Dari Kampus untuk Desa: Membangun Kemandirian Energi dari Penggilingan Padi Desa

Kandungan Energi Desa
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Karawang, MMI – Upaya membangun kemandirian energi di sektor pertanian mulai dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Desa Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Program tersebut menghadirkan modernisasi penggilingan padi berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar solar sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Karawang dipilih karena merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data pemerintah daerah, kabupaten ini memiliki luas baku sawah sekitar 100.016 hektare dengan produktivitas rata-rata 6,5–7 ton per hektare.

Produksi padi Karawang mencapai lebih dari 1,4 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) setiap tahun atau sekitar 40 persen dari total produksi padi Jawa Barat. Besarnya produksi tersebut menjadikan penggilingan padi sebagai mata rantai penting dalam menjaga mutu beras dan stabilitas pasokan pangan, khususnya bagi wilayah Jabodetabek.

Namun, sebagian besar penggilingan padi skala desa masih bergantung pada mesin diesel berbahan bakar solar. Ketergantungan tersebut menyebabkan biaya operasional meningkat, terutama saat musim panen ketika intensitas penggilingan bertambah.

Selain dipengaruhi fluktuasi harga dan ketersediaan solar, penggunaan mesin diesel juga memunculkan persoalan lain, seperti biaya perawatan yang tinggi, emisi gas buang, kebisingan, serta menurunnya kenyamanan lingkungan kerja. Kondisi tersebut mendorong tim P2M UNJ menghadirkan solusi melalui pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi alternatif.

Baca juga: Pengaruh Fluktuasi Harga Pertamax terhadap Pemenuhan Hak-Hak Dasar Masyarakat

Ketua Tim P2M UNJ, Prof. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd., mengatakan bahwa penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya dilakukan pada proses budidaya di lahan, tetapi juga harus menyentuh sektor pascapanen. Menurutnya, pemanfaatan PLTS menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung efisiensi operasional penggilingan padi sekaligus membangun kemandirian energi masyarakat.

“Melalui pemanfaatan energi surya, kami ingin mendampingi masyarakat agar memiliki alternatif energi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan dapat dikelola secara mandiri. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti pada satu lokasi, tetapi dapat direplikasi di penggilingan padi lainnya,” ujarnya.

Program pendampingan diawali dengan survei lapangan, identifikasi kebutuhan, serta diskusi bersama pengelola penggilingan padi, kelompok tani, dan pemerintah desa. Setelah itu, tim P2M UNJ melaksanakan sosialisasi, pelatihan teknis, instalasi sistem PLTS, hingga pendampingan operasional.

Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada teknologi panel surya, inverter, dan sistem proteksi, tetapi juga dibekali keterampilan untuk mengoperasikan, merawat, dan memantau kinerja sistem agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Pengelola penggilingan padi dan pendamping pertanian setempat menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Selama ini, tingginya konsumsi solar menjadi salah satu beban terbesar dalam operasional penggilingan padi, terutama saat musim panen ketika aktivitas produksi meningkat.

Kehadiran pelatihan dan pendampingan pemanfaatan energi surya dinilai membuka wawasan baru bagi petani dan pelaku usaha penggilingan mengenai alternatif energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Siti Nurjanah, S.Pd., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Palumbonsari, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dilaksanakan tim P2M UNJ. Menurutnya, pelatihan tersebut berjalan dengan baik, terarah, dan mudah dipahami oleh peserta.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan bagi petani dan pengelola penggilingan berbasis tenaga surya ini. Kegiatan berjalan dengan baik, lancar, dan terarah. Meskipun sempat ada kendala listrik padam, pelatihan tetap berlangsung sesuai jadwal. Materi yang disampaikan sangat membantu dan mudah dipahami oleh kami. Semoga kegiatan ini memberi manfaat bagi petani, pengelola penggilingan, dan masyarakat Kelurahan Palumbonsari, Kecamatan Karawang Timur,” ujar Siti Nurjanah.

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan Gapoktan atau Gabungan Kelompok Tani serta pelaku usaha penggilingan padi di Kelurahan Palumbonsari. Kegiatan tersebut didukung oleh lima dosen dan dua mahasiswa UNJ.

Tim juga mengimplementasikan sistem PLTS berkapasitas 3 kWp sebagai sumber energi pendukung operasional penggilingan, dengan target mengurangi konsumsi solar sekitar 20–30 persen pada beban operasional tertentu. Selain itu, tim menyusun standar operasional prosedur atau SOP, modul pelatihan, dan sistem monitoring energi sebagai dasar evaluasi keberlanjutan program.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penggilingan padi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan mandiri. Lebih jauh, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa transformasi energi bersih dapat dimulai dari desa sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.


Penulis: TIM P2M Pendidikan Teknik Elektronika

  1. Prof. Dr. Moch. Sukardjo, M.Pd.
  2. Dr. Arum Setyowati, S.Pd., M.T.
  3. Sri Wahyuni, M.Pd.
  4. Aedil Akmal, S.Pd., M.Pd.
  5. Fadly Nendra, S.Pd., M.Pd.T.
  6. Meyta Salsabila
  7. Ilham Restu Ramadhan

Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika, Universitas Negeri Jakarta


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses