Bagi mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate, ijazah masih menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju dunia kerja. Namun, memiliki gelar tidak selalu berarti seseorang otomatis memenuhi kebutuhan sebuah posisi.
Perusahaan semakin perlu melihat kemampuan yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan. Dari sinilah pendekatan skill-based hiring menjadi semakin relevan. Dalam pendekatan ini, proses rekrutmen tidak hanya melihat latar belakang pendidikan atau jabatan sebelumnya, tetapi juga keterampilan yang dimiliki dan bukti bahwa kandidat mampu menerapkannya.
Perubahan tersebut bukan berarti gelar pendidikan sudah tidak penting. Justru, kandidat perlu melihat pendidikan formal sebagai salah satu bagian dari bekal, kemudian melengkapinya dengan keterampilan yang relevan dengan bidang yang ingin ditekuni.
Apa itu Skill-Based Hiring?
Secara sederhana, skill-based hiring adalah pendekatan rekrutmen yang memberikan perhatian lebih besar pada keterampilan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan ketika perusahaan menilai kandidat.
McKinsey menjelaskan bahwa pendekatan berbasis keterampilan membuat perusahaan tidak hanya terpaku pada gelar dan jabatan sebelumnya. Perusahaan dapat menentukan keterampilan yang dibutuhkan untuk suatu posisi, kemudian mencari cara untuk menilai apakah kandidat benar-benar memiliki kemampuan tersebut.
Dalam praktiknya, kemampuan tersebut dapat dilihat melalui pengalaman proyek, portofolio, tugas praktis, wawancara berbasis situasi, maupun bentuk asesmen lainnya.
Bagi mahasiswa, hal ini menjadi alasan untuk tidak hanya mengumpulkan sertifikat atau mencantumkan daftar mata kuliah dalam CV. Pengalaman mengerjakan proyek, organisasi, magang, penelitian, dan kegiatan lain juga dapat menjadi tempat untuk membangun sekaligus menunjukkan keterampilan.
Baca juga: Kantor di Mana Saja: Hari Kerja yang Mengalir dari Kafe ke Ruang Rapat
Mengapa Keterampilan Semakin Penting?
Perubahan teknologi membuat kebutuhan perusahaan terhadap keterampilan juga ikut bergerak. Pekerjaan yang terlihat sama beberapa tahun lalu dapat membutuhkan kemampuan berbeda ketika teknologi baru mulai digunakan.
Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum mencatat bahwa 59 dari setiap 100 pekerja diproyeksikan membutuhkan pelatihan tambahan, baik reskilling maupun upskilling, sebelum 2030. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa keterampilan teknologi seperti AI, big data, jaringan, dan keamanan siber termasuk kelompok keterampilan yang permintaannya diperkirakan tumbuh cepat. Di saat yang sama, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, ketahanan, kepemimpinan, dan kolaborasi tetap dianggap penting.
Artinya, mahasiswa tidak harus mengejar satu keterampilan teknologi saja. Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah.
Skill Apa yang Perlu Disiapkan Mahasiswa?
Tidak ada daftar keterampilan yang berlaku untuk semua pekerjaan. Kebutuhan seorang calon analis data tentu berbeda dengan calon jurnalis, desainer, tenaga pemasaran, atau pengembang perangkat lunak.
Meski demikian, ada beberapa kelompok kemampuan yang dapat mulai dikembangkan mahasiswa.
Keterampilan digital dapat menjadi dasar untuk memahami berbagai perangkat dan platform yang digunakan dalam pekerjaan. Untuk bidang tertentu, kemampuan mengolah data, menggunakan perangkat berbasis AI, atau memahami teknologi khusus industri dapat menjadi nilai tambah.
Kemampuan analitis juga penting karena dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang dapat menjalankan instruksi. Banyak pekerjaan menuntut kemampuan memahami informasi, menemukan masalah, kemudian menentukan langkah berdasarkan data atau kondisi yang tersedia.
Di sisi lain, komunikasi dan kolaborasi tetap diperlukan. Kemampuan menyampaikan gagasan, menerima masukan, bekerja dalam tim, dan menjelaskan hasil pekerjaan kepada orang lain tidak otomatis muncul hanya karena seseorang memiliki kemampuan teknis.
Karena itu, pengembangan keterampilan sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan daftar tren. Pilih kemampuan yang berkaitan dengan bidang yang ingin ditekuni dan cari kesempatan untuk menggunakannya secara nyata.
Baca juga: Ketika Ketelitian Tidak Cukup: Pentingnya Emotional Intelligence di Tempat Kerja
Gelar Tetap Penting, tetapi Kompetensi Perlu Dibuktikan
Pembahasan mengenai skill-based hiring terkadang membuat seolah-olah gelar pendidikan sudah tidak memiliki nilai. Pandangan tersebut terlalu sederhana.
Ada bidang pekerjaan yang memang mensyaratkan pendidikan atau kualifikasi tertentu. Pendidikan formal juga memberikan dasar pengetahuan yang penting bagi banyak profesi.
Yang berubah adalah cara perusahaan dapat melihat kandidat secara lebih menyeluruh. Selain menilai latar belakang pendidikan, perusahaan dapat mencari bukti bahwa seseorang memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk posisi tersebut.
Bagi mahasiswa dan fresh graduate, bukti tersebut bisa berasal dari pengalaman magang, proyek perkuliahan, organisasi, kegiatan sukarela, penelitian, kompetisi, atau portofolio pribadi.
Sebuah proyek sederhana yang benar-benar dikerjakan dan dapat dijelaskan dengan baik terkadang lebih membantu kandidat menunjukkan kemampuannya daripada sekadar menambahkan satu baris keterampilan di CV.
Belajar Tidak Berhenti Setelah Lulus
Jika kebutuhan keterampilan terus berubah, proses belajar juga tidak seharusnya berhenti ketika seseorang menerima ijazah.
Mahasiswa dapat mulai membangun kebiasaan belajar sebelum memasuki dunia kerja. Caranya tidak harus selalu melalui pendidikan formal. Kursus, pelatihan, komunitas, proyek pribadi, magang, dan pengalaman kerja dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Yang terpenting adalah ada hubungan antara materi yang dipelajari dengan kemampuan yang ingin dibangun.
Belajar melalui praktik juga dapat membantu seseorang memahami batas kemampuannya. Setelah mencoba mengerjakan sebuah proyek, misalnya, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu dipelajari.
Perusahaan Juga Perlu Mengembangkan Keterampilan Karyawan
Perubahan kebutuhan keterampilan bukan hanya tanggung jawab pencari kerja. Perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana karyawan dapat mengikuti perubahan tersebut.
WEF mencatat bahwa 85 persen perusahaan yang disurvei berencana memprioritaskan upskilling tenaga kerja hingga 2030. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan keterampilan internal menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan kebutuhan pekerjaan.
Program pelatihan dapat menjadi salah satu cara untuk membantu karyawan mengembangkan kemampuan tertentu. Agar hasilnya relevan, materi pelatihan idealnya disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan dan kondisi organisasi.
Untuk kebutuhan tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan penyedia pelatihan seperti Corporate Training Belajarlagi, terutama ketika program yang dibutuhkan perlu disesuaikan dengan kompetensi dan kebutuhan tim.
Namun, pelatihan sebaiknya tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba, berdiskusi, mengerjakan studi kasus, atau menerapkan pengetahuan dalam situasi yang mendekati pekerjaan sebenarnya.
Baca juga: Pengangguran Sarjana: Ketika Gelar Tidak Lagi Menjamin Pekerjaan
Apa yang Bisa Dilakukan Mahasiswa Mulai Sekarang?
Menunggu sampai lulus untuk mulai membangun keterampilan bukan pilihan yang ideal. Mahasiswa dapat memulainya dari kegiatan yang sudah tersedia di sekitar mereka.
Pilih satu atau dua kemampuan yang berkaitan dengan bidang karier yang diinginkan. Setelah itu, cari kesempatan untuk mempraktikkannya.
Jika tertarik pada data, misalnya, cobalah mengolah dataset sederhana dan jelaskan hasilnya. Jika ingin bekerja di bidang pemasaran, buat proyek kampanye kecil dan dokumentasikan prosesnya. Jika tertarik pada desain, bangun portofolio yang menunjukkan proses dan hasil pekerjaan.
Dengan cara tersebut, keterampilan tidak hanya menjadi daftar di CV. Ada pengalaman yang dapat digunakan untuk menjelaskan apa yang pernah dikerjakan dan bagaimana kemampuan tersebut diterapkan.
Mempersiapkan Diri Menghadapi Dunia Kerja
Skill-based hiring menunjukkan bahwa persiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya dengan mengejar nilai dan menyelesaikan studi. Gelar tetap memiliki peran, tetapi kompetensi yang dapat dibuktikan juga perlu diperhatikan.
Perubahan kebutuhan pekerjaan membuat mahasiswa perlu membangun kemampuan secara bertahap, baik melalui perkuliahan maupun pengalaman di luar kelas. Kemampuan digital, analitis, komunikasi, dan kolaborasi dapat menjadi bagian dari bekal tersebut, dengan tetap menyesuaikannya pada bidang yang dituju.
Pada akhirnya, bukan persoalan memilih antara gelar atau keterampilan. Keduanya dapat saling melengkapi. Gelar memberikan dasar pendidikan, sedangkan keterampilan dan pengalaman membantu menunjukkan bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam situasi nyata.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













