Menjaga Pola Makan Sehat di Tengah Maraknya Fast Food

makanan cepat saji
Foto: Dok. MMI

Di tengah jadwal kuliah, tugas, perjalanan, dan kegiatan harian yang padat, makanan cepat saji sering terasa seperti jawaban paling mudah.

Tinggal pesan lewat aplikasi, tunggu sebentar, lalu makanan datang dalam keadaan hangat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Rasanya kuat, porsinya mengenyangkan, dan tampilannya menggoda.

Tidak heran jika banyak orang memilihnya saat lapar, lelah, atau tidak sempat memasak.

Masalahnya, kebiasaan ini pelan-pelan dapat membuat tubuh terbiasa menerima makanan tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah serat serta zat gizi lain.

Makan sehat pun bukan lagi sekadar soal niat, melainkan soal keberanian memilih dengan sadar di tengah banyaknya godaan.

Makanan cepat saji digemari bukan hanya karena rasanya.

Faktor harga, kemasan, iklan, jarak gerai yang dekat, dan ajakan teman juga ikut mendorong orang untuk membelinya.

Bohara et al. (2021) menunjukkan bahwa konsumsi junk food pada remaja berkaitan dengan ketersediaan makanan tersebut di rumah, sekolah, perjalanan, serta pengaruh teman.

Artinya, seseorang bisa saja sudah tahu bahwa makanan cepat saji tidak baik bila terlalu sering dimakan, tetapi tetap membelinya karena lingkungan sekitar membuat pilihan itu terasa wajar.

Inilah yang membuat kebiasaan makan tidak cukup dilihat sebagai urusan pribadi, sebab suasana sekitar juga ikut membentuk keputusan harian.

Masalah utama dari makanan cepat saji bukan terletak pada satu kali makan burger, ayam goreng, atau kentang goreng.

Masalah muncul ketika makanan seperti itu menjadi pilihan rutin dan menggantikan makanan rumahan yang lebih beragam.

Martini et al. (2021) menjelaskan bahwa konsumsi makanan ultraolahan yang tinggi berkaitan dengan naiknya asupan gula bebas, lemak total, dan lemak jenuh, serta turunnya asupan serat, protein, kalium, seng, magnesium, dan beberapa vitamin.

Tubuh memang mendapat kalori, tetapi belum tentu memperoleh zat yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik. Akibatnya, seseorang bisa kenyang, tetapi kebutuhan gizinya belum terpenuhi.

Pada remaja dan mahasiswa, kebiasaan ini perlu mendapat perhatian karena usia muda sering dianggap masa tubuh masih kuat.

Padahal, pola makan pada masa ini dapat membentuk kebiasaan jangka panjang.

Mumena et al. (2022) menemukan bahwa sekitar 28,5% remaja dalam penelitiannya mengonsumsi makanan cepat saji lebih dari dua kali seminggu, dan frekuensi tersebut berkaitan dengan mutu diet yang lebih rendah serta asupan karbohidrat dan gula bebas yang lebih tinggi.

Temuan ini memberi gambaran bahwa makanan cepat saji bukan hanya soal berat badan, tetapi juga soal mutu asupan harian.

Tubuh yang sering diberi makanan asal kenyang akan kesulitan mendapat bahan bakar yang layak.

Makan sehat sebenarnya tidak harus mahal atau merepotkan.

Langkahnya bisa dimulai dari piring sehari-hari: nasi atau sumber karbohidrat secukupnya, lauk berprotein seperti telur, ikan, tempe, tahu, atau ayam, lalu ditambah sayur dan buah.

Air putih juga sebaiknya menjadi pilihan utama dibanding minuman manis.

Bila belum bisa memasak setiap hari, seseorang tetap dapat memilih menu yang lebih baik saat membeli makanan, misalnya memilih lauk panggang daripada gorengan, mengurangi saus, tidak menambah minuman manis, dan memilih porsi yang tidak berlebihan.

Perubahan kecil seperti ini lebih mudah dijalankan daripada langsung melarang diri dari semua makanan yang disukai.

Godaan makanan cepat saji juga bisa dikurangi dengan menyiapkan rencana makan sederhana.

Membawa bekal ringan, menyimpan buah, menyiapkan air minum, atau makan sebelum terlalu lapar dapat membantu seseorang tidak mudah membeli makanan secara mendadak.

Saat membuka aplikasi pesan makanan, pilih menu setelah berpikir sebentar, bukan saat emosi atau sangat lapar.

Makanan cepat saji tetap boleh dinikmati sesekali, tetapi jangan dijadikan pelarian setiap kali lelah.

Dengan cara ini, seseorang tidak merasa sedang menghukum diri, melainkan sedang belajar memberi tubuh pilihan yang lebih layak.

Makan sehat di tengah godaan makanan cepat saji bukan berarti menolak semua makanan modern.

Kuncinya adalah mengenali batas dan tidak menyerahkan keputusan makan sepenuhnya kepada rasa lapar, promo, atau ajakan teman.

Tubuh membutuhkan makanan yang bukan hanya enak, tetapi juga memberi tenaga, menjaga fokus, dan membantu aktivitas sehari-hari.

Jika makanan cepat saji dimakan sesekali, tubuh masih dapat menyesuaikan.

Namun, jika menjadi kebiasaan harian, tubuh akan menanggung akibatnya pelan-pelan.

Maka, makan sehat perlu dimulai dari pilihan kecil yang dilakukan berulang: minum air putih, menambah sayur, memilih lauk yang lebih baik, dan berhenti sebelum berlebihan.


Penulis: Moza Khairunnisa Alwis
Mahasiswa Universitas YARSI


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

  1. Bohara, S. S., Thapa, K., Bhatt, L. D., Dhami, S. S., & Wagle, S. (2021). Determinants of junk food consumption among adolescents in Pokhara Valley, Nepal. Frontiers in Nutrition, 8, Article 644650. https://doi.org/10.3389/fnut.2021.644650
  2. Martini, D., Godos, J., Bonaccio, M., Vitaglione, P., & Grosso, G. (2021). Ultra-processed foods and nutritional dietary profile: A meta-analysis of nationally representative samples. Nutrients, 13(10), Article 3390. https://doi.org/10.3390/nu13103390
  3. Mumena, W. A., Ateek, A. A., Alamri, R. K., Alobaid, S. A., Alshallali, S. H., Afifi, S. Y., Aljohani, G. A., & Kutbi, H. A. (2022). Fast-food consumption, dietary quality, and dietary intake of adolescents in Saudi Arabia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(22), Article 15083. https://doi.org/10.3390/ijerph192215083

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses