Menjawab Tantangan Stres Akademik, Mahasiswa UPI Kembangkan Modul Intervensi berbasis Adversity Quotient

stres akademik mahasiswa
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui PKM-RSH mengembangkan modul ARISE (Adversity Quotient Based-Interventions) sebagai upaya mengatasi stres akademik (Foto: Dok. Pribadi)

Bandung, MMI – Stres akademik menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi mahasiswa selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Tuntutan untuk menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, menjalani aktivitas organisasi, menyusun skripsi, hingga mempersiapkan masa depan sering kali hadir secara bersamaan dan menjadi tekanan tersendiri bagi mahasiswa.

Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) mengembangkan ARISE (Adversity Quotient Based-Interventions), sebuah modul intervensi berbasis Adversity Quotient yang dirancang untuk meningkatkan academic resilience sebagai upaya mengatasi stres akademik mahasiswa.

Program ini mengangkat judul “ARISE: Pengembangan Modul Adversity Quotient Based-Interventions untuk Meningkatkan Academic Resilience sebagai Upaya Mengatasi Stres Akademik Mahasiswa.”

Melalui pengembangan tersebut, tim PKM-RSH ARISE berupaya menghadirkan pendekatan yang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai stres akademik, tetapi juga membantu mahasiswa mengenali dan merespons berbagai kesulitan yang dihadapi secara lebih adaptif.

Berangkat dari Tantangan yang Dihadapi Mahasiswa

Kehidupan mahasiswa tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.

Dalam satu waktu, mahasiswa dapat dihadapkan pada berbagai tuntutan, mulai dari penyelesaian tugas dan pencapaian akademik hingga persoalan di luar kampus.

Tekanan tersebut dapat semakin kompleks ketika mahasiswa harus membagi waktu antara kegiatan akademik, organisasi, pekerjaan, kehidupan sosial, kondisi finansial, dan persiapan menghadapi dunia kerja.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, kemampuan akademik saja dinilai belum cukup.

Mahasiswa juga memerlukan kemampuan untuk menghadapi hambatan, memahami cara dirinya merespons kesulitan, serta menentukan langkah ketika berada dalam situasi yang penuh tekanan.

Atas dasar itulah, tim PKM-RSH UPI memilih Adversity Quotient atau AQ sebagai landasan dalam pengembangan modul ARISE.

Secara sederhana, AQ berkaitan dengan kemampuan individu dalam menghadapi dan merespons kesulitan.

Konsep ini kemudian diadaptasikan dalam konteks kehidupan mahasiswa melalui sebuah rangkaian intervensi yang menggabungkan proses refleksi, pembelajaran, diskusi, dan praktik mandiri.

ARISE: Dari Modul hingga Pelaksanaan Intervensi

Pengembangan ARISE tidak berhenti pada penyusunan modul.

Sebagai bagian dari proses penelitian, tim PKM-RSH ARISE juga melaksanakan program intervensi yang melibatkan 34 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Kota Bandung.

stres akademik mahasiswa
Foto: Dok. Pribadi

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam tiga sesi dengan rangkaian aktivitas yang disusun secara bertahap.

Pada sesi pertama, peserta mengikuti proses profiling dan pre-test untuk memperoleh gambaran awal kondisi peserta.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengenalan mengenai konsep kesulitan dan Adversity Quotient, serta aktivitas self-journaling yang menjadi ruang refleksi bagi peserta.

Sesi berikutnya berfokus pada pendalaman pengalaman peserta dalam menghadapi tekanan.

Peserta mengikuti diskusi kelompok bersama mentor, aktivitas interaktif, serta pembelajaran mengenai metode L.E.A.D. (Listen, Explore, Analyze, Do).

Melalui metode tersebut, peserta diajak untuk mengenali apa yang sedang dialami, mengeksplorasi berbagai faktor yang berkaitan dengan persoalan, menganalisis alternatif langkah yang dapat dilakukan, hingga mendorong munculnya tindakan nyata.

Pada sesi terakhir, rangkaian intervensi dilengkapi dengan kegiatan reflektif, aktivitas fisik, clay art, pengumpulan umpan balik peserta, serta pelaksanaan post-test sebagai bagian dari proses penelitian.

Kolaborasi Akademisi, Psikolog Klinis, dan Tim PKM-RSH

Dalam proses pengembangannya, PKM-RSH ARISE dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Dr. Siti Nurbayani K., S.Pd., M.Si.

stres akademik mahasiswa
Prof. Dr. Siti Nurbayani K., S.Pd., M.Si. (Foto: Dok. Pribadi)

Pelaksanaan intervensi juga mendapatkan pendampingan dari Sitti Chotidjah, S.Psi., M.A., Psikolog Klinis, khususnya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan agar memperhatikan aspek psikologis dan pendampingan peserta.

stres akademik mahasiswa
Tim PKM-RSH ARISE bersama Sitti Chotidjah, S.Psi., M.A., Psikolog Klinis (Foto: Dok. Pribadi)

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan ARISE.

Mengingat isu stres akademik berkaitan dengan pengalaman psikologis mahasiswa, pelaksanaan intervensi tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan proses refleksi dan pengalaman yang muncul selama kegiatan.

Melalui diskusi, self-journaling, dan pendampingan kelompok, peserta diberikan ruang untuk melihat kembali bagaimana mereka selama ini merespons tekanan yang dihadapi.

Memberikan Pengalaman Baru bagi Peserta

Pelaksanaan ARISE juga memberikan pengalaman baru bagi sejumlah peserta, terutama dalam mengenal konsep Adversity Quotient.

Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti program, dirinya belum banyak mengetahui mengenai AQ.

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, ia memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya kemampuan menghadapi kesulitan dalam kehidupan mahasiswa.

Peserta lainnya juga menilai metode L.E.A.D. sebagai pendekatan yang sederhana dan dapat digunakan untuk membantu memahami persoalan yang sedang dihadapi.

Melalui proses tersebut, peserta tidak hanya diajak untuk memandang stres sebagai sesuatu yang harus segera dihindari.

Mereka juga didorong untuk berhenti sejenak, memahami apa yang sedang terjadi, mengenali faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, dan mempertimbangkan langkah yang dapat dilakukan.

Namun, hasil kuantitatif dari pelaksanaan intervensi, termasuk perbandingan kondisi peserta sebelum dan sesudah program, masih dalam tahap pengolahan oleh tim peneliti.

Mendorong Dampak yang Lebih Luas

Setelah pelaksanaan intervensi, perjalanan ARISE tidak berhenti pada rangkaian kegiatan tiga hari.

Hasil penelitian yang diperoleh nantinya akan menjadi bagian dari proses evaluasi dan pengembangan modul.

stres akademik mahasiswa
Modul Intervensi ARISE (Sumber: Dok. Pribadi)

Tim PKM-RSH ARISE juga merencanakan penyusunan policy brief sebagai salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kepada pemangku kepentingan yang relevan.

Harapannya, pengembangan ARISE dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya pendekatan pendampingan mahasiswa dalam menghadapi stres akademik.

Bagi tim PKM-RSH ARISE, perjalanan akademik bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa mencapai nilai atau prestasi tertentu.

Dalam prosesnya, mahasiswa juga akan berhadapan dengan kegagalan, ketidakpastian, tekanan, dan berbagai bentuk kesulitan lainnya.

Melalui ARISE, mahasiswa UPI berupaya menghadirkan sebuah pendekatan yang membantu mahasiswa untuk tidak hanya mengenali tekanan yang dihadapi, tetapi juga belajar memahami, merespons, dan menentukan langkah ketika berhadapan dengan kesulitan.

Dengan demikian, pengembangan modul ARISE diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi mahasiswa UPI dalam merespons tantangan stres akademik dan mendorong terbentuknya mahasiswa yang lebih siap menghadapi dinamika perjalanan akademiknya.


Penulis: Fathin Mufid Akram (2304867)
Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *