Ketika Overthinking Menjadi Teman Sehari-hari Generasi Z

Generasi Z di era digital
Foto: Dok. MMI

Pernahkah merasa cemas setelah mengirim pesan lalu terus memeriksa ponsel karena belum mendapat balasan?

Atau merasa tidak tenang setelah melihat teman-teman mengunggah pencapaian mereka di media sosial?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika pernah, kemungkinan besar kamu sedang mengalami overthinking.

Fenomena overthinking semakin sering dialami oleh Generasi Z.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, banyak anak muda yang tanpa sadar menghabiskan waktu untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Pikiran yang terus berputar ini sering kali membuat seseorang merasa lelah, cemas, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

Salah satu contoh nyata dialami oleh banyak mahasiswa dan pelajar yang aktif menggunakan media sosial.

Mereka sering membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih produktif, atau memiliki kehidupan yang lebih menarik.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Namun karena terus melihat hal tersebut, muncul perasaan tertinggal dan tidak cukup baik.

Survei kesehatan mental remaja di Indonesia menunjukkan bahwa kecemasan menjadi salah satu masalah yang cukup banyak dialami oleh anak muda.

Tekanan akademik, tuntutan keluarga, persaingan di lingkungan sosial, hingga pengaruh media sosial menjadi faktor yang mendorong munculnya kekhawatiran berlebihan.

Overthinking biasanya dimulai dari hal-hal sederhana.

Misalnya ketika dosen belum membalas pesan bimbingan, seseorang langsung berpikir bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Ketika nilai ujian belum keluar, pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan terburuk.

Bahkan komentar kecil dari orang lain terkadang bisa terus dipikirkan selama berhari-hari.

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut membuat seseorang terjebak dalam dialog dengan dirinya sendiri.

Pikiran seperti “Bagaimana kalau aku gagal?”, “Bagaimana kalau orang lain menilaiku buruk?”, atau “Kenapa aku tidak sehebat mereka?” terus muncul dan menguras energi.

Akibatnya, seseorang menjadi sulit fokus, sulit tidur, dan lebih mudah merasa stres.

Media sosial turut memperkuat kondisi ini. Setiap hari, Generasi Z disuguhi berbagai unggahan tentang prestasi, liburan, pencapaian karier, hingga kehidupan yang tampak sempurna.

Melihat hal tersebut secara terus-menerus dapat menimbulkan tekanan untuk selalu berhasil dan tampil sempurna.

Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Banyak orang yang mengalami overthinking sebenarnya menyadari bahwa kekhawatiran mereka belum tentu benar.

Namun mereka tetap kesulitan menghentikan pikiran tersebut. Semakin dipikirkan, semakin besar rasa cemas yang muncul.

Kondisi inilah yang membuat overthinking menjadi masalah yang sering dialami anak muda saat ini.

Meski begitu, overthinking bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan belajar menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Tidak semua pesan harus langsung dibalas, tidak semua rencana berjalan sesuai harapan, dan tidak semua orang akan selalu memberikan penilaian positif.

Selain itu, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga penting.

Fokus pada perkembangan diri sendiri sering kali jauh lebih bermanfaat dibandingkan terus melihat pencapaian orang lain.

Setiap individu memiliki kemampuan, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Pada akhirnya, berpikir merupakan hal yang wajar dan diperlukan dalam kehidupan.

Namun ketika pikiran terus berputar tanpa memberikan solusi, overthinking justru dapat menjadi penghambat.

Generasi Z perlu menyadari bahwa tidak semua kekhawatiran harus ditanggapi secara berlebihan.

Terkadang, langkah terbaik bukanlah memikirkan segala kemungkinan yang belum terjadi, melainkan menjalani apa yang ada di depan mata dengan lebih tenang dan percaya diri.


Penulis: Septi Cintya Insani
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Surti Wardani


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses