Pernahkah Anda memperhatikan rekan kerja yang selalu menutup laptop tepat saat jarum jam menyentuh angka pulang kerja?
Atau yang secara konsisten mengabaikan telepon kantor di luar jam kerja?
Atau mungkin mereka yang selalu menyelesaikan tugas dengan standar yang baik, namun tidak menawarkan diri untuk memberikan kontribusi ekstra di luar tanggung jawabnya?
Contoh-contoh di atas sering kali terjadi di kalangan pekerja muda, khususnya Generasi Z, saat berhadapan dengan budaya kerja dan tuntutan loyalitas tanpa batas. Fenomena ini kini dikenal sebagai quiet quitting, sebuah sikap yang bukan sesederhana bentuk kemalasan, melainkan upaya sadar untuk menerapkan batasan diri agar pekerjaan tidak mendominasi seluruh aspek hidup dan work-life balance tetap terjaga.
Secara teoretis, quiet quitting atau “berhenti diam” dijelaskan sebagai kondisi di mana karyawan memilih untuk bekerja secukupnya sesuai tugas yang diwajibkan tanpa menunjukkan keterlibatan emosional yang lebih dalam, mereka tetap menyelesaikan tanggung jawab utama, tetapi menolak memberikan usaha ekstra atau melampaui standar yang ditetapkan organisasi sebagai bentuk rendahnya komitmen terhadap tuntutan tambahan manajemen (Agustina & Aghniya, 2025).
Perubahan Nilai Loyalitas pada Generasi Z
Dulu, loyalitas sering kali diukur secara kuantitatif melalui durasi seseorang bertahan di meja kantor. Namun, perspektif ini mulai bergeser bagi Gen Z yang kini melihat loyalitas bukan lagi soal berapa lama durasi, melainkan seberapa besar kualitas hasil kerja dan keselarasan nilai (Prasetia, 2025).
Jika ekspektasi keseimbangan ini tidak terpenuhi, quiet quitting muncul sebagai mekanisme pertahanan diri untuk menjaga kesehatan mental dari risiko burnout. Kebutuhan akan proteksi diri inilah yang kemudian membuat karyawan Generasi Z lebih tertarik pada perusahaan dengan kebijakan work-life balance yang fleksibel, seperti sistem kerja hybrid atau jam kerja luwes, sebagai bagian dari kompensasi yang mereka terima (Rahim dkk., 2025).
Hal ini didukung oleh hasil survey dalam Deloitte Gen Z and Millennial Survey (2024) yang mencatat bahwa bagi 60% Generasi Z, fleksibilitas waktu dan tempat merupakan faktor penentu utama untuk memilih atau bertahan dalam sebuah pekerjaan.
Dampak Quiet Quitting dari Sisi Kesejahteraan Psikologis dan Produktivitas Generasi Z
Dengan berhenti memaksakan diri di luar batas, Gen Z berhasil menurunkan risiko stres berat dan kelelahan mental yang sering menjadi pemicu depresi di tempat kerja karena mereka tidak lagi berambisi mengejar lembur atau promosi jabatan yang menguras energi.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti jalan di tempat, namun bagi Gen Z, ini adalah pilihan sadar untuk menjaga keseimbangan mental (Manullang dkk., 2025). Dampak lainnya adalah individu merasa lebih “berdaya” (empowered) karena mereka tidak lagi menggantungkan harga diri mereka pada ekspektasi perusahaan yang berlebihan.
Quiet quitting mencerminkan perubahan cara pandang Generasi Z terhadap kerja, di mana loyalitas tidak lagi diukur dari durasi atau pengorbanan, melainkan dari kualitas kontribusi dan keseimbangan hidup. Fenomena ini juga berkaitan dengan upaya karyawan dalam menetapkan batas kerja yang sehat, seperti memanfaatkan waktu istirahat dan melakukan aktivitas pemulihan guna menjaga kestabilan emosi dan energi.
Baca juga: Pentingnya Waktu Tidur bagi Kesehatan: Panduan Lengkap dan Sains di Baliknya
Sikap ini menjadi upaya menjaga kesehatan mental dan menghindari burnout, meskipun dapat menantang organisasi dalam meningkatkan keterlibatan karyawan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara profesionalisme individu dan dukungan organisasi agar tercipta hubungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Gaya Hidup Generasi Z dalam Menjaga Work-Life Balance
Generasi Z menunjukkan berbagai cara dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tidak hanya melalui aktivitas seperti traveling, tetapi juga melalui bentuk istirahat sederhana seperti tidur di rumah atau menikmati waktu luang tanpa tekanan pekerjaan.
Hal ini senada dengan hasil penelitian Susanti et al. (2017) yang menyatakan bahwa stres dapat dikurangi melalui istirahat yang cukup juga melakukan aktivitas rekreasi yang menyenangkan. Bagi sebagian individu, traveling menjadi sarana untuk melepaskan penat dan menyegarkan pikiran dari rutinitas kerja. Aktivitas pemulihan seperti traveling, dilakukan sebagai cara untuk mengurangi kelelahan dan kejenuhan, sekaligus memberikan waktu jeda bagi diri sendiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan traveling memiliki peran penting dalam meningkatkan kepuasan hidup individu. Pengalaman tersebut dapat menimbulkan perasaan senang serta membantu menurunkan tekanan emosional (Hikmah et al., 2022). Namun, di sisi lain banyak juga yang memilih cara yang lebih sederhana, seperti beristirahat di rumah, sebagai bentuk pemulihan energi setelah bekerja.
Kedua hal ini menunjukkan bahwa Generasi Z semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental dan tidak memaksakan diri dalam pekerjaan. Hal tersebut sejalan dengan fenomena quiet quitting, di mana individu mulai menetapkan batas dalam bekerja agar tetap memiliki waktu untuk diri sendiri.
Penulis:
- Defira Handayani
- Shashila Manuffah Dinda
- Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Mahasiswa Psikologi, Universitas Mercu Buana
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Agustina, F., & Aghniya, K. (2025). Strategi manajemen kantor menghadapi fenomena quiet quitting di industri kreatif Indonesia. Journal of Social and Economics Research, 7(2), 1239-1251. https://doi.org/10.54783/jser.v7i2.1127
Deloitte. (2024). The 2024 Gen Z and Millennial Survey: Living with purpose and balance in a transforming world. Retrieved from
Hikmah, N., Fauziyah, N. K., Septiani, M., & Lasari, D. M. (2022). Healing sebagai strategi coping stress melalui pariwisata. Indonesian Journal of Tourism and Leisure, 3(2), 113-124. https://doi: 10.36256/ijtl.v3i2.308
https://www.deloitte.com/global/en/about/press–room/deloitte–2024–gen–z–andmillennial–survey.html
Manullang, Y. C., Ramadhan, Y. A., Purwaningrum, E. K., Azizah, P. N., Fitriana, H., &
Pinanda, D. A. R. (2025). Penyusunan skala quiet quitting pada karyawan Gen
Z di Indonesia. MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 3(3), 984–996. https://doi.org/10.60126/maras.v3i3.1142
Prasetia, I. N. D. D., Pradhana, I. P. D., Yunita, P. I., & Martini, I. O. (2025). Dilema psikologis dan kecemasan karier Generasi Z dalam pusaran job hopping: “Sebuah Analisis Fenomenologis untuk Strategi Retensi Berbasis Kesejahteraan. eCo-Buss Economics and Business, 8(2), 1609-1627. https://doi.org/10.32877/eb.v8i2.3411
Rahim, I. A., Nasution, S. Y., & Sari, P. I. (2025). Work life balance: implikasi bagi motivasi dan kepuasan kerja karyawan. Jurnal Public Issues: Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora, Politik dan Kebijkan Publik, 2(2), 14-22.
Susanti, E., Kusuma, F. H. D., & Rosdiana, Y. (2017). Hubungan tingkat stres kerja dengan kualitas tidur pada perawat di Puskesmas Dau Malang. Nursing News: Jurnal Ilmiah Keperawatan, 2(3), 164-173.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














