Mengerjakan skripsi bukan hanya soal menyelesaikan penelitian dan mengejar jadwal sidang. Bagi sebagian mahasiswa, fase ini juga dapat mengubah pola tidur, waktu makan, aktivitas fisik, hingga kondisi psikologis.
Karena itu, menjaga kesehatan selama mengerjakan skripsi perlu menjadi bagian dari rutinitas, bukan sesuatu yang baru dilakukan ketika tubuh sudah kelelahan.
Penelitian pada mahasiswa Indonesia yang sedang mengerjakan skripsi menunjukkan bahwa kualitas tidur dan status pengerjaan skripsi berhubungan dengan tingkat stres yang dirasakan. Studi tersebut melibatkan 356 mahasiswa dan menemukan bahwa mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak sedang mengerjakan skripsi.
Lalu, apa yang bisa dilakukan mahasiswa agar tetap sehat selama menyelesaikan tugas akhir?
1. Tetap Perhatikan Pola Makan
Kesibukan mengerjakan skripsi sering membuat mahasiswa makan tidak teratur. Ada yang menunda makan karena mengejar revisi, sementara yang lain terlalu sering mengandalkan makanan instan atau pesan antar.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan asupan zat gizi yang beragam untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa prinsip gizi seimbang mencakup konsumsi makanan yang beragam, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, serta pemantauan berat badan.
Karena itu, tidak perlu mencari pola makan yang rumit. Cobalah memastikan makanan sehari-hari terdiri dari sumber karbohidrat, protein, sayuran, buah, dan cukup cairan.
Jika sedang bekerja di perpustakaan atau tempat lain dalam waktu lama, siapkan makanan atau camilan yang lebih bernutrisi sehingga kamu tidak selalu bergantung pada makanan cepat saji.
2. Jangan Mengorbankan Waktu Tidur
Salah satu kebiasaan yang sering muncul ketika mengerjakan skripsi adalah begadang. Mahasiswa mungkin merasa malam hari merupakan waktu yang paling tenang untuk membaca jurnal, mengolah data, atau menyelesaikan revisi.
Namun, waktu tidur tetap perlu diperhatikan.
Penelitian Universitas Gadjah Mada terhadap mahasiswa Indonesia menemukan bahwa kualitas tidur berperan terhadap konsentrasi mahasiswa. Studi tersebut melibatkan 113 mahasiswa berusia 18–25 tahun.
Jika kamu mulai kesulitan mengatur waktu tidur, buat batas waktu untuk berhenti mengerjakan skripsi. Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam satu malam.
Kamu juga dapat membaca artikel tips tidur nyenyak bagi mahasiswa dengan jadwal kuliah padat untuk mendapatkan strategi yang lebih spesifik mengenai kebiasaan tidur.
3. Atur Waktu Kerja agar Tidak Terus-Menerus Duduk
Mengerjakan skripsi selama berjam-jam di depan laptop dapat membuat tubuh kurang bergerak. Kebiasaan ini dapat terjadi terutama ketika mahasiswa sedang mengejar target penulisan atau analisis data.
Karena itu, jangan menjadikan duduk di depan laptop sebagai aktivitas tanpa jeda.
Setelah menyelesaikan satu bagian pekerjaan, berdirilah sebentar, berjalan, melakukan peregangan ringan, atau mengambil air minum. Aktivitas sederhana tersebut membantu memberikan jeda dari posisi duduk yang terlalu lama.
Kementerian Kesehatan juga memasukkan aktivitas fisik sebagai salah satu bagian dari prinsip gizi seimbang.
Kamu tidak harus selalu melakukan olahraga berat. Berjalan kaki, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik ringan dapat menjadi pilihan yang lebih realistis di tengah kesibukan skripsi.
4. Kelola Stres, Bukan Sekadar Memaksakan Produktivitas
Revisi yang berulang, sulit bertemu dosen pembimbing, data yang belum sesuai, atau penelitian yang harus diperbaiki dapat membuat proses skripsi terasa melelahkan secara mental.
Stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir bukan persoalan yang perlu dianggap sepele. Penelitian pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Indonesia menemukan hubungan yang kuat antara kesejahteraan psikologis dan tingkat stres pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
Karena itu, mengelola stres tidak berarti berhenti mengejar target. Justru, kamu perlu mengatur cara bekerja agar tekanan tidak terus menumpuk.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- membagi pekerjaan skripsi menjadi target kecil;
- menentukan waktu khusus untuk mengerjakan skripsi;
- mengambil jeda setelah menyelesaikan bagian tertentu;
- berbicara dengan teman ketika menghadapi kebuntuan;
- melakukan aktivitas yang membuat pikiran lebih rileks.
Jika kamu membutuhkan pembahasan lebih khusus, kamu juga dapat membaca artikel tentang cara mengatasi kelelahan bagi mahasiswa aktivis organisasi.
5. Batasi Ketergantungan pada Kopi dan Minuman Berkafein
Kopi memang sering menjadi teman mahasiswa ketika harus membaca jurnal atau mengejar revisi sampai malam. Masalahnya muncul ketika kafein digunakan untuk menggantikan waktu istirahat.
Jika kamu mulai merasa harus minum kopi agar bisa terus bekerja, evaluasi kembali pola tidur dan beban kerja yang sedang dijalani.
Konsumsi kafein juga sebaiknya tidak menjadi alasan untuk terus menunda tidur. Pilihan yang lebih baik adalah mengatur waktu kerja sehingga kebutuhan untuk tetap terjaga sepanjang malam dapat dikurangi.
Selain kopi, perhatikan pula konsumsi minuman dengan gula tambahan. Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, asin, serta berlemak sebagai bagian dari pola hidup sehat.
6. Tetap Terhubung dengan Orang Lain
Kesibukan skripsi terkadang membuat mahasiswa menarik diri dari lingkungan sosial. Fokus pada penelitian memang penting, tetapi menghabiskan waktu sendirian tanpa komunikasi dengan orang lain dapat membuat tekanan terasa semakin berat.
Kamu tetap dapat menyediakan waktu untuk berbicara dengan teman, keluarga, atau rekan sesama mahasiswa.
Dukungan sosial juga relevan dalam menghadapi tekanan akademik. Penelitian Universitas Gadjah Mada mengenai stres akademik mahasiswa menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti dukungan sosial dapat berperan dalam pengalaman stres mahasiswa.
Tidak harus selalu membicarakan skripsi. Percakapan ringan, makan bersama, atau sekadar berjalan-jalan sebentar juga dapat menjadi jeda dari rutinitas akademik.
7. Buat Target Skripsi yang Realistis
Menjaga kesehatan selama mengerjakan skripsi juga berkaitan dengan cara kamu menetapkan target.
Target seperti “skripsi harus selesai malam ini” dapat membuat pekerjaan terasa semakin berat, terutama jika pekerjaan tersebut sebenarnya membutuhkan beberapa tahap.
Sebaliknya, buat target yang lebih spesifik dan realistis. Misalnya:
- membaca tiga jurnal hari ini;
- menyelesaikan satu bagian pembahasan;
- memperbaiki dua halaman berdasarkan catatan dosen;
- mengolah satu bagian data;
- mengirim revisi setelah pemeriksaan akhir.
Cara tersebut membuat pekerjaan lebih mudah dipantau sekaligus mengurangi dorongan untuk bekerja tanpa batas.
Penelitian UGM mengenai mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi juga menunjukkan bahwa kualitas tidur berkaitan dengan tingkat stres yang dirasakan. Artinya, mengejar produktivitas dengan mengorbankan seluruh waktu istirahat bukan strategi yang ideal.
Jika kamu mengalami kebuntuan atau merasa skripsi semakin berat, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu kurang produktif. Bisa jadi target, waktu kerja, dan waktu istirahat perlu diatur kembali.
Kapan Mahasiswa Perlu Mencari Bantuan?
Rasa lelah atau stres sesekali dapat terjadi selama mengerjakan skripsi. Namun, jangan mengabaikan kondisi yang berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Misalnya, kamu mengalami kesulitan tidur berkepanjangan, kehilangan minat melakukan aktivitas, sulit menjalankan rutinitas, atau merasa tekanan yang dihadapi semakin sulit dikendalikan.
Dalam kondisi seperti itu, berbicara dengan konselor kampus, psikolog, dokter, atau tenaga profesional yang sesuai dapat menjadi langkah yang lebih tepat daripada terus memaksakan diri.
Kesimpulan
Menjaga kesehatan selama mengerjakan skripsi bukan berarti harus menjalani rutinitas yang sempurna. Yang lebih penting adalah menjaga beberapa kebiasaan dasar agar tubuh dan pikiran tetap memiliki kesempatan untuk pulih.
Mulailah dari hal yang realistis: makan lebih teratur, tidur cukup, bergerak di sela pekerjaan, mengelola stres, membatasi ketergantungan pada kafein, tetap berkomunikasi dengan orang lain, dan membuat target skripsi yang masuk akal.
Skripsi memang perlu diselesaikan, tetapi kesehatan tidak seharusnya menjadi korban dari proses tersebut. Dengan pola kerja yang lebih seimbang, kamu dapat menjalani proses penyusunan tugas akhir dengan lebih teratur tanpa terus-menerus memaksakan kondisi tubuh.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI
















