Sebuah kawasan wisata alam bernama Rojo Camp yang terletak di desa Gadingkulon Kecamatan Dau, dulunya merupakan area perkebunan yang kini telah berubah menjadi tempat berkemah favorit warga sekitar Malang dan Kota Batu. Kawasan perkemahan ini baru resmi menerima pengunjung setelah pandemi Covid-19 berakhir dan belum genap tiga tahun beroperasi secara ramai.
Hal itu diungkapkan Agil, admin Rojo Camp, saat ditemui di lokasi. Menurut Agil, proses pembebasan lahan untuk kawasan ini berlangsung sekitar tahun 2017-2018. Setelah pengosongan lahan, kawasan tersebut sempat memasuki masa persiapan panjang sampai akhirnya pandemi Covid-19 melanda, sehingga praktis belum menerima pengunjung sama sekali selama masa pandemi berlangsung.
“Kalau pengunjung pertama itu setelah Covid,” kata Agil. Ia menyebut lonjakan kunjungan justru mulai terasa signifikan pada rentang 2022-2023, ketika kawasan itu kerap penuh, terutama saat momen tahun baru dan hari libur panjang.
Rojo Camp sendiri bukan milik perorangan, melainkan dikelola oleh kelompok tani hutan yang beranggotakan petani kopi dan sayur di wilayah hutan setempat. Agil mengungkapkan, kelompok ini dulunya beranggotakan lebih dari 20 orang, namun kini hanya tersisa empat orang yang aktif mengelola.
Selain area untuk berkemah, di sekitar Rojo Camp juga terdapat empat air terjun, meski baru tiga yang bisa diakses pengunjung, yaitu Parang Tejo, Ubud 1, dan Ubud 2. Agil menegaskan pengunjung wajib melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum mengunjungi Ubud 1 dan 2 karena kawasan tersebut termasuk hutan lindung yang masih dihuni satwa liar.
Baca juga: Wisata Alam sedang Naik Daun, tapi Apakah Kita Benar-Benar Peduli Lingkungan?
Dari sisi fasilitas, Rojo Camp menyediakan akses air dan listrik gratis dengan batas pemakaian tertentu, musala, toilet, aula, serta area camping dengan tiga kategori kapasitas: area keluarga untuk tenda-tenda kecil, area tengah berkapasitas 20-30 orang, dan area “MEGA” yang mampu menampung 50 hingga 100 orang. Pengelola juga menyediakan catering dan jasa penyewaan tenda, dengan syarat pemesanan tenda dilakukan minimal satu hari sebelum kedatangan (H-1).
Meski kian populer, promosi Rojo Camp awalnya hanya mengandalkan dari mulut ke mulut, sebelum akhirnya mulai memanfaatkan media sosial dan itu pun didorong lebih banyak oleh unggahan pengunjung sendiri, bukan promosi resmi dari pengelola.
Agil juga tak menampik adanya sejumlah tantangan dalam pengelolaan kawasan, mulai dari perbedaan pandangan antaranggota kelompok tani, cuaca ekstrem seperti angin dan hujan gerimis, akses jalan dan sinyal internet yang masih terbatas, hingga ulah sebagian pengunjung yang melanggar aturan kawasan. Selain itu, satwa liar seperti monyet dan kucing hutan sesekali turut memasuki area perkemahan, meski hingga kini belum ada laporan hewan buas berbahaya yang mengganggu pengunjung.
“Hambatan pasti ada di mana-mana,” ujar Agil, menutup perbincangan.
Penulis: Windie Aviva
Mahasiswa Matematika, Universitas Negeri Malang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















