Abstract
The increasingly competitive job market requires vocational high school graduates to possess not only technical competencies but also the ability to present themselves professionally. However, many students at Yayasan YMIK Joglo still lack understanding of how to prepare a professional Curriculum Vitae (CV) and face job interviews with confidence.
This community service program aims to enhance students’ human resource competitiveness through professional CV writing training and job interview simulations. The implementation method includes problem identification, needs analysis, material delivery, CV writing practice, and interview simulation sessions. The target participants are approximately 50–100 eleventh-grade students of Yayasan YMIK Joglo.
The expected outcomes of this program include improved understanding of recruitment processes, enhanced ability to create attractive and professional CVs, better communication skills during interviews, and increased self-confidence in entering the workforce. This program is expected to support the school in producing graduates who are better prepared and more competitive in meeting industry demands.
Keywords: CV writing training, interview simulation, work readiness, human resource competitiveness, vocational high school students.
Abstrak
Perkembangan dunia kerja yang semakin kompetitif menuntut lulusan sekolah menengah kejuruan memiliki kesiapan yang tidak hanya didukung oleh kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan dalam mempresentasikan diri secara profesional. Namun, masih banyak siswa Yayasan YMIK Joglo yang belum memahami cara menyusun Curriculum Vitae (CV) yang baik serta menghadapi proses wawancara kerja dengan percaya diri.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia siswa melalui pelatihan penyusunan CV profesional dan simulasi wawancara kerja. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi identifikasi masalah, analisis kebutuhan, penyampaian materi, praktik penyusunan CV, serta simulasi interview. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas XI Yayasan YMIK Joglo dengan jumlah peserta sekitar 50–100 siswa.
Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman siswa mengenai proses rekrutmen kerja, kemampuan menyusun CV yang menarik dan profesional, keterampilan komunikasi saat wawancara, serta meningkatnya kepercayaan diri dalam menghadapi dunia kerja. Program ini diharapkan dapat mendukung sekolah dalam menghasilkan lulusan yang lebih siap dan kompetitif sesuai dengan kebutuhan industri.
Kata Kunci: pelatihan CV, simulasi wawancara, kesiapan kerja, daya saing SDM, siswa SMK.
LATAR BELAKANG PELAKSANAAN
Kemajuan teknologi dan perkembangan internet yang begitu cepat telah memberikan banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, terutama pada kalangan remaja. Yayasan YMIK joglo menjadi salah satu sekolah kejuruan yang terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan era digital.
Sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada kesiapan siswa untuk memasuki dunia kerja di berbagai bidang, Yayasan YMIK joglo menciptakan suasana belajar yang aktif dan modern, di mana penggunaan internet serta media sosial telah menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari para siswa.
Dengan adanya perangkat digital, siswa dapat dengan mudah mencari informasi, melakukan pembelajaran secara mandiri, serta memanfaatkan berbagai sumber yang dapat mendukung kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja.
Meskipun demikian, di tengah kemajuan tersebut, tantangan yang dihadapi siswa tidak hanya terbatas pada kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga kesiapan dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat.
Masih banyak siswa SMK yang belum memahami dengan baik cara menyusun Curriculum Vitae (CV) yang profesional serta menghadapi proses wawancara kerja dengan penuh percaya diri. Padahal, kedua hal tersebut merupakan komponen penting dalam proses seleksi tenaga kerja.
Di Yayasan YMIK joglo yang berfokus pada kesiapan lulusan untuk bekerja, keterampilan menyusun CV dan menghadapi wawancara kerja menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa.
Tanpa pembekalan yang memadai, siswa berisiko mengalami kesulitan dalam menampilkan potensi diri, baik melalui dokumen tertulis maupun saat berinteraksi langsung dengan pihak perusahaan. Kondisi ini dapat berdampak pada rendahnya tingkat daya saing lulusan di dunia kerja.
Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata untuk meningkatkan kesiapan siswa, salah satunya melalui pelatihan penyusunan CV yang baik dan benar serta kegiatan simulasi wawancara kerja.
Baca juga: Pengembangan Kompensasi SDM Siswa SMK melalui Pelatihan Kesiapan Kerja (Work Readiness)
Melalui pelatihan tersebut, siswa dapat belajar menyajikan kelebihan, pengalaman, dan keterampilan yang dimiliki secara menarik dan profesional. Selain itu, simulasi wawancara juga dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, serta keterampilan dalam menjawab pertanyaan dengan tepat.
Diharapkan, kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) siswa Yayasan YMIK joglo sehingga mereka lebih siap menghadapi proses rekrutmen kerja.
Program ini juga dapat menjadi strategi bagi sekolah dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesiapan bersaing di dunia industri. Dengan demikian, siswa tidak hanya memiliki kompetensi di bidangnya, tetapi juga mampu mempromosikan diri secara efektif kepada dunia kerja.
Masalah, dan kemampuan beradaptasi. Menurut Robles (2021), soft skills merupakan komponen penting dalam keberhasilan individu di tempat kerja karena meningkatkan produktivitas dan nilai tambah dalam konteks organisasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Susanto dan Wulandari (2022) menunjukkan bahwa 68,5% lulusan SMK mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif di tempat kerja, 72,3% mengalami kesulitan dalam bekerja sama dalam tim, dan 65,8% belum memiliki pemahaman yang memadai tentang etika kerja profesional.
Etika kerja merupakan seperangkat nilai, norma, dan prinsip yang mengatur perilaku individu dalam melaksanakan pekerjaannya. Etika kerja yang baik meliputi disiplin, tanggung jawab, integritas, profesionalisme, dan kesadaran akan kualitas.
Menurut Velasquez (2022), etika kerja profesional merupakan fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang produktif dan berkelanjutan. Kombinasi antara soft skills dan etika kerja yang kuat akan menghasilkan individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu berkontribusi secara positif dalam lingkungan kerja.
Berdasarkan hasil observasi awal di Yayasan YMIK Joglo, Jakarta Barat, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh siswa SMK, antara lain:
(1) keterbatasan kemampuan komunikasi, di mana sebagian besar siswa masih kesulitan dalam menyampaikan ide dan pendapat secara jelas dan terstruktur; (2) kurangnya kemampuan kerja sama tim, siswa cenderung bekerja secara individual dan kurang memahami dinamika kerja dalam tim; (3) rendahnya kepercayaan diri, banyak siswa yang merasa kurang percaya diri dalam menghadapi situasi baru terkait dunia kerja; (4) pemahaman etika kerja yang terbatas, siswa belum memiliki pemahaman komprehensif mengenai etika kerja profesional; dan (5) kesiapan menghadapi dunia kerja yang masih rendah, siswa masih merasa belum siap secara mental dan sosial untuk memasuki dunia kerja setelah lulus dari SMK.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM siswa SMK melalui pelatihan soft skills dan etika kerja. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, dan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja sehingga dapat menjadi generasi muda yang mandiri, produktif, dan berdaya saing tinggi.
METODE
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama satu hari dengan melibatkan 45 siswa SMK Yayasan YMIK Joglo sebagai peserta. Metode utama yang digunakan adalah pelatihan interaktif yang disampaikan secara terstruktur dan sistematis oleh tim pelaksana.
Materi pelatihan mencakup dua tema pokok, yaitu soft skills dan etika kerja profesional. Setiap sesi dirancang secara bertahap agar peserta dapat memahami dan menginternalisasi setiap materi secara menyeluruh sebelum beralih ke sesi berikutnya.
Proses pelatihan dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan interaktif, di mana pemateri tidak hanya menyampaikan materi secara satu arah, tetapi juga membuka ruang tanya jawab dan diskusi ringan di setiap akhir sesi.
Hal ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan aktif peserta serta memastikan pemahaman yang merata di antara seluruh siswa. Evaluasi pemahaman peserta dilakukan melalui pre-test dan post-test serta angket kepuasan peserta.
Tabel 1. Susunan Acara Pelatihan
| No | Waktu | Kegiatan | Metode |
| 1 | 12.00 WIB | Briefing panitia dan foto bersama | Persiapan |
| 2 | 13.00–13.15 WIB | Pembukaan dan doa | Formal |
| 3 | 13.15–13.45 WIB | Sambutan dosen dan guru | Ceramah |
| 4 | 13.45–14.00 WIB | Ice Breaking | Games |
| 5 | 14.00–14.45 WIB | Penyampaian materi soft skills dan etika kerja | Ceramah interaktif |
| 6 | 14.45–15.00 WIB | Tanya jawab | Diskusi |
| 7 | 15.00–15.30 WIB | Games dan praktik teamwork | Simulasi |
| 8 | 16.00 WIB | Penutupan | Refleksi |

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung dengan lancar sesuai rencana yang telah disusun dan diikuti oleh seluruh peserta sebanyak 45 siswa kelas XI dan XII SMK Yayasan YMIK Joglo. Sejak awal hingga akhir kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap seluruh rangkaian acara.
Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang penuh, keterlibatan aktif dalam sesi diskusi, serta respon positif selama penyampaian materi berlangsung. Dukungan dari pihak sekolah juga turut menyang kelancaran kegiatan sehingga proses pelaksanaan dapat berjalan secara efektif dan kondusif.
Pada sesi penyampaian materi, siswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai berbagai topik yang relevan dengan kebutuhan mereka, seperti teknik komunikasi efektif, strategi menghadapi wawancara kerja, cara membangun kepercayaan diri, serta langkah menyesuaikan diri dengan budaya kerja profesional.
Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Tabel 2. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test
| Indikator | Pre-test | Post-test | Peningkatan |
| Pemahaman soft skills | 58% | 84% | 26% |
| Kemampuan komunikasi | 55% | 82% | 27% |
| Kerja sama tim | 60% | 85% | 25% |
| Kepercayaan diri | 62% | 86% | 24% |
| Etikakerja profesional | 54% | 87% | 33% |
| Kesiapan wawancara kerja | 61% | 89% | 28% |
Selain data kuantitatif, kegiatan ini juga menghasilkan perubahan perilaku positif pada peserta. Banyak siswa menunjukkan sikap lebih percaya diri, lebih termotivasi, dan lebih berani menyampaikan pendapat.
Sebagian siswa mulai memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme dalam dunia kerja. Beberapa peserta juga menyampaikan minat untuk mengembangkan diri lebih lanjut melalui pelatihan serupa di masa mendatang.
Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan soft skills dan etika kerja mampu meningkatkan kesiapan siswa dalam menghadapi dunia kerja. Program ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangun pola pikir positif dan semangat kemandirian pada siswa SMK Yayasan YMIK Joglo.
Tabel 3. Penilaian Peserta terhadap Pelaksanaan Pelatihan
| No | Aspek Penilaian | Rata-rata Skor | Kategori |
| 1 | Materi Pelatihan | 4,72 | Sangat Baik |
| 2 | Narasumber | 4,78 | Sangat Baik |
| 3 | Metode Penyampaian | 4,69 | Sangat Baik |
| 4 | Fasilitas Kegiatan | 4,65 | Sangat Baik |
| 5 | Manfaat Kegiatan | 4,74 | Sangat Baik |
| Rata-rata Total | 4,72 | Sangat Baik |
Pembahasan
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendidikan soft skills dan etika kerja perlu diberikan sejak dini kepada siswa SMK sebagai bagian dari pembentukan kompetensi lulusan yang adaptif terhadap tuntutan dunia kerja. Soft skills tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga mencakup keberanian berkomunikasi, kreativitas, inovasi, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.
Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan kerja di era digital yang menuntut sumber daya manusia lebih fleksibel dan produktif. Dengan adanya pelatihan ini, siswa mulai memahami bahwa kompetensi non-teknis dapat menjadi pembeda kompetitif dalam memasuki dunia kerja.
Peningkatan pemahaman siswa mengenai soft skills menunjukkan bahwa materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Sebagian besar siswa mulai mengenal pentingnya komunikasi efektif, kerja sama tim, dan kepercayaan diri dalam konteks profesional.
Hal ini sejalan dengan pendapat Becker (2023) yang menyatakan bahwa soft skills merupakan komponen penting dalam teori Human Capital karena meningkatkan produktivitas dan nilai tambah individu dalam konteks organisasi. Dengan demikian, siswa SMK memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan daya saing sejak dini dengan mengembangkan kompetensi non-teknis yang telah akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Pelatihan etika kerja juga terbukti memberikan pengaruh positif terhadap perubahan sikap siswa. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian siswa masih menunjukkan pemahaman terbatas tentang norma dan nilai profesional di tempat kerja.
Setelah pelatihan, siswa mulai memahami pentingnya disiplin, tanggung jawab, integritas, dan profesionalisme. Temuan ini sejalan dengan teori Velasquez (2022) yang menekankan bahwa etika kerja profesional merupakan fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang produktif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, etika kerja menjadi fondasi penting bagi siswa sebelum memasuki dunia kerja.
Pada aspek kesiapan menghadapi dunia kerja, hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa terhadap pentingnya mempersiapkan diri secara mental dan sosial. Sebelumnya, banyak siswa belum memiliki gambaran jelas tentang proses rekrutmen, wawancara kerja, dan ekspektasi dunia industri.
Setelah mengikuti kegiatan, siswa mulai mampu mengenali kebutuhan diri serta merencanakan langkah strategis untuk memasuki dunia kerja. Menurut Harvey (2023), konsep Employability Skills mencakup serangkaian keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang memungkinkan individu untuk mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan.
Dengan demikian, pembekalan soft skills dan etika kerja sejak di bangku sekolah sangat diperlukan agar siswa tidak mengalami kesulitan setelah lulus.
Kesiapan siswa menghadapi simulasi wawancara kerja juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Simulasi wawancara merupakan sarana penting bagi siswa SMK untuk mengenal proses seleksi kerja secara langsung. Melalui kegiatan ini, siswa diberikan pengalaman praktis mengenai teknik menjawab pertanyaan, komunikasi non-verbal, dan penyampaian diri secara profesional.
Bekal tersebut penting karena banyak siswa memiliki kemampuan teknis, tetapi belum memahami cara mempresentasikan diri di hadapan pewawancara. Dengan meningkatnya kesiapan wawancara, siswa diharapkan mampu beradaptasi lebih cepat saat terjun ke dunia kerja nyata.
Selain peningkatan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan dampak psikologis yang positif. Siswa terlihat lebih percaya diri, lebih aktif bertanya, serta lebih berani menyampaikan gagasan. Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai media pemberdayaan siswa.
Lingkungan pembelajaran yang interaktif mampu mendorong siswa untuk keluar dari zona nyaman dan berani mengeksplorasi potensi diri. Hal ini penting dalam membentuk karakter generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Secara umum, hasil kegiatan membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi melalui transfer pengetahuan, pengalaman praktis, dan motivasi kepada siswa sekolah. Sementara itu, sekolah menjadi mitra utama dalam menyiapkan peserta didik yang siap berkembang.
Oleh karena itu, program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas, seperti literasi digital, pengembangan personal branding, dan simulasi kerja profesional agar siswa semakin siap menjadi generasi yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
SIMPULAN
Pelatihan penyusunan Curriculum Vitae (CV) dan simulasi interview di Yayasan YMIK Joglo berhasil meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kepercayaan diri siswa dalam menghadapi dunia kerja.
Kegiatan ini memberikan bekal praktis yang dapat digunakan siswa ketika melamar pekerjaan maupun mengikuti proses seleksi. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kualitas lulusan SMK yang kompetitif dan siap kerja.
Penulis:
- Yuditia Agung Prasetyo
- Apriliano Caesar L.W
- Wahyuni
Mahasiswa Manajemen, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Bulan Oktrima S.Si.M.M.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik penduduk Indonesia 2024. BPS. https://www.bps.go.id
Becker, G. S. (2023). Human capital: A theoretical and empirical analysis, with special reference to education (4th ed.). University of Chicago Press.
Harvey, L. (2023). Defining and measuring employability. Quality in Higher Education, 17(2), 97-
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Laporan kinerja Kemendikbudristek 2023. Kemendikbudristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Data pokok pendidikan 2024. Kemendikbudristek.
Kurniawan, A., Pratama, B., & Sari, D. (2024). Pembekalan etika kerja profesional dan dampaknya terhadap kesiapan kerja siswa SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 14(1), 45-58. https://doi.org/10.21831/jpv.v14i1.51234
Noe, R. A. (2023). Employee training and development (9th ed.). McGraw-Hill Education.
Pratama, B., & Sari, D. (2023). Pelatihan soft skills berbasis experiential learning untuk meningkatkan kompetensi employability mahasiswa vokasi. Jurnal Abdimas Ilmu Teknologi Sistem Informasi, 3(2), 112-125. https://doi.org/10.47000/jaitis.v3i2.9876
Rahmawati, S., & Hidayat, R. (2025). Integrasi pelatihan soft skills dalam kurikulum SMK: Dampak terhadap kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi siswa. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 23(1), 78-92. https://doi.org/10.21831/jptk.v23i1.62345
Robles, M. M. (2021). Executive perceptions of the top 10 soft skills needed in today’s workplace.
Business and Professional Communication Quarterly, 75(4), 453-465. https://doi.org/10.1177/1080569912460400
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












