Wisata Alam sedang Naik Daun, tapi Apakah Kita Benar-Benar Peduli Lingkungan?

tren healing dan camping
Ilustrasi Dampak Meningkatnya Pengunjung Wisata Alam (Foto: Dok. MMI)

Wisata alam sedang naik daun di kalangan generasi muda.

Gunung, camping ground, dan berbagai destinasi berbasis alam semakin ramai dikunjungi, terutama setelah pandemi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di tengah tren tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji: apakah meningkatnya minat terhadap wisata alam juga menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan?

Fenomena ini sejalan dengan tren pariwisata global.

Organisasi Pariwisata Dunia atau UN Tourism mencatat bahwa wisata berbasis alam dan aktivitas luar ruang mengalami peningkatan karena wisatawan mencari pengalaman yang lebih sehat, aman, dan dekat dengan lingkungan.

Bagi Gen Z yang hidup di tengah arus digital yang serba cepat, wisata alam menjadi ruang untuk beristirahat dari tekanan kehidupan sehari-hari.

Istilah seperti healing, slow living, dan escape from reality menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda saat ini.

Tuntutan untuk selalu produktif, aktif di media sosial, dan mengikuti berbagai tren sering kali menimbulkan kelelahan mental.

Karena itu, alam dipandang sebagai tempat untuk memulihkan kondisi emosional sekaligus mencari ketenangan.

Di kalangan Gen Z, wisata alam bahkan mulai menjadi bagian dari gaya hidup.

Aktivitas seperti mendaki gunung, berkemah, atau mengunjungi kawasan pedesaan sering dianggap sebagai cara untuk memperoleh pengalaman yang lebih bermakna dibandingkan wisata perkotaan.

Tren ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman yang memberikan ketenangan dan kedekatan dengan alam.

Namun, muncul pertanyaan penting: apakah meningkatnya minat terhadap wisata alam juga diikuti oleh meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan?

Media sosial memiliki peran besar dalam meningkatnya popularitas wisata alam.

Foto pegunungan berkabut, area camping yang estetik, dan pemandangan hijau yang menenangkan dengan mudah menarik perhatian pengguna Instagram maupun TikTok.

Wisata alam tidak lagi sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas sosial.

Tidak sedikit wisatawan yang mengunjungi suatu destinasi karena viral di media sosial tanpa memahami nilai lingkungan maupun budaya yang dimiliki tempat tersebut.

Di satu sisi, fenomena ini membawa dampak positif.

Meningkatnya minat terhadap wisata alam membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal melalui usaha kuliner, penginapan, jasa pemandu wisata, dan produk UMKM.

Selain itu, tren ini dapat menjadi momentum untuk mengembangkan konsep ekowisata yang lebih berkelanjutan.

Sayangnya, dengan meningkatnya popularitas wisata alam tidak selalu menunjukkan peningkatan kesadaran lingkungan.

Banyak destinasi yang viral justru mengalami berbagai permasalahan akibat lonjakan jumlah pengunjung.

Alam perlahan berubah menjadi komoditas wisata yang dieksploitasi demi memenuhi kebutuhan pasar dan konten media sosial.

Padahal, ekowisata bukan sekadar wisata di alam terbuka.

Menurut The International Ecotourism Society (TIES), ekowisata merupakan perjalanan yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang bertujuan melestarikan lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, dan memberikan pengalaman edukatif kepada wisatawan.

Dengan demikian, keberhasilan ekowisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Pertanyaan mengenai kepedulian lingkungan menjadi penting karena tidak semua wisatawan yang datang ke kawasan alam memiliki motivasi yang sama.

Sebagian datang untuk menikmati keindahan alam dan belajar mengenai konservasi, tetapi tidak sedikit pula yang hanya mengikuti tren yang sedang populer di media sosial.

Akibatnya, alam terkadang lebih dipandang sebagai latar untuk menghasilkan konten dibandingkan sebagai ekosistem yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Sayangnya, prinsip-prinsip tersebut sering kali belum diterapkan secara optimal.

Salah satu persoalan yang paling sering ditemukan adalah masalah sampah.

Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi belum memiliki kesadaran yang cukup untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Sampah plastik, sisa makanan, dan limbah perlengkapan camping masih sering ditemukan di kawasan wisata alam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa prinsip “Take only pictures, leave only footprints” belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian wisatawan.

Padahal, prinsip tersebut merupakan salah satu etika dasar dalam wisata alam, yaitu menikmati lingkungan tanpa meninggalkan dampak negatif.

Ironisnya, banyak orang datang ke alam untuk mencari ketenangan, tetapi secara tidak sadar justru berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan yang mereka nikmati.

Fenomena wisata viral juga memunculkan persoalan overtourism.

Tidak sulit menemukan antrean kendaraan menuju kawasan wisata alam Jawa Barat pada akhir pekan, terutama ketika sebuah destinasi sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Di Jawa Barat, misalnya, kawasan Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, dan Ranca Upas sering mengalami lonjakan kunjungan saat musim liburan atau setelah ramai diperbincangkan di media sosial.

Akibatnya, muncul berbagai persoalan seperti penumpukan sampah, kepadatan area camping, hingga meningkatnya tekanan terhadap lingkungan alami.

Destinasi yang awalnya tenang dan alami dapat berubah menjadi wisata massal yang bertentangan dengan prinsip ekowisata.

Selain masalah sampah, pembangunan fasilitas wisata yang berlebihan juga menjadi tantangan tersendiri.

Demi meningkatkan kenyamanan pengunjung, banyak kawasan alam mulai dipenuhi penginapan, area parkir, restoran, hingga spot foto buatan.

Akibatnya, keaslian lingkungan yang menjadi daya tarik utama justru semakin berkurang.

Wisata alam perlahan berubah menjadi ruang komersial yang kehilangan identitas ekologisnya.

Dari perspektif pariwisata, fenomena ini menunjukkan perubahan perilaku wisatawan dalam masyarakat digital.

Wisata tidak lagi hanya berfungsi sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga sebagai sarana membangun identitas dan gaya hidup.

Dalam konteks tersebut, wisata alam sering kali dikonsumsi bukan hanya karena nilai ekologisnya, melainkan juga karena nilai visual dan simbolik yang dimilikinya di media sosial.

Oleh karena itu, tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau pengelola destinasi.

Wisatawan juga harus menjadi bagian dari solusi.

Sebagai generasi yang paling dekat dengan tren wisata alam, Gen Z memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Kesadaran konservasi dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membawa kembali sampah pribadi, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mematuhi aturan konservasi, serta menghormati flora dan fauna di kawasan wisata.

Selain itu, wisatawan perlu lebih selektif dalam memilih destinasi yang benar-benar menerapkan prinsip ekowisata dan melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya.

Kepedulian terhadap lingkungan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang mengunjungi wisata alam.

Kepedulian yang sesungguhnya terlihat dari perilaku wisatawan saat berada di destinasi, seperti menjaga kebersihan, menghormati aturan konservasi, serta mengurangi aktivitas yang dapat merusak lingkungan.

Tanpa perubahan perilaku tersebut, meningkatnya tren wisata alam hanya akan menghasilkan lebih banyak kunjungan tanpa memberikan manfaat nyata bagi konservasi.

Pada akhirnya, fenomena perpindahan wisata dari hiburan modern menuju wisata alam mencerminkan kebutuhan manusia untuk kembali dekat dengan lingkungan di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan digital.

Namun, kebutuhan tersebut harus diiringi dengan tanggung jawab terhadap alam itu sendiri.

Healing seharusnya tidak hanya menjadi upaya menyembuhkan diri, tetapi juga momentum untuk membangun kesadaran ekologis.

Jika wisata alam hanya dijadikan tren sesaat dan alat konsumsi media sosial, maka kerusakan lingkungan hanya tinggal menunggu waktu.

Sebaliknya, jika generasi muda mampu memadukan kebutuhan rekreasi dengan kesadaran konservasi, dan dikelola dengan baik, tren wisata alam dapat menjadi peluang untuk memperkuat praktik pariwisata berkelanjutan, khususnya di daerah yang memiliki potensi sumber daya alam tinggi.


Penulis: Ghaisani Shabrina Badzlin
Mahasiswa Prodi Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses