Pengembangan Kompensasi SDM Siswa SMK melalui Pelatihan Kesiapan Kerja (Work Readiness)

Pemberian Hadia cendramata dari pihak kampus untuk sekolah
Pemberian Hadia cendramata dari pihak kampus untuk sekolah (dok pribadi)

Abstract

Human Resource Development (HRD) plays a crucial role in enhancing the quality and competitiveness of vocational high school (SMK) graduates in meeting the demands of an increasingly dynamic labor market. The rapid development of industry and technology requires graduates to possess not only technical competencies (hard skills) but also essential employability skills (soft skills) such as communication, teamwork, problem-solving, adaptability, discipline, and professional work ethics. Therefore, work readiness training has become an important strategy for preparing students to transition successfully from education to employment. This study aims to analyze the role of work readiness training in the development of human resource compensation among vocational high school students and its impact on improving graduate quality and employability. The research employs a descriptive qualitative approach through a literature review of relevant journals, books, and academic sources related to human resource development, compensation, vocational education, and work readiness.

The findings indicate that work readiness training significantly contributes to improving students’ knowledge, skills, attitudes, and professional behavior. Training programs designed according to industry needs help students gain confidence, enhance their job-seeking abilities, and adapt more effectively to workplace environments. Furthermore, the competencies acquired through such training increase students’ productivity and economic value as future employees, which may positively influence the level of compensation they receive upon entering the workforce. Improved work readiness also increases employment opportunities and strengthens graduates’ competitiveness in the labor market. Therefore, integrating work readiness training into vocational education is essential for developing highly qualified human resources who are capable of meeting industry expectations and achieving better career prospects. Continuous implementation of these programs is expected to produce competent, professional, and industry-ready graduates.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Keywords: Human Resource Development, Compensation, Vocational High School Students, Work Readiness Training, Employability Skills, Vocational Education, Workforce Development.

Abstrak

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar mampu bersaing di dunia kerja yang terus mengalami perubahan. Tingginya tuntutan industri terhadap tenaga kerja yang kompeten tidak hanya mengharuskan lulusan memiliki keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga keterampilan nonteknis (soft skills) seperti komunikasi, kerja sama tim, disiplin, etika kerja, kemampuan beradaptasi, dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan SDM yang efektif melalui pelatihan kesiapan kerja (work readiness training) sebagai upaya mempersiapkan siswa SMK untuk memasuki dunia kerja secara profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pelatihan kesiapan kerja dalam pengembangan kompensasi SDM siswa SMK serta dampaknya terhadap peningkatan kualitas dan daya saing lulusan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan studi literatur, yaitu mengkaji berbagai jurnal ilmiah, buku, dan sumber referensi yang relevan mengenai pengembangan SDM, kompensasi, pendidikan vokasi, dan kesiapan kerja.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pelatihan kesiapan kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi siswa, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap kerja. Program pelatihan yang dirancang sesuai kebutuhan industri mampu meningkatkan kepercayaan diri, kesiapan menghadapi proses rekrutmen, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja. Selain itu, peningkatan kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi tenaga kerja, yang pada akhirnya dapat memengaruhi besaran kompensasi yang diterima setelah memasuki dunia kerja. Dengan demikian, pelatihan kesiapan kerja dapat menjadi sarana strategis dalam mengembangkan kualitas SDM siswa SMK sekaligus meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan yang layak dan kompensasi yang lebih kompetitif. Implementasi program ini secara berkelanjutan diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul, profesional, dan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Kata Kunci: Pengembangan SDM, Kompensasi, Siswa SMK, Pelatihan Kesiapan Kerja, Work Readiness, Pendidikan Vokasi, Dunia Industri.

Latar Belakang Pelaksanaan

Perkembangan dunia industri dan dunia kerja pada era transformasi digital menuntut tersedianya sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kesiapan kerja yang baik. Persaingan tenaga kerja semakin ketat seiring berkembangnya teknologi, otomatisasi industri, serta perubahan pola rekrutmen yang lebih kompetitif. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai tenaga kerja tingkat menengah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri melalui penguasaan keterampilan, sikap profesional, dan pemahaman mengenai sistem ketenagakerjaan, termasuk hak dan kewajiban sebagai pekerja.

Salah satu aspek penting yang masih kurang dipahami oleh sebagian besar siswa SMK adalah mengenai kompensasi sumber daya manusia. Kompensasi merupakan seluruh bentuk balas jasa yang diterima pekerja sebagai imbalan atas kontribusi yang diberikan kepada perusahaan, baik dalam bentuk finansial maupun nonfinansial. Pemahaman mengenai sistem kompensasi menjadi bekal penting bagi calon tenaga kerja agar mampu memahami hak-haknya ketika memasuki dunia kerja, seperti gaji pokok, tunjangan, insentif, bonus, jaminan sosial ketenagakerjaan, hingga kesempatan pengembangan karier.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2025), tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK masih menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lulusan SMK masih menghadapi berbagai tantangan dalam memasuki dunia kerja. Selain keterampilan teknis, dunia industri juga menuntut kesiapan kerja (work readiness), yaitu kesiapan individu dalam menghadapi lingkungan kerja yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap, kemampuan beradaptasi, komunikasi, disiplin, tanggung jawab, serta pemahaman terhadap budaya organisasi dan sistem ketenagakerjaan.

Konsep work readiness menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan lulusan SMK memperoleh dan mempertahankan pekerjaan. Seseorang yang memiliki kesiapan kerja tidak hanya memahami proses rekrutmen dan tuntutan pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan mengenali hak serta kewajiban sebagai tenaga kerja profesional. Oleh karena itu, pemahaman mengenai sistem kompensasi SDM menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan kerja karena dapat meningkatkan motivasi kerja, kepuasan kerja, dan kesadaran terhadap pentingnya hubungan industrial yang harmonis.

Berdasarkan hasil observasi awal di SMK YMIK Jakarta Barat, masih ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi siswa menjelang kelulusan, antara lain: (1) masih rendahnya pemahaman mengenai konsep kompensasi tenaga kerja dan hak normatif pekerja; (2) kurangnya pengetahuan mengenai komponen gaji, tunjangan, bonus, dan jaminan sosial; (3) rendahnya kesiapan menghadapi proses seleksi kerja dan wawancara; (4) kurangnya pemahaman mengenai etika profesional serta budaya kerja di perusahaan; dan (5) belum optimalnya kemampuan siswa dalam merencanakan pengembangan karier setelah lulus.

Melihat kondisi tersebut, diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan Kesiapan Kerja (Work Readiness) yang mengintegrasikan materi mengenai pengembangan kompensasi SDM dengan pembekalan kesiapan memasuki dunia kerja. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai sistem kompensasi, hak dan kewajiban tenaga kerja, strategi menghadapi proses rekrutmen, serta membangun sikap profesional yang dibutuhkan oleh dunia industri. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa SMK YMIK memiliki kesiapan kerja yang lebih baik, memahami pentingnya kompensasi sebagai bentuk penghargaan atas kinerja, serta mampu menjadi lulusan yang kompeten, produktif, dan memiliki daya saing tinggi di dunia kerja.

Baca juga: Peningkatan Kualitas SDM Siswa SMK melalui Pelatihan Soft Skill dan Etika Kerja

Metode

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di SMK YMIK Joglo, Jakarta Barat, dengan melibatkan 45 siswa kelas XI dan XII sebagai peserta. Kegiatan dirancang dalam bentuk Pelatihan Kesiapan Kerja (Work Readiness) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengembangan kompensasi sumber daya manusia (SDM), hak dan kewajiban tenaga kerja, serta kesiapan menghadapi dunia kerja. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara tatap muka selama satu hari dengan pendekatan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan aplikatif sehingga peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikan materi yang diberikan dalam situasi nyata.

Metode pelaksanaan diawali dengan observasi dan identifikasi kebutuhan, yaitu melalui diskusi bersama pihak sekolah untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai kompensasi SDM dan kesiapan kerja. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belum memahami komponen kompensasi, hak-hak tenaga kerja, serta strategi mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Berdasarkan kondisi tersebut, tim PKM menyusun materi pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta.

Penyampaian materi dilakukan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi, studi kasus, simulasi, dan tanya jawab. Materi yang diberikan meliputi konsep dasar kompensasi SDM, jenis-jenis kompensasi finansial dan nonfinansial, hak dan kewajiban pekerja, strategi membangun kesiapan kerja (work readiness), penyusunan curriculum vitae (CV), teknik menghadapi wawancara kerja, serta sikap profesional yang dibutuhkan di lingkungan kerja. Selama proses pelatihan, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai permasalahan yang sering dihadapi lulusan SMK ketika memasuki dunia kerja sehingga suasana pembelajaran menjadi lebih aktif dan komunikatif.

Sebagai bentuk penguatan pemahaman, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi wawancara kerja (mock interview) dan pembahasan studi kasus mengenai sistem kompensasi di perusahaan. Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih untuk memperkenalkan diri secara profesional, menjawab pertanyaan pewawancara dengan baik, memahami penawaran kompensasi yang diberikan perusahaan, serta mengetahui hak-hak dasar sebagai calon tenaga kerja. Selain itu, peserta juga diberikan latihan menyusun rencana pengembangan karier sebagai bagian dari peningkatan kesiapan kerja.

Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Aspek yang dievaluasi meliputi pemahaman mengenai kompensasi SDM, hak dan kewajiban tenaga kerja, kesiapan menghadapi proses rekrutmen, kemampuan menghadapi wawancara kerja, serta pemahaman terhadap budaya kerja profesional. Selain itu, tim pelaksana juga menyebarkan angket kepuasan peserta untuk memperoleh masukan mengenai kualitas materi, penyampaian narasumber, metode pelatihan, fasilitas kegiatan, dan manfaat program secara keseluruhan.

Tabel 1. Susunan Acara Pelatihan

No Waktu Kegiatan Metode
1 07.00 WIB Briefing panitia dan foto bersama Persiapan
2 09.00–09.15 WIB Pembukaan dan doa Formal
3 09.15–09.45 WIB Sambutan dosen dan guru Ceramah
4 09.45–10.00 WIB Ice Breaking Games
5 10.00–10.45 WIB Penyampaian materi soft skills dan etika kerja Ceramah interaktif
6 10.45–11.00 WIB Tanya jawab Diskusi
7 11.00–12.30 WIB Games dan praktik teamwork Simulasi
8 12.30 WIB Penutupan Refleksi

            

Pemberian Hadia cendramata dari pihak kampus untuk sekolah
Foto 1: Pemberian Hadia cendramata dari pihak kampus untuk sekolah (dok pribadi)

 

Baca juga: Mengenal Fenomena Quiet Quitting di Dunia Kerja Modern

Hasil dan Pembahasan 

Pelaksanaan kegiatan diikuti oleh siswa SMK Yayasan YMIK Joglo dengan antusiasme yang tinggi. Peserta aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari sesi penyampaian materi hingga simulasi praktik.

Hasil

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlangsung dengan lancar sesuai rencana yang telah disusun dan diikuti oleh seluruh peserta sebanyak 45 siswa kelas XI dan XII SMK Yayasan YMIK Joglo. Sejak awal hingga akhir kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap seluruh rangkaian acara. Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang penuh, keterlibatan aktif dalam sesi diskusi, serta respon positif selama penyampaian materi berlangsung. Dukungan dari pihak sekolah juga turut menyang kelancaran kegiatan sehingga proses pelaksanaan dapat berjalan secara efektif dan kondusif.

Pada sesi penyampaian materi, siswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai berbagai topik yang relevan dengan kebutuhan mereka, seperti teknik komunikasi efektif, strategi menghadapi wawancara kerja, cara membangun kepercayaan diri, serta langkah menyesuaikan diri dengan budaya kerja profesional. Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa dalam menghadapi tantangan dunia kerja.

Berdasarkan hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pemahaman siswa secara signifikan pada seluruh indikator yang diukur. Peningkatan tertinggi terlihat pada aspek pemahaman etika kerja dan kesiapan menghadapi wawancara kerja, sedangkan peningkatan pada aspek soft skills menunjukkan bahwa siswa mulai memahami pentingnya kompetensi non-teknis dalam dunia kerja modern.

Tabel 2. Hasil Evaluasi Pre-test dan Post-test

Indikator Pre-test Post-test Peningkatan
Pemahaman konsep kompensasi SDM 57% 88% 31%
Pemahaman hak dan kewajiban tenaga kerja 60% 89% 29%
Pemahaman sistem penggajian dan tunjangan 55% 86% 31%
Kesiapan menghadapi proses rekrutmen 61% 90% 29%
Kemampuan menghadapi wawancara kerja 63% 91% 28%
Pemahaman budaya kerja profesional 58% 87% 29%

Selain peningkatan hasil evaluasi, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap perubahan sikap peserta. Setelah mengikuti pelatihan, siswa terlihat lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, lebih memahami pentingnya kesiapan kerja sebelum memasuki dunia industri, serta memiliki kesadaran yang lebih baik mengenai hak-hak tenaga kerja dan pentingnya sistem kompensasi dalam meningkatkan motivasi serta produktivitas kerja. Peserta juga mulai memahami bahwa kompensasi tidak hanya berupa gaji, tetapi juga mencakup berbagai bentuk penghargaan lain seperti tunjangan, insentif, bonus, kesempatan pengembangan karier, dan fasilitas kesejahteraan yang diberikan perusahaan.

Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan Work Readiness berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengembangan kompensasi SDM sekaligus membentuk kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif

Tabel 3. Penilaian Peserta Terhadap Pelaksanaan Pelatihan

No Aspek Penilaian Rata-rata Skor Kategori
1 Materi Pelatihan 4,76 Sangat Baik
2 Narasumber 4,80 Sangat Baik
3 Metode Penyampaian 4,73 Sangat Baik
4 Fasilitas Kegiatan 4,68 Sangat Baik
5 Manfaat Kegiatan 4,82 Sangat Baik
Rata-rata Total 4,76 Sangat Baik

 

foto kegiatan Bersama
Foto 2: Foto Kegiatan bersama (dok pribadi)

 

Baca juga: Analisis Pasar Tenaga Kerja dan Upah di Era Digital: Perspektif Ekonomi Manajerial

Pembahasan

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan Work Readiness yang dipadukan dengan materi mengenai pengembangan kompensasi SDM mampu meningkatkan pemahaman siswa SMK terhadap aspek-aspek penting yang dibutuhkan sebelum memasuki dunia kerja. Sebelum mengikuti pelatihan, sebagian besar peserta hanya memahami kompensasi sebagai gaji bulanan, sedangkan setelah pelatihan mereka mulai memahami bahwa kompensasi merupakan keseluruhan bentuk penghargaan yang diberikan perusahaan kepada karyawan, baik dalam bentuk finansial maupun nonfinansial. Pemahaman tersebut menjadi bekal penting agar lulusan SMK mampu mengenali hak dan kewajiban mereka ketika memasuki dunia kerja.

Peningkatan pemahaman mengenai sistem kompensasi juga berpengaruh terhadap kesiapan kerja peserta. Siswa menjadi lebih memahami pentingnya memilih pekerjaan berdasarkan kesesuaian antara kompetensi, jenjang karier, dan sistem penghargaan yang diberikan perusahaan. Pengetahuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja sekaligus mendorong terciptanya hubungan kerja yang profesional antara pekerja dan perusahaan.

Pada aspek work readiness, hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesiapan siswa dalam menghadapi proses seleksi kerja, terutama pada tahap penyusunan curriculum vitae (CV), wawancara kerja, serta komunikasi profesional. Melalui simulasi wawancara yang dilakukan selama pelatihan, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai cara menjawab pertanyaan pewawancara, menyampaikan kelebihan diri, serta memahami etika komunikasi di lingkungan kerja. Pengalaman praktik tersebut membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kesiapan mental peserta ketika nantinya mengikuti proses rekrutmen di perusahaan.

Pelatihan ini juga memberikan dampak terhadap perubahan pola pikir siswa mengenai pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan. Peserta mulai memahami bahwa keberhasilan dalam dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis (hard skills), tetapi juga oleh kemampuan komunikasi, etika kerja, disiplin, tanggung jawab, serta pemahaman terhadap sistem kompensasi dan budaya organisasi. Dengan demikian, pelaksanaan program PKM ini memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia siswa SMK YMIK agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Secara umum, kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah melalui program pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kesiapan kerja lulusan SMK. Oleh karena itu, program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menambahkan materi mengenai literasi ketenagakerjaan, pengembangan karier, personal branding, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia industri agar lulusan SMK semakin kompetitif di pasar kerja.

Simpulan

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di SMK YMIK Joglo, Jakarta Barat berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai pengembangan kompensasi sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan kesiapan kerja (Work Readiness). Program ini memberikan wawasan kepada peserta mengenai konsep kompensasi, komponen-komponen kompensasi, hak dan kewajiban tenaga kerja, serta pentingnya kesiapan kerja sebagai bekal memasuki dunia industri. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa pada seluruh indikator yang diukur, terutama pada aspek pemahaman sistem kompensasi, kesiapan menghadapi proses rekrutmen, serta kemampuan menghadapi wawancara kerja.

Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap perubahan sikap peserta. Siswa menjadi lebih percaya diri, lebih memahami pentingnya etika kerja, komunikasi profesional, tanggung jawab, dan disiplin sebagai bagian dari kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja. Pemahaman mengenai sistem kompensasi juga mendorong siswa untuk lebih mengenali hak-hak mereka sebagai calon tenaga kerja sehingga mampu membangun motivasi kerja dan merencanakan pengembangan karier secara lebih baik.

Secara keseluruhan, pelatihan Work Readiness terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan kerja siswa SMK sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pengembangan kompensasi SDM. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah melalui kegiatan PKM menjadi salah satu strategi yang efektif dalam menciptakan lulusan SMK yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi. Oleh karena itu, program serupa disarankan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas, seperti literasi ketenagakerjaan, pengelolaan karier, personal branding, negosiasi kompensasi, serta pemanfaatan teknologi digital dalam proses rekrutmen sehingga lulusan SMK semakin siap menghadapi tantangan dunia kerja.


Penulis:
1. Ridwan Nawawi
2. Arif Tegar Prasetyo
3. Reza Muhamad Ihsan
4. Anum Nuryani
Mahasiswa Universitas Pamulang


Editor: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Becker, G. S. (1993). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis with Special Reference to Education (3rd ed.). University of Chicago Press.

Badan Pusat Statistik. (2025). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Tahun 2025. Badan Pusat Statistik.

Dessler, G. (2020). Human Resource Management (16th ed.). Pearson.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Statistik Pendidikan Vokasi Indonesia. Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.

Mondy, R. W., & Martocchio, J. J. (2021). Human Resource Management (15th ed.). Pearson.

Noe, R. A. (2020). Employee Training and Development (8th ed.). McGraw-Hill Education.

Simamora, H. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. STIE YKPN.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. World Economic Forum.

Yusuf, B. (2021). Manajemen Sumber Daya Manusia di Era Digital. Rajawali Pers.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses