Soroti Kekerasan Seksual, Peserta Candrasena Ambassador Usulkan Platform Perlindungan Mahasiswa

Candrasena Ambassador (2)

Malang, MMI — Isu kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu perhatian peserta Candrasena Ambassador Universitas Brawijaya. Mereka menilai upaya menciptakan kampus yang aman bagi mahasiswa perlu diperkuat, termasuk melalui pengembangan platform digital yang dapat memberikan edukasi dan dukungan bagi mahasiswa.

Gagasan tersebut muncul dalam sesi tanya jawab Candrasena Ambassador. Peserta menekankan pentingnya penerapan prinsip no one left behind dalam menangani persoalan kekerasan seksual, sehingga mahasiswa yang menjadi korban tidak merasa menghadapi persoalan tersebut seorang diri.

Candrasena Ambassador (1)

Menurut peserta, keberadaan layanan konseling di lingkungan kampus perlu terus didukung. Di sisi lain, mahasiswa juga dinilai memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman sekaligus membangun kembali rasa percaya diri korban.

Untuk memperluas jangkauan dukungan tersebut, peserta mengusulkan pengembangan platform berbasis situs web yang dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan universitas. Platform tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memberikan informasi, edukasi, serta meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai kekerasan seksual dan lingkungan kampus yang aman.

Gagasan mengenai perlindungan mahasiswa tersebut juga dikaitkan dengan persoalan kesehatan mental. Peserta menilai kesehatan mental mahasiswa tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai persoalan pribadi karena kondisi tersebut dapat dipengaruhi tekanan akademik maupun lingkungan kampus.

Karena itu, kampus dinilai perlu menjadi ruang yang inklusif, aman, dan nyaman. Dukungan terhadap mahasiswa, menurut peserta, tidak hanya diperlukan ketika persoalan telah terjadi, tetapi juga melalui upaya pencegahan dan edukasi.

Isu kekerasan seksual dan kesehatan mental menjadi bagian dari gagasan yang ingin dibawa para Candrasena Ambassador dalam menjalankan perannya sebagai representasi mahasiswa baru. Mereka tidak ingin posisi tersebut hanya menjadi simbol, tetapi juga menjadi sarana untuk menggerakkan mahasiswa dan menjembatani komunikasi di lingkungan kampus.

Selain isu perlindungan mahasiswa, peserta juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, literasi digital, serta penggunaan teknologi secara bijak. Perkembangan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, privasi digital, hingga deepfake dinilai menuntut mahasiswa memiliki kemampuan literasi digital yang lebih baik.

Dalam pandangan mereka, media sosial dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menyebarkan kesadaran mengenai berbagai persoalan sosial, tetapi juga mendorong mahasiswa mengambil tindakan nyata. Mahasiswa diharapkan mampu menggunakan teknologi untuk mengedukasi lingkungan sekitarnya tanpa kehilangan kepedulian terhadap persoalan di sekitar mereka.

Candrasena Ambassador (3)

Dalam ajang Candrasena Ambassador, Syarieffuddin Fadlela terpilih sebagai Winner Candrasena Ambassador. Sementara itu, Naurah Aqilah Maylaf Amal meraih kategori Favorite Candrasena Ambassador, Raisya Ramadhani Achmad sebagai Intelligent Candrasena Ambassador, dan Rashida Aura Prabawati sebagai Impactful Candrasena Ambassador.

Para ambassador terpilih berharap peran tersebut dapat digunakan untuk mendorong semangat belajar mahasiswa, meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental, mendukung gerakan Green Campus, serta menggaungkan berbagai isu positif di lingkungan Universitas Brawijaya./red

Redaksi Media Mahasiswa Indonesia

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *