ini ternyata membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda dari masa-masa sebelumnya. Jika dahulu keindahan alam atau fasilitas fisik saja sudah cukup untuk mengundang banyak pengunjung, kini cara pengelola tempat wisata menyampaikan pesan atau berkomunikasi menjadi kunci penentu yang tidak kalah pentingnya.
Generasi Z tumbuh bersama kemajuan teknologi komunikasi yang pesat, sehingga mereka terbiasa mencari inspirasi perjalanan melalui layar telepon genggam. Mereka sudah jarang bergantung pada brosur cetak atau penawaran agen perjalanan konvensional. Sebaliknya, informasi tersebut mengalir secara alami melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, maupun YouTube. Bagi mereka, sebuah tempat wisata bukan sekadar lokasi untuk bersinggah, melainkan sebuah pengalaman berharga yang memiliki makna. Oleh karena itu, cara pihak pengelola merangkai cerita dan merancang komunikasi pariwisata yang baik menjadi sangat berarti untuk menyentuh hati para generasi muda ini.
Lebih dari sekadar promosi yang gencar, anak-anak muda saat ini sangat menghargai kejujuran dalam berkomunikasi. Mereka cenderung kurang nyaman dengan bahasa iklan yang terlalu memaksa atau berlebihan. Sebuah destinasi pariwisata justru akan lebih dihargai jika mampu menceritakan nilai-nilai baik yang mereka pegang secara lisan maupun tertulis di media sosial. Misalnya, menyampaikan dengan santun bagaimana tempat tersebut turut menjaga kelestarian lingkungan alam sekitar atau membantu perekonomian warga desa setempat. Pendekatan komunikasi yang menonjolkan kepedulian sosial semacam ini terbukti jauh lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional dan rasa hormat antara tempat wisata dengan para pengunjung muda.
Selain itu, keterbukaan informasi juga menjadi unsur yang sangat diutamakan di era keterbukaan ini. Sebelum merencanakan keberangkatan, Generasi Z akan melakukan pencarian informasi yang cukup mendalam. Mereka berharap apa yang ditampilkan dalam materi promosi pariwisata sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Apabila memang terdapat fasilitas yang sedang diperbaiki atau ada kekurangan tertentu, alangkah baiknya jika pihak pengelola menyampaikannya secara transparan daripada memberikan gambaran sempurna yang berujung pada kekecewaan. Sikap saling terbuka dan kesediaan pengelola untuk mendengarkan masukan dengan ramah justru akan menumbuhkan rasa saling percaya yang kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah destinasi wisata di masa kini sangat bergantung pada cara kita menjalin interaksi dan komunikasi. Anak-anak muda cenderung lebih mempercayai ulasan jujur dari sesama pengunjung yang menceritakan pengalaman nyata mereka, dibandingkan tayangan iklan komersial semata. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata telah bergeser dari sekadar pemberitahuan satu arah, menjadi sebuah dialog dua arah yang hangat dan saling menghargai. Memajukan pariwisata bukan lagi sekadar memoles keindahan fisik, melainkan tentang bagaimana kita merajut cerita yang jujur serta menyambut generasi masa depan dengan bahasa komunikasi yang santun dan menginspirasi.
Penulis:
– Aditya Rasyid Wicaksono
– Daffa Hilmi Rabbani
– Amar Zubaeri
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












