Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan remaja, terutama dalam cara mereka berinteraksi dan memperoleh informasi. Media sosial tidak lagi hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan berbagai pengalaman, pencapaian, dan aktivitas sehari-hari. Di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga dapat menimbulkan tantangan psikologis apabila digunakan tanpa pengelolaan yang baik. Salah satu fenomena yang semakin sering dialami remaja adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang dimiliki orang lain. Fenomena ini dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri serta mendorong munculnya kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.
FOMO bukan sekadar keinginan mengikuti tren, tetapi merupakan kondisi psikologis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kebiasaan melakukan social comparison membuat seseorang cenderung menilai kehidupannya berdasarkan apa yang dilihat pada orang lain, terutama melalui media sosial. Kondisi tersebut sering kali diperkuat oleh distorsi kognitif, yaitu pola pikir yang menyebabkan seseorang menafsirkan suatu keadaan secara kurang objektif sehingga lebih mudah muncul perasaan kurang, gagal, atau tertinggal. Apabila terus dibiarkan, FOMO dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, menurunkan rasa percaya diri, serta membuat seseorang semakin bergantung pada media sosial. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif melalui psikoedukasi agar remaja mampu memahami sekaligus mengelola fenomena tersebut secara lebih sehat.
Sebagai bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Program Studi Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Langsa melaksanakan kegiatan psikoedukasi di MAN 1 Langsa pada Sabtu, 13 Juni 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Saat Semua Orang Ikut Tren, Lalu Kamu Mau Jadi Siapa?” yang dipilih berdasarkan fenomena FOMO yang semakin dekat dengan kehidupan remaja. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pemahaman siswa mengenai penyebab, dampak, dan strategi pengelolaan FOMO melalui pendekatan psikologi yang mudah dipahami. Materi disusun berdasarkan konsep social comparison, distorsi kognitif, kontrol diri, mindfulness, dan tafakkur sehingga peserta memperoleh pemahaman yang utuh mengenai hubungan antarkonsep tersebut. Pendekatan psikoedukasi dipilih karena tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membantu peserta memahami pengalaman yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembukaan, perkenalan tim, serta penyampaian tujuan psikoedukasi kepada seluruh peserta. Sebelum materi diberikan, sebanyak 28 siswa mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal mengenai FOMO dan materi yang akan dipelajari. Tahap ini menjadi dasar dalam melihat perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Agar suasana belajar lebih nyaman dan interaktif, peserta kemudian mengikuti sesi ice breaking yang melibatkan seluruh siswa secara aktif. Kegiatan tersebut berhasil membangun suasana belajar yang lebih santai sehingga peserta lebih antusias mengikuti sesi berikutnya.

Psikoedukasi diawali dengan pembahasan mengenai social comparison, yaitu kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Peserta memahami bahwa perilaku tersebut merupakan hal yang wajar selama tidak dilakukan secara berlebihan dan tidak memengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan distorsi kognitif yang menjelaskan bagaimana seseorang dapat memiliki pola pikir yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Melalui berbagai contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan remaja, peserta diajak menyadari bahwa pikiran yang muncul belum tentu merupakan fakta sehingga perlu dipahami secara lebih objektif. Kedua konsep tersebut menjadi dasar untuk memahami proses psikologis yang melatarbelakangi munculnya FOMO.

Pembahasan mengenai FOMO disampaikan dengan mengaitkannya pada penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diajak memahami bahwa media sosial umumnya hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang sehingga tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Paparan terhadap berbagai unggahan tersebut dapat memunculkan keinginan untuk selalu mengikuti tren, merasa tertinggal, atau menganggap kehidupan orang lain lebih baik dibandingkan kehidupannya sendiri. Melalui diskusi yang berlangsung, peserta menyadari bahwa setiap individu memiliki proses, tantangan, dan pencapaian yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial. Pemahaman tersebut diharapkan mampu membantu peserta menggunakan media sosial secara lebih kritis dan bijaksana.
Sebagai strategi pengelolaan FOMO, peserta diperkenalkan pada tiga pendekatan utama, yaitu kontrol diri, mindfulness, dan tafakkur. Kontrol diri membantu seseorang mengendalikan dorongan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain tanpa mempertimbangkan kebutuhan dirinya sendiri. Mindfulness melatih individu agar lebih sadar terhadap pikiran, perasaan, dan pengalaman yang sedang dijalani sehingga tidak mudah terjebak dalam penilaian negatif. Sementara itu, tafakkur mengajak seseorang untuk merenungkan nikmat yang telah dimiliki, memperkuat rasa syukur, serta menyadari bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan hidup yang berbeda. Ketiga pendekatan tersebut menjadi bekal praktis yang dapat diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi kecenderungan FOMO.
Seluruh rangkaian psikoedukasi berlangsung secara interaktif dengan melibatkan peserta dalam berbagai sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme siswa terlihat dari keberanian mereka menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, serta mengajukan pertanyaan mengenai fenomena yang mereka alami ketika menggunakan media sosial. Keterlibatan aktif tersebut menunjukkan bahwa materi yang diberikan relevan dengan kehidupan remaja dan mudah dipahami. Diskusi yang berlangsung juga membantu peserta merefleksikan kebiasaan mereka dalam menggunakan media sosial sehingga proses belajar tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Suasana yang komunikatif menjadikan kegiatan berlangsung lebih hidup dan bermakna.
Sebagai bentuk evaluasi, seluruh peserta kembali mengerjakan post-test setelah seluruh materi selesai disampaikan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang cukup signifikan setelah mengikuti psikoedukasi. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 62,14 pada pre-test menjadi 92,86 pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 30,72 poin. Analisis menggunakan Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi p < 0,001, yang menunjukkan bahwa peningkatan tersebut bermakna secara statistik. Hasil ini menunjukkan bahwa psikoedukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai FOMO serta strategi pengelolaannya.

Secara keseluruhan, kegiatan psikoedukasi ini memberikan manfaat yang positif dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai FOMO dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memahami pentingnya menggunakan media sosial secara lebih sehat tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Melalui pemahaman mengenai social comparison, distorsi kognitif, kontrol diri, mindfulness, dan tafakkur, peserta diharapkan mampu membangun cara pandang yang lebih positif terhadap dirinya sendiri. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk implementasi ilmu Psikologi Islam dalam memberikan edukasi kepada masyarakat melalui pendekatan yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan remaja. Dengan adanya kegiatan serupa secara berkelanjutan, diharapkan semakin banyak remaja yang mampu menghadapi perkembangan media sosial secara lebih bijaksana serta menjaga kesehatan psikologisnya di era digital.
Penulis:
1. Nabila Annisa
2. Syafiyatul Ahzan Azmi
3. M.Wahyu Alhabib
4. Dedek Indriani
5. Hizratul Musalma
Mahasiswa Program Studi Psikologi Islam, Institut Agama Islam Negeri Langsa (IAIN) Langsa
Dosen Pengampu: Syiva Fitria, B.A., S.Psi., M.Sc.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












